Sports

.

Senin, 09 Maret 2026

Persiapan Menghadapi Krisis Global

 

Hari ini, kondisi ekonomi Indonesia sudah menunjukkan tanda-tanda rapuh. Pertumbuhan hanya berkisar 5%, sementara tekanan eksternal semakin berat. Para ekonom menilai target pemerintah terlalu optimistis di tengah ketidakpastian global. Perang yang meluas di Timur Tengah dan Eropa membuat harga minyak melonjak, rupiah melemah, dan ancaman defisit ganda semakin nyata. CNBC Indonesia bahkan menggambarkan ekonomi kita “tertatih berjalan,” ibarat orang yang baru belajar berdiri—mudah jatuh bila ada guncangan besar.  


Dampak perang bukan sekadar angka di laporan ekonomi. Di pasar, harga kebutuhan pokok naik tanpa kendali. Tabungan keluarga terkuras hanya untuk belanja harian, cicilan utang terasa makin berat, dan peluang kerja berkurang karena industri berhenti produksi. Antrean panjang di SPBU bisa berakhir ricuh, listrik padam bergilir, dan transportasi lumpuh. Anak-anak menangis karena makanan semakin sedikit, orang tua gelisah mencari cara bertahan. Tetangga mulai saling curiga, keamanan lingkungan rapuh, dan kriminalitas meningkat.  


Para ahli mengingatkan, jika perang terus meluas, skenario terburuk adalah kolaps sistemik: ekonomi runtuh, energi langka, pangan mahal, masyarakat panik, dan negara kehilangan kendali. Dalam keadaan seperti itu, persiapan pribadi dan keluarga menjadi benteng terakhir. Simpan kebutuhan dasar yang tahan lama, kurangi belanja konsumtif, siapkan dana darurat, dan jaga kesehatan. Jangan menunggu bantuan datang, karena distribusi bisa macet berhari-hari. Bangun solidaritas dengan tetangga, karena dalam krisis, jaringan sosial adalah satu-satunya jaring pengaman.  


Krisis global bukan sekadar isu di media, melainkan ancaman nyata yang bisa mengetuk pintu rumah kapan saja. Hanya keluarga yang siap yang mampu bertahan. Persiapan sederhana—stok pangan, pengelolaan keuangan, menjaga kesehatan, dan dukungan antarwarga—adalah senjata nyata menghadapi badai yang menakutkan ini. Gotong royong tetap penting, tapi ketahanan dimulai dari rumah masing-masing.  


Apabila perang benar-benar meluas, yang tersisa hanyalah mereka yang sudah bersiap. Tanpa persiapan, keluarga bisa terjebak dalam kelaparan, keputusasaan, dan kekacauan. Dengan persiapan, ada harapan untuk bertahan, bahkan di tengah dunia yang runtuh.


Oleh : Adv. Yan Salam Wahab, SHI. M.Pd








Minggu, 08 Maret 2026

Prediksi Bangsa Arab akan di Gantikan oleh Kaum Yang Lain

 

هَٰٓأَنتُمْ هَٰٓؤُلَآءِ تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ ۖ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِۦ ۚ وَٱللَّهُ ٱلْغَنِىُّ وَأَنتُمُ ٱلْفُقَرَآءُ ۚ وَإِن تَتَوَلَّوْا۟ يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓا۟ أَمْثَٰلَكُم


Artinya: Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling /niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini." (QS. Muhammad : 38)


يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يُرَاجِعْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى سَأَلَهُ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا قَالَ وَفِينَا سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ قَالَ فَوَضَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَلَى سَلْمَانَ ثُمَّ قَالَ لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ  رِجَالٌ مِنْ هَؤُلَاء


Ya Rasulullah, siapakah mereka itu?' Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak menjawab hingga orang-orang tersebut bertanya sebanyak tiga kali. kami ada Salman Al Farisi. Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya pada Salman seraya bersabda: 'Seandainya iman itu berada di tempat bintang-bintang di langit, tentu orang-orang Persia pasti akan mencapainya.' ( Hadits shahih Muslim)


Bangsa Arab senagai pusat kejayaan Islam, tapi ayat Al-Qur’an jelas mengingatkan: kalau satu kaum berpaling, Allah akan gantikan dengan kaum lain yang lebih ikhlas dan berani. Kini banyak yang menilai bangsa Arab terlalu sibuk dengan dunia, harta, dan kekuasaan. Mereka takut kehilangan kekayaan, kikir dalam berinfak, bahkan ada yang berpihak pada musuh Islam. Padahal amanah Islam menuntut keberanian, pengorbanan, dan keteguhan hati.  


Sejarah membuktikan, kejayaan Islam tidak eksklusif milik satu bangsa. Ketika Arab melemah, Persia, Turki, bahkan kaum non-Arab lain pernah tampil sebagai pengganti. Pesan utamanya: Allah tidak butuh manusia, manusialah yang butuh Allah. Kalau satu bangsa lalai, Allah akan pilih bangsa lain yang lebih siap.  


