Sports

.
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Bisnis NAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Bisnis NAS. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2026

Pariwisata: Bisnis yang Tak Pernah Mati, Bisa Diandalkan Meski di Tengah Krisis

 

Ekonomi boleh jungkir balik, harga komoditas naik-turun, bahkan industri besar sekalipun bisa kolaps dan kehilangan arah. Namun pariwisata selalu menemukan cara untuk bertahan. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan urat nadi ekonomi yang menghidupkan banyak sektor sekaligus.  


Pada periode 2006–2008, mewakili Lembaga Talago Batuah, saya beberapa kali ditugaskan ke Bali, bahkan pernah menetap hingga dua bulan penuh. Saya telah menelusuri sebagian besar wilayah Bali.dari Kota Sampai Ke Pelosok.Desanya, menyaksikan langsung bagaimana pariwisata menjadi tulang punggung pembangunan. Sempat juga diskusi dengan Pj Sekda Provinsi Bali yang pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata, beliau sekaligus pelaku usaha wisata di sana. Dari semua itu semakin menegaskan bahwa pariwisata adalah strategi ekonomi rakyat, bukan sekadar bisnis elit. Pengalaman itu memang sudah dua dekade lalu, tetapi justru membuktikan bahwa pariwisata tahan banting lintas waktu.  

Pariwisata bisa hidup karena ia Wajib menggerakkan bisnis kuliner, transportasi, budaya, penginapan, dan kerajinan. Ketika pariwisata tumbuh, bahkan seluruh sektor otomatis ikut bergerak. Sebaliknya,.juga ada yang ingin mengarahkan ke Sektor pertambangan, tidak ada bukti daerah tambang mampu menyejahterakan rakyat secara berkelanjutan. Tambang hanya kaya sesaat, lalu meninggalkan kerusakan alam dan konflik sosial. Kerinci jangan ikut-ikutan sebagian besar wilayah Jambi yang kini viral karena mengandalkan tambang. Itu bukan jalan kesejahteraan rakyat.  


Bila.kita memang mau lebih serius menjual bidang Wisata, Sebagian besar strategi Bali sangat mungkin diterapkan di Kerinci. Branding konsisten, festival, keterlibatan masyarakat, dan diversifikasi produk wisata adalah resep yang terbukti. Namun Kerinci punya nilai lebih: wisata agro kopi dan teh, tradisi budaya yang masih asli, serta alam yang lebih murni dibanding destinasi padat turis. Jika strategi Bali diterapkan, ditambah nilai lebih Kerinci, maka daerah ini bisa menjadi destinasi unggulan bukan hanya nasional, tetapi juga internasional.  

Apalagi kini Kerinci sudah memiliki bandara yang semakin besar dan sarana pendukung yang mumpuni. Jika pariwisata benar-benar diunggulkan, pembangunan infrastruktur lain terutama jalan akan otomatis mengikuti. Masalah kebersihan pun dengan sendirinya akan menyadarkan masyarakat untuk lebih disiplin, karena mereka melihat langsung dampak positif dari wisata yang maju.  


Festival juga harus menyatu dengan kehidupan masyarakat. Misalnya, Festival Danau harus beriringan dengan menjaga ekosistem danau. Festival Pertanian bisa dikaitkan dengan tradisi bersama turun ke sawah, termasuk syukuran panen, atau prosesi menjemput padi. Dengan begitu, festival bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari budaya yang dimunculkan kembali, sekaligus menjadi daya tarik wisata yang otentik.  

Selain itu, Kerinci punya keunggulan lain: PLTA sebagai salah satu pembangkit listrik terbesar. Artinya, secara energi Kerinci surplus. Jika kekuatan internal ini ditingkatkan ke arah untuk.menggerakkan Server teknologi 5G, Kerinci bisa menjadi kawasan digital unggulan. Tujuannya jelas: menjadikan Kerinci pusat penggerak ekonomi, layaknya Swiss yang dikenal sebagai pusat keuangan dan ekonomi dunia, dengan perdagangan saham dan pergerakan pasar global. Bayangkan jika investor dan trader bisa ditarik ke Kerinci dengan mendirikan pasar bursa jual-beli saham di sini. Energi ada, jaringan ada, pariwisata hidup, budaya kuat—semua bisa bersatu menjadi fondasi ekonomi baru.  


