Republik Drakula bukan negeri dongeng, melainkan panggung nyata di mana taring kekuasaan menancap di leher rakyat. Drakula di sini bukan monster malam, melainkan wajah-wajah yang kita kenal: pejabat yang rakus, birokrat yang gemar memalak, penguasa yang haus darah rakