Sports

.

Minggu, 01 Maret 2026

Budaya Konoha Membayar untuk Jadi "Babu"

 


Bayangkan sebuah negeri bernama Konoha, di mana orang-orang rela membayar bukan untuk merdeka, tapi untuk dijajah. Dari bawah sampai atas, budaya ini sama saja: pegawai kecil setor demi seragam, pejabat setor demi pangkat, politisi setor demi kursi. Semua bangga seolah itu prestasi, padahal tiket masuk ke dunia babu. Bayar dulu, baru akhirnya dapat tugas  disuruh-suruh.  


Birokrasi pun jadi panggung komedi gelap. Promosi bukan soal otak encer, tapi soal amplop tebal. Mahar politik jadi brosur paling laris, visi misi cuma hiasan. Yang bayar dianggap naik kelas, padahal cuma naik panggung untuk jadi jongos elite. Seperti beli tiket VIP di bus bobrok: duduknya empuk, tapi tetap meluncur ke jurang. Penonton tepuk tangan, padahal filmnya jelas berakhir tragis.  


Lalu datang adegan klimaks. Musik dramatis, kamera zoom in. Ada pemimpin yang rela setor bukan sekadar miliaran, tapi sampai 17 triliun rupiah. Angka segila itu bukan investasi, melainkan jebakan. Bukannya meraih kehormatan, malah menyerahkan kedaulatan. 17 triliun itu kontrak abadi, mengikat bangsa dalam penjajahan modern. Panggung yang katanya bergengsi, penuh sorotan, ternyata hanyalah panggung perbudakan dengan rantai tak kasat mata.  


Lelucon bergelinding di sepanjang cerita: bayar untuk dijajah, bayar untuk menderita, lalu bangga seolah itu pencapaian. IQ rendah menjadikan pilihan salah sebagai hobi nasional. Seperti trailer film horor: semua tokoh tahu pintu itu menuju jurang, tapi tetap antre masuk sambil senyum. Penonton pun ikut tertawa getir, karena sadar mereka juga bagian dari cerita.  


Satir ini mengingatkan: jabatan bukan barang dagangan, melainkan amanah. Kalau sampai ada pemimpin yang setor 17 triliun demi jadi jongos asing, itu bukan prestasi, tapi tragedi bangsa. Membayar untuk dijajah, membayar untuk menderita—itulah budaya umum Konoha dari bawah sampai atas, budaya yang menjerat bangsa dalam ikatan penjajahan modern.








Jumat, 27 Februari 2026

Membongkar Fakta yang Ditutup Rapat Demi Cap "Islam itu Terrorist"

 

Katanya Islam dan Muslim jadi biang kerok kekerasan, terorisme, dan segala macam kerusuhan dunia. Tapi mari kita buka catatan hitam sejarah dan statistik: siapa sebenarnya yang mencatat rekor kelam?


Negara dengan tingkat pelacuran tertinggi

1. Thailand (Budha)  

2. Denmark (Kristen)  

3. Italia (Kekristianan)  

4. Jerman (Kristen)  

5. Prancis (Kekristianan)  

6. Norwegia (Kristen)  

7. Belgia (Kekristianan)  

8. Spanyol (Kekristianan)  

9. Inggris (Kekristianan)  

10. Finlandia (Kristen)  


Mayoritas Kristen. Jadi, siapa yang sebenarnya jadi “raja prostitusi dunia”? Fakta ini bukan gosip, tapi data yang jarang diangkat. Ironisnya, dunia diam seribu bahasa, seolah-olah pelacuran itu hanya masalah “lokal” dan bukan aib global.


Negara dengan tingkat pencurian tertinggi

1. Denmark dan Finlandia (Kristen)  

2. Zimbabwe (Kekristianan)  

3. Australia (Kekristianan)  

4. Kanada (Kekristianan)  

5. Selandia Baru (Kekristianan)  

6. India (Hinduisme)  

7. Inggris dan Wales (Kristen)  

8. AS (Kekristianan)  

9. Swedia (Kekristianan)  

10. Afrika Selatan (Kekristianan)  


Lagi-lagi dominasi Kristen. Jadi, maling kelas dunia itu siapa? Kalau pencuri kecil di kampung ditangkap, heboh. Tapi pencuri kelas negara? Sunyi. Dunia pura-pura tuli.


