
Strategi Pejabat Menipu Jelang Akhir Jabatan
- Anggaran kantor sudah habis dihamburkan.
- Proyek pembangunan kantor baru belum juga dimulai.
Pak Cbonk pun memutar otak. Ia mengumpulkan para kontraktor ke ruang rapat. Dengan nada penuh keyakinan, ia berkata:
“Kita masih punya proyek akhir tahun. Dana Rp11 miliar akan segera cair kuitansi pencairan sudah ada dalam saku saya, hanya saja prosesnya agak lambat. Supaya pembangunan kantor tidak tertunda, saya minta kalian dulu yang menalangi. Bangunlah kantor itu dengan uang kalian, nanti begitu dana cair, saya ganti semuanya. Bahkan keuntungan proyek saya serahkan penuh untuk kalian, tanpa potongan fee.”
Para kontraktor yang mendengar janji manis itu langsung tergiur. Mereka membayangkan keuntungan besar tanpa harus berbagi dengan pejabat. Tanpa pikir panjang, mereka patungan memakai uang pribadi masing-masing untuk membangun kantor baru.
Yang paling bersemangat adalah grup Sembilan Ular, kumpulan kontraktor yang terkenal kompak dan berani ambil risiko. Mereka bahkan rela menyelipkan sedikit uang “terima kasih” untuk Pak Cbonk, meskipun beliau tidak meminta fee di depan.
Bangunan kantor pun mulai dikerjakan. Namun, pembangunan baru berjalan setengah jalan ketika masa jabatan Pak Cbonk berakhir. Ia pensiun dengan tenang, meninggalkan proyek yang belum rampung.
Dan ternyata—anggaran yang dijanjikan tidak pernah ada alias ZONK.
Kontraktor, terutama grup Sembilan Ular yang sudah keluar uang pribadi, hanya bisa gigit jari. Kantor baru berdiri separuh, dana tak kunjung cair, dan mereka tertipu oleh strategi seorang pejabat yang pandai berjanji di ujung masa jabatan.
Babak Akhir: Jalan Pintas Pejabat
Derik-detik akhir jelang pensiun, hutang dan tekanan tetap menghantui. Akhir masa jabatan Pejabat yang tertinggal menghitung hari ini pun, membuat dia kembali memutar otak. Salah satu “strategi darurat” yang muncul adalah membuka ruang memalak—atau dengan bahasa manis disebut pajak dadakan.
Siapa saja bisa jadi sasaran:
- Kontraktor yang masih berharap uangnya kembali, terutama grup Sembilan Ular.
- Pengusaha lokal yang butuh izin cepat.
- Warga kecil yang mengurus administrasi di akali untuk berurusan berkali-kali.
- Bahkan rekan sesama pejabat yang masih aktif di mintai.jatah.
- Depan.Kantor yang biasanya Bebas Parkir sudah jadi Lahan Parkir.
- Bahkan untuk memakai WC dan Kamar Mandi Kantor pun sudah di pasang Tarif minimal 2000 sekali pipis.
Dengan dalih “aturan baru” atau “pajak tambahan”, ia mencari cara menutup lubang hutang. Rakyat yang sudah jadi korban janji manis, kini kembali jadi sasaran pungutan ala pejabat yang pandai berkelit.
Efisiensi Paksa Pejabat Baru
Ketika Pak Gmoy sebagai pejabat baru masuk menggantikan Pak Cbonk, ia mendapati kantor penuh hutang dan anggaran yang sudah berantakan. Tidak ada pilihan lain selain menerapkan efisiensi ketat.
Semua pos anggaran dipotong habis, kecuali satu: uang makan. Alasannya sederhana: sudah terlanjur janji traktir anak-anak kantor, jadi bagian itu tidak boleh dihapus.
Bidang-bidang lain, mulai dari operasional, program, hingga kegiatan rutin, semuanya dipangkas. Para pegawai hanya bisa mengeluh, karena janji pembangunan kantor baru tinggal separuh bangunan, sementara anggaran yang tersisa hanya cukup untuk makan bersama.









