Sports

.
Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya INTER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya INTER. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Maret 2026

Republik Drakula: Negeri Saling Gigit dari Darah Rakyat

 

Republik Drakula bukan negeri dongeng, melainkan panggung nyata di mana taring kekuasaan menancap di leher rakyat. Drakula di sini bukan monster malam, melainkan wajah-wajah yang kita kenal: pejabat yang rakus, birokrat yang gemar memalak, penguasa yang haus darah rakyat. Mereka tidak pernah kenyang. Pajak yang mencekik, pungli yang merajalela, harga kebutuhan pokok yang terus melambung—semua adalah cara drakula menghisap darah rakyat.  


Rakyat digigit janji manis, lalu digigit lagi oleh kenyataan pahit. Di warung kopi, orang-orang masih bisa bercanda, “Kalau harga naik lagi, kita makan janji saja.” Lucu, tapi getir. Candaan itu lahir dari perut yang kosong, dari kantong yang bolong, dari harapan yang sudah lama digigit habis. Inilah komedi tragis Republik Drakula: tertawa sambil menahan lapar, bercanda sambil menahan sakit.  


Di republik ini, korban tidak pernah benar-benar jadi korban. Yang digigit tidak mati, melainkan berubah jadi drakula baru. Bawahan yang ditekan akan menekan orang lain. Yang dipalak akan memalak lagi. Yang ditelan akan menelan lagi. Lingkaran setan ini terus berputar, menciptakan negeri saling gigit tanpa ujung.  


Ada drakula birokrasi yang bersembunyi di balik meja dan stempel, menghisap lewat pungutan liar. Ada drakula politik yang berkeliling dengan janji palsu dan amplop, menghisap lewat suara rakyat yang dibeli murah. Ada drakula ekonomi yang bersemayam di pasar, menghisap lewat harga yang tak terkendali. Semua sibuk menggigit, semua sibuk menghisap, semua sibuk bertahan dengan cara menindas.  


Kadang adegan ini terasa seperti sandiwara murahan. Pejabat tertawa di kursi empuk, rakyat antre sembako dengan wajah muram. Birokrat sibuk memalak di balik meja, sementara rakyat sibuk mencari cara untuk bertahan hidup. Tragis, tapi juga ironis. Negeri ini berjalan bukan dengan logika keadilan, melainkan dengan logika taring.  


Republik Drakula adalah gambaran tentang lingkaran setan kekuasaan. Ketika taring menggantikan hukum, ketika gigitan menggantikan keadilan, maka korban selalu melahirkan pelaku baru. Pertanyaannya: sampai kapan kita biarkan republik ini terus hidup dari darah rakyat? Apakah kita akan tetap jadi mangsa, atau mulai mematahkan siklus drakula yang tak pernah kenyang?  


Penulis: Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.  





Umpatan Kasar Abu Janda: Bukti Ketidakpahaman Sejarah

 

Beberapa hari terakhir, kita kembali disuguhi tontonan yang bikin jengah. Abu Janda, dengan gaya kasar dan penuh umpatan, menepis narasi bahwa Palestina pernah mendukung kemerdekaan Indonesia. Ucapannya bukan hanya menyakitkan telinga, tapi juga menunjukkan betapa dangkalnya pemahaman sejarah yang ia miliki.  


Sejarah tidak bisa dipotong seenaknya. Tahun 1944, Mufti Besar Palestina, Syekh Muhammad Amin al-Husaini, menyiarkan dukungan untuk perjuangan Indonesia lewat radio Berlin. Siaran itu kemudian tersebar di media Timur Tengah, sehingga dunia Arab tahu ada bangsa di Asia Tenggara yang sedang berjuang melawan penjajahan. Dukungan ini bukan mitos, tapi fakta yang tercatat.  