Dan setelah dipikir-pikir, memang tidak ada jalan lain selain ini untuk memajukan dan membangun daerah secara keseluruhan. Pariwisata adalah satu-satunya sektor yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat, menjaga lingkungan, melestarikan budaya, sekaligus membuka peluang masa depan. Ditambah energi surplus dari PLTA dan peluang digitalisasi 5G, Kerinci bisa melangkah lebih jauh: bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga pusat ekonomi kreatif dan finansial, meniru model Swiss sebagai pusat keuangan dunia. Semua itu memungkinkan terwujud bila kita berani memulainya dari sekarang.  

Oleh: 

Adv. Yan Salam Wahab, SHI. M.Pd. C.Med  

Advokat/Pengacara, Konsultan dan Mediator Hukum,  Aktivis, Pengamat Ekonomi, Politik, Hukum, Hankam, Sosial, Budaya, Kesejahteraan dan.Pendidikan







Minggu, 22 Maret 2026

Pencucian Uang: Strategi yang Membangkrutkan Bank

 

Akhir-akhir ini ramai diberitakan soal bank yang kolaps, kredit macet, dan sistem online yang tiba-tiba rusak. Publik pun bertanya-tanya: apakah semua ini sekadar salah kelola, atau ada permainan tersembunyi yang lebih berbahaya?  


Kalau kita jujur, pencucian uang adalah salah satu faktor yang sering luput dari perhatian. Permainannya sederhana tapi penuh rekayasa. Uang haram dari hasil kejahatan dipecah jadi potongan kecil, disebar ke banyak rekening, lalu diputar lewat usaha yang kelihatan sah. Dari luar tampak normal, padahal semua itu hanya kedok. Begitu cukup tersembunyi, uang masuk lagi ke sistem resmi, muncul sebagai investasi, pembelian rumah, atau modal usaha. Bank yang dipakai sebagai jalur transaksi terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang dipakai untuk permainan money laundry.  


Masalah makin pelik ketika sistem online bank tiba-tiba rusak. Nasabah tak bisa mengakses rekening, transaksi berhenti, lalu muncul alasan “di-hack.” Publik pun curiga, apakah benar ada serangan siber, atau kerusakan itu hanya tameng untuk menutupi jejak pencucian uang? Kecurigaan semacam ini membuat kepercayaan runtuh. Nasabah panik, regulator turun tangan, reputasi hancur, dan akhirnya bank jatuh ke kondisi bangkrut.  


Kita sudah melihat contoh nyata. Kasus Bank Century dengan dana bailout triliunan rupiah, dugaan pencucian uang di tiga bank pelat merah Semarang senilai ratusan miliar, hingga skandal yang menyeret bank daerah dalam kasus korupsi besar. Polanya sama: bank dijadikan jalur transaksi, sistem bermasalah, dan publik curiga ada permainan money laundry di baliknya.  


Fenomena ini juga sering digambarkan dalam film. The Wolf of Wall Street menunjukkan bagaimana bank Swiss dipakai untuk mencuci uang. Ozark memperlihatkan keluarga yang terjebak dalam permainan money laundry modern. Inside Job mengungkap bagaimana praktik keuangan kotor bisa menjatuhkan bank besar dan memicu krisis global. Semua kisah ini jadi cermin keras bahwa strategi pencucian uang, dengan segala kepintaran mengolah permainan, bisa menghancurkan sistem keuangan dan membangkrutkan bank.  


Pada akhirnya, pencucian uang adalah seni menyamarkan kebenaran. Ia tampak rapi, penuh perhitungan, dan seolah sah. Tapi permainan ini selalu meninggalkan jejak. Bank yang dijadikan alat akan runtuh, bukan karena gagal bisnis, melainkan karena terlalu lama dipakai untuk permainan yang mengkhianati kepercayaan publik.  


Dan di titik inilah hukum bicara. Dasar hukum di Indonesia jelas: Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Implementasinya tegas: pelaku bisa dijerat pidana, bank bisa dikenai denda atau dicabut izinnya, dan aset hasil pencucian uang bisa disita negara. Jadi, permainan money laundry bukan hanya merusak sistem keuangan, tapi ujung-ujungnya pasti berhadapan dengan konsekuensi hukum.  


