Sports

.
Tampilkan postingan dengan label Politik NAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik NAS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2026

Beda Politisi vs Negarawan: Antara yang Hanya Mengejar Kursi Kekuasaan dengan Orang yang Menyiapkan Generasi Negeri yang Lebih Baik

 

Politisi itu mirip tukang cerita di warung kopi. Pandai melucu, pandai bikin orang tertawa, janji-janji berhamburan seperti asap rokok yang mengepul. Katanya harga hasil pertanian akan naik, petani akan sejahtera, jalan kampung akan mulus. Rakyat tersenyum, bahkan kadang percaya. Tapi begitu pulang ke rumah, jalan tetap berlubang, harga tetap jatuh, dan janji tinggal cerita. Politisi hanya sibuk melontarkan kata-kata manis, cari aman, dan memastikan kursi empuknya tidak terguncang.  


Bagi politisi, segala cara ditempuh asalkan menang. Target politisi hanyalah kemenangan. Tidak peduli apakah janji realistis atau tidak, apakah rakyat benar-benar terbantu atau sekadar terhibur. Yang penting kursi kekuasaan tetap dalam genggaman, bahkan kalau perlu diwariskan kepada anak-anaknya. Standar sukses dalam otak politisi sederhana: ia dianggap berhasil bila mampu mengangkat dan menyejahterakan keluarga serta kelompoknya, meskipun negara rusak dan rakyat menderita. Bahkan politisi tidak segan mencari kekayaan dengan cara apa pun, memilih jalan pintas, bahkan menipu, asal tujuannya tercapai. Orientasi politisi hanya pada kepentingan sesaat, bagaimana aman hari ini, bagaimana menang besok, tanpa peduli masa depan bangsa.  

Lebih jauh lagi, politisi sering meninggalkan warisan hutang bagi negara. Ia sibuk berutang demi proyek pencitraan, demi kepentingan sesaat, tanpa memikirkan beban generasi berikutnya.  


Negarawan berbeda. Ia tidak berhenti pada kata-kata. Ia turun ke sawah, ke ladang, ke sungai. Ia melihat hutan yang gundul, sungai yang keruh, anak-anak yang kehilangan teladan. Ia tidak sekadar bicara, tapi mencari solusi. Ia menyiapkan kebijakan agar tanah tetap subur, sungai tetap jernih, dan generasi negeri tumbuh lebih baik.  


Standar sukses bagi negarawan justru sebaliknya: ia dianggap berhasil bila mampu memperbaiki dan membenahi bangsanya, mengangkat negeri dari ketertinggalan menjadi negeri yang maju. Sukses baginya bukan soal keluarga atau kelompok kecil, melainkan seluruh rakyat yang merasakan perubahan nyata. Negarawan tidak pernah memilih jalan pintas, tidak pernah menipu, karena orientasinya selalu pada perbaikan jangka panjang: bagaimana bangsa yang telah dibangun lama tetap berdiri kokoh dan semakin kuat.  

Dan warisan yang ditinggalkan negarawan bukan hutang, melainkan kekayaan negara. Kekayaan berupa sumber daya yang terjaga, sistem yang adil, pendidikan yang maju, dan rakyat yang sejahtera. Itulah tanda bahwa negarawan bekerja bukan untuk dirinya, melainkan untuk generasi bangsa.  


Realitas kita jelas: kerusakan alam semakin parah, hutan terbakar, sungai tercemar, tanah longsor jadi langganan. Kerusakan sosial pun nyata: korupsi merajalela, kesenjangan melebar, anak muda kehilangan arah. Politisi hanya pandai berpose di depan kamera, seolah peduli, padahal sibuk menjaga citra dan mengamankan keluarga. Negarawan justru berani menanggung risiko, mencari solusi, dan menyiapkan aksi penyelesaian.  