Negara dengan tingkat kecanduan alkohol tertinggi

1. Moldavia (Kristen)  

2. Belarus (Kristen)  

3. Lituania (Kristen)  

4. Rusia (Kristen)  

5. Republik Ceko (Kristen)  

6. Ukraina (Kristen)  

7. Andorra (Kristen)  

8. Romania (Kristen)  

9. Serbia (Kristen)  

10. Australia (Kristen)  


Semua Kristen. Jadi, siapa yang mabuk sampai rusak generasi? Alkohol jadi budaya, tapi dampaknya: keluarga hancur, generasi lumpuh, ekonomi bocor. Tapi tetap saja, Muslim yang dituding “tidak beradab”.


Negara dengan tingkat pembunuhan tertinggi

1. Honduras (Kristen)  

2. Venezuela (Kristen)  

3. Belize (Kristen)  

4. El Salvador (Kristen)  

5. Guatemala (Kristen)  

6. Afrika Selatan (Kekristianan)  

7. Santa Kitts dan Nevis (Kristen)  

8. Bahama (Kristen)  

9. Lesotho (Kristen)  

10. Jamaika (Kristen)  


Mayoritas Kristen. Jadi, siapa yang paling hobi bunuh sesama? Angka pembunuhan ini bukan sekadar statistik, tapi jeritan manusia yang hilang nyawa. Dunia bungkam, tapi kalau ada konflik kecil di negeri Muslim, langsung dicap “barbar”.


Geng paling berbahaya

1. Yakuza (Tanpa agama)  

2. Agberas (Kristen)  

3. Wah Sing (Kristen)  

4. Bos Jamaika (Kristen)  

5. Pertama (Kristen)  

6. Persaudaraan Aryan (Kristen)  


Mayoritas Kristen. Jadi, siapa yang bikin dunia penuh geng kriminal? Mereka punya jaringan, punya senjata, punya bisnis gelap. Tapi tetap saja, label “teroris” dilempar ke Muslim.


Kartel narkoba terbesar

1. Pablo Escobar - Kolombia (Kristen)  

2. Amado Carrillo - Kolombia (Kristen)  

3. Carlos Lehder Rivas (Kristen)  

4. Griselda Blanco - Kolombia (Kristen)  

5. Joaquin Guzman - Meksiko (Kristen)  

6. Rafael Caro Quintero - Meksiko (Kristen)  


Semua Kristen. Jadi, siapa yang jadi “CEO narkoba dunia”? Mereka merusak jutaan anak muda, menghancurkan bangsa, tapi dunia masih sibuk menuding Muslim.


Fakta Sejarah yang Sering Disembunyikan

- Siapa yang memulai Perang Dunia I? Bukan Muslim.  

- Siapa yang memulai Perang Dunia II? Bukan Muslim.  

- Siapa yang menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki? Bukan Muslim.  

- Siapa yang membunuh hampir 20 juta penduduk asli Australia? Bukan Muslim.  

- Siapa yang membunuh hampir 100 juta penduduk asli Amerika di Amerika Selatan? Bukan Muslim.  

- Siapa yang membunuh hampir 50 juta penduduk asli Amerika di Amerika Utara? Bukan Muslim.  

- Siapa yang menculik lebih dari 180 juta orang Afrika, 88% mati di laut? Bukan Muslim.  


Dan inilah ironi paling telanjang:  

Kalau Non-Muslim melakukan teror, pembantaian, atau kejahatan massal, dunia menyebutnya “crime”, kejahatan biasa.  

 Tapi kalau Muslim berjuang mempertahankan diri dari penindasan, langsung dicap “terrorist”.  


Label ini bukan sekadar kata, tapi senjata propaganda. Dunia digiring untuk percaya bahwa terorisme identik dengan Islam, padahal fakta sejarah dan statistik berteriak sebaliknya. Bukankah ini konspirasi yang dirancang rapi, dengan tujuan membungkam suara perlawanan?


