Sports

.
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2026

Tembok Ratapan: Hasil Balas Dendam Demi Harga Diri

 

Kalau biasanya ribut dengan tetangga berakhir dengan adu suara di pagar, lempar sandal jepit, atau gosip di warung kopi, kisah klien teman saya ini justru berakhir dengan sebuah “monumen” yang bikin tetangga nangis tiap buka pintu.  


Namanya Udin (nama samaran). Hidupnya tenang, sampai tetangganya sok jadi penguasa kecil dengan membangun tembok seenaknya, menutup akses pintu samping rumah Udin. Bayangkan, akses jalan orang lain ditutup begitu saja, seolah dunia ini warisan nenek moyangnya. Egoisnya sudah level “raja tanpa rakyat”!  

Udin tidak terpancing. Dia tahu, ribut mulut cuma bikin suara serak dan harga diri jatuh. Maka ia keluarkan jurus pamungkas: jurus dompet tebal. Tanah kosong di depan rumah, meski harganya bikin kantong orang biasa langsung kolaps, dibeli tanpa ragu. Begitu sertifikat resmi di tangan, Udin langsung bangun tembok setinggi lebih dari dua meter.  


Hasilnya? Bagian depan rumah sang tetangga tertutup rapat, seperti tirai bioskop yang tak pernah dibuka. Tetangga yang tadinya jumawa, kini malah panik. Sampai-sampai memohon ke tukang agar tembok jangan terlalu tinggi. Ironisnya, waktu menutup jalan orang lain, ia tak pernah peduli tinggi-rendah. Giliran kena balasan, baru sadar dunia ini tidak berputar di atas kepalanya.  

Dan di sinilah letak komedinya: tetangga yang dulu menyerang tanpa pikir panjang, kini justru merengek minta “gencatan senjata”. Mirip gaya negara yang hobi menyerang duluan, tapi begitu kena balasan, buru-buru teriak “damai, damai!”. Padahal, kalau dari awal tahu diri, tak perlu ada ratapan di balik tembok.  


Kini, tembok itu bukan sekadar bangunan. Ia jadi “Tembok Ratapan” versi kampung: setiap kali tetangga membuka pintu, yang terlihat hanya dinding dingin hasil dari kesombongan sendiri. Ratapan itu bukan doa, melainkan tangisan ego yang berbalik jadi karma.  


Hidup bertetangga itu bukan ajang pamer kuasa, melainkan seni menjaga rasa. Jangan pernah meremehkan hak orang lain, karena sekali kamu melangkahi batas, balasannya bisa datang dengan cara yang lebih mahal dan lebih memalukan. Ingat, tembok bisa dibangun, tapi rasa hormat hanya bisa ditanam. Kalau mau hidup tenang, jadilah tetangga yang bikin orang tersenyum, bukan tetangga yang bikin orang ingin menutup wajah rumahmu dengan tembok.  Hanya pesan buat para Muka Tembok


Penulia: Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd




.

Selasa, 10 Maret 2026

Selamatkan Uang Rakyat, Hadiah 200 Juta, Pelapor Dirahasiakan: Jangan Takut Laporkan Korupsi

 

Korupsi sudah merusak sendi kehidupan bangsa. Anggaran yang seharusnya membangun sekolah, rumah sakit, dan jalan justru masuk ke kantong pribadi. Karena itu, melaporkan korupsi bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral untuk menyelamatkan negara.  


Dasar hukumnya jelas: Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2018 memberi hak kepada masyarakat untuk menerima hadiah maksimal Rp200 juta bila laporan korupsi terbukti dan berhasil menyelamatkan kerugian negara. Aturan ini adalah bentuk pengakuan negara atas keberanian rakyat.  

Namun mari kita tegaskan: melaporkan korupsi adalah urusan nyawa. Pelapor harus benar-benar menjaga kerahasiaan. Sekalipun sudah melapor, jangan sekali-kali membuka suara ke publik. Jangan bercerita ke tetangga, jangan bersuara di media sosial, jangan pula menyebut nama orang yang dilaporkan. Cukup lembaga hukum dan diri kita sendiri yang tahu. Biarkan aparat bekerja, biarkan KPK menindaklanjuti, dan biarkan LPSK menjaga keamanan.  


Fakta menunjukkan, KPK berhasil menjerat banyak pejabat di seluruh pelosok Indonesia berkat laporan masyarakat. Puluhan OTT dilakukan, ratusan pejabat ditangkap, dan semuanya bermula dari keberanian warga yang melapor secara diam-diam. KPK hanya terdiri dari segelintir orang, mustahil mereka menjangkau seluruh negeri tanpa peran aktif rakyat.  

Kini jalur melapor pun semakin jelas. Masyarakat bisa langsung melapor ke lembaga hukum, atau melalui LSM nasional yang telah menjalin kerja sama resmi dengan KPK dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan cara ini, laporan tetap sampai ke tangan KPK, pelapor tetap terlindungi, dan kerahasiaan tetap terjaga.  


Pesan saya sederhana: jangan pilih-pilih, jangan ragu. Ada bukti, laporkan. Jangan takut, karena negara sudah menyiapkan perlindungan. Hadiah Rp200 juta hanyalah bonus. Yang utama adalah keberanian kita menjaga negeri dari kanker korupsi. Koruptor boleh punya uang dan kuasa, tapi rakyat punya senjata: keberanian yang dijaga dengan kerahasiaan.  


Penulis:  

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.  

Advokat, Pengacara, Konsultan Hukum, Mediator, Aktivis Senior, dan Pengamat Sosial Kemasyarakatan.

Selasa, 03 Maret 2026

Trump Salah Lawan, Iran Tak Mempan Gertakan

 

Trump kembali ke Washington dengan wajah muram, bungkam di hadapan wartawan. Diamnya bukan sekadar strategi, melainkan tanda bahwa ia salah membaca peta lawan. Iran bukan bangsa yang bisa ditaklukkan dengan ancaman kosong. Gertakan yang selama ini menjadi senjata politik Trump justru berbalik menjadi bumerang.  


Iran Tidak Menelan Ancaman

Iran menolak mentah-mentah ajakan negosiasi. Bagi mereka, ancaman Amerika bukan alasan untuk mundur, melainkan pemicu untuk memperkuat solidaritas nasional. Serangan udara yang digadang-gadang sebagai langkah strategis ternyata gagal melumpuhkan kemampuan Iran meluncurkan rudal. Justru, Iran semakin percaya diri menunjukkan bahwa mereka tidak bisa dipaksa tunduk.  

Beban Politik yang Menghimpit Trump

Konflik yang berlarut lebih dari sebulan akan menggerus dukungan politik Trump. Korban prajurit AS yang terus bertambah menjadi luka yang tak bisa ia jawab. Ketika ditanya apa pesan untuk orang tua prajurit yang tewas, Trump memilih diam. Diam itu adalah pengakuan bahwa ia tidak punya jawaban moral atas keputusan perang.  


Iran Membalikkan Tekanan

Serangan ke pangkalan AS di Uni Emirat Arab dan Bahrain bukan sekadar aksi militer, melainkan langkah politik yang cerdas. Iran tahu di sana ada kepentingan CIA, Mossad, bahkan bisnis pribadi Trump. Dengan cara itu, Iran tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga menyudutkan posisi politik Trump di mata dunia.  

Netanyahu Ikut Terpojok

Sementara itu, Benjamin Netanyahu terlihat panik. Kabar beredar bahwa pesawatnya melarikan diri ke Jerman, seolah mencari perlindungan di luar negeri. Gambarannya jelas: dua sekutu yang memulai perang kini justru gagap menghadapi konsekuensi.  


Kematian Pemimpin Tidak Mematikan Semangat

Musuh mungkin berharap kematian pemimpin Iran akan melemahkan bangsa itu. Namun kenyataannya, semangat juang rakyat Iran tidak bergantung pada satu figur. Setiap kehilangan justru dipandang sebagai pengorbanan yang memperkuat solidaritas nasional.  

