Sports

.
Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya INTER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya INTER. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Januari 2026

“Restorative Jambret: Korban Diperas, Pelaku Dapat Santunan, Lawak”

 

Kasus jambret di Sleman bukan sekadar cerita kriminal biasa. Dua pelaku tewas Jatuh sendiri setelah menjambret tas seorang perempuan, lalu dikejar oleh suaminya, Hogi Minaya. Bukannya selesai di situ, drama hukum justru berlanjut: Hogi sempat ditetapkan sebagai tersangka kecelakaan lalu lintas. Dan yang lebih mengejutkan, keluarga pelaku malah meminta uang “kerahiman” kepada Hogi agar damai.  


Fenomena ini membuat publik geleng-geleng kepala. Korban yang kehilangan rasa aman, malah dipaksa kehilangan isi kantong lagi. Logika hukum jungkir balik: pelaku yang mencopet jadi pewaris santunan, korban yang membela keluarganya jadi ATM berjalan.  


DPR pun ikut heboh. Komisi III menyebut penegakan hukum di Sleman “sakit.” Ada yang menilai permintaan uang dari keluarga pelaku sebagai hal yang “astagfirullah” dan tidak masuk akal. Restorative justice yang seharusnya memulihkan luka sosial, berubah jadi panggung komedi gelap.  


Mari kita bayangkan: meja mediasi bukan lagi ruang keadilan, melainkan meja kasir. Pelaku dan keluarganya duduk manis menunggu setoran, sementara korban ditekan agar membayar demi “harmoni.” Kata indah “kerahiman” dipakai sebagai bungkus, padahal yang harmonis hanyalah isi kantong keluarga pelaku.  


Satirnya jelas: hukum bukan lagi soal benar atau salah, melainkan soal siapa yang paling lihai membalik logika. Korban keluar ruangan bukan dengan rasa lega, melainkan dengan dompet kering dan hati getir.  


Kasus Sleman adalah cermin buram penegakan hukum kita. Ketika korban dipaksa jadi donatur, dan pelaku diposisikan sebagai penerima santunan, maka keadilan telah berubah jadi dagang. Restorative justice dipelintir jadi Restorative Jambret. 😁  


Oleh :

Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd

Advokat Pengacara, Konsultan Hukum, Aktivis dan pengamat Sosial








Selasa, 13 Januari 2026

Aura Positif dan Negatif dalam Lingkaran Pergaulan

 

Lingkaran pergaulan adalah cermin dari siapa kita dan bagaimana kita memilih orang-orang di sekitar. Ada teman yang kehadirannya membuat hati terasa damai, menghadirkan rasa aman, dan membuat kita merasa dihargai. Mereka membawa energi yang menyejukkan, sehingga setiap percakapan terasa ringan dan setiap kebersamaan menjadi sumber kekuatan. Kehadiran mereka membuat kita percaya bahwa dunia masih penuh dengan kebaikan, karena mereka tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi juga sebagai penopang ketika kita goyah.  


Orang yang positif biasanya memiliki karakter yang tulus dan jujur. Mereka tidak mencari celah kesalahan orang lain, melainkan berusaha membangun dan menguatkan. Sikapnya konsisten, ucapannya menenangkan, dan tindakannya membuat orang lain merasa aman. Bersama mereka, kita belajar arti kebersamaan yang sehat, di mana rasa hormat dan dukungan menjadi dasar hubungan. Lingkungan seperti ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan membuat kita berkembang dengan tenang.  


Sebaliknya, orang yang negatif hadir dengan sifat tinggi hati dan penuh perhitungan. Mereka sulit menerima ada orang yang lebih dari dirinya, sering mencari celah kesalahan orang lain untuk dijadikan senjata balik, dan kadang menjebak dengan sikap yang menipu. Prinsip hidup mereka bukan membangun, melainkan menjatuhkan. Dari sikap seperti itu, konflik sering lahir, karena rasa tidak mau kalah dan keinginan menjatuhkan orang lain hanya melahirkan ketegangan. Aura jahat dari orang berkarakter buruk terasa jelas: ia membuat kita gelisah, kehilangan kepercayaan diri, bahkan merasa tidak berharga.  