Mari berhenti menelan propaganda mentah-mentah. Dunia damai bukan lahir dari stigma, tapi dari keberanian membongkar fakta. Mari bersatu, vokal, dan berjanji: membangun dunia dengan kerukunan, cinta, dan kasih sayang — bukan dengan label palsu dan propaganda murahan.  










Bermitra dengan yang Pelit: Langkah Bunuh Diri dalam Sistem Indonesia

 

Dalam ilmu Pendidikan karakter. Terlalu Pelit dan Perhitungan Itu Racun di Segala Bidang

Karakter pelit bukan hanya masalah pribadi, tapi ancaman nyata dalam setiap bentuk kerja sama. Dalam proyek, bisnis, bahkan pemerintahan, sifat pelit membuat mitra lain terjebak dalam risiko besar. Orang pelit enggan berbagi, enggan menanggung beban, dan enggan mengeluarkan biaya ketika keadaan genting. Akibatnya, mitra yang bersamanya justru mendekatkan diri pada bahaya.  


Bahaya yang Mengintai

- Dalam bisnis: keuntungan ditahan rapat-rapat, biaya operasional ditanggung sepihak.  

- Dalam proyek: ketika masalah muncul, si pelit enggan keluar biaya, sehingga mitra lain yang harus menanggung kerugian.  

- Dalam pemerintahan: pejabat pelit enggan mengalokasikan anggaran untuk kepentingan publik, pelayanan macet, rakyat yang jadi korban.  

- Dalam kerja sama berisiko: jika terjerat hukum, si pelit malas mengeluarkan biaya untuk menyelesaikan perkara. Akhirnya, mitra lain yang harus menanggung jeratan hukum.  


Budaya Pelicin

Dalam sistem budaya Indonesia, pelicin—baik berupa kompromi, biaya tambahan, atau sekadar sikap ringan tangan—sering dianggap perlu untuk menjaga kelancaran. Orang pelit yang menolak memberi ruang pada budaya ini justru membuat mitra lain semakin dekat pada bahaya. Bukan karena pelicin itu ideal, tapi karena realitas sosial menuntut adanya keluwesan.  


Kesimpulan

Karakter pelit adalah racun dalam kerja sama. Entah di dunia pemerintahan, bisnis, atau proyek sosial, bermitra dengan orang pelit sama saja dengan menjerat diri sendiri. Itulah sebabnya, dalam sistem Indonesia, pelit bukan sekadar sifat buruk—ia adalah langkah bunuh diri bagi siapa pun yang terjebak bersamanya.  









Kamis, 26 Februari 2026

Cacat Substansi dalam Lambang Kota Sungai Penuh

 

Sahalun Suhak Seletuh “Bdei”, Bukannya “Bedil


Lambang Kota Sungai Penuh seharusnya menjadi wajah budaya Kerinci, simbol yang menegaskan jati diri masyarakatnya. Di dalamnya tertulis semboyan adat yang sakral: “Sahalun Suhak Seletuh Bdei.” Ungkapan ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan falsafah hidup yang diwariskan turun-temurun, menekankan persatuan, kebersamaan, dan solidaritas.  


Namun, ada ironi yang sudah lama dibiarkan: kata “Bdei” yang seharusnya ditulis dengan bahasa Kerinci diganti menjadi “Bedil.” Kesalahan ini bukan sekadar teknis, melainkan cacat substansi yang merusak konsistensi bahasa adat. Ironisnya, kesalahan ini sudah bertahun-tahun terpampang dalam simbol resmi, tanpa pernah dikoreksi, seolah-olah dianggap benar.


Tergesa-gesa Tanpa Pertimbangan Substansi

Pembangunan Kota Sungai Penuh sejak awal memang terkesan tergesa-gesa. Administrasi dipacu, simbol dirancang, tetapi substansi budaya diabaikan. Semboyan adat yang seharusnya ditulis konsisten dalam bahasa Kerinci malah tercampur dengan bahasa Indonesia.  


Apakah benar-benar dipikirkan makna filosofisnya? Atau sekadar asal jadi, asal ada lambang, tanpa peduli apakah kata yang dipakai sesuai dengan akar budaya? Kesalahan ini adalah bukti bahwa proses perencanaan lebih mementingkan formalitas daripada substansi.


Konsistensi Bahasa Adat

Semboyan adat adalah bahasa kunci.  

- Sahalun = Sehaluan → berarti seia, sejalan, satu hati.  

- Suhak = Sorak → berarti sepakat, satu kata.  

- Seletuh = Serentak meletus → berarti serentak, bersama-sama.  

- Bdei = Bedil → berarti seiring, sepenanggungan, gotong royong.  


Semua kata ini berasal dari bahasa Kerinci. Maka, konsistensi harus dijaga: jangan ada satu kata pun diganti dengan bahasa Indonesia. Mengganti “Bdei” dengan “Bedil” berarti merusak keutuhan semboyan adat, menggeser makna, dan mencabut akar budaya dari simbol resmi.


Apakah Akan Dirubah?

Pertanyaan besar muncul: apakah kesalahan ini memang direncanakan untuk diperbaiki? Atau justru dibiarkan begitu saja, seolah-olah tidak ada yang salah? Jika sekali saja masyarakat berani mengoreksi, maka langkah berikutnya bisa lebih besar: mengembalikan nama kota menjadi “Kerinci.”  


Mengapa harus Sungai Penuh, jika akar sejarah dan budaya jelas melekat pada nama Kerinci? Mengembalikan nama kota berarti mengembalikan marwah adat, menguatkan identitas, dan menegaskan bahwa simbol resmi bukan sekadar formalitas, melainkan cermin jiwa masyarakat.


Mengembalikan Marwah Adat

Kesalahan yang lama tak disadari ini harus segera dikoreksi. Kata “Bdei” wajib dipulihkan agar semboyan adat kembali berdiri tegak, utuh, dan konsisten. Mengembalikan kata itu bukan hanya soal tulisan, tetapi soal penghormatan terhadap bahasa Kerinci, terhadap falsafah hidup yang diwariskan leluhur.  


Dan jika keberanian itu muncul, jangan berhenti di situ. Sekali saja koreksi dilakukan, maka langkah berikutnya adalah mengembalikan nama kota menjadi Kerinci. Sebab hanya dengan itu, simbol resmi benar-benar mencerminkan jati diri, bukan sekadar administrasi tergesa-gesa.



Oleh: Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.








Polemik Nama Kota Sungai Penuh dan Usulan Menjadi Kota Kerinci

 

Sungai Penuh pada mulanya hanyalah sebuah dusun yang berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Dari dusun inilah lahir nama yang kemudian diangkat menjadi identitas kota setelah pemekaran wilayah dari Kabupaten Kerinci. Namun penggunaan nama Sungai Penuh sebagai nama kota sering menimbulkan kebingungan, karena cakupan wilayah kota jauh lebih luas daripada sekadar dusun asalnya.  


Di luar daerah, masyarakat Kerinci membentuk wadah bernama Himpunan Keluarga Kerinci (HKK). Isinya bukan hanya orang dari Kabupaten Kerinci, tetapi juga masyarakat dari Kota Sungai Penuh. Di sinilah konflik identitas muncul. Jika Kerinci dianggap identik dengan Kabupaten Kerinci, maka warga Kota Sungai Penuh merasa terpinggirkan. Namun jika dibuat wadah terpisah, misalnya Himpunan Kota Sungai Penuh, maka akan terjadi perpecahan di antara sesama perantau. Padahal akar sejarah keduanya sama, yakni Kabupaten Kerinci. Bahkan di perantauan, orang Sungai Penuh ketika ditanya asal-usulnya tetap menjawab dirinya orang Kerinci.  


