Sports

.
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Bisnis INTER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Bisnis INTER. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Februari 2026

Kursi Kehormatan berubah Menjadi Kursi Jagal,. Indonesia Terjebak Karena Salah Langkah

 

Putar ulang video itu. Perhatikan bagaimana Trump memberi arahan kepada Prabowo. Lihat mimik, ekspresi, dan gesturnya—ada rasa tidak dianggap setara, seolah duduk di kursi besar tapi tetap diperlakukan sebagai bawahan.  


Di situ, marwah Indonesia seakan runtuh. Derajat bangsa direndahkan, terlebih ketika keinginan Trump dikabulkan begitu saja. Semua permintaan Trump seolah wajib dipenuhi, seakan negara kita sudah digiring penuh ke kandang, tanpa daya menolak. Celakanya, daging impor pun masuk tanpa sertifikat halal. Ini bukan sekadar dagang, melainkan racun yang menggerogoti identitas bangsa, meracuni rakyat dengan produk non-halal, dan menampar marwah yang seharusnya dijaga.  


Inilah yang disebut terjelabak karena salah langkah. Bangsa yang tergesa-gesa mencari pengakuan bisa terjebak dalam ilusi kehormatan. Seperti pekerja yang merasa naik kelas ketika diajak makan malam oleh cukong besar. Ia mengira sudah setara, duduk sejajar dengan para konglomerat. Namun di meja itu, justru ia dipermalukan, disuruh ini-itu, sebagaimana kacung di perusahaan.  

Bangsa yang salah langkah diplomasi akan mudah terjebak dalam jebakan psikologis: bangga karena duduk di meja besar, padahal kursi itu bukan tanda kesetaraan, melainkan tanda bahwa kita adalah santapan utamanya. Kebanggaan semu seringkali lebih berbahaya daripada hinaan terang-terangan. Kursi di jamuan makan malam bisa jadi bukan kehormatan, melainkan jebakan. Sama seperti tikus yang tergoda keju di perangkap: manis di awal, maut di ujung.  


Indonesia harus belajar bahwa diplomasi bukan sekadar foto bersama atau kursi di meja besar. Diplomasi adalah menjaga marwah, memastikan setiap keputusan tidak menggadaikan identitas bangsa. Salah langkah kecil bisa berujung pada terjerumusnya harga diri nasional. Bangsa yang ingin dihormati tidak boleh tergoda oleh simbol semu. Jangan bangga hanya karena mendapat kursi di jamuan makan malam. Jangan terjebak dalam ilusi kesetaraan. Kehormatan sejati bukan datang dari undangan, melainkan dari sikap tegas menjaga marwah bangsa.  

Tinggal kita rakyat untuk hati-hati menempatkan diri. Sehari-hari kita pun telah terbelenggu oleh jeratan premanisme kapitalis. Negara kita seolah kehilangan kedaulatan, diinjak oleh kekuatan modal yang tak mengenal batas. Kedaulatan negara kita terinjak, dan mau tidak mau, kondisi ini menyerupai perangkap raja kartel narkoba di Amerika Selatan. Sekali berada dalam lingkaran kartel, berarti menggadaikan Nyawa: keluar pun sulit, ujungnya terancam mati. Bahkan jika sempat keluar tanpa izin, kita akan jadi buruan, siap dieksekusi dengan mutilasi—harga diri dikoyak, ruang hidup dipersempit, dan kedaulatan bangsa dipatahkan.  


