Dalam ilmu Pendidikan karakter. Terlalu Pelit dan Perhitungan Itu Racun di Segala Bidang
Karakter pelit bukan hanya masalah pribadi, tapi ancaman nyata dalam setiap bentuk kerja sama. Dalam proyek, bisnis, bahkan pemerintahan, sifat pelit membuat mitra lain terjebak dalam risiko besar. Orang pelit enggan berbagi, enggan menanggung beban, dan enggan mengeluarkan biaya ketika keadaan genting. Akibatnya, mitra yang bersamanya justru mendekatkan diri pada bahaya.
Bahaya yang Mengintai
- Dalam bisnis: keuntungan ditahan rapat-rapat, biaya operasional ditanggung sepihak.
- Dalam proyek: ketika masalah muncul, si pelit enggan keluar biaya, sehingga mitra lain yang harus menanggung kerugian.
- Dalam pemerintahan: pejabat pelit enggan mengalokasikan anggaran untuk kepentingan publik, pelayanan macet, rakyat yang jadi korban.
- Dalam kerja sama berisiko: jika terjerat hukum, si pelit malas mengeluarkan biaya untuk menyelesaikan perkara. Akhirnya, mitra lain yang harus menanggung jeratan hukum.
Budaya Pelicin
Dalam sistem budaya Indonesia, pelicin—baik berupa kompromi, biaya tambahan, atau sekadar sikap ringan tangan—sering dianggap perlu untuk menjaga kelancaran. Orang pelit yang menolak memberi ruang pada budaya ini justru membuat mitra lain semakin dekat pada bahaya. Bukan karena pelicin itu ideal, tapi karena realitas sosial menuntut adanya keluwesan.
Kesimpulan
Karakter pelit adalah racun dalam kerja sama. Entah di dunia pemerintahan, bisnis, atau proyek sosial, bermitra dengan orang pelit sama saja dengan menjerat diri sendiri. Itulah sebabnya, dalam sistem Indonesia, pelit bukan sekadar sifat buruk—ia adalah langkah bunuh diri bagi siapa pun yang terjebak bersamanya.
Kerinci khusus.kota Sungai Penuh kembali jadi sorotan setelah sebuah rumah sakit viral di media sosial. Ramainya komentar publik menunjukkan hal yang jelas: masyarakat tidak hanya butuh obat dan fasilitas, tetapi butuh tenaga kesehatan yang punya hati.
Pendidikan tenaga kesehatan memang panjang. Ada kuliah anatomi, praktik klinis, hafalan teori farmakologi. Tapi semua itu percuma kalau ujung-ujungnya tidak ada empati. Gelar boleh berderet, tapi kalau hati kering, pelayanan tetap cacat.
Bayangkan, pasien datang dengan wajah cemas. Kalau dokter hanya sibuk mengetik resep tanpa menatap mata pasien, rasanya seperti beli obat di mesin otomatis. Padahal senyum dan sapaan sederhana bisa jadi terapi pertama sebelum obat bekerja.
Seandainya saya menjadi dosen kesehatan, saya akan menetapkan satu syarat kelulusan yang sederhana tapi tajam: “Sebutkan nama cleaning service yang setiap hari membersihkan ruang kelas kita.” Pertanyaan ini bukan basa-basi. Ia adalah ujian karakter. Kalau calon tenaga kesehatan tidak peduli pada orang kecil di sekitarnya, bagaimana bisa peduli pada pasien yang datang dengan segala keterbatasan?
Hafal nama obat, tapi tak hafal nama tukang sapu? Percuma jadi tenaga kesehatan. Bisa menjelaskan fungsi jantung, tapi tak bisa menyapa pasien dengan ramah? Itu bukan dokter, itu teknisi dingin. Gelar boleh panjang, tapi kalau hati pendek, pelayanan kesehatan tetap macet.
Profesi kesehatan adalah profesi sosial. Dokter, perawat, dan bidan bukan sekadar pekerja medis, melainkan pelayan masyarakat. Kalau tidak punya empati, lebih baik jangan masuk profesi ini. Karena tanpa kepedulian, pendidikan kesehatan hanyalah formalitas, dan pelayanan hanyalah sandiwara.
Tenaga kesehatan tanpa empati sama saja seperti lampu jalan yang mati: bikin kacau lalu lintas kehidupan, menimbulkan bahaya, dan membuat orang kehilangan arah.
Sekitar lima tahun ke bawah, hidup saya penuh rintangan. Proyek-proyek yang saya tangani dihantam laporan demi laporan, bertubi-tubi, seakan tidak memberi ruang untuk bernapas. Bahkan ketika saya masih aktif sebagai pegiat LSM, diam-diam ada laporan dari sesama LSM terhadap proyek saya. Semua itu selesai tanpa mahar, tanpa uang sepeser pun—tetapi dengan ujian mental yang sangat berat.
