Sports

.

Jumat, 06 Maret 2026

Preman Dunia Palak Pedagang Minyak: Keamanan dari Siapa??

 

Selat Hormuz, jalur sempit yang jadi urat nadi perdagangan minyak dunia, mendadak jadi panggung sandiwara. Amerika Serikat tampil seperti preman pasar: teriak keras, bikin orang takut, lalu memalak dengan dalih “uang keamanan.” Mereka gembar‑gembor seolah jalur mau ditutup, kapal bisa celaka, minyak bisa macet.


Iran langsung bantah, “Hei, jalur nggak ditutup kok! Kapal lewat biasa saja.” Nah, di sinilah kelucuannya: Amerika sudah keburu pasang muka sangar, bikin brosur keamanan, siap narik iuran. Begitu Iran buka mulut, semua gembar‑gembor itu jadi seperti tukang parkir liar yang teriak “awas mobilmu bisa lecet,” padahal jalanan kosong dan aman‑aman saja. Belagu ketahuan, tapi duit sudah sempat ditarik.

Amerika jelas untung besar: stok minyak sudah diborong sebelum ribut, lalu panen saat harga naik. Iran, meski membantah, tetap dapat panggung politik. Pemerintah di Indonesia ikut main dengan propaganda cadangan minyak cuma cukup 20 hari. Angka ini dipakai untuk menakut‑nakuti rakyat, seolah besok bensin bisa habis. Panik pun tumbuh, harga BBM naik, dan dompet receh jadi korban.  


Intinya: jualan tekanan dan rasa takut adalah trik paling efisien untuk memalak orang. Amerika pakai di panggung global, Iran pakai untuk gengsi politik, pemerintah pakai untuk legitimasi kebijakan. Di level lokal pun sama: debt collector menakut‑nakuti debitur, tukang parkir liar bikin orang takut mobilnya lecet, pedagang pasar bilang “besok harga naik” supaya pembeli buru‑buru bayar. Dari kampung sampai gedung tinggi, triknya sama: dagang ketakutan.  

Dari panggung global sampai kampung kecil, polanya sama. Debt collector menakut‑nakuti debitur, tukang parkir liar bikin orang takut mobilnya lecet, pedagang pasar bilang “besok harga naik” supaya pembeli buru‑buru bayar. Dari terminal sampai gedung tinggi, dagang ketakutan jadi bisnis paling laku.


Alurnya mengalir dari panggung dunia ke dapur rakyat kecil. Indonesia jadi pedagang kecil yang lewat sambil komat‑kamit, “Semoga dagangan sampai rumah, bensin tinggal seperempat.” Rakyat akhirnya yang harus menanggung beban, sementara para pemain besar tertawa di balik meja.

Dan ujung cerita? Setelah semua ribut‑ribut, si preman dunia ternyata bukan sibuk jaga jalur, tapi buka warung kopi di pinggir Selat Hormuz. Paket “uang keamanan” ternyata bonus: dapat kopi pahit gratis sambil nonton kapal lewat. Dunia pun ketawa getir—ternyata semua ini bukan soal keamanan, melainkan soal siapa paling lihai memicu rasa takut, menipu, dan menjebak demi keuntungan.


Oleh: Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.












Tidak ada komentar:
Write komentar