Dapat di simpulkan, Trump salah lawan. Iran bukan bangsa yang bisa ditaklukkan dengan gertakan. Ancaman kosong tidak membuat mereka gentar, justru memperkuat tekad untuk melawan. Kini Trump dan Netanyahu gagap, sadar bahwa keputusan memulai perang telah menjerumuskan mereka ke jurang kehancuran.  


Oleh : Adv. Yan Salam Wahab, SHI. M.Pd








Ayat yang Pertama Turun: Iqra’ (Bacalah) – Perintah Ilahi Senjata Melawan Kebodohan

 

Kata pertama firman Allah yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah اقْرَأْ (Iqra’ – Bacalah). Inilah pintu wahyu, perintah ilahi yang menegaskan bahwa membaca adalah senjata utama melawan kebodohan. Bukan shalat, bukan zakat, bukan jihad yang pertama kali diperintahkan, melainkan membaca. Pesan yang jelas: umat jangan bodoh.  


اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)  


Membaca dalam Islam bukan hanya soal membuka kitab atau lembaran kertas. Membaca ada dua: membaca yang tersurat, dan membaca yang tersirat. Membaca yang tersurat berarti membaca teks, kitab, ilmu pengetahuan, sejarah, dan segala sesuatu yang tertulis. Dengan itu, akal kita terisi, wawasan kita bertambah, dan peradaban bisa dibangun di atas ilmu.  


Tetapi membaca tidak berhenti di situ. Membaca yang tersirat jauh lebih luas. Alam semesta ini adalah kitab besar yang terbentang di depan mata kita. Gunung yang tegak mengajarkan keteguhan. Sungai yang mengalir mengajarkan bahwa hidup harus bergerak, memberi manfaat, dan tidak boleh berhenti. Hutan yang rimbun mengajarkan keseimbangan, bahwa kehidupan tidak bisa berdiri sendiri. Langit dan bintang mengajarkan keteraturan, bahwa waktu dan siklus adalah bagian dari rencana besar Tuhan. Bahkan suka-duka masyarakat di sekitar kita adalah pelajaran tentang keadilan, empati, dan tanggung jawab.  


Inilah yang disebut orang tua kita dulu: alam talambang menjadi guru. Alam adalah simbol, tanda, sekaligus guru yang selalu memberi pelajaran. Membaca yang tersirat berarti menangkap makna di balik kejadian, tidak hanya melihat permukaan. Alam menuntut kita untuk belajar, menahan diri, dan menghadapi tantangan dengan kebijaksanaan.  


Kalau umat malas membaca, baik tersurat maupun tersirat, maka kebodohan akan terus beranak-pinak. Kebodohan bukan sekadar tidak tahu, tetapi juga sikap menolak untuk tahu. Umat yang bodoh mudah dimanipulasi, kehilangan daya kritis, dan akhirnya hanya jadi penonton dalam panggung sejarah.  


Perintah “Iqra’” adalah amanah sosial. Membaca bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk mencerdaskan masyarakat, melawan kebodohan struktural, dan menjadi teladan. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu harus dibagikan.  


“Iqra’” adalah senjata ilahi melawan kebodohan. Membaca yang tersurat memperkaya akal, membaca yang tersirat menumbuhkan hikmah. Alam semesta adalah kitab besar yang harus kita baca, agar kita tidak buta terhadap tanda-tanda kebesaran Tuhan.  


Maka jangan biarkan kebodohan menjadi warisan. Jadikan membaca sebagai budaya, ilmu sebagai senjata, dan pencerahan sebagai tujuan.  









Jumat, 27 Februari 2026

Bermitra dengan yang Pelit: Langkah Bunuh Diri dalam Sistem Indonesia

 

Dalam ilmu Pendidikan karakter. Terlalu Pelit dan Perhitungan Itu Racun di Segala Bidang

Karakter pelit bukan hanya masalah pribadi, tapi ancaman nyata dalam setiap bentuk kerja sama. Dalam proyek, bisnis, bahkan pemerintahan, sifat pelit membuat mitra lain terjebak dalam risiko besar. Orang pelit enggan berbagi, enggan menanggung beban, dan enggan mengeluarkan biaya ketika keadaan genting. Akibatnya, mitra yang bersamanya justru mendekatkan diri pada bahaya.  