Jika kamu orang baik, secara alami kamu akan menjauh dari mereka, karena hati yang jernih tidak akan betah berada di dekat energi yang merusak. Itulah sebabnya penting untuk mencari lingkungan orang baik, karena di sanalah kamu akan merasa aman, tumbuh dengan sehat, dan menemukan dukungan yang tulus. Lingkungan yang jahat hanya akan membuatmu tidak tenang, apalagi jika karakternya sering menjebak dan menjerumuskan.  


Hidup pada akhirnya adalah tentang memilih energi yang kita izinkan masuk ke dalam lingkaran kita. Pertemanan sejati bukan sekadar soal seberapa sering kita bersama, melainkan tentang bagaimana seseorang membuat kita merasa. Jika bersama mereka kita merasa aman, dihargai, dan didukung, itulah tanda energi positif yang patut dijaga. Sebaliknya, jika kehadiran seseorang justru membawa konflik batin dan sifat tinggi hati yang merusak, maka menjaga jarak adalah bentuk perlindungan diri.  


Dan satu hal yang pasti: aura negatif tidak pernah berakhir dengan baik. Ia akan selalu menyeret kita ke dalam posisi berbahaya, membuat langkah kita berat, dan menjauhkan kita dari kebahagiaan yang sejati. Kalau kamu ingin hidup bahagia, aman, dan berkualitas, menjauhlah dari orang-orang yang ber-aura negatif.  






Minggu, 11 Januari 2026

Saat Bertemu Petinggi: Kesempatan Bisa Hilang Karena Salah Etika

 

Dalam dunia kerja, banyak orang masih beranggapan bahwa jika ingin meminta bantuan, harus membawa hadiah atau mengajak makan bersama. Padahal, di era sekarang, pimpinan atau pengusaha besar justru menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan kecurigaan. Karakter seseorang diuji bukan lewat hadiah, melainkan lewat sikap profesional, persiapan, dan cara menghormati aturan main.  


Raka, seorang profesional muda (nama samaran), mendapat kesempatan bertemu seorang pengusaha nasional melalui rekomendasi seniornya. Pertemuan pertama terasa sangat hangat: ia disuguhi teh, diajak makan, bahkan diberi harapan akan proyek besar dua bulan ke depan. Raka pulang dengan penuh semangat, merasa sudah mendapat dukungan. Namun ia lupa satu hal penting: sambutan hangat bukanlah jaminan. Itu hanyalah bentuk hormat kepada senior yang memperkenalkan, bukan tanda bahwa proyek sudah pasti miliknya.  


Dua minggu kemudian, Raka kembali berkunjung. Kali ini suasana berbeda, sang pengusaha tampak dingin, sibuk, dan menjawab seperlunya. Raka mencoba menindaklanjuti dengan menelepon, menawarkan ngobrol santai di luar kantor. Ajakan itu langsung ditolak. Kesalahan terbesar Raka adalah mengundang pimpinan makan di luar. Di mata pengusaha besar, ajakan seperti itu bisa menimbulkan prasangka: apakah ada maksud tersembunyi, apakah ini gratifikasi, atau apakah ada kepentingan lain. Bukannya menambah kepercayaan, justru membuat pimpinan waspada dan menjaga jarak.  


Kisah ini memberi pelajaran penting. Hormat bukan hadiah, melainkan disiplin dan sikap profesional. Karakter matang tahu kapan harus menyesuaikan diri. Karakter sabar memahami bahwa proses butuh waktu. Karakter serius ditunjukkan lewat pengetahuan dan kesiapan, bukan obrolan kosong. Ilmu karakter menegaskan bahwa perilaku adalah cermin nilai diri. Dalam konteks bertemu pimpinan, karakter jujur menolak cara-cara yang bisa menimbulkan prasangka, karakter profesional menempatkan pembicaraan di ruang resmi, dan karakter tanggung jawab hadir dengan persiapan, bukan sekadar basa-basi.  


Kesempatan emas bisa hilang bukan karena kurang pintar, tetapi karena salah membaca etika. Sambutan hangat hanyalah modal awal. Yang menentukan adalah bagaimana karakter kita menjaga kepercayaan dengan sikap profesional. Ilmu karakter mengajarkan bahwa etika bukan sekadar aturan, melainkan refleksi dari siapa diri kita sebenarnya.  


Oleh: 

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.