Polemik ini memunculkan wacana agar nama Kota Sungai Penuh diganti menjadi Kota Kerinci. Pendukung perubahan nama berpendapat bahwa Kerinci lebih kuat secara identitas, lebih mewakili seluruh masyarakat, dan lebih menguntungkan dari sisi branding daerah. Nama Kerinci sudah dikenal luas lewat Gunung Kerinci, Danau Kerinci, dan Taman Nasional Kerinci Seblat. Sementara penolak perubahan nama menilai Sungai Penuh sudah sah secara hukum sebagai kota otonom, memiliki sejarah tersendiri, dan perubahan nama bisa menimbulkan biaya serta polemik baru.  


Di tengah polemik ini, saya pribadi merasa memiliki andil besar atas lahirnya pemekaran Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Kala itu, sebagai pihak yang diminta langsung oleh bupati, saya ditugaskan untuk membuat propaganda ilmiah dalam bentuk tulisan demi mendukung pemekaran. Bahkan hampir enam puluh juta rupiah saya terima melalui perantara bupati untuk menyusun naskah propaganda yang menguatkan legitimasi pemekaran Kerinci. Artinya, sejak awal saya ikut menanamkan gagasan bahwa pemekaran adalah jalan terbaik bagi daerah, dan kini ketika polemik nama muncul, saya merasa berhak menyuarakan pandangan bahwa adanya usulan perubahan nama menjadi Kota Kerinci adalah langkah yang layak di pertimbangkan.  


Kalau dilihat dari kacamata masyarakat luar daerah, situasi ini kadang terasa aneh. Kota sebesar ini masih memakai nama dusun, orang luar bingung, orang dalam kadang tersinggung. Ada yang bilang biar kecil asal berisi, toh Sungai Penuh sudah jadi kota. Ada pula yang nyeletuk: kalau mau jual pariwisata, masa nggak pakai nama Kerinci? Gunungnya Kerinci, danau Kerinci, taman nasional Kerinci, eh kotanya malah Sungai Penuh. Rasanya seperti menjual kopi tapi mereknya “Air Putih.”  


Polemik nama ini bukan sekadar soal administrasi, melainkan soal politik identitas dan memori kolektif masyarakat. Nama kota adalah simbol, dan simbol punya kekuatan besar dalam membentuk rasa kebersamaan. Mengingat akar sejarah yang sama serta realitas identitas di perantauan, ditambah pengalaman saya yang pernah ikut mengawal propaganda pemekaran, maka  cukup layak juga Kota Sungai Penuh diubah menjadi Kota Kerinci tergantung pada pemangku kebijakannya.  


Oleh :

Adv. Yan Salam Wahab, SHI. M.Pd












Menelusuri Lokasi PETI di Muara Emat Kerinci

 
Penelusuran di tengah hutan Muara Emat, wilayah adat Depati Muaro Langkap dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), memperlihatkan aktivitas yang diduga PETI (Penambangan Emas Tanpa Izin). Lokasi ini bukan di pemukiman atau dekat perbatasan, melainkan benar-benar di jantung hutan. Namun, pencemaran yang ditimbulkan tidak berhenti di sana—air Sungai Penetai yang tercemar mengalir hingga ke wilayah Merangin, menodai ekosistem lintas kabupaten.  

Sungai yang seharusnya menjadi jalur kehidupan kini berubah keruh, membawa racun merkuri, Raksa dan sianida. Biota sungai mati, rantai makanan terganggu, dan hutan TNKS kehilangan daya dukungnya. Aktivitas yang diduga PETI ini ibarat “pisau haram” yang mengiris urat nadi hutan, merusak ekosistem yang selama ini dijaga oleh adat Depati sebagai warisan leluhur.  

Ironisnya, aparat sering hadir sebatas razia musiman. Begitu sorotan media padam, aktivitas kembali bergeliat. Sementara itu, hutan konservasi terus terkoyak, sungai terus tercemar, dan ekosistem perlahan runtuh.  

Jika dibiarkan, Di atas bukit Tamiai sampai Muara Emat akan tercatat bukan sebagai hutan penyangga kehidupan, melainkan sebagai kuburan ekologis. Emas yang digali hari ini bukanlah berkah, melainkan kutukan yang diwariskan kepada alam dan generasi mendatang.