Apa yang kita saksikan adalah buah dari diplomasi yang gagal. Diplomasi yang seharusnya menjadi seni menjaga marwah bangsa justru berubah menjadi seni menggadaikan kepentingan. Skill diplomasi yang lemah membuat bangsa mudah dipermainkan, ditekan, dan akhirnya kehilangan posisi tawar. Diplomasi yang gagal bukan hanya soal perjanjian dagang atau kursi di meja besar, melainkan soal mentalitas bangsa yang rela tunduk demi pengakuan semu. Ketika diplomasi dijalankan tanpa ketegasan, hasilnya bukan kehormatan, melainkan keterjebakan. Bangsa yang lemah dalam diplomasi akan selalu menjadi objek, bukan subjek. Ia akan diperlakukan sebagai pelayan, bukan mitra. Ia akan terus terjerat dalam lingkaran kapitalisme global, seperti buruan yang tak pernah bebas dari ancaman mutilasi politik dan ekonomi. Diplomasi yang lemah pada hakikatnya adalah diplomasi yang salah menempatkan kepentingan. Apa yang seharusnya menjadi garis merah kedaulatan bangsa justru diperlakukan sebagai komoditas tawar-menawar. Apa yang seharusnya dijaga sebagai marwah justru diletakkan di bawah meja, diperlakukan sebagai barang dagangan. Meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya adalah akar dari kegagalan diplomasi. Ketika kepentingan rakyat ditempatkan di bawah kepentingan asing, ketika kedaulatan negara ditukar dengan pengakuan semu, maka diplomasi berubah menjadi alat penjeratan. Bangsa kehilangan arah, rakyat kehilangan pegangan, dan negara kehilangan martabat.  


Oleh:  

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.







?

Kamis, 19 Februari 2026

YANG KUAT TIDAK AKAN MUNGKIN TUNDUK PADA ATURAN PIHAK YANG LEMAH

 
Bayangkan Anda mengajak berbisnis seorang preman yang jauh lebih kuat dari Anda. Tanpa perlu berbisnis pun, ia sudah bisa memalak Anda dengan otot dan pengaruh yang dimilikinya. Begitulah posisi kita di hadapan Amerika Serikat. Kita kira dengan menuruti semua kemauan Trump, tarif akan dihapus. Nyatanya? Produk kita tetap kena 19 persen, sementara barang-barang mereka masuk gratis.  

Uang pada dasarnya hanyalah kertas yang diberi angka. Bedanya, bangsa penguasa bisa meyakinkan dunia bahwa kertas mereka lebih berharga daripada kertas kita. Kertas mereka bisa berlaku di mana saja, sementara kertas kita dianggap mainan anak-anak. Inilah bentuk kekuasaan yang paling telanjang: bukan karena mereka lebih pintar, tapi karena mereka lebih kuat memposisikan diri agar aman, sementara kita rela menandatangani kontrak penyanderaan secara sukarela.  

Amerika tidak menghasilkan apa-apa selain kemampuan menekan dan merampok dari pihak lain. Mereka hidup dari mengatur aturan main seenaknya, memanfaatkan kelemahan mitra dagang, dan menjadikan negara lain sebagai ladang keuntungan. Indonesia pun kena getahnya. Dan bodohnya, kita justru merasa sudah “menang” padahal jelas-jelas dirugikan. Kita membuka pintu selebar-lebarnya, mereka bebas masuk tanpa bayar, sementara kita masuk ke negara mereka harus bayar mahal. Itu adalah murni kena palak.  
Lebih ironis lagi, sikap kita terhadap Palestina. Di panggung internasional, kita berteriak lantang membela Palestina, bahkan siap kirim pasukan. Tapi di balik layar, arah kebijakan mulai goyah: ada wacana pengakuan Israel dengan syarat tertentu. Artinya, kita bukan hanya terlihat bodoh di hadapan Amerika, tapi juga mengkhianati komitmen moral yang selama ini kita banggakan.  

Bangsa yang kuat tidak akan tunduk pada yang lemah. Mereka tahu cara memposisikan diri agar aman. Maka, kalau kita benar-benar ingin disebut kuat, jangan hanya berani di kata-kata. Jangan sampai harga diri bangsa ditukar dengan kertas berangka yang semu, akses pasar palsu, atau kompromi politik yang melemahkan solidaritas kita.  

Tarif 19 persen, uang yang hanya kertas berangka, sikap bodoh di hadapan Amerika, dan pengkhianatan terhadap Palestina sama-sama ujian diplomasi. Pertanyaannya sederhana: mau terus jadi korban dipalak murni, terlihat bodoh, sekaligus mengkhianati komitmen moral, atau berdiri tegak sebagai bangsa berdaulat? Jawabannya ada pada keberanian kita sendiri. Yang kuat tidak akan mungkin tunduk pada  aturan pihak yang lemah.  