Advokat/pengacara, Konsultan Hukum, Pengamat Sosial & Pendidikan Karakter


Sabtu, 10 Januari 2026

Tarja Halonen: Presiden Finlandia dan Pelajaran tentang Kesempatan

 

Dia bukan pengemis.  

Dia bukan pengungsi.  

Dia adalah Presiden Finlandia.  


Nama Tarja Halonen mungkin tidak sering terdengar di telinga masyarakat Indonesia. Namun, perempuan ini pernah memimpin Finlandia selama dua periode, dari tahun 2000 hingga 2012. Di bawah kepemimpinannya, negara kecil di Eropa Utara itu dikenal sebagai salah satu tempat terbaik di dunia untuk pendidikan, layanan kesehatan, dan kualitas hidup.  


Finlandia tumbuh, perusahaan-perusahaannya maju, sistem sosialnya semakin kuat. Tetapi Halonen tidak pernah melupakan satu hal sederhana: hidup tidak pernah benar-benar adil.  


Ia sering mengingatkan bahwa perbedaan antara seorang presiden dan seorang pengungsi tidak selalu soal kemampuan atau kerja keras. Kadang, perbedaan itu hanya soal keberuntungan dan kesempatan. “Saya bisa saja menjadi pengemis atau pengungsi,” katanya suatu kali. “Kesempatanlah yang membuat saya menjadi presiden.”  


Kalimat itu bukan sekadar retorika. Halonen kerap menempatkan dirinya dalam kampanye yang menantang cara pandang masyarakat terhadap kemiskinan dan perpindahan. Bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk mengingatkan bahwa siapa pun bisa berada di posisi yang sulit. Tidak semua orang memulai hidup dengan peluang yang sama, dan tidak semua orang dilindungi oleh keadaan.  


Halonen menolak pandangan bahwa kemiskinan selalu merupakan kesalahan individu. Baginya, kekuasaan bukan alasan untuk melupakan mereka yang lemah. Justru kekuasaan adalah tanggung jawab untuk peduli.  


Warisan pemikirannya sederhana tetapi kuat: kesempatan adalah fondasi keadilan sosial. Tanpa kesempatan, bakat dan kerja keras sering kali tidak cukup. Dari kursi kepresidenan, ia mengingatkan dunia bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal membangun negara, tetapi juga soal membangun empati.  


Tarja Halonen mungkin sudah tidak lagi menjabat, tetapi pesannya tetap relevan. Ia menunjukkan bahwa seorang presiden bisa sekaligus menjadi suara bagi mereka yang tak terdengar. Bahwa kekuasaan, pada akhirnya, adalah amanah untuk peduli.  



Sabtu, 03 Januari 2026

Realita : Anda Tidak Akan Didatangi Saat Hidup, Orang Akan Berdatangan Saat Anda Mati

 

Seorang manusia menderita luka di kakinya akibat diabetes. Awalnya hanya luka kecil, tetapi karena tidak dirawat, infeksi menyebar. Tubuhnya demam, lemah, dan ia mencari pertolongan serta perlindungan dari orang-orang terdekatnya.  


Namun, orang-orang justru menjauh. Mereka takut terbebani, takut ikut repot, dan menutup pintu.  


Ia pun berjalan tertatih, menangis bukan hanya karena sakit yang menggerogoti tubuhnya, tetapi karena tidak ada yang peduli—tepat ketika ia sangat membutuhkan kasih dan dukungan.  


Malam yang dingin menyambutnya. Setiap langkah pelan disertai air mata. Orang-orang melihatnya pergi, lalu berkata:  

“Biarkan saja. Lebih baik ia mati jauh dari kita.”  


---


Kabar Pertama

Waktu berlalu. Seorang tetangga datang membawa berita:  


“Saudaramu masih hidup! Ia tinggal di sebuah kamar kontrakan sempit di pinggir kota. Ia pulih, tetapi kehilangan satu kaki karena infeksi. Ia kesulitan mencari makanan dan membutuhkan bantuan kalian.”  


Semua orang terdiam. Tetapi satu demi satu mereka memberi alasan:  

- “Aku tidak bisa pergi, aku sedang bekerja.”  

- “Aku tidak bisa pergi, aku harus mencari nafkah.”  

- “Aku tidak bisa pergi, aku harus menjaga anak-anak.”  