Oleh:  

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.  C.Med








Rabu, 18 Maret 2026

Koperasi Merah Putih: Dari Mimpi Ritel ke Monumen Salah Urus

 

Koperasi Merah Putih digembar-gemborkan sebagai tandingan Alfamart dan Indomaret. Katanya mau jadi simbol kebangkitan ekonomi rakyat, jawaban atas dominasi ritel modern. Di atas kertas, programnya terdengar bagai mimpi indah: memberdayakan rakyat, membuka lapangan kerja, menghadirkan ritel alternatif yang lebih adil.  


Namun kenyataan di lapangan jauh berbeda. Gedung-gedung dibangun di lokasi yang tidak strategis, tanpa studi kelayakan, tanpa perencanaan matang. Karena itu, sejak awal proyek ini sudah diduga kuat akan berakhir terbengkalai. Bangunan berdiri, tapi risiko besar menunggu: sepi pengunjung, tidak ada pasar, dan akhirnya hanya jadi monumen salah urus.  

Program yang digadang-gadang “bahagia” itu ternyata hanya bahagia di cerita. Di brosur, di pidato, di presentasi, semuanya tampak indah. Tapi begitu masuk tahap eksekusi, yang tersisa hanyalah proyek ambisius tanpa arah. Selebihnya berakhir sia-sia, meninggalkan gedung kosong yang rawan jadi beban anggaran.  


Kalau ritel modern punya supply chain, riset pasar, dan strategi distribusi, koperasi ini hanya punya papan nama dan harapan kosong. Programnya lebih mirip buang-buang anggaran ketimbang pemberdayaan. Ironinya, jargon manis tetap dipoles: “ekonomi kerakyatan”, “alternatif ritel modern”. Padahal yang nyata justru ekonomi rakyat dipermainkan, jadi bahan eksperimen gagal.  

Koperasi Merah Putih akhirnya bukan tandingan ritel, melainkan tandingan tugu peringatan. Bedanya, tugu dibangun untuk mengenang jasa, sementara gedung ini dibangun untuk mengenang salah urus. Ia berdiri sebagai simbol ambisi besar dengan rencana kecil, proyek yang lebih banyak menguras anggaran daripada memberi manfaat nyata.



Senin, 09 Maret 2026

Persiapan Menghadapi Krisis Global

 

Hari ini, kondisi ekonomi Indonesia sudah menunjukkan tanda-tanda rapuh. Pertumbuhan hanya berkisar 5%, sementara tekanan eksternal semakin berat. Para ekonom menilai target pemerintah terlalu optimistis di tengah ketidakpastian global. Perang yang meluas di Timur Tengah dan Eropa membuat harga minyak melonjak, rupiah melemah, dan ancaman defisit ganda semakin nyata. CNBC Indonesia bahkan menggambarkan ekonomi kita “tertatih berjalan,” ibarat orang yang baru belajar berdiri—mudah jatuh bila ada guncangan besar.  


Dampak perang bukan sekadar angka di laporan ekonomi. Di pasar, harga kebutuhan pokok naik tanpa kendali. Tabungan keluarga terkuras hanya untuk belanja harian, cicilan utang terasa makin berat, dan peluang kerja berkurang karena industri berhenti produksi. Antrean panjang di SPBU bisa berakhir ricuh, listrik padam bergilir, dan transportasi lumpuh. Anak-anak menangis karena makanan semakin sedikit, orang tua gelisah mencari cara bertahan. Tetangga mulai saling curiga, keamanan lingkungan rapuh, dan kriminalitas meningkat.  


Para ahli mengingatkan, jika perang terus meluas, skenario terburuk adalah kolaps sistemik: ekonomi runtuh, energi langka, pangan mahal, masyarakat panik, dan negara kehilangan kendali. Dalam keadaan seperti itu, persiapan pribadi dan keluarga menjadi benteng terakhir. Simpan kebutuhan dasar yang tahan lama, kurangi belanja konsumtif, siapkan dana darurat, dan jaga kesehatan. Jangan menunggu bantuan datang, karena distribusi bisa macet berhari-hari. Bangun solidaritas dengan tetangga, karena dalam krisis, jaringan sosial adalah satu-satunya jaring pengaman.  


Krisis global bukan sekadar isu di media, melainkan ancaman nyata yang bisa mengetuk pintu rumah kapan saja. Hanya keluarga yang siap yang mampu bertahan. Persiapan sederhana—stok pangan, pengelolaan keuangan, menjaga kesehatan, dan dukungan antarwarga—adalah senjata nyata menghadapi badai yang menakutkan ini. Gotong royong tetap penting, tapi ketahanan dimulai dari rumah masing-masing.  