Luka yang Membuka Mata
Saya pernah berdiri di posisi paling rapuh: menjadi korban kriminalisasi. Setiap laporan adalah tekanan, setiap tuduhan adalah ujian. Orang awam sering berkata, “Kalau mau urusan hukum selesai, harus ada uang.” Tapi pengalaman saya membuktikan sebaliknya: hukum bukan semata-mata soal uang, melainkan perjuangan untuk membuktikan bahwa kita benar.
Sesama LSM, Tapi Saling Menikam
Yang paling menyakitkan adalah ketika laporan datang dari sesama LSM. Kami sama-sama duduk di bangku perjuangan, sama-sama mengangkat nama rakyat, seolah sejalan. Tetapi ternyata tidak sehaluan. Sesama LSM kadang justru cenderung saling menikam. Ada jurang prinsip yang dalam memisahkan kami: ada yang memilih jalan transaksional, ada yang tetap teguh pada integritas. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa tidak semua yang mengaku berjuang benar-benar berjalan di jalur yang sama.
Jalan Terjal yang Membentuk
Tidak ada jalan yang benar-benar lancar.
- Laporan bertubi-tubi menguji mental.
- Tekanan dari sesama pegiat menguji solidaritas.
- Kriminalisasi menguji keberanian.
Saya melewati semuanya dengan satu pegangan: integritas. Tanpa mahar, tanpa uang, hanya dengan keyakinan bahwa kebenaran harus diperjuangkan.
Dari Luka ke Toga
Ketika akhirnya saya resmi menjadi advokat, saya membawa luka sekaligus pelajaran. Saya tahu rasanya menjadi korban, saya tahu bagaimana menghadapi laporan tanpa tunduk pada budaya transaksional. Maka ketika saya berdiri sebagai advokat, saya berdiri bukan hanya dengan pasal-pasal, tetapi juga dengan pengalaman nyata: bahwa hukum bisa ditegakkan dengan keberanian, bukan dengan uang.
Sebagai Advokat: Melihat Cermin dari Masa Lalu
Kini, sebagai advokat, setiap orang yang datang dengan kasus serupa adalah seperti cermin yang memperlihatkan kembali jalan hidup saya sendiri. Ketika saya menghadapi mereka, saya melihat ulang apa yang pernah saya lalui. Maka langkah saya bukan sekadar memberi nasehat, melainkan mengulang jalan yang sudah saya tempuh. Saya tahu lika-liku, saya tahu jebakan, saya tahu cara bertahan. Itulah yang saya bagikan: pengalaman nyata yang bisa dijadikan pedoman.
Hukum di Mata Orang Awam
Bagi rakyat kecil, laporan hukum sering dianggap seperti beban berat di punggung. Kriminalisasi terasa seperti hujan deras yang tiba-tiba mengguyur—membuat langkah berat, membuat badan lelah, tapi tetap harus dilalui. Dari pengalaman itu saya ingin menegaskan: hukum sering dipakai untuk menekan, tetapi dengan keberanian dan pengalaman, hukum juga bisa dipakai untuk bertahan.
Contoh Nyata dari Rakyat Kecil
Saya pernah mendampingi seorang petani yang dilaporkan karena dianggap menyerobot tanah, padahal ia hanya menggarap lahan warisan keluarganya. Kasus itu membuatnya bingung, takut, dan merasa tidak punya daya. Ketika saya melihat wajahnya, saya seperti melihat diri saya sendiri di masa lalu. Saya tahu rasa panik, rasa tidak berdaya, dan rasa dituduh tanpa dasar. Maka saya menuntun dia dengan pengalaman yang pernah saya jalani: menghadapi laporan dengan sabar, mencari bukti, dan menunjukkan bahwa kebenaran bisa dibuktikan.
Ditulis oleh:
Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.
Pengalaman pribadi sebagai korban kriminalisasi bertubi-tubi, termasuk laporan dari sesama LSM, yang akhirnya menuntun saya memilih jalan advokat.
Restorative justice sering dipuji sebagai paradigma baru hukum pidana Indonesia. Ia disebut lebih manusiawi, lebih berorientasi pada pemulihan, bukan sekadar balas dendam. Namun jika kita membaca KUHAP baru (UU No. 20 Tahun 2025, Pasal 79–88) dan KUHP baru (UU No. 1 Tahun 2023) dengan jernih, satu hal tak bisa disangkal: jalan damai itu mensyaratkan ganti rugi. Dan ganti rugi berarti uang.
Dasar hukum jelas menyebutkan bahwa perkara dapat dihentikan jika ada kesepakatan damai, kerugian dipulihkan, dan pelaku memenuhi kewajiban. Kata “pemulihan kerugian” hampir selalu diterjemahkan sebagai kompensasi finansial. Artinya, restorative justice bukan sekadar permintaan maaf atau kerja sosial, melainkan pembayaran nyata kepada korban.
Di lapangan, praktiknya sederhana: korban menuntut ganti rugi, pelaku harus membayar. Tanpa uang, damai sulit tercapai. Pelaku miskin tidak punya pilihan selain menghadapi proses pidana penuh. Sebaliknya, pelaku berduit bisa “membeli” jalan keluar dari jerat hukum. Restorative justice pun berubah menjadi mekanisme transaksi, bukan pemulihan relasi sosial.