Dan akhirnya, tak seorang pun yang datang menolong. Tetangga itu kembali ke kontrakan, tanpa membawa bantuan.  


---


Kabar Kedua

Waktu berlalu lagi. Tetangga itu kembali dengan berita menyakitkan:  


“Saudaramu sudah mati. Ia meninggal sendirian di dalam kontrakan, tanpa ada seorang pun yang mengubur atau berkabung untuknya. Ia mati dalam kelaparan, karena tidak ada makanan yang masuk ke tubuhnya.”  


---


Penyesalan

Pada saat itu, orang-orang mulai merasa sedih. Keluhan mendalam memenuhi rumah mereka.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya bekerja, berhenti.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya mencari nafkah, meninggalkan semuanya.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya merawat anak-anak, sejenak melupakan anak-anaknya.  


Timbullah rasa penyesalan di dalam hati mereka.  


Penyesalan itu lebih menyakitkan daripada luka apa pun. Mereka bertanya:  

“Kenapa kita tidak pergi lebih awal?”  


Tanpa mengukur jarak atau usaha, semua orang berbondong-bondong menuju kontrakannya itu, menangis dan mengeluh.  


Namun, semuanya sudah terlambat. Ketika sampai di kontrakan, mereka tidak lagi menemukan jasadnya. Yang tersisa hanyalah sebuah tulisan di dinding:  


“Dalam hidup, sering kali orang tidak sempat untuk sudi menyeberang jalan untuk menolongmu ketika itu engkau masih hidup,  tetapi mereka rela menyeberangi lautan untuk melihat kuburmu, setelah mendengar engkau telah mati.  

Dan sebagian besar air mata di kuburan bukan karena rasa sakit, melainkan karena penyesalan.”  


Pesan Kemanusiaan

Kisah ini adalah cermin kehidupan nyata:  

- Saat engkau hidup dan membutuhkan pertolongan, orang sering menutup mata.  

- Tetapi ketika engkau mati, orang akan berdatangan, bukan untukmu, melainkan untuk tradisi, keramaian, bahkan makan-makan (kenduri 7 hari, 2 kali 7 hari dst).  


Engkau hidup bisa saja mati karena kelaparan tidak memiliki beras, tetapi setelah kematianmu, orang justru berkumpul kenduri dengan makanan yang di hidangkan atas kematianmu.  


Penyakit memang bisa melemahkan tubuh, tetapi ketidakpedulian melemahkan hati.  Dan penyesalan, selalu datang paling akhir.  









Taktik Sosial yang Mengguncang: Saat Konflik Jadi Senjata Balik

 


Konflik sering muncul dari hal-hal kecil, tetapi cara seseorang menyikapinya bisa mengubah arah cerita. Kisah-kisah berikut menunjukkan bagaimana Pak Raja menghadapi situasi dengan taktik yang tidak biasa—tajam, mengejutkan, bahkan kejam—hingga membuat lawan goyah.


1. Mengadu Sesama Warga: Api di Perumahan Jambi

Di sebuah komplek perumahan di Jambi, suara anjing peliharaan menggonggong keras dan mengganggu ketenangan. Warga lain merasa resah, tetapi tidak ada yang berani menegur langsung. Pak Raja memilih cara berbeda: ia menempelkan sebuah kertas di lorong dengan tulisan tajam:  


"Kalau miskin jangan komplain soal anjing berisik. Kalau punya kemampuan, jual saja rumahmu dan pindah tempat lain."  


Tulisan itu seketika memicu kegaduhan. Pak Raja memotret kertas itu, lalu mengirimkannya ke grup chat warga dengan pertanyaan singkat:  


"Siapa yang menempel tulisan ini?"  


Pertanyaan itu meledakkan suasana. Grup chat mendadak heboh, penuh tuduhan dan amarah. Seolah-olah para pemilik anjinglah yang dianggap memasang tulisan itu. Mereka saling menuduh, saling membela diri, bahkan menyerang balik dengan kata-kata. Dalam hitungan menit, suasana grup berubah menjadi seperti sarang lebah yang diguncang.  


Hasilnya jelas: para pemilik anjing yang tadinya santai mulai mengendalikan hewan mereka. Pak Raja tidak perlu menegur langsung—cukup dengan satu kertas dan satu pertanyaan, ia berhasil memancing konflik internal yang membuat pihak bersalah saling menekan.