Apabila perang benar-benar meluas, yang tersisa hanyalah mereka yang sudah bersiap. Tanpa persiapan, keluarga bisa terjebak dalam kelaparan, keputusasaan, dan kekacauan. Dengan persiapan, ada harapan untuk bertahan, bahkan di tengah dunia yang runtuh.


Oleh : Adv. Yan Salam Wahab, SHI. M.Pd








Selasa, 03 Maret 2026

Kapal Induk vs Makan Bergizi Gratis

 
Amerika Serikat membangun kapal induk nuklir tercanggih, USS Gerald R. Ford (CVN-78), dengan biaya sekitar Rp180–200 triliun. Kapal ini bukan sekadar besi raksasa di lautan, melainkan simbol kekuatan dan kekuasaan. Ia dirancang untuk beroperasi puluhan tahun, menjadi penjaga kepentingan global, dan bukti nyata bagaimana sebuah investasi raksasa bisa menghasilkan daya tahan strategis jangka panjang.  

Indonesia, di sisi lain, menetapkan anggaran Rp335 triliun per tahun untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Angka ini bahkan lebih besar daripada harga kapal induk. Tetapi ironisnya, program yang seharusnya menjadi investasi masa depan generasi justru tampak rapuh, tidak efisien, dan seolah hanya menghamburkan anggaran.  

Bayangkan, sebuah kapal induk dengan biaya Rp200 triliun bisa beroperasi puluhan tahun, menjadi lambang kekuatan negara, dan memberi efek nyata bagi strategi global. Sementara itu, Rp335 triliun untuk MBG hanya berlaku satu tahun, tanpa jaminan kesinambungan, tanpa kepastian efisiensi, dan sering kali lebih sibuk di atas kertas daripada di lapangan.  

Kapal induk jelas hasilnya: ada wujud fisik, ada masa pakai panjang, ada fungsi strategis. MBG, dengan biaya lebih besar, masih dipenuhi tanda tanya. Apakah distribusi makanan benar-benar sampai ke anak-anak yang  benar-benar membutuhkannya? Apakah kualitas gizi terjamin, atau sekadar formalitas di atas kertas, akhirnya banyak juga berita anak keracunan? Apakah Rp335 triliun itu akan meninggalkan jejak jangka panjang, atau hilang dalam laporan tahunan yang penuh angka tetapi minim dampak?  

Di sinilah letak paradoksnya. Kapal induk menjadi lambang kekuatan negara. MBG seharusnya menjadi lambang kepedulian sosial, simbol bahwa negara hadir untuk anak-anaknya. Tetapi ketika anggaran raksasa tidak diiringi efisiensi, MBG justru menjadi lambang keraguan: besar di angka, kecil di hasil.  

Pertanyaan moralnya sederhana: apakah Rp335 triliun benar-benar membentuk masa depan anak-anak Indonesia, atau justru menghamburkan anggaran negara? Kapal induk mungkin menakutkan di lautan, tetapi anak-anak sehat dan cerdas jauh lebih menakutkan bagi kebodohan dan kemiskinan. Sayangnya, jika program sebesar MBG tidak dijalankan dengan efisiensi, ia hanya akan menjadi kapal induk yang karam di daratan anggaran—megah di nama, tetapi lemah di kenyataan.  

Biaya makan bergizi gratis satu tahun lebih besar daripada harga kapal induk yang bisa beroperasi puluhan tahun. Perbandingan ini menohok: apakah kita sungguh serius membangun masa depan anak-anak, atau sekadar menghamburkan anggaran dengan nama yang indah? Indonesia tidak kekurangan dana. Yang kita kekurangan adalah efisiensi, disiplin, dan keberanian moral untuk memastikan uang rakyat benar-benar kembali ke rakyat. Tanpa itu, Program MBG hanya akan menjadi contoh betapa mudahnya sebuah bangsa menghamburkan anggaran raksasa tanpa hasil yang sepadan.  


Oleh: Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.  







?

Rabu, 18 Februari 2026

Kelok Sago dan Masa Lalu Akses Masuk ke Kerinci

 

Siapa orang Kerinci yang tidak pernah mendengar kata Kelok Sago? Nama ini sudah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat, meski banyak yang mungkin tidak lagi mengetahui asal-usulnya. Nama Kelok Sago lahir dari kenyataan bahwa di belokan tersebut dahulu tumbuh banyak sekali sago/Pohon sagu, sehingga pemilik.lahan pada zaman itu almarhum Drs. A. Wahab Karimi menamainya demikian.  