Keadilan yang seharusnya merangkul semua orang justru berisiko menjadi privilese kelas menengah ke atas. Restorative justice bisa menjelma sebagai pasar damai, di mana harga maaf ditentukan isi dompet. Hukum yang mestinya menegakkan keadilan malah membuka ruang bagi jual beli maaf, dan hanya mereka yang punya uang bisa “berdamai” dengan hukum.
Restorative justice di atas kertas memang tampak humanis. Tetapi dalam praktik hukum Indonesia, ia tegas: kalau mau damai, siapkan uang. Kalau tidak punya uang, jangan harap bisa keluar dari jerat pidana.
Oleh:
Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.
Advokat, Pengacara, Konsultan Hukum, Aktivis, dan Pengamat Sosial-Hukum.
Status hukum janji politik selalu jadi pertanyaan besar. Secara moral, janji politik itu sah. Kalau seorang calon berjanji akan membangun jalan, memperbaiki sekolah, atau menurunkan harga sembako, secara moral ia wajib menepati. Tapi pertanyaan yang lebih tajam: apakah politisi itu punya moral?
Sebelum pemilihan, politisi sibuk mencari kepala. Kepala rakyat dihitung seperti barang dagangan: tinggal ditentukan berapa harga per kepala, lalu dikalikan dengan jumlah suara yang dibutuhkan. Semakin besar kursi yang diincar, semakin mahal harga kepala yang harus dibeli. Maka sebelum pemilihan, politisi sibuk membeli kepala. Silakan tawarkan berapa banyak kepala yang bisa dijual.
Namun setelah terpilih, yang dibutuhkan bukan lagi jumlah kepala, melainkan isi kepala. Segelintir orang pintar di sekelilingnya, Hanya Tim Kecil yang lihai menghitung cara mengembalikan modal kampanye, mengatur proyek, dan menyiapkan strategi untuk pemilihan berikutnya. Rakyat yang dulu dielus kepalanya, kini hanya jadi tinggal jadi angka di catatan sejarah.
Dan bukan hanya modal kampanye yang menentukan kursi. Dalam praktiknya, lawan politik pun bisa ikut mendapat kursi kalau sanggup membayar lebih mahal. Persis seperti lelang dalam acara dangdutan di kampung-kampung. "Yang berani menawar paling tinggi, naik pentas". Demokrasi pun berubah jadi pasar malam: suara rakyat akan dilelang, bukan dihargai.
Politisi sering berkata: “Kami bekerja untuk rakyat.” Tapi kenyataannya, mereka bekerja untuk balik modal. Lima tahun masa jabatan sebenarnya bukan murni diisi buat kerja untuk rakyat, melainkan lima babak sandiwara:
- Tahun pertama: sibuk mikir cara bayar hutang pada sponsor pemilihan sebelumnya.
- Tahun kedua: mikir cara balik.Modal yang habis
- Tahun ketiga: mulai mikir cara nyari untung Masa sudah di kursi kantong tidak di isi
- Tahun keempat: mikir nyari modal pemilihan selanjutnya
- Tahun kelima: fokus memikirkan cara ngatur startegi Pemilihan lagi dan kembali menjual janji
Rakyat bagai mana? Tim Sukses yg dibawah dagu saja tidak sempat terpikirkan apalagi Rakyat. Tetap.lah jadi penonton setia, hanya sesekali diberi kursi plastik di belakang panggung.
Janji politik itu seperti tiket masuk pesta Pasar malam atau Pub Club Malam, yang menghadapi Bartender. Sebelum pesta, tiket dibagikan gratis. Semua orang boleh masuk, semua orang dianggap penting. Tapi setelah pesta dimulai, Lampu remang-remang di Hidupkan, saat itu.kehidupan dunia malam di mulai, hanya mereka yang punya uang bisa duduk di meja utama. Yang cuma modal kerja, paling-paling hanya bisa mendengar musik.dan.mencium aroma gulai dari dapur. Lucu sekaligus menyedihkan: pesta rakyat ternyata pesta lelang suara. Di gemerlap Dunia remang-remang malam. Semakin anda mengeluh di pasar malam, semakin anda di tertawakan seperti badut sirkus yang menghibur.
Pada akhirnya, politik bukan sekadar soal janji, tapi permainan kecerdikan. Siapa yang paling licik dan cerdik, dialah yang menguasai panggung. Politik pun dilaksanakan seperti dangdutan pasar malam: tawaran tertinggi naik pentas, dan untuk layanan VVIP, siapkan saja uang, karena politik sudah menjelma jadi lokalisasi pelacuran. Mau layanan Full service dalam dunia pelacuran siapkan saja uang yang banyak. Di .situasi ini, kita tidak.lagi.perlu.membahas moral.
Akhir kata, agar tidak Kecewa dalam Politik, mesti jelas Take and Give nya. Kita mesti lihai membidik, kalau tidak, pasti akan di lihaiin oleh orang. Jangan pernah jatuh tertipu dalam politik, sebab politik adalah tipu daya. Dan Karena Politik adaah Dunia Tipu Daya, yang paling sukses dalam politik, sesungguhnya adalah seorang penipu yang paling ulung.