Beberapa tahun kemudian, seorang saudagar Palestina di Kairo, Muhammad Ali Taher, bahkan menyerahkan seluruh simpanannya di Bank Misr untuk mendukung mahasiswa Indonesia yang sedang melobi tokoh-tokoh Arab. Bayangkan, uang simpanan pribadi dilepas begitu saja demi perjuangan bangsa lain. Tanpa dukungan finansial ini, diplomasi mahasiswa Indonesia mungkin lumpuh.  


Hasilnya nyata. Mesir menjadi negara pertama yang mengakui Indonesia pada 22 Maret 1946, lalu disusul Suriah, Lebanon, Irak, Yaman, dan Arab Saudi. Dukungan ini bukan sekadar simbolik. Tekanan politik dunia Arab bahkan sampai pada boikot kapal Belanda di Terusan Suez tahun 1947. Semua ini adalah bagian dari rangkaian solidaritas yang mempersempit ruang gerak Belanda dan memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.  


Lalu muncul Abu Janda dengan umpatan kasarnya, menyederhanakan sejarah seolah-olah Palestina tidak punya peran. Inilah letak kebodohannya. Sejarah bukan soal “ada jasa” atau “tidak ada jasa.” Sejarah adalah rangkaian sebab-akibat: dukungan moral, bantuan finansial, pengakuan diplomatik, hingga tekanan internasional. Menghapus satu keping berarti membuat gambaran besar jadi kabur.  


Abu Janda memilih cara paling malas: memaki, menyederhanakan, dan menyesatkan publik. Itu bukan sekadar kasar, tapi goblok. Karena ia menghapus fakta sejarah hanya dengan teriakan, seolah-olah sejarah bisa diputar balik seenaknya.  


Sejarah kemerdekaan Indonesia adalah cerita tentang solidaritas global. Dari pejuang di Nusantara, mahasiswa di Kairo, tokoh Palestina yang bersuara, hingga negara-negara Arab yang memberi pengakuan. Semua saling terkait, semua punya peran.  


Di era media sosial, memang lebih mudah menyebarkan umpatan daripada penjelasan panjang. Tapi kalau kita ingin adil pada sejarah, kita harus berani menegur kebodohan yang berteriak lantang.  






Senin, 23 Februari 2026

Kursi Kehormatan berubah Menjadi Kursi Jagal,. Indonesia Terjebak Karena Salah Langkah

 

Putar ulang video itu. Perhatikan bagaimana Trump memberi arahan kepada Prabowo. Lihat mimik, ekspresi, dan gesturnya—ada rasa tidak dianggap setara, seolah duduk di kursi besar tapi tetap diperlakukan sebagai bawahan.  


Di situ, marwah Indonesia seakan runtuh. Derajat bangsa direndahkan, terlebih ketika keinginan Trump dikabulkan begitu saja. Semua permintaan Trump seolah wajib dipenuhi, seakan negara kita sudah digiring penuh ke kandang, tanpa daya menolak. Celakanya, daging impor pun masuk tanpa sertifikat halal. Ini bukan sekadar dagang, melainkan racun yang menggerogoti identitas bangsa, meracuni rakyat dengan produk non-halal, dan menampar marwah yang seharusnya dijaga.  


Inilah yang disebut terjelabak karena salah langkah. Bangsa yang tergesa-gesa mencari pengakuan bisa terjebak dalam ilusi kehormatan. Seperti pekerja yang merasa naik kelas ketika diajak makan malam oleh cukong besar. Ia mengira sudah setara, duduk sejajar dengan para konglomerat. Namun di meja itu, justru ia dipermalukan, disuruh ini-itu, sebagaimana kacung di perusahaan.  

Bangsa yang salah langkah diplomasi akan mudah terjebak dalam jebakan psikologis: bangga karena duduk di meja besar, padahal kursi itu bukan tanda kesetaraan, melainkan tanda bahwa kita adalah santapan utamanya. Kebanggaan semu seringkali lebih berbahaya daripada hinaan terang-terangan. Kursi di jamuan makan malam bisa jadi bukan kehormatan, melainkan jebakan. Sama seperti tikus yang tergoda keju di perangkap: manis di awal, maut di ujung.  