Sekitar 60 tahun yang lalu, akhir tahan 60-an masuk era 70-an, beliau adalah pemilik lahan yang lumayan luas, mencapai hampir 100 hektar, bahkan meluas hingga seberang Sungai Batang Merangin. Pada masa itu harga tanah belum tinggi, bahkan sulit mencari orang yang mau tinggal untuk menjaga dan membuka ladang di wilayah tersebut. Sebagian lahan diperoleh melalui pembelian, sebagian lagi melalui hibah, dan semuanya tercatat dalam arsip keluarga berupa surat jual beli lama. Catatan ini menjadi bagian penting dari sejarah awal akses masuk ke Kerinci.  

Beliau bukan hanya seorang birokrat dan Pegawai Negeri Sipil (PNS), tetapi juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kerinci sejak awal Orde Baru,, dan terus mengabdi hingga jelang berakhirnya Orde Baru pada tahun 1997. Masa pengabdian panjang ini menunjukkan konsistensi beliau dalam memperjuangkan pembangunan daerah selama hampir tiga dekade penuh.  

Bukan sekadar membuka jalur, beliau mendorong agar jalan itu diperlebar sehingga kelak dapat diaspal dan menjadi akses resmi yang lebih layak bagi masyarakat. Pada masa itu, untuk menuju Jambi dari Kerinci, masyarakat harus berputar jauh melewati jalur Sumbar. Perjalanan panjang ini menyulitkan mobilitas, terutama bagi mereka yang menggunakan mobil. Dari kebutuhan itulah muncul gagasan memperluas akses jalan langsung dari Bangko ke Jambi, agar kendaraan bisa keluar masuk Kerinci dengan lebih mudah.  

Tidak hanya memikirkan jalan darat, di era 1970-an beliau juga ikut memikirkan akses udara. Bersama tokoh-tokoh lain, beliau mendorong pembangunan Bandara Depati Parbo (DP) sebagai pintu masuk ke Kerinci. Beliau bahkan turun langsung ke lapangan, mengurus lahan, berjalan hingga ke sawah, dan mematok lahan dengan baju safari. Pada masa itu, sangat jarang pejabat turun ke sawah dengan pakaian resmi seperti itu, sehingga sikap beliau menjadi bukti nyata kesungguhan perjuangan demi keberhasilan pembangunan bandara. Bandara ini kemudian menjadi simbol bahwa Kerinci tidak boleh terisolasi, melainkan harus terbuka bagi arus orang dan barang dari luar.  

Selain memperluas akses jalan dan memikirkan bandara, beliau juga memberikan sebagian tanah pribadinya untuk kepentingan pendidikan. Di atas lahan beliau berdirilah SD 218/III Kali Anggang di Kecamatan Batang Merangin. Sekolah ini menjadi bukti nyata kepedulian beliau terhadap masa depan anak-anak kawasan peladangan saat itu, agar pendidikan bisa tumbuh di tanah yang dulunya milik pribadi. Kehadiran sekolah ini membuka harapan baru bagi anak-anak kampung yang sebelumnya jauh dari akses pendidikan, sehingga mereka dapat belajar dan menatap masa depan dengan lebih cerah.  

Memasuki era 1980-an, faktor ekonomi membuat tanah beliau perlahan terpaksa dijual bertahap hingga akhirnya habis. Kini, banyak orang mungkin tidak lagi mengetahui siapa pencetus nama Kelok Sago, siapa yang memperluas akses jalan hingga bisa diaspal, atau siapa yang memberikan tanah untuk sekolah. Namun sejarah tetap mencatat: almarhum Drs. A. Wahab Karimi adalah tokoh yang berani menggunakan aset pribadi demi kepentingan publik.  

Semua kisah ini terdokumentasi dalam arsip keluarga berupa surat jual beli lama, yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kerinci. Dari lahan yang pernah beliau miliki lahirlah gagasan besar: membuka jalan, membangun bandara, dan menghadirkan sekolah di kawasan peladangan. Jejak beliau terus hidup dalam jalan yang kini dilalui, bandara yang membuka pintu Kerinci, sekolah yang mendidik anak-anak kampung, dan nama Kelok Sago yang tetap terucap hingga hari ini.  


Dan bagi saya pribadi, beliau bukan hanya tokoh sejarah, melainkan sosok yang saya panggil Papa.