Penulis:
Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.
Advokat Pengacara dan Konsultan Hukum, Aktivis Pengamat Sosial dan Mantan Politisi
Kasus pengeroyokan guru di SMKN 3 Tanjabtim masih menjadi sorotan. Guru yang menjadi korban sudah melaporkan peristiwa tersebut ke polisi, namun hingga kini belum ada satu pun siswa yang ditetapkan sebagai tersangka. Justru muncul dinamika baru: sejumlah siswa meminta agar guru yang dikeroyok dipindahkan dari sekolah. Fenomena ini menambah lapisan persoalan, karena bukan hanya soal hukum, tetapi juga soal wibawa pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Secara hukum, laporan polisi adalah pintu masuk. Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan tetap relevan sebagai kerangka normatif. Guru berhak atas perlindungan hukum, sementara siswa sebagai pelaku tetap dipandang sebagai anak yang berhadapan dengan hukum. Di sinilah UU Sistem Peradilan Pidana Anak hadir, menekankan prinsip restorative justice: penjara bukan tujuan utama, melainkan jalan terakhir. Artinya, proses hukum harus berjalan, tetapi ruang mediasi dan pembinaan tetap terbuka lebar.
Namun, jika anak merasa berhasil menekan guru hingga dipindahkan, karakter mereka bisa tumbuh keras kepala dan besar kepala. Mereka belajar bahwa kekerasan dan tekanan massa lebih efektif daripada introspeksi dan tanggung jawab. Ini berbahaya, karena akan membentuk pola pikir bahwa otoritas bisa ditundukkan dengan kekuatan, bukan dengan dialog. Rasa hormat hilang, kebiasaan buruk terbentuk, dan efek domino bisa menular ke sekolah lain. Masa depan pun rapuh, karena anak yang terbiasa menang dengan cara menekan akan kesulitan beradaptasi di dunia kerja dan masyarakat, di mana disiplin dan tanggung jawab justru menjadi kunci.
Karena itu, memindahkan guru bukan solusi. Justru memperkuat pendidikan karakter adalah jalan keluar. Guru harus dilindungi, siswa harus dibina, dan sekolah harus menegaskan bahwa otoritas pendidikan tidak bisa ditawar dengan kekerasan. Restorative justice tetap bisa dijalankan, tetapi harus diiringi dengan penanaman nilai hormat, tanggung jawab, dan kontrol diri. Orang tua, sekolah, dan aparat hukum harus hadir sebagai mediator aktif sekaligus teladan moral.
Kasus Tanjabtim adalah alarm keras bagi dunia pendidikan. Ia mengingatkan kita bahwa keadilan bukan sekadar menghukum, melainkan juga mendidik. Guru berhak dihormati, anak berhak dibina, dan masyarakat berhak melihat bahwa hukum mampu menegakkan norma sekaligus menjaga masa depan generasi. Negara dan Kekuasaan lah yang harus mengambil peran disana.
Oleh:
Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.
Advokat/Pengacara, Konsultan Hukum, pengamat Sosial, Pendidikan & Spesialisasi Pendidikan Karakter
Hak berdemo adalah hak konstitusional setiap warga negara. Ribuan perangkat desa, mahasiswa, buruh, hingga tukang ojek sudah berulang kali turun ke jalan, menyuarakan aspirasi mereka. Namun, suara itu sering hilang ditelan angin. Kasus tragis seorang pengemudi ojek yang ditabrak kendaraan berat saat aksi, misalnya, lenyap begitu saja tanpa jejak. Nyawa rakyat kecil seakan tidak cukup penting untuk dicatat dalam sejarah.
Sebaliknya, ketika seorang aktivis LSM bersuara, dunia bisa bergetar. Kasus Munir adalah bukti paling nyata. Aktivis HAM yang diracun hingga meninggal dalam perjalanan udara itu bukan hanya menjadi luka bangsa, tetapi juga catatan sejarah internasional. Hingga kini, namanya tetap disebut, kasusnya tetap dikaji, dan dunia tetap menyorotinya. Satu suara dari LSM bisa mengguncang dunia, sementara ribuan suara rakyat biasa bisa hilang begitu saja.
Memang harus diakui, sebagian oknum aktivis LSM pernah dicap buruk: ada yang dianggap hanya mencari proyek, ada yang dituduh punya kepentingan tersembunyi. Namun, fakta yang tak bisa dibantah adalah suara LSM resmi tetap didengar hingga hari ini. Stempel legalitas dan legitimasi internasional membuat satu suara dari LSM bisa mengalahkan ribuan suara perangkat desa, mahasiswa, dan buruh yang berteriak di jalan. Dunia lebih percaya pada suara yang datang dari organisasi resmi, bukan sekadar massa tanpa payung hukum.