Minggu, 18 Januari 2026

Fee di Depan vs Hadiah di Belakang: Analisis Perspektif Agama dan Hukum Formal (Kasus Proyek)

 


Fee di depan adalah suap. Titik. Ia haram menurut agama, ilegal menurut hukum, dan berbahaya karena sejak awal dimulai dengan unsur ketidakpercayaan. Kontraktor merasa tidak akan dipercaya jika hanya mengandalkan kualitas penawaran, sehingga memilih jalur uang. Fee di depan bukan membangun kepercayaan, melainkan membeli keputusan. Jalan yang ditempuh adalah jalan batil, dan dari jalan batil tidak mungkin lahir keberkahan.  


Hadiah di belakang berbeda. Ia bisa halal bila wajar, terbuka, dan murni sebagai ucapan terima kasih atas kepercayaan yang sudah diberikan. Hadiah yang wajar lahir dari rasa syukur, bukan dari transaksi tersembunyi. Hadiah seperti ini memperkuat hubungan, menumbuhkan rasa hormat, dan menjadi simbol penghargaan. Namun bila tidak wajar dan dimaksudkan untuk memengaruhi keputusan, maka statusnya berubah menjadi suap juga.  


Di sinilah pentingnya memahami akad. Dalam Islam, setiap transaksi bergantung pada akad, dan akad yang sah harus berlandaskan suka sama suka, bukan unsur paksaan. Jika sebuah pemberian dilakukan dengan tekanan, ancaman, atau jalur paksa, maka hukumnya lebih haram lagi. Misalnya ada oknum yang melaporkan pejabat ke ranah hukum, lalu setelah runding-runding meminta jatah. Itu haram seratus persen. Meminta melalui jalur paksa, sehingga orang terpaksa memberikannya, adalah bentuk pemerasan. Dalam agama, ini bukan lagi sekadar risywah, melainkan kezaliman. Dalam hukum formal, ini masuk kategori pemerasan dan tindak pidana korupsi.  


Perbedaan keduanya sangat tegas. Fee di depan adalah uang yang keluar karena tidak percaya pada sistem, tidak percaya pada kualitas diri, dan tidak percaya pada keadilan. Hadiah di belakang adalah tanda percaya: pekerjaan sudah selesai, kepercayaan sudah diberikan, lalu lahir rasa terima kasih. Fee di depan berarti membeli, hadiah di belakang berarti menghargai. Fee lahir dari ketidakpercayaan, hadiah lahir dari kepercayaan. Dan bila pemberian dilakukan dengan paksaan, maka itu lebih haram lagi, karena akadnya cacat sejak awal.  


Di banyak kota kita bisa melihat kontraktor yang memenangkan proyek besar, cepat kaya, tetapi cepat pula habisnya. Mengapa? Karena kekayaan itu lahir dari jalan batil. Uang yang datang dari fee di depan atau dari pemerasan tidak pernah bertahan lama. Ia mengalir deras, tetapi menghilang cepat, meninggalkan jejak kerusakan. Jalan rusak, jembatan retak, gedung bocor, dan masyarakat yang jadi korban. Kekayaan yang lahir dari suap adalah fatamorgana: tampak besar, tetapi rapuh dan cepat lenyap.  


Kesimpulannya jelas: fee di depan adalah haram titik, hadiah wajar sebagai ucapan terima kasih atas kepercayaan bisa halal, dan pemberian melalui jalur paksa adalah haram seratus persen. Fee di depan merusak sistem, hadiah wajar memperkuat hubungan, pemerasan menghancurkan keadilan. Transparansi dan kejujuran adalah kunci, bukan amplop, bukan tekanan.  


