Board of Peace yang digadang sebagai wadah perdamaian ternyata tidak lebih dari sebuah kesepakatan pengkhianatan yang sangat nyata. Alih-alih menjadi ruang untuk meredakan konflik, ia justru menjadi kedok yang menjerat negara-negara dalam ilusi damai, sementara di baliknya tersimpan niat memperluas perang dan mempermainkan kepercayaan dunia. Kesepakatan ini bukanlah jalan menuju perdamaian, melainkan jebakan yang melahirkan tikaman dari belakang, memperlihatkan wajah asli pengkhianatan yang terang benderang.
Pelanggaran gencatan senjata oleh AS dan Israel di bulan Ramadan adalah bukti paling jelas dari pengkhianatan ini. Dalam suasana yang mestinya damai, ketika umat Muslim menjalani ibadah dengan penuh ketenangan, serangan itu diarahkan kepada simbol kepemimpinan Iran yang keluar dari bunker karena merasa sudah berada dalam suasana aman gencatan senjata. Pada saat yang sama, rakyat Palestina yang sudah lama menanggung penderitaan kembali menjadi korban, menyaksikan janji perdamaian berubah menjadi luka yang semakin dalam.
Board of Peace pada akhirnya hanyalah kumpulan para pengkhianat, penghina perdamaian, dan penggadai bangsanya sendiri. Lebih ironis lagi, 17 trilyun uang pendaftaran untuk bergabung ke dalam Board of Peace melayang hilang tak berguna, berakhir dengan semakin parahnya perang dan penderitaan. Alih-alih membawa manfaat, dana besar itu justru menjadi simbol betapa mahalnya sebuah penipuan yang hanya melahirkan kehancuran.
Bergabungnya geombolan pengkhianat dalam kedok perdamaian hanya melahirkan kesedihan mendalam, memperlihatkan betapa rapuhnya etika antarnegara ketika kepentingan geopolitik lebih diutamakan daripada nilai kemanusiaan. Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh doa dan solidaritas berubah menjadi bulan berdarah, di mana janji damai dilanggar dan kepercayaan antarnegara dihancurkan.
Maka pembalasan oleh Iran, meski berisiko memperpanjang lingkaran kekerasan, tetap dapat dipandang sebagai reaksi wajar atas pengkhianatan yang dilakukan. Ia adalah konsekuensi logis dari janji damai yang dikhianati, sekaligus penegasan bahwa martabat dan kedaulatan tidak bisa dibiarkan diinjak. Palestina pun menjadi saksi sekaligus korban dari pengkhianatan ini, menanggung luka yang semakin dalam akibat perang yang terus berulang.
Pada akhirnya, Board of Peace terbukti hanyalah kesepakatan pengkhianatan yang sangat nyata. Perdamaian sejati tidak bisa dibangun di atas dusta, dan setiap tikaman dari belakang akan selalu meninggalkan luka yang dalam, bukan hanya bagi Iran dan Palestina, tetapi bagi seluruh umat manusia.
Oleh: Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.



Tidak ada komentar:
Write komentar