Di sinilah pentingnya bergabung ke LSM. Hak berdemo memang bukan monopoli LSM, tetapi legitimasi mereka membuat suara lebih diperhitungkan. Rakyat berdemo sah secara hukum, namun sering dianggap tidak berkapasitas. Kalau kamu bukan LSM, suaramu tidak akan didengar dunia. Demonstrasi rakyat kecil bisa lenyap begitu saja, sementara satu suara dari LSM bisa menjadi sejarah internasional.
Makanya saya memilih bergabung ke LSM. Bukan karena ingin sekadar berorganisasi, tetapi karena saya ingin suara saya tidak hilang. Saya ingin jeritan rakyat kecil yang sering diabaikan bisa terdengar lebih keras, lebih jelas, dan lebih berpengaruh. Dengan bergabung ke LSM, saya berada di bawah payung legitimasi internasional, terlindungi oleh jaringan advokasi, dan punya akses ke panggung global.
Bergabung ke LSM bukan sekadar pilihan, melainkan strategi perjuangan. Dengan bergabung, suara rakyat kecil tidak lagi tercecer, melainkan terorganisir dan terlindungi. LSM memberi akses advokasi, jaringan hukum, media, dan politik. Mereka mampu menjembatani jeritan lokal dengan panggung global. Sejarah membuktikan: dunia lebih mudah mendengar suara yang datang dari LSM.
LSM adalah payung suara rakyat. Mereka punya mandat moral untuk menjadi garda terdepan, apalagi ketika suara rakyat sering tenggelam. Demonstrasi bukan sekadar turun ke jalan, melainkan simbol keberanian menyuarakan kebenaran. Jika rakyat ingin aspirasinya tidak lenyap, maka bergabung ke LSM adalah langkah strategis. Karena dunia tidak akan mencatat semua jeritan di jalan, tetapi akan selalu menyorot suara yang datang dari LSM.
- “Ribuan kades, mahasiswa, buruh berteriak, tapi dunia diam. Satu suara LSM resmi, dunia langsung menoleh. Makanya saya gabung LSM.”
- “Oknum boleh dicap buruk, tapi suara LSM resmi tetap Suaranya akan didengar dunia. Maka dengan Gabung LSM, biar suara kita tak hilang.”
Tepat 2 Januari 2026, Indonesia resmi memasuki babak baru hukum pidana. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) mulai berlaku serentak, menggantikan aturan kolonial Belanda yang telah berusia lebih dari seabad. Pemerintah menyebutnya sebagai tonggak reformasi hukum, namun kalangan advokat, akademisi, dan masyarakat sipil menilai ada pasal-pasal krusial yang justru bisa menjadi ancaman bagi keadilan.
Pasal-Pasal Krusial KUHP
KUHP baru membawa sejumlah ketentuan yang menuai sorotan publik.
- Penghinaan Presiden dan Wakil Presiden: Pasal ini dihidupkan kembali sebagai delik aduan. Kritiknya, bisa digunakan untuk membungkam oposisi dan membatasi kebebasan berpendapat.
- Pasal Kumpul Kebo: Hidup bersama tanpa ikatan pernikahan diatur sebagai delik aduan. Meski hanya berlaku jika ada pengaduan, pasal ini dianggap mencampuri ranah privat warga.
- Delik Pers dan Kebebasan Ekspresi: Ketentuan mengenai berita bohong atau meresahkan publik berpotensi mengekang kebebasan pers.
- Delik Adat: KUHP mengakui hukum adat sebagai sumber hukum pidana sepanjang sesuai prinsip HAM. Langkah ini dipandang progresif, tetapi rawan multitafsir dan diskriminasi.
Pasal-Pasal Krusial KUHAP
KUHAP baru juga membawa perubahan besar dalam prosedur pidana.
- Dominasi Polri sebagai Penyidik Utama: Polri ditetapkan sebagai koordinator PPNS. Kekhawatiran muncul karena kewenangan yang terlalu besar bisa menimbulkan monopoli penyidikan.
- Hak Tersangka atas Bantuan Hukum: KUHAP menegaskan tersangka berhak didampingi advokat sejak awal pemeriksaan. Advokat menjadi benteng terakhir melawan potensi pelanggaran HAM.
- Digitalisasi Proses Hukum: Penyidikan dan persidangan diarahkan ke sistem elektronik. Transparansi dijanjikan, tetapi tanpa pengawasan independen bisa berubah menjadi alat kontrol yang lebih ketat.
- Peraturan Turunan: Pemerintah menyiapkan tiga PP untuk KUHP dan tiga PP untuk KUHAP. Tanpa aturan pelaksana, norma baru berisiko menimbulkan kekosongan hukum.
Advokat di Persimpangan
Advokat kini memegang peran vital. Mereka bukan sekadar pendamping tersangka, melainkan benteng terakhir hak asasi manusia. “Tanpa advokat, tersangka hanyalah angka dalam berkas perkara,” ujar seorang praktisi hukum. Kehadiran advokat di ruang penyidikan menjadi penyeimbang dominasi aparat, sekaligus penghubung antara tersangka dan keluarga.
Transparansi atau Ilusi?