2. Mengalah untuk Menang: Sosialita yang Tersungkur

Suatu hari, Pak Raja sedang mengendarai motor di jalan kota. Tiba-tiba sebuah mobil mewah melawan arah dan menabraknya. Dari dalam mobil turun seorang ibu sosialita kota dengan kacamata hitam besar, tas mahal, dan suara penuh kesombongan. Ia memaki keras:  


"Apa sih, nggak lihat jalan? Dasar bikin repot!"  


Warga yang melihat mulai berbisik, sebagian tampak kesal dengan sikap angkuh itu. Namun, Pak Raja tetap tenang. Ia menunduk sedikit, lalu berkata dengan sopan:  


"Maaf Bu, saya tidak apa-apa. Silakan lanjutkan perjalanan."  


Ibu itu mendengus, lalu masuk kembali ke mobilnya. Dengan sombong ia menyalakan mesin dan pergi, meninggalkan lokasi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.  


Namun, Pak Raja tidak berhenti di situ. Ia segera memotret mobil mewah itu, lengkap dengan nomor platnya, lalu dengan cepat berfoto sambil terbaring dramatis di jalan seolah-olah ditabrak parah. Orang-orang di sekitar menjadi saksi, melihat langsung bagaimana ia tergeletak dengan wajah penuh ekspresi kesakitan.  


Kesombongan ibu sosialita itu justru memicu kemarahan warga. Mereka yang menyaksikan merasa geram melihat sikap angkuh sang pengemudi. Warga pun ikut memperkuat posisi Pak Raja dengan menjadi saksi, memastikan bahwa kejadian itu tidak bisa ditutup-tutupi.  


Tak lama kemudian, laporan resmi dibuat. Bukti foto, nomor plat, dokumentasi dramatis, serta dukungan saksi warga yang kesal menjadikan kasus itu tabrak lari dengan konsekuensi hukum berat.  


Plot twist-nya jelas: kelembutan dan kesopanan yang tampak lemah justru menjadi senjata. Sang sosialita yang merasa menang karena bisa pergi dengan sombong, akhirnya tersungkur oleh bukti, saksi, dan hukum yang menjeratnya.  


3. Membiarkan dan Membela Anak: Kebaikan yang Memancing Balasan

Suatu sore, seorang anak nakal menembak wajah Pak Raja dengan ketapel. Wajahnya bengkak, amarah hampir meledak. Warga sekitar menoleh, menunggu ia marah.  


Namun, sang ibu si anak datang dengan sikap meremehkan. Bukannya meminta maaf, ia justru berkata dengan nada membela:  


"Ah, tidak ada apa-apa. Namanya juga anak kecil, jangan diperhatikan."  


Kalimat itu seolah menutup mata atas kesalahan anaknya. Pak Raja tidak membalas dengan marah. Ia justru mengeluarkan Rp50.000 dan menyerahkannya kepada anak itu. Semua orang terdiam, bingung dengan sikapnya.  


Tapi efeknya jauh lebih tajam. Anak itu merasa mendapat “hadiah” dan semakin berani mengulang perbuatannya kepada orang lain. Sang ibu tetap membela, seolah-olah kenakalan anaknya bukan masalah. Hingga akhirnya warga lain yang menjadi korban mulai kesal. Mereka marah, menegur keras, bahkan memberi pelajaran langsung kepada keluarga si anak.  


Kebaikan yang tampak lembut justru menjadi pemicu konflik baru. Sikap ibu yang membiarkan dan membela anaknya membuat masyarakat semakin geram, hingga akhirnya keluarga itu sendiri yang ditekan dan dihukum oleh lingkungan


Ketiga kisah di atas ini bukan sekadar cerita. Itu adalah gambaran bagaimana konflik bisa diarahkan dengan tegas:  

- Menyalakan api agar pihak bersalah saling menekan.  

- Mengalah dengan licik agar kelembutan berubah jadi senjata hukum.  

- Membalik keadaan dengan kebaikan yang memancing balasan lebih keras dari masyarakat.  


Pak Raja mengajarkan bahwa Jika  masalah tidak bisa kau selesaikan sendiri. Maka Buat masalah itu jadi lebih besar, maka masyarakat atau kekuasaan yang lebih kuat terpaksa akan turun tangan untuk menyelesaikannya.