Sports

.

Selasa, 03 Maret 2026

Kemiskinan Mendekatkan pada Kekafiran, Makanya Jadi Islam Itu Mesti Kaya

 

Islam adalah agama yang menekankan kekuatan iman sekaligus kekuatan sosial. Namun kenyataannya, umat Islam sering kali mudah diadu domba, diperalat, bahkan dilemahkan. Salah satu sebab utamanya adalah karena banyak yang tidak menyadari makna perintah Allah: menjadi Muslim itu mesti kaya. Bukan kaya untuk bermegah-megahan, melainkan kaya agar kuat, mandiri, dan tidak mudah diperbudak oleh kepentingan luar.  


Rasulullah SAW bersabda:  


كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا  

“Hampir saja kefakiran (Kemiskinan) itu menjadi kekafiran.”  

(HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Imân)  


Hadis ini menegaskan bahwa kemiskinan bisa menjerumuskan manusia pada kekafiran. Orang miskin yang lapar, terhimpit, dan tidak berdaya mudah kehilangan kesabaran, lalu menyalahkan takdir. Lebih jauh lagi, kemiskinan membuat umat Islam lemah secara politik, sosial, dan budaya. Akibatnya, Islam mudah dipecah belah, diadu domba, dan diperalat oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan.  


Al-Qur’an pun menegaskan pentingnya keseimbangan antara dunia dan akhirat. Allah berfirman dalam QS. Al-Qasas: 77:  


وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا  


“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia…”  


Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk berusaha meraih kekayaan, bukan sekadar pasrah dalam kemiskinan. Kekayaan yang halal adalah amanah, sarana untuk menegakkan zakat, sedekah, wakaf, memperkuat dakwah, menolong sesama, dan menjaga martabat umat.  


Allah juga berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 261:  


مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ  


“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”  


Dalil ini menegaskan bahwa kekayaan bukan tujuan akhir, melainkan alat perjuangan. Dengan kekayaan, umat Islam bisa kuat, tidak mudah diperdaya, dan mampu menjaga kehormatan. Tambahan lagi, dalam rukun Islam terlihat jelas bahwa kesempurnaan beragama sangat erat kaitannya dengan kemampuan finansial. Zakat hanya diwajibkan bagi orang yang mampu, haji pun diwajibkan bagi mereka yang memiliki bekal dan kemampuan. Di sana tersirat perintah bahwa menjadi Muslim berarti harus berusaha kaya, sebab dengan kaya barulah Islam bisa tegak sempurna.  


Untuk menjadi Islam yang sejati, harus pula ada semangat tolong-menolong agar sama-sama kaya. Jika kamu mampu, tolonglah saudaramu yang tidak mampu. Dan bila sudah ditolong, amanahlah: jangan jadi pengkhianat yang tidak tahu diri, tidak pandai berterima kasih, dan melupakan kebaikan. Islam menuntut umatnya saling menguatkan, bukan saling melemahkan.  


Kemiskinan memang mendekatkan pada kekafiran, dan karena itulah Islam mewajibkan umatnya berusaha menjadi kaya. Bukan untuk kesombongan, melainkan agar umat Islam tidak lagi mudah dipecah belah, tidak lagi diperbudak oleh kepentingan luar, dan mampu berdiri tegak sebagai umat yang kuat, berdaulat, saling menolong, dan sempurna dalam menjalankan rukun Islam.  











Tidak ada komentar:
Write komentar