Digitalisasi proses hukum disebut sebagai terobosan. Namun, transparansi yang dijanjikan bisa berubah menjadi ilusi jika akses publik dibatasi atau manipulasi data terjadi. Dokumentasi elektronik seharusnya memperkuat akuntabilitas, tetapi tanpa pengawasan independen, sistem digital justru bisa memperkuat kontrol aparat.
Ancaman Ketidakadilan
Meski disebut sebagai reformasi, KUHP dan KUHAP baru menyimpan potensi ancaman serius:
- Kriminalisasi ekspresi melalui pasal penghinaan presiden dan pasal pers.
- Monopoli kekuasaan penyidikan oleh Polri.
- Multitafsir delik adat yang bisa menimbulkan diskriminasi.
- Minim sosialisasi membuat masyarakat rentan terjerat aturan yang tidak mereka pahami.
Reformasi hukum pidana ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mengakhiri warisan kolonial. Di sisi lain, pasal-pasal krusial bisa menjadi alat represi baru jika tidak diawasi. Sejarah akan mencatat apakah 2 Januari 2026 menjadi hari lahir keadilan, atau justru awal dari ketidakadilan yang dilegalkan.
Oleh :
Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd
Advokat/Pengacara, konsultan Hukum, Aktivis Kemasyarakatan Pengamat Lingkungan, Sosial, Pendidikan dan Hukum
hubungan antar manusia sungguh kompleks dan ada banyak faktor di dalamnya. jangan takut kehilangan teman yg memang tidak bisa sefrekwensi dengan kita.
Tegaslah dalam menyatakan sikap dan jangan takut ditolak, kita harus siap dengan kenyataan yang ada, agar tidak larut dalam kecewa. Realitas hidup yg mesti anda sadari yaitu :
kalau seseorang sudah memilih memandang dirimu buruk, semua yang kamu lakukan akan diintepretasikan olehnya sebagai sebuah keburukan, buat apa kamu sibuk membuang energi meyakinkan orang yg memang sudah dasarnya tidak suka pada kamu. Hapus saja dia dari catatan hidupmu. Karena di dunia ini ada banyak orang yg masih menyukaimu & menginginkan kamu berkembang.
Bila orang atau teman mu, hanya mau menerima keunggulanmu & menolak kelemahanmu, berarti dia hanya ingin bertransaksi denganmu alias hitung²an untung rugi saja, bukan orang mau berjuang bersamamu. Ataupun kalau seseorang menganggapmu bukan siapa², bahkan setelah kau coba menunjukkan keberadaanmu, berhentilah berusaha mengesankan dia. sekalipun matanya menemukanmu tapi hatinya sedang tertutup untukmu. Dan mantabnya pertahankan saja penyakit itu kalau kamu senang di gituin.
kalau seseorang meninggalkanmu karena 1 hal yang dia anggap salah, setelah puluhan (bahkan ratusan) hal benar (yang sama besarnya) yang kau lakukan untuknya, maka mungkin sejak awal dia memang tak pernah mempedulikanmu.
Kalau dari awal mereka memang sudah tidak sefrekwensi. Bagai manapun kamu tidak akan mungkin terkonek, tidak akan mungkin terhubung sinyalnya sekuat apapun upaya mu. Di paksakan juga kamu berkompromi merendahkan hati, sampai² makan hati untuk bisa terhubung dengan mereka yg tak sefrekwensi, pada akhirnya pasti akan renggang juga. Nyamankah kamu dengan sinyal yg rusak dan noise itu?
Paling celaka, kalau sejak awal seseorang terkonek denganmu cuma karena apa yang bisa dia ambil darimu & bukan karena pribadimu, hanya tunggu waktu kamu yang muak, atau dia yang melepasmu saat selesai mengambil manfaat darimu. Aduh.
Itulah realita kehidupan dari sudut pandang negatiifnya yg perlu di sadari. Dari pandangan karakter bermasyarakat yg telah di teliti secara tidak ilmiah. Hanya kata saya...
Besar, kecil, maju mundur.... tergantung lingkungan juga....Bukannya RASIS... tapi memang harus di pilih² juga tempat main, kawan dan orang² yg mesti di sekitar kita...
Mengadopsi cerita tentang seorang bocah yang hendak membelah papan dengan kekuatan telapak kakinya! Namun mari kita alihkan perhatian sejenak dari si bocah, dan lihatlah bagaimana sang guru beladiri itu mendidik muridnya tentang kepercayaan diri....
Si bocah yang malang itu terjatuh pada tendangan pertama! Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang gurunya, seorang pendidik yang terus memberi semangat untuk bangkit kembali.....
Dalam keadaan semakin terpojok, dan gagal pada tendangan kedua dan ketiga kalinya, bocah mungil itu mulai menangis..... Alih-alih merasa iba dan menghentikan latihan, gurunya justru semakin meyakinkan bahwa ia pasti bisa....
Tak hanya guru, teman-teman di sekelilingnya juga meneriakkan namanya. Mereka semua bersorak membakar kemauan si bocah agar mencobanya sekali lagi.....