Indonesia harus belajar bahwa diplomasi bukan sekadar foto bersama atau kursi di meja besar. Diplomasi adalah menjaga marwah, memastikan setiap keputusan tidak menggadaikan identitas bangsa. Salah langkah kecil bisa berujung pada terjerumusnya harga diri nasional. Bangsa yang ingin dihormati tidak boleh tergoda oleh simbol semu. Jangan bangga hanya karena mendapat kursi di jamuan makan malam. Jangan terjebak dalam ilusi kesetaraan. Kehormatan sejati bukan datang dari undangan, melainkan dari sikap tegas menjaga marwah bangsa.  

Tinggal kita rakyat untuk hati-hati menempatkan diri. Sehari-hari kita pun telah terbelenggu oleh jeratan premanisme kapitalis. Negara kita seolah kehilangan kedaulatan, diinjak oleh kekuatan modal yang tak mengenal batas. Kedaulatan negara kita terinjak, dan mau tidak mau, kondisi ini menyerupai perangkap raja kartel narkoba di Amerika Selatan. Sekali berada dalam lingkaran kartel, berarti menggadaikan Nyawa: keluar pun sulit, ujungnya terancam mati. Bahkan jika sempat keluar tanpa izin, kita akan jadi buruan, siap dieksekusi dengan mutilasi—harga diri dikoyak, ruang hidup dipersempit, dan kedaulatan bangsa dipatahkan.  


Apa yang kita saksikan adalah buah dari diplomasi yang gagal. Diplomasi yang seharusnya menjadi seni menjaga marwah bangsa justru berubah menjadi seni menggadaikan kepentingan. Skill diplomasi yang lemah membuat bangsa mudah dipermainkan, ditekan, dan akhirnya kehilangan posisi tawar. Diplomasi yang gagal bukan hanya soal perjanjian dagang atau kursi di meja besar, melainkan soal mentalitas bangsa yang rela tunduk demi pengakuan semu. Ketika diplomasi dijalankan tanpa ketegasan, hasilnya bukan kehormatan, melainkan keterjebakan. Bangsa yang lemah dalam diplomasi akan selalu menjadi objek, bukan subjek. Ia akan diperlakukan sebagai pelayan, bukan mitra. Ia akan terus terjerat dalam lingkaran kapitalisme global, seperti buruan yang tak pernah bebas dari ancaman mutilasi politik dan ekonomi. Diplomasi yang lemah pada hakikatnya adalah diplomasi yang salah menempatkan kepentingan. Apa yang seharusnya menjadi garis merah kedaulatan bangsa justru diperlakukan sebagai komoditas tawar-menawar. Apa yang seharusnya dijaga sebagai marwah justru diletakkan di bawah meja, diperlakukan sebagai barang dagangan. Meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya adalah akar dari kegagalan diplomasi. Ketika kepentingan rakyat ditempatkan di bawah kepentingan asing, ketika kedaulatan negara ditukar dengan pengakuan semu, maka diplomasi berubah menjadi alat penjeratan. Bangsa kehilangan arah, rakyat kehilangan pegangan, dan negara kehilangan martabat.  


Oleh:  

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.







?

Kamis, 29 Januari 2026

“Restorative Jambret: Korban Diperas, Pelaku Dapat Santunan, Lawak”

 

Kasus jambret di Sleman bukan sekadar cerita kriminal biasa. Dua pelaku tewas Jatuh sendiri setelah menjambret tas seorang perempuan, lalu dikejar oleh suaminya, Hogi Minaya. Bukannya selesai di situ, drama hukum justru berlanjut: Hogi sempat ditetapkan sebagai tersangka kecelakaan lalu lintas. Dan yang lebih mengejutkan, keluarga pelaku malah meminta uang “kerahiman” kepada Hogi agar damai.  