Jadi peringatan ini bukan hanya untuk bangsa Arab, tapi untuk seluruh umat Islam. Jangan sampai kita digantikan karena terlalu cinta dunia, takut berkorban, dan berpaling dari perjuangan. Yang bertahan adalah mereka yang berani, ikhlas, dan teguh membela agama.


Sabtu, 07 Maret 2026

Strategi dan Taktis Perang Bangsa Persia Kembali Menunjukkan Taringnya

 

Bangsa Persia sejak dahulu kala selalu punya jurus yang membuat musuh kehilangan akal. Mereka tidak selalu mengandalkan senjata canggih, tetapi sering memanfaatkan hal-hal sederhana yang justru lebih mematikan. Sejarah mencatat bagaimana batu besar atau besi dijatuhkan dari ketinggian untuk merusak formasi musuh. Taktik ini terlihat kuno, tetapi justru menunjukkan kecerdikan: memanfaatkan gravitasi sebagai senjata, tanpa perlu mesiu atau bubuk peledak.  


Kini, wajah Persia modern tetap mempertahankan roh kecerdikan itu. Dunia membayangkan ancaman seperti “hujan tungsten”—simbol dari serangan yang sederhana, senyap, tapi membuat kapal baja sekalipun merasa rapuh. Bukan karena senjata itu benar-benar digunakan, melainkan karena ide semacam itu menunjukkan betapa Persia pandai memainkan psikologi perang: membuat musuh selalu waspada terhadap ancaman yang tak terlihat radar, tak terdengar sirene, tapi menghantui pikiran.  


Inilah seni perang Persia: menggabungkan tradisi kuno dengan strategi modern, menekankan efek psikologis dan simbolik. Dari kereta perang di Gaugamela hingga bunker rudal di Teluk Persia, mereka menunjukkan bahwa kecerdasan adalah senjata paling tajam. Dunia pun kembali menoleh, karena taring Persia bukan hanya tajam di medan perang, tetapi juga di panggung geopolitik global.  


Oleh : Adv. Yan salam Wahab, SHI. M.Pd

Jumat, 06 Maret 2026

Preman Dunia Palak Pedagang Minyak alasan Keamanan: Keamanan dari Siapa??

 

Selat Hormuz, jalur sempit yang jadi urat nadi perdagangan minyak dunia, mendadak jadi panggung sandiwara. Amerika Serikat tampil seperti preman pasar: teriak keras, bikin orang takut, lalu memalak dengan dalih “uang keamanan.” Mereka gembar‑gembor seolah jalur mau ditutup, kapal bisa celaka, minyak bisa macet.


Iran langsung bantah, “Hei, jalur nggak ditutup kok! Kapal lewat biasa saja.” Nah, di sinilah kelucuannya: Amerika sudah keburu pasang muka sangar, bikin brosur keamanan, siap narik iuran. Begitu Iran buka mulut, semua gembar‑gembor itu jadi seperti tukang parkir liar yang teriak “awas mobilmu bisa lecet,” padahal jalanan kosong dan aman‑aman saja. Belagu ketahuan, tapi duit sudah sempat ditarik.

Amerika jelas untung besar: stok minyak sudah diborong sebelum ribut, lalu panen saat harga naik. Iran, meski membantah, tetap dapat panggung politik. Pemerintah di Indonesia ikut main dengan propaganda cadangan minyak cuma cukup 20 hari. Angka ini dipakai untuk menakut‑nakuti rakyat, seolah besok bensin bisa habis. Panik pun tumbuh, harga BBM naik, dan dompet receh jadi korban.  


Intinya: jualan tekanan dan rasa takut adalah trik paling efisien untuk memalak orang. Amerika pakai di panggung global, Iran pakai untuk gengsi politik, pemerintah pakai untuk legitimasi kebijakan. Di level lokal pun sama: debt collector menakut‑nakuti debitur, tukang parkir liar bikin orang takut mobilnya lecet, pedagang pasar bilang “besok harga naik” supaya pembeli buru‑buru bayar. Dari kampung sampai gedung tinggi, triknya sama: dagang ketakutan.  

Dari panggung global sampai kampung kecil, polanya sama. Debt collector menakut‑nakuti debitur, tukang parkir liar bikin orang takut mobilnya lecet, pedagang pasar bilang “besok harga naik” supaya pembeli buru‑buru bayar. Dari terminal sampai gedung tinggi, dagang ketakutan jadi bisnis paling laku.


Alurnya mengalir dari panggung dunia ke dapur rakyat kecil. Indonesia jadi pedagang kecil yang lewat sambil komat‑kamit, “Semoga dagangan sampai rumah, bensin tinggal seperempat.” Rakyat akhirnya yang harus menanggung beban, sementara para pemain besar tertawa di balik meja.