Maka dalam keadaan menangis ia melayangkan tendangan keempat dan masih tetap gagal. Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang orang-orang di sekelilingnya. ....
Mereka yang tak lelah menyemangati keberanian si bocah. Mereka yang sungguh-sungguh menginginkan agar ia mengeluarkan seluruh kemampuannya hingga batas tertinggi.....
Dalam lingkungan seperti itu, tentu si bocah mendapat energi baru untuk kembali mencoba. Ia bukan orang dewasa yang mengerti prinsip Never Give Up. Ia hanya seorang anak kecil. Keberanian itu semata-mata ia peroleh dari sekelilingnya. .....
Akhirnya tendangan kelimanya semakin kuat, dan ia mencoba lagi dengan kekuatan yang lebih tinggi pada tendangan keenam, hingga papan itupun terbelah dua.....
Si bocah berhasil... Dua keberhasilan sekaligus, membelah papan dan mengalahkan rasa tidak percaya dirinya.... Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang lingkungannya.....
Yaitu mereka yang berteriak gembira menyambut kemenangan si bocah. Yaitu mereka yang berhamburan memberi pelukan erat, seolah-olah mereka lebih bahagia melihat keberhasilan tersebut melebihi kebahagiaan si bocah.....
Kini kita harus percaya, bahwa lingkungan membentuk kita. Jika kita berada di tengah-tengah orang yang positif, hidup kita akan ikut terdorong lebih tinggi. Kelilingi diri Anda hanya dengan mereka yang bersedia mengangkat Anda tinggi-tinggi.... bukan lingkungan busuk hati yg menjatuhkan...
Beruntungnya kalian yg dari awal sdh berada di sekeliling orang² positif yg menyemangati itu.... di banding saya yg berada di lingkungan orang² yg dalam otaknya selalu ingin menjatuhkan.. tapi untung aja kita udah dasar kuat kuat kuda²nya... meski sendirian tetap aja bisa naik tinggi meski di kroyok rame² oleh para pencundang dari segala penjuru... 😀
Burung.... , dia selalu yakin kalau dia pergi pagi dan pulang pastilah perutnya kenyang. Dan memang selalu terbukti seperti itu... krn kalau burung itu tdk pulang dengan perut terisi pasti kita akan dapati banyak burung yg mati disarang nya........
Mengapa burung tidak pernah ragu akan rejeki nya?...... Karena ......
1. Burung tidak punya rekening tabungan, sehingga tidak ada yg perlu dia takuti begitu saldo tabungan itu terus turun....
2. Burung bukanlah pegawai, sehingga tidak ada ketakutan dari nya bila bulan ini tidak dapat gaji.......
3. Burung bukanlah pengusaha, sehingga dia tidak takut omset nya mau naik atau turun......
4. Burung tidak perlu rasa gengsi, walaupun keluar rumah tidak pakai motor atau mobil cicilan tidak masalah, sehingga dia tidak takut sama yg namanya Debt Collector......
5. Burung tidak pernah memilih tempat makan, dia tdk harus makan di restoran cepat saji atau minum di cafe ternama, buat dia makan & minum itu sesuai keperluannya saja tidak mengikuti keinginan nya. Sehingga dia tidak takut bila dia tidak punya Credit Card......
6. Burung tidak perlu barang branded utk penampilannya, karena buat dia utk tampil yang paling baik adalah dengan menonjolkan potensi yg ada pada dirinya sendiri......
Jadi sebenarnya perbedaan Burung dan Manusia dalam hal ini adalah berbeda masalah "KETAKUTAN" nya saja. Dimana Burung lebih banyak rasa TIDAK TAKUT nya dibandingkan Manusia yang banyak rasa TAKUT nya......
.
Pebedaan kedua adalah karena Burung menjalani hidup ini dengan REALISTIS sehingga dia tidak termakan gengsi, sedangkan kita Manusia lebih sering berkhayal dan termakan gengsi.....
.
Lalu kenapa Burung tidak banyak memiliki rasa ketakutan dibandingkan Manusia ?....
.
KARENA BURUNG PERCAYA DAN YAKIN DENGAN PENCIPTA NYA,
Yang perlu dia lakukan hanyalah BERGERAK KELUAR DARI SARANGNYA untuk menjemput rejeki yg sudah di tetapkan oleh PENCIPTANYA........
.
Sedangkan kita manusia sulit sekali utk PERCAYA & YAKIN pada PENCIPTANYA.......
Ingat..!!!...Perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada umur negara itu
Contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap Belum di kategorikan Negara maju.
Di sisi lain –Singapura, Kanada, Australia & New Zealand– negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini mereka adalah bagian dari negara maju di dunia, dan penduduknya tidak lagi miskin
Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin
Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya, 80% berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian & peternakan.
Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia.
Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya
Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia.
Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami.
Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia).
Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas, dan ketertiban – tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.
Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan
Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting.
Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa
Lalu……. apa perbedaannya?
Perbedaannya adalah pada sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan.
Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut.