Fenomena ini membuat publik geleng-geleng kepala. Korban yang kehilangan rasa aman, malah dipaksa kehilangan isi kantong lagi. Logika hukum jungkir balik: pelaku yang mencopet jadi pewaris santunan, korban yang membela keluarganya jadi ATM berjalan.  


DPR pun ikut heboh. Komisi III menyebut penegakan hukum di Sleman “sakit.” Ada yang menilai permintaan uang dari keluarga pelaku sebagai hal yang “astagfirullah” dan tidak masuk akal. Restorative justice yang seharusnya memulihkan luka sosial, berubah jadi panggung komedi gelap.  


Mari kita bayangkan: meja mediasi bukan lagi ruang keadilan, melainkan meja kasir. Pelaku dan keluarganya duduk manis menunggu setoran, sementara korban ditekan agar membayar demi “harmoni.” Kata indah “kerahiman” dipakai sebagai bungkus, padahal yang harmonis hanyalah isi kantong keluarga pelaku.  


Satirnya jelas: hukum bukan lagi soal benar atau salah, melainkan soal siapa yang paling lihai membalik logika. Korban keluar ruangan bukan dengan rasa lega, melainkan dengan dompet kering dan hati getir.  


Kasus Sleman adalah cermin buram penegakan hukum kita. Ketika korban dipaksa jadi donatur, dan pelaku diposisikan sebagai penerima santunan, maka keadilan telah berubah jadi dagang. Restorative justice dipelintir jadi Restorative Jambret. 😁  


Oleh :

Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd

Advokat Pengacara, Konsultan Hukum, Aktivis dan pengamat Sosial








Selasa, 13 Januari 2026

Aura Positif dan Negatif dalam Lingkaran Pergaulan

 

Lingkaran pergaulan adalah cermin dari siapa kita dan bagaimana kita memilih orang-orang di sekitar. Ada teman yang kehadirannya membuat hati terasa damai, menghadirkan rasa aman, dan membuat kita merasa dihargai. Mereka membawa energi yang menyejukkan, sehingga setiap percakapan terasa ringan dan setiap kebersamaan menjadi sumber kekuatan. Kehadiran mereka membuat kita percaya bahwa dunia masih penuh dengan kebaikan, karena mereka tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi juga sebagai penopang ketika kita goyah.  


Orang yang positif biasanya memiliki karakter yang tulus dan jujur. Mereka tidak mencari celah kesalahan orang lain, melainkan berusaha membangun dan menguatkan. Sikapnya konsisten, ucapannya menenangkan, dan tindakannya membuat orang lain merasa aman. Bersama mereka, kita belajar arti kebersamaan yang sehat, di mana rasa hormat dan dukungan menjadi dasar hubungan. Lingkungan seperti ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan membuat kita berkembang dengan tenang.  


Sebaliknya, orang yang negatif hadir dengan sifat tinggi hati dan penuh perhitungan. Mereka sulit menerima ada orang yang lebih dari dirinya, sering mencari celah kesalahan orang lain untuk dijadikan senjata balik, dan kadang menjebak dengan sikap yang menipu. Prinsip hidup mereka bukan membangun, melainkan menjatuhkan. Dari sikap seperti itu, konflik sering lahir, karena rasa tidak mau kalah dan keinginan menjatuhkan orang lain hanya melahirkan ketegangan. Aura jahat dari orang berkarakter buruk terasa jelas: ia membuat kita gelisah, kehilangan kepercayaan diri, bahkan merasa tidak berharga.  


Jika kamu orang baik, secara alami kamu akan menjauh dari mereka, karena hati yang jernih tidak akan betah berada di dekat energi yang merusak. Itulah sebabnya penting untuk mencari lingkungan orang baik, karena di sanalah kamu akan merasa aman, tumbuh dengan sehat, dan menemukan dukungan yang tulus. Lingkungan yang jahat hanya akan membuatmu tidak tenang, apalagi jika karakternya sering menjebak dan menjerumuskan.  