Bahaya yang Mengintai

- Dalam bisnis: keuntungan ditahan rapat-rapat, biaya operasional ditanggung sepihak.  

- Dalam proyek: ketika masalah muncul, si pelit enggan keluar biaya, sehingga mitra lain yang harus menanggung kerugian.  

- Dalam pemerintahan: pejabat pelit enggan mengalokasikan anggaran untuk kepentingan publik, pelayanan macet, rakyat yang jadi korban.  

- Dalam kerja sama berisiko: jika terjerat hukum, si pelit malas mengeluarkan biaya untuk menyelesaikan perkara. Akhirnya, mitra lain yang harus menanggung jeratan hukum.  


Budaya Pelicin

Dalam sistem budaya Indonesia, pelicin—baik berupa kompromi, biaya tambahan, atau sekadar sikap ringan tangan—sering dianggap perlu untuk menjaga kelancaran. Orang pelit yang menolak memberi ruang pada budaya ini justru membuat mitra lain semakin dekat pada bahaya. Bukan karena pelicin itu ideal, tapi karena realitas sosial menuntut adanya keluwesan.  


Kesimpulan

Karakter pelit adalah racun dalam kerja sama. Entah di dunia pemerintahan, bisnis, atau proyek sosial, bermitra dengan orang pelit sama saja dengan menjerat diri sendiri. Itulah sebabnya, dalam sistem Indonesia, pelit bukan sekadar sifat buruk—ia adalah langkah bunuh diri bagi siapa pun yang terjebak bersamanya.  









Minggu, 22 Februari 2026

Profesi Ini Pelayan Masyarakat: Kalau Tak Peduli, Jangan Jadi Dokter, Bidan, dan Perawat

 

ViIDEO ITEK.MAMEK


Kerinci khusus.kota Sungai Penuh kembali jadi sorotan setelah sebuah rumah sakit viral di media sosial. Ramainya komentar publik menunjukkan hal yang jelas: masyarakat tidak hanya butuh obat dan fasilitas, tetapi butuh tenaga kesehatan yang punya hati.  


Pendidikan tenaga kesehatan memang panjang. Ada kuliah anatomi, praktik klinis, hafalan teori farmakologi. Tapi semua itu percuma kalau ujung-ujungnya tidak ada empati. Gelar boleh berderet, tapi kalau hati kering, pelayanan tetap cacat.  


Bayangkan, pasien datang dengan wajah cemas. Kalau dokter hanya sibuk mengetik resep tanpa menatap mata pasien, rasanya seperti beli obat di mesin otomatis. Padahal senyum dan sapaan sederhana bisa jadi terapi pertama sebelum obat bekerja.  


Seandainya saya menjadi dosen kesehatan, saya akan menetapkan satu syarat kelulusan yang sederhana tapi tajam: “Sebutkan nama cleaning service yang setiap hari membersihkan ruang kelas kita.” Pertanyaan ini bukan basa-basi. Ia adalah ujian karakter. Kalau calon tenaga kesehatan tidak peduli pada orang kecil di sekitarnya, bagaimana bisa peduli pada pasien yang datang dengan segala keterbatasan?  


Hafal nama obat, tapi tak hafal nama tukang sapu? Percuma jadi tenaga kesehatan. Bisa menjelaskan fungsi jantung, tapi tak bisa menyapa pasien dengan ramah? Itu bukan dokter, itu teknisi dingin. Gelar boleh panjang, tapi kalau hati pendek, pelayanan kesehatan tetap macet.  


Profesi kesehatan adalah profesi sosial. Dokter, perawat, dan bidan bukan sekadar pekerja medis, melainkan pelayan masyarakat. Kalau tidak punya empati, lebih baik jangan masuk profesi ini. Karena tanpa kepedulian, pendidikan kesehatan hanyalah formalitas, dan pelayanan hanyalah sandiwara.  


Tenaga kesehatan tanpa empati sama saja seperti lampu jalan yang mati: bikin kacau lalu lintas kehidupan, menimbulkan bahaya, dan membuat orang kehilangan arah.  

 

Oleh : Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.