ØEtika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
ØKejujuran dan integritas
ØBertanggung jawab
ØHormat pada aturan & hukum masyarakat
ØHormat pada hak orang/warga lain
ØCinta pada pekerjaan
ØBerusaha keras untuk menabung & investasi
ØMau bekerja keras
ØTepat waktu
Di negara terbelakang/miskin/ berkembang, hanya sebagian kecil masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut
Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita.
Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik.
Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi, dan negara.
Jika Anda tidak Mempedulikan Tulisan saya ini, tidak akan terjadi apa-apa pada diri Anda!!!
Hewan peliharaan Anda tidak akan mati, Anda tidak akan kehilangan pekerjaan, Anda tidak akan mendapat kesialan dalam 7 tahun, juga Anda tidak akan sakit.
TETAPI….. jika Anda tidak meneruskan Tulisan ini, tidak akan terjadi perubahan apa-apa dalam negara kita. Negara kita akan tetap berlanjut dalam kemiskinan…... dan akan menjadi lebih miskin lagi.
Jika Anda mencintai negara kita, teruskan dan sampaikan Tulisan di Blog ini kepada teman-teman Anda. Biarlah mereka merefleksikan hal ini.
Kita harus mulai dari mana saja. Jika Kita ingin BERUBAH dan BERTINDAK!
Sebuah bisnis tidak akan bertaha lama bila tidak ada inovasi baru. Contohnya sekarang harga barang di online saja udah hancur.
Semua orang bisa import dan jualan banting harga. Mau bikin branding butuh waktu 1 - 3 tahun supaya barangnya laris manis. Amunisi or modal nya kuat gak ? 🤣🤣
Biaya iklan juga semakin mahal.. dan ujungnya nett profit makin tergerus.
Nanti... solusinya adalah.. BALIK LAGI KE OFFLINE kok.
Orang belanja di online akan sampai di titik jenuh.. kebanyakan pedagang ngandalin segala cara buat :
1. Teken harga ke pabrik buat harga murah.. kualitas ga penting.. ujungnya custumer di korbankan.
2. Semua orang bisa import bahkan produksi barang.. ujung" nya.. siapa yang bs jual ke custumer langsung.
3. Satu high income skill aja gak akan cukup kedepannya, Thailand baru" ini kebanjiran orang asing yang apply menjadi warga negara.. hayooo lo... kompetisi sama orang china daratan & india 😅😅. Sorry bukan mau SARA.
4. INFORMASI semakin luas dan pemain gede udah turun langsung ke custumer, baik itu produk maupun jasa akan selalu di banding" kan untuk menekan harga jual.
Contohnya..
Ada barang yang di negara asal... modalnya 480 ribu, dan di market place indonesia harga jualnya 500 rb. Sadis banget kan.. untung cuma 20 rb.
Ongkos import nya gimana ? Biaya karyawan dll gimana?
Yaaaa.. pada akhirnya.. siapa yang bisa lebih dulu mendapatkan informasi mengenai barang baru akan merasa di atas angin.
Gak perlu sombong deh... sekarang bisa dominasi market.. dan merasa udah pinter.. hehe. Roda itu berputar bro... elo gak akan selalu selamanya di atas.
Gaya dagang orang glodok efektif cuma 1 - 3 putaran doank kok.. selebihnya.. mesti cari lagi winning produk .
Contoh :
Import pena yang lagi hits.. 1 container - margin bersih 40 % - barang sold out dalam 2 - 4 minggu.
Import pena kedua .. 1 container lagi.. margin bersih 40% - barang sold out dalam 1 - 2 bulan.
Waktu mau masuk container ketiga.. sudah ada pemain gede lain yang berani jual dengan margin 10-20%. Akhirnya apa ? Sakit hati... terpaksa jual modal buat matiin bisnis tetangga.
Dalam hati berkata.. lumayan.. masih untung 80% dari 2 container awal.
Kenyataannya.. LUMANYUN 😜😜..
Kenyataan di lapangan profit 80% ini.. ketika bayar operational, sewa dll hanya cukup 6 - 12 bulan. Hutang belum terbayarkan mandek, karena harganya udah hancur di pasaran.
Akhirnya.. cari winning produk lagi.. teken harga ke pabrik lagi.. dan terjadi berulang ulang.. tanpa tahu sampai kapan 😅😅.
Belajar bersyukur.. bukan dari kata" yang keluar dari mulut tetapi dari diri yang paling dalam.
Makanya sekarang gua sudah gak mau pusing lagi.. kalo emang bukan rezeki.. ya sudah.. cari lagi.
Karena saya orang indonesia... akan selalu ngomong.. untung saja.. koneksi pabrik saya banyak.. punya skill ini dan itu.. jadinya gak pusing untuk urusan cari sesuap nasi buat di makan. 🤝🤝
Orang yang beneran PUNYA SKILL.. kalo mendadak kehilangan pekerjaan, banyak orang yang mau partner sama dia.
Sumber: Ricky Sen
Koko ceplas ceplos ... bukan cocot maupun motivator. cops fi kit dari pengusahahahhha