Oleh : 

Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M..Pd

Advokat/Pengacara, Konsultan Hukum, pengamat Sosial dan Pendidikan

Makna Kekayaan Menurut Bill Gates: "Putri Saya Tidak Akan Menikah dengan Orang Miskin"

 

Bill Gates pernah ditanya di sebuah konferensi, apakah ia rela putrinya menikah dengan pria miskin. Pertanyaan itu membuat orang tertawa, tapi jawaban Bill Gates justru membuat semua orang terdiam. Ia berkata, masalahnya bukan sekadar punya uang atau tidak, melainkan kemampuan untuk menciptakan nilai dan kekayaan. Kalau orang miskin menang judi, dia bukan tiba-tiba jadi orang kaya. Dia tetap orang miskin yang kebetulan punya banyak uang. Itulah sebabnya 90% orang yang menang judi atau lotre, dalam lima tahun kekayaannya sudah habis. Sebaliknya, ada pengusaha yang merintis dari nol, bahkan minus. Di mata orang lain dia mungkin miskin, tapi sebenarnya dia sedang membangun pondasi kekayaan. Orang seperti inilah yang diinginkan Bill Gates untuk menjadi menantunya, karena meski jatuh, dia bisa bangkit lagi dan mengembalikan kekayaannya dalam waktu singkat.  


Bill Gates lalu menegaskan perbedaan yang tajam. Orang kaya bisa bekerja sampai mati demi membangun kekayaan, sementara orang miskin bisa sampai nekat melakukan kejahatan, bahkan membuat orang lain celaka, demi uang. Mental kaya fokus pada tujuan, berusaha dengan elegan, tidak perlu menjatuhkan orang lain. Mental miskin justru sibuk mengurus orang lain, mencari kesalahan, menyingkirkan pesaing, agar dirinya saja yang terlihat maju. Orang kaya percaya bahwa dengan ilmu dan kerja keras mereka bisa terbang tinggi, sedangkan orang miskin memilih jalan pintas yang berbahaya.  


Untuk memperjelas, Bill Gates memberi contoh seorang pedagang kecil di pasar. Ada pedagang yang jujur, menimbang barang dengan benar, menjaga kualitas, dan melayani pembeli dengan ramah. Awalnya ia hanya punya lapak kecil, tapi karena kejujuran dan kesabaran, pelanggannya semakin banyak. Sepuluh tahun kemudian ia punya toko besar dan karyawan. Sebaliknya, ada pedagang lain yang curang, menipu timbangan, menjual barang rusak, dan menjelekkan pedagang lain. Mungkin ia cepat dapat uang, tapi reputasinya hancur, pembeli pergi, dan akhirnya ia jatuh miskin. Kisah ini menunjukkan bahwa orang miskin yang jujur dan sabar bisa berubah menjadi orang kaya, sementara orang miskin yang ambisius tanpa arah justru terjebak dalam keputusasaan dan kejahatan.  


Bill Gates menutup jawabannya dengan tegas: ketika ia mengatakan putrinya tidak akan menikah dengan pria miskin, maksudnya bukan soal uang, melainkan soal cara berpikir. Kekayaan sejati bukan di dompet, melainkan di pikiran. Orang miskin yang mau belajar, jujur, dan bekerja keras bisa menjadi kaya. Orang kaya yang malas dan tidak mau belajar bisa jatuh miskin. Pesannya sederhana: jangan iri pada orang kaya, tirulah cara mereka belajar dan bekerja. Jangan takut miskin, karena miskin bukan takdir. Kekayaan sejati adalah kemampuan menciptakan nilai, membangun kekayaan baru, dan tetap berdiri elegan tanpa harus menjatuhkan orang lain.  







Senin, 12 Januari 2026

Strategi Pejabat Menipu Jelang Akhir Jabatan

 

Di sebuah kantor pemerintahan, ada seorang pejabat yang kita sebut saja dengan nama samaran Pak Cbonk. Masa jabatannya tinggal sebentar lagi, tapi masalah besar menumpuk:  

- Anggaran kantor sudah habis dihamburkan.  

- Proyek pembangunan kantor baru belum juga dimulai.  