Hidup pada akhirnya adalah tentang memilih energi yang kita izinkan masuk ke dalam lingkaran kita. Pertemanan sejati bukan sekadar soal seberapa sering kita bersama, melainkan tentang bagaimana seseorang membuat kita merasa. Jika bersama mereka kita merasa aman, dihargai, dan didukung, itulah tanda energi positif yang patut dijaga. Sebaliknya, jika kehadiran seseorang justru membawa konflik batin dan sifat tinggi hati yang merusak, maka menjaga jarak adalah bentuk perlindungan diri.  


Dan satu hal yang pasti: aura negatif tidak pernah berakhir dengan baik. Ia akan selalu menyeret kita ke dalam posisi berbahaya, membuat langkah kita berat, dan menjauhkan kita dari kebahagiaan yang sejati. Kalau kamu ingin hidup bahagia, aman, dan berkualitas, menjauhlah dari orang-orang yang ber-aura negatif.  






Minggu, 11 Januari 2026

Saat Bertemu Petinggi: Kesempatan Bisa Hilang Karena Salah Etika

 

Dalam dunia kerja, banyak orang masih beranggapan bahwa jika ingin meminta bantuan, harus membawa hadiah atau mengajak makan bersama. Padahal, di era sekarang, pimpinan atau pengusaha besar justru menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan kecurigaan. Karakter seseorang diuji bukan lewat hadiah, melainkan lewat sikap profesional, persiapan, dan cara menghormati aturan main.  


Raka, seorang profesional muda (nama samaran), mendapat kesempatan bertemu seorang pengusaha nasional melalui rekomendasi seniornya. Pertemuan pertama terasa sangat hangat: ia disuguhi teh, diajak makan, bahkan diberi harapan akan proyek besar dua bulan ke depan. Raka pulang dengan penuh semangat, merasa sudah mendapat dukungan. Namun ia lupa satu hal penting: sambutan hangat bukanlah jaminan. Itu hanyalah bentuk hormat kepada senior yang memperkenalkan, bukan tanda bahwa proyek sudah pasti miliknya.  


Dua minggu kemudian, Raka kembali berkunjung. Kali ini suasana berbeda, sang pengusaha tampak dingin, sibuk, dan menjawab seperlunya. Raka mencoba menindaklanjuti dengan menelepon, menawarkan ngobrol santai di luar kantor. Ajakan itu langsung ditolak. Kesalahan terbesar Raka adalah mengundang pimpinan makan di luar. Di mata pengusaha besar, ajakan seperti itu bisa menimbulkan prasangka: apakah ada maksud tersembunyi, apakah ini gratifikasi, atau apakah ada kepentingan lain. Bukannya menambah kepercayaan, justru membuat pimpinan waspada dan menjaga jarak.  


Kisah ini memberi pelajaran penting. Hormat bukan hadiah, melainkan disiplin dan sikap profesional. Karakter matang tahu kapan harus menyesuaikan diri. Karakter sabar memahami bahwa proses butuh waktu. Karakter serius ditunjukkan lewat pengetahuan dan kesiapan, bukan obrolan kosong. Ilmu karakter menegaskan bahwa perilaku adalah cermin nilai diri. Dalam konteks bertemu pimpinan, karakter jujur menolak cara-cara yang bisa menimbulkan prasangka, karakter profesional menempatkan pembicaraan di ruang resmi, dan karakter tanggung jawab hadir dengan persiapan, bukan sekadar basa-basi.  


Kesempatan emas bisa hilang bukan karena kurang pintar, tetapi karena salah membaca etika. Sambutan hangat hanyalah modal awal. Yang menentukan adalah bagaimana karakter kita menjaga kepercayaan dengan sikap profesional. Ilmu karakter mengajarkan bahwa etika bukan sekadar aturan, melainkan refleksi dari siapa diri kita sebenarnya.  


Oleh: 

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.

Advokat/pengacara, Konsultan Hukum, Pengamat Sosial & Pendidikan Karakter