Dan ujung cerita? Setelah semua ribut‑ribut, si preman dunia ternyata bukan sibuk jaga jalur, tapi buka warung kopi di pinggir Selat Hormuz. Paket “uang keamanan” ternyata bonus: dapat kopi pahit gratis sambil nonton kapal lewat. Dunia pun ketawa getir—ternyata semua ini bukan soal keamanan, melainkan soal siapa paling lihai memicu rasa takut, menipu, dan menjebak demi keuntungan.


Oleh: Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.












KUHP: Kasih Uang Habis Perkara

 

KUHP itu sebenarnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, aturan resmi negara untuk mengatur keadilan. Tapi di lapangan, banyak orang memelesetkannya jadi “Kasih Uang Habis Perkara.” Artinya, kalau sudah ada uang yang berpindah tangan, urusan dianggap selesai.  


Inilah penyakit hukum kita. Orang yang berperkara malas ribut panjang, lalu kasih uang. Aparat yang menerima jadi terbiasa, lama-lama hukum bukan lagi soal benar atau salah, tapi soal siapa yang bayar lebih dulu. Rakyat kecil makin terjepit, karena mereka tidak punya uang untuk “damai.”  


Lucunya, banyak yang mengucapkan istilah itu sambil tertawa. Seolah perkara hukum sama gampangnya dengan beli kopi di warung: bayar, selesai. Tapi di balik tawa itu ada luka. Rakyat kecil hanya bisa gigit jari, aparat kehilangan wibawa, dan bangsa kehilangan moral.  


Kalau dipikir-pikir, ini bukan sekadar masalah hukum, tapi masalah mental. KUHP bukan cuma pasal dingin di atas kertas, tapi amanah moral. Kalau hukum dijalankan dengan uang, keadilan hanya jadi bayangan, seperti asap yang hilang tertiup angin.  


Budaya “Kasih Uang Habis Perkara” harus dihentikan. Jangan biarkan hukum berubah jadi pasar gelap keadilan, tempat orang tawar-menawar nasib dengan uang. Hukum harus jadi jalan terang, tempat rakyat kecil pun bisa berdiri tegak tanpa harus bayar untuk mendapatkan haknya.  


Dan kalau ada yang masih menganggap praktik ini sebagai jalan pintas, silakan saja. Tapi bagi saya, itu racun. Kita bisa sepakat untuk tidak sepakat, tapi tujuan kita tetap sama: menegakkan hukum dengan hati nurani, bukan dengan uang.  


Oleh :

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.  










Kamis, 05 Maret 2026

Publik Speaking di Parlemen: Bedanya Pemimpin Indonesia dan Negara Lain

 
Ketika otak dan komunikasi diuji tanpa teks. Di Malaysia, Perdana Menteri harus siap berdebat di Dewan Rakyat. Ia ditantang oposisi, dipaksa menjawab spontan, dan diuji di depan rakyat. Di Amerika Serikat, tradisi State of the Union memperlihatkan presiden berbicara langsung di hadapan Kongres, menghadapi tepuk tangan sekaligus interupsi. Publik bisa menilai kualitas otak dan komunikasi pemimpin secara nyata, tidak ada banyak drama.


Indonesia? Presiden jarang sekali hadir di DPR untuk berdebat. Komunikasi lebih banyak lewat pidato resmi atau menteri yang mewakili. Akibatnya, rakyat tidak pernah melihat presiden diuji secara langsung oleh wakil rakyat. Inilah yang menimbulkan kesan: kualitas otak pemimpin Indonesia tidak jelas, karena tidak pernah terlihat dalam ujian spontan.  

Pemimpin sejati bukan sekedar pandai membaca teks. Ia harus mampu mencurahkan isi pikiran, menjawab kritik, dan mengendalikan suasana dengan kata-kata. Publik speaking di parlemen adalah panggung yang memperlihatkan otak yang tajam dan komunikasi yang kuat. Ketika pemimpin Indonesia tidak pernah tampil di arena itu, Wajar Publik bertanya: apakah memang ada kualitas otak yang bisa diandalkan, atau sekadar kemampuan membaca naskah?  


Perbedaan ini mencolok. Di negara lain, pemimpin diuji setiap minggu, bahkan bisa dijatuhkan lewat debat dan mosi tidak percaya. Di Indonesia, presiden aman dari ujian langsung. Stabilitas eksekutif memang terjaga, tetapi transparansi dan kualitas kepemimpinan jadi kabur. Demokrasi terasa pincang bila rakyat tidak pernah melihat pemimpin beradu gagasan di ruang parlemen.  

Demokrasi bukan hanya soal memilih, tetapi juga soal melihat pemimpin diuji di depan rakyat. Dan ujian paling jujur adalah ketika seorang pemimpin berbicara dengan isi otaknya sendiri, bukan sekadar membaca naskah.  


Oleh : Adv. Yan Salam Wahab, SHI. M.Pd