Pak Cbonk pun memutar otak. Ia mengumpulkan para kontraktor ke ruang rapat. Dengan nada penuh keyakinan, ia berkata:  


“Kita masih punya proyek akhir tahun. Dana Rp11 miliar akan segera cair kuitansi pencairan sudah ada dalam saku saya, hanya saja prosesnya agak lambat. Supaya pembangunan kantor tidak tertunda, saya minta kalian dulu yang menalangi. Bangunlah kantor itu dengan uang kalian, nanti begitu dana cair, saya ganti semuanya. Bahkan keuntungan proyek saya serahkan penuh untuk kalian, tanpa potongan fee.”  


Para kontraktor yang mendengar janji manis itu langsung tergiur. Mereka membayangkan keuntungan besar tanpa harus berbagi dengan pejabat. Tanpa pikir panjang, mereka patungan memakai uang pribadi masing-masing untuk membangun kantor baru.  


Yang paling bersemangat adalah grup Sembilan Ular, kumpulan kontraktor yang terkenal kompak dan berani ambil risiko. Mereka bahkan rela menyelipkan sedikit uang “terima kasih” untuk Pak Cbonk, meskipun beliau tidak meminta fee di depan.  


Bangunan kantor pun mulai dikerjakan. Namun, pembangunan baru berjalan setengah jalan ketika masa jabatan Pak Cbonk berakhir. Ia pensiun dengan tenang, meninggalkan proyek yang belum rampung.  


Dan ternyata—anggaran yang dijanjikan tidak pernah ada alias ZONK.  


Kontraktor, terutama grup Sembilan Ular yang sudah keluar uang pribadi, hanya bisa gigit jari. Kantor baru berdiri separuh, dana tak kunjung cair, dan mereka tertipu oleh strategi seorang pejabat yang pandai berjanji di ujung masa jabatan.  


Babak Akhir: Jalan Pintas Pejabat

Derik-detik akhir jelang pensiun, hutang dan tekanan tetap menghantui. Akhir masa jabatan Pejabat yang tertinggal menghitung hari ini pun, membuat dia kembali memutar otak. Salah satu “strategi darurat” yang muncul adalah membuka ruang memalak—atau dengan bahasa manis disebut pajak dadakan.  


Siapa saja bisa jadi sasaran:  

- Kontraktor yang masih berharap uangnya kembali, terutama grup Sembilan Ular.  

- Pengusaha lokal yang butuh izin cepat.  

- Warga kecil yang mengurus administrasi di akali untuk berurusan berkali-kali.  

- Bahkan rekan sesama pejabat yang masih aktif di mintai.jatah. 

- Depan.Kantor yang biasanya Bebas Parkir sudah jadi Lahan Parkir.

- Bahkan untuk memakai WC dan Kamar Mandi Kantor pun sudah di pasang Tarif minimal 2000 sekali pipis.


Dengan dalih “aturan baru” atau “pajak tambahan”, ia mencari cara menutup lubang hutang. Rakyat yang sudah jadi korban janji manis, kini kembali jadi sasaran pungutan ala pejabat yang pandai berkelit.  


Efisiensi Paksa Pejabat Baru

Ketika Pak Gmoy sebagai pejabat baru masuk menggantikan Pak Cbonk, ia mendapati kantor penuh hutang dan anggaran yang sudah berantakan. Tidak ada pilihan lain selain menerapkan efisiensi ketat.  


Semua pos anggaran dipotong habis, kecuali satu: uang makan. Alasannya sederhana: sudah terlanjur janji traktir anak-anak kantor, jadi bagian itu tidak boleh dihapus.  


Bidang-bidang lain, mulai dari operasional, program, hingga kegiatan rutin, semuanya dipangkas. Para pegawai hanya bisa mengeluh, karena janji pembangunan kantor baru tinggal separuh bangunan, sementara anggaran yang tersisa hanya cukup untuk makan bersama.  






Kamis, 08 Januari 2026

Hutang Konsumtif vs Hutang Produktif: Ambil Pelajaran dari ulah Pak Mul

 

Hutang bukan sekadar soal angka di buku bank. Ia bisa menjadi jalan menuju kehancuran bila dipakai untuk memuaskan gengsi, atau menjadi pintu menuju kesejahteraan bila diarahkan untuk usaha.  