Dan di titik ini, kita harus berhenti tertawa. Karena masa depan bangsa tidak bisa terus digantungkan pada politisi yang hanya menempuh segala cara demi menang, mencari kekayaan, memilih jalan pintas, bahkan menipu, lalu mewariskan hutang. Negeri ini butuh negarawan yang berani menanam, berani bertindak, memiliki visi dan misi jelas, dan sibuk menyiapkan generasi negeri yang lebih baik dengan perbaikan jangka panjang, serta mewariskan kekayaan negara.  


Politisi hanya mengejar menang pemilu. Negarawan menyiapkan generasi masa depan yang lebih baik. Dan kita, rakyat, harus belajar membedakan mana sekadar pertunjukan sesaat, dan mana sungguh-sungguh kerja untuk masa depan negeri.  








Sabtu, 31 Januari 2026

Status Hukum Janji Politik Bisa Sah Secara Moral… Tapi Apakah Politisi Punya Moral?

 

Status hukum janji politik selalu jadi pertanyaan besar. Secara moral, janji politik itu sah. Kalau seorang calon berjanji akan membangun jalan, memperbaiki sekolah, atau menurunkan harga sembako, secara moral ia wajib menepati. Tapi pertanyaan yang lebih tajam: apakah politisi itu punya moral?  


Sebelum pemilihan, politisi sibuk mencari kepala. Kepala rakyat dihitung seperti barang dagangan: tinggal ditentukan berapa harga per kepala, lalu dikalikan dengan jumlah suara yang dibutuhkan. Semakin besar kursi yang diincar, semakin mahal harga kepala yang harus dibeli. Maka sebelum pemilihan, politisi sibuk membeli kepala.  Silakan tawarkan berapa banyak kepala yang bisa dijual.


Namun setelah terpilih, yang dibutuhkan bukan lagi jumlah kepala, melainkan isi kepala. Segelintir orang pintar di sekelilingnya, Hanya Tim Kecil yang lihai menghitung cara mengembalikan modal kampanye, mengatur proyek, dan menyiapkan strategi untuk pemilihan berikutnya. Rakyat yang dulu dielus kepalanya, kini hanya jadi tinggal jadi angka di catatan sejarah.  


Dan bukan hanya modal kampanye yang menentukan kursi. Dalam praktiknya, lawan politik pun bisa ikut mendapat kursi kalau sanggup membayar lebih mahal. Persis seperti lelang dalam acara dangdutan di kampung-kampung. "Yang berani menawar paling tinggi, naik pentas". Demokrasi pun berubah jadi pasar malam: suara rakyat akan dilelang, bukan dihargai.  


Politisi sering berkata: “Kami bekerja untuk rakyat.” Tapi kenyataannya, mereka bekerja untuk balik modal. Lima tahun masa jabatan sebenarnya bukan murni diisi buat kerja untuk rakyat, melainkan lima babak sandiwara:  

- Tahun pertama: sibuk mikir cara bayar hutang pada sponsor pemilihan sebelumnya.  

- Tahun kedua: mikir cara balik.Modal yang habis 

- Tahun ketiga: mulai mikir cara nyari untung Masa sudah di kursi kantong tidak di isi  

- Tahun keempat: mikir nyari modal pemilihan selanjutnya

- Tahun kelima: fokus memikirkan cara ngatur startegi Pemilihan lagi dan kembali menjual janji


Rakyat bagai mana? Tim Sukses yg dibawah dagu saja tidak sempat terpikirkan apalagi Rakyat. Tetap.lah jadi penonton setia, hanya sesekali diberi kursi plastik di belakang panggung.  


Janji politik itu seperti tiket masuk pesta Pasar malam atau Pub Club Malam, yang menghadapi Bartender. Sebelum pesta, tiket dibagikan gratis. Semua orang boleh masuk, semua orang dianggap penting. Tapi setelah pesta dimulai, Lampu remang-remang di Hidupkan, saat itu.kehidupan dunia  malam di mulai, hanya mereka yang punya uang bisa duduk di meja utama. Yang cuma modal kerja, paling-paling hanya bisa mendengar musik.dan.mencium aroma gulai dari dapur. Lucu sekaligus menyedihkan: pesta rakyat ternyata pesta lelang suara. Di gemerlap Dunia remang-remang malam. Semakin anda mengeluh di pasar malam, semakin anda di tertawakan seperti badut sirkus yang menghibur.


