Pada masa itu, Bupati Kerinci berasal dari Sungai Penuh. Ia punya mimpi besar: menjadikan Sungai Penuh sebagai kota, lalu sebagai ibukota provinsi baru bernama Puncak Andalas. Mimpi itu tampak indah, tapi sejak awal sudah penuh hambatan.
Bupati menduga tokoh-tokoh dari pihak mudik hanya ingin Kerinci dibagi dua: Kerinci Mudik dan Kerinci Hilir. Isu ini sempat ramai dan viral di media cetak kala itu. Bagi bupati, rencana itu jelas mengancam. Kalau Kerinci hanya dibagi dua tanpa kota, maka Sungai Penuh tidak akan pernah jadi pusat kekuasaan.
Karena merasa tidak didukung, bupati mulai memperbesar konflik di wilayah mudik. Perselisihan antara Siulak Gedang dan Siulak Mukai sengaja dibiarkan membesar, supaya tokoh mudik tidak kuat dan tidak bisa menghalangi ambisinya. Di sisi lain, ia berharap pemekaran Kerinci Hilir bisa jadi jalan keluar. Kalau hilir jadi kabupaten, syarat provinsi baru bisa lengkap. Namun kenyataannya, syarat administratif belum siap, dan dukungan politik tidak solid.
Keadaan semakin rumit ketika pemilihan langsung berikutnya justru dimenangkan oleh tokoh dari Siulak Mukai. Bupati baru ini tidak peduli pada pemekaran hilir, apalagi pada rencana provinsi dengan ibukotanya Sungai Penuh. Fokusnya hanya pada kampungnya sendiri. Tokoh mudik kemudian merangkul wakil dari Sitinjau Laut, yang saat itu sudah terpecah: sebagian masuk ke Kota Sungai Penuh, sebagian tetap di Kabupaten Kerinci. Kondisi ini membuat posisi mudik semakin kuat, sekaligus menutup peluang hilir untuk dimekarkan.
Akhirnya, memang benar Kota Sungai Penuh berdiri, tapi Kerinci Hilir diabaikan. Padahal hilir adalah syarat terakhir. Walaupun daerah lain seperti Pesisir Selatan (Sumatera Barat) dan Muko-Muko (Bengkulu) sudah siap bergabung, tetap saja kurang satu daerah: Kerinci Hilir. Tanpa hilir, syarat hukum sesuai PP No. 129 Tahun 2000 tidak terpenuhi.
Maka mimpi Provinsi Puncak Andalas pun kandas. Bukan karena rakyat tidak mau, melainkan karena kepentingan politik yang saling bertabrakan: ambisi bupati dari Sungai Penuh yang ingin kota jadi ibukota, tokoh mudik yang hanya ingin Kerinci dibagi dua tanpa kota, konflik yang sengaja diperbesar, kemenangan tokoh mudik yang tidak peduli pada hilir, serta Sitinjau Laut yang terpecah belah. Semua itu berujung pada kegagalan.
Tanpa Kerinci Hilir, syarat provinsi tidak pernah lengkap. Mimpi Puncak Andalas runtuh sebelum sempat lahir.




Tidak ada komentar:
Write komentar