Keluarga Pak Mulyono: Konsumtif hingga Merusak Moral

Pak Mulyono meminjam uang untuk merenovasi rumah dan membeli mobil baru, anaknya hura² dari hasil hutang. Awalnya ia merasa bangga, rumah tampak indah, mobil baru berkilau, dan hidup keluarga terlihat lebih mewah. Namun ketika cicilan datang, uang untuk membayar tidak ada. Hutang menumpuk, bunga berjalan, dan tekanan semakin berat.  


Dalam keputusasaan, ia mulai meminta ibuk bendahara Rumah Tangga menekan anak-anaknya agar menyetor uang. Tidak harus dengan cara bekerja keras, tetapi bisa juga dengan jalan pintas asal dapat uang. Bila perlu jual apa yang ada. Anak-anak awalnya diajarkan untuk malas hura² dengan hutang yang ada, hanya tahu menghabiskan, bahkan diarahkan mencari uang dengan cara apa saja, meski berisiko melanggar hukum. Moral keluarga rusak, nilai kerja keras hilang, dan generasi berikutnya tumbuh tanpa fondasi yang benar. Hutang konsumtif bukan hanya menghancurkan finansial, tetapi juga merusak tatanan moral.  


Pak Wowo: Produktif dan Berusaha Memperbaiki

Berbeda dengan Mulyono, Pak Wowo menggunakan hutang sebagai modal usaha warung. Ia membeli perlengkapan, stok barang, dan memperbaiki tempat usaha. Anak-anaknya diajak belajar berbisnis, menghitung keuntungan, dan memutar modal. Dari keuntungan usaha, cicilan hutang dibayar, usaha berkembang, dan keluarga memiliki sumber penghasilan baru.  


Namun, usaha Pak Wowo tidak mudah. Lingkungan yang sudah rusak akibat ulah konsumtif Pak Mulyono membuat anak-anak lain terbiasa malas, hanya ingin menghabiskan, dan tidak mau bekerja keras. Pak Wowo berjuang keras menanamkan nilai baru, tetapi selalu terbentur dengan budaya buruk yang sudah terlanjur terbentuk. Hutang produktif memang bisa memperbaiki keadaan, tetapi dampak kerusakan moral akibat hutang konsumtif membuat jalan itu penuh rintangan.  


Negeri Konoha: Cermin dari Dua Jalan

Di negeri Konoha, seorang pemimpin kurus jangkung mengambil hutang besar. Dana itu dihabiskan hanya untuk mempercantik wajah ibu kota: monumen, jalan indah, proyek pencitraan. Ketika cicilan datang, negara tidak punya cukup pemasukan. Rakyat dipaksa menanggung beban lewat pajak yang mencekik. Hutang konsumtif negara itu menjadi beban generasi, moral rakyat pun rusak karena terbiasa dipaksa menanggung kesalahan pemimpin.  


Ketika kepemimpinan berganti kepada Pak  Gemoy, arah hutang berubah. Dana pinjaman dipakai membangun koperasi rakyat. Modal bergulir, usaha kecil tumbuh, keuntungan kembali ke masyarakat. Dari hasil usaha koperasi, cicilan hutang dibayar, ekonomi rakyat bergerak, dan negara perlahan bangkit. Hutang produktif mampu mengubah beban menjadi kekuatan, meski harus berjuang melawan warisan buruk dari masa lalu.  


Hutang konsumtif bukan hanya menghancurkan finansial, tetapi juga merusak moral dan budaya kerja. Hutang produktif membuka peluang untuk memperbaiki keadaan, tetapi perjuangannya berat bila kerusakan sudah terlanjur terjadi. Kisah Pak Mulyono, Pak Wowo, dan negeri Konoha mengajarkan satu hal: hutang harus diarahkan dengan bijak, karena dampaknya bukan hanya pada uang, tetapi juga pada nilai hidup dan masa depan generasi.