Pada akhirnya, politik bukan sekadar soal janji, tapi permainan kecerdikan. Siapa yang paling licik dan cerdik, dialah yang menguasai panggung. Politik pun dilaksanakan seperti dangdutan pasar malam: tawaran tertinggi naik pentas, dan untuk layanan VVIP, siapkan saja uang, karena politik sudah menjelma jadi lokalisasi pelacuran. Mau layanan Full service dalam dunia pelacuran siapkan saja uang yang banyak. Di .situasi ini, kita tidak.lagi.perlu.membahas moral.


Akhir kata, agar tidak Kecewa dalam Politik, mesti jelas Take and Give nya. Kita mesti lihai membidik, kalau tidak, pasti akan di lihaiin oleh orang. Jangan pernah jatuh tertipu dalam politik, sebab politik adalah tipu daya. Dan Karena Politik adaah Dunia Tipu Daya, yang paling sukses dalam politik, sesungguhnya adalah seorang penipu yang paling ulung.  


Penulis: 

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.

Advokat Pengacara dan Konsultan Hukum, Aktivis Pengamat Sosial dan Mantan Politisi





Sabtu, 10 Januari 2026

Pola Membunuh Ala Modern — Dari Senjata Misterius ke Drone Mini Berbasis Data Pribadi

 

Perang di era modern tidak lagi bergantung pada jumlah pasukan atau keberanian di medan tempur. Pola membunuh kini berubah. Teknologi dijadikan algojo, algoritma dijadikan hakim, dan data pribadi dijadikan senjata.  


Kesaksian pengawal Nicolás Maduro menjadi alarm keras. Mereka berdiri tegak, lalu tiba‑tiba tubuh diguncang oleh sesuatu yang tak terlihat. Suara keras menghantam telinga, kepala terasa meledak dari dalam, darah muncrat dari hidung, beberapa muntah darah, dan tubuh roboh tak bisa bergerak. Itu bukan peluru, bukan bom, melainkan senjata misterius yang menghantam dengan gelombang suara. Serangan itu dingin, cepat, dan presisi—membuktikan bahwa manusia bisa dilumpuhkan tanpa sempat melawan.  


Namun bagi saya, yang lebih mengerikan bukan sekadar senjata misterius itu. Masa depan perang ada pada drone mini. Drone kecil, nyaris tak terdengar, bisa dikirim langsung ke sasaran. Ia tidak menembak kerumunan, melainkan satu orang yang sudah dipilih algoritma. Dan algoritma itu bekerja dari data pribadi. Nama, alamat, lokasi GPS, kebiasaan harian—semua jejak digital yang kita tinggalkan bisa berubah menjadi peta eksekusi.  


Inilah inti kejamnya: data pribadi dijadikan senjata untuk menentukan siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati. Drone mini tidak lagi sekadar mesin terbang, ia adalah algojo modern. Ia membaca data, memilih target, lalu mengeksekusi. Privasi runtuh, manusia berubah menjadi titik koordinat. Hidup dan mati ditentukan bukan oleh hakim, bukan oleh takdir, melainkan oleh algoritma dingin.  


Amerika sudah menunjukkan contohnya. Serangan drone di Timur Tengah menewaskan target individu yang dipilih dari daftar data. Operator duduk ribuan kilometer jauhnya, menatap layar, menekan tombol, dan dalam hitungan detik sebuah rudal kecil menghantam mobil atau rumah. Tidak ada pertempuran, tidak ada perlawanan. Hanya satu orang yang dipilih untuk mati, sementara dunia di sekitarnya tetap berjalan seperti biasa.  


Kisah di Yaman menjadi contoh dramatis. Seorang pria bernama Anwar al‑Awlaki, warga negara Amerika sekaligus ulama radikal, dijadikan target. Data pribadinya dikumpulkan: lokasi, komunikasi, kebiasaan. Drone dikirim, rudal ditembakkan, dan ia tewas seketika. Tidak ada pengadilan, tidak ada proses hukum. Hidup dan mati ditentukan oleh algoritma dingin yang membaca data.  


Kisah lain datang dari Pakistan. Drone menargetkan rumah yang diyakini menjadi tempat persembunyian militan. Data lokasi GPS dan komunikasi elektronik dipakai untuk memastikan siapa yang ada di dalam. Rudal ditembakkan, rumah hancur, dan belasan orang tewas. Di antara korban, ada anak‑anak dan warga sipil yang tidak pernah tahu mengapa mereka harus mati.  


Inilah pola membunuh era modern: manusia dijadikan titik koordinat dalam daftar eksekusi. Senjata misterius bisa melumpuhkan pasukan dalam sekejap, sementara drone mini berbasis data pribadi bisa memburu individu dengan presisi. Perang bukan lagi soal keberanian di medan tempur, melainkan soal siapa yang dikejar algoritma. Hidup bisa berakhir bukan karena bom atom, tetapi karena data pribadi yang bocor.  


Pola ini dramatis, kejam, dan dingin. Ia menunjukkan wajah perang yang tidak lagi manusiawi. Teknologi menjadi algojo, data pribadi menjadi peluru, dan algoritma menjadi hakim. Dunia harus sadar: ketika privasi runtuh, hidup manusia bisa runtuh bersamanya.  


 Oleh: 

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.  


Jumat, 01 Agustus 2025

Wajah Hukum Indonesia : Abolisi Tom Lembong: Bukan Pengampunan, Tapi di Duga Hanya Pengalihan

 

Opini Hukum 

oleh  :

Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd  

Abolisi yang diberikan kepada Tom Lembong dalam kasus impor gula bukanlah bentuk belas kasih terhadap seorang mantan pejabat. Ini adalah strategi politik yang rapi—dan licik—untuk menyelamatkan aktor-aktor besar yang bersembunyi di balik kebijakan yang merugikan negara dan rakyat.


Tom Lembong hanyalah pintu masuk. Ia adalah wajah yang ditampilkan ke publik, sementara para pengambil keputusan sesungguhnya, para sponsor kebijakan, dan pelaku bisnis yang diuntungkan dari impor ilegal, tetap berada di balik layar. Dengan menghapus proses hukum terhadap TL, maka proses pengungkapan terhadap mereka pun ikut dihentikan.


Abolisi ini bukan untuk Tom Lembong. Ia hanya dijadikan tameng. Yang sebenarnya diselamatkan adalah:


1. Pengusaha-pengusaha besar yang mengimpor gula tanpa izin resmi, menjual di atas HET, dan meraup keuntungan besar.

2. Aparat penegak hukum yang membiarkan atau bahkan memfasilitasi pelanggaran tersebut.

3. Pejabat-pejabat yang memaksakan kebijakan impor tanpa dasar hukum yang sah.

4. Sponsor politik yang mendesain skenario agar TL menjadi tersangka, lalu dihapuskan demi menutup jejak.


Jika proses banding terhadap TL dibiarkan berjalan, maka pengadilan bisa membuka fakta-fakta baru. Bisa jadi TL hanya menjalankan perintah. Bisa jadi ia dipaksa menandatangani kebijakan yang sudah dirancang oleh pihak lain. Tapi dengan abolisi, semua kemungkinan itu ditutup. Kebenaran dikubur sebelum sempat diuji.


Abolisi ini bukan penyelesaian hukum. Ini adalah pengalihan tanggung jawab. Ini adalah cara halus nan licik untuk menyelamatkan mereka yang seharusnya duduk di kursi terdakwa.


Saya, Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd, menyatakan bahwa jika kita ingin membangun negara yang jujur dan berintegritas, maka proses hukum harus dijalankan sampai tuntas. Jangan biarkan abolisi menjadi alat untuk melindungi mereka yang paling bertanggung jawab, tapi paling pandai bersembunyi di Balik Kekuasaan.









Minggu, 24 Juli 2022

Matery After Married Phobia

 



Ini Adalah serangkaian Daftar anggaran bulanan, bagi yang ingin dan baru menikah. Asumsi disusun berdasarkan skala proritas, sangat2 relatif, dan berdasarkan basic needs standar menengah ke bawah) 

1. Makan Dengan asumsi sekali makan adalah 15.000.-

Maka makan 3x sehari,kali 2 orang (karena lagu sepiring berdua cuma berlaku pada saat pacaran ajah), kali 30 hari adalah Rp2.700.000 

Tips 

Rajin2 ke kondangan atau sunatan, dan bawa pulang nasi nya, pasti lebih ngirit 

2.Kontrakan 

Dengan asumsi masih ngekos di rumah petak, yang punya uda botak, tapi masih galak, dan punya anjing belum jinak. Maka dana untuk kos/kontrakan sekitar 300.000/bulan 

Tips

Tinggallah di Pondok Mertua Indah. Niscaya 2 dana diatas gak akan pernah ada. Di pondok mertua indah, anda akan bebas makan apa aja, termasuk 'makan ati'

3. Listrik dan Air

Dengan asumsi daya listrik 900 watt dan pake jetpam maka anggaran untuk listrik adalah 200.000/bulan

Tips

Jangan pake AC, cukup AC (angin cendela). Jangan suka main Pake komputer, lap top, HP  dan.lainnya yg ngambil daya PLN, cukup main monopoli, atau cerita² aja ama istri terasa lebih romantis

4. Transportasi

Dengan asumsi naik motor ke kantor, dengan motor yang paling irit rit, rit, maka untuk ongkos bensin dan servis adalah 300.000/bulan

Tips

Gunakanlah minyak campur! (maksudnyah campur dorong, pasti lebih irit) 

Atau ikutlah "Nebeng Fans Club", dengan alasan mempererat silaturahmi dengan yang ditebengi maka perjalanan berangkat dan pulang kerja akan terasa lebih menyenangkan 

5. Komunikasi /net

Dengan asumsi paket nelpon dan net maka untuk sebulan, ongkos komunikasi berdua adalah 200.000 Tips Pakelah 'FREN' yang lebih murah (maksudnya kalo mau nelpon atau mau ngenet tinggal bilang "Freeen...minjam HP dan hotspotnya nya dong freen...") 

6. Keperluan sehari2 Seperti sabun,odol,shampoo, dil dsb. 

Dengan asumsi tidak pake fesyel,krimbat, manikyur, pedikyur, dan mendengkur, maka alokasi dana untuk ini sebesar 150.000 

Tips: 

Mandi kalo perlu saja. Kalo dulu 2 kali sehari,jadi 2 hari sekali. ... Untuk ngirit odol kembalilah memakai tumbukan batu bata 

7. Kesehatan 

Seperti minyak kayu putih,vitamin, obat pusing (ini penting buat pengantin baru wekekekek!), maka alokasi cadangan untuk kesehatan sebesar 150.000 

Tips Jaga kesehatan 

Jangan begadang...kalo tiada artinya...begadang bole saja...asalkan sambil ronda (halah!!) 

8.Entertaiment 

Nha ini kalo ada uang lebih aja, bisalaah sekali2 nontin liat live music, lari pagi di lapangan, atau makan martabak sekali2

Jadii...

Dari asumsi basic needs diatas maka pengeluaran untuk tiap bulan adalah

sebesar :

4.000.000/bulan

(...gede juga ya)

Mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan temen² ketika pengen nikah,

untuk kemudian dibandingkan dengan pemasukan yang ada.

Kalopun masih 'besar pasak daripada tiang'

Anda bisa memperkecil pasak, atau memperbesar tiang...ataauu. ..ga usak pake pasak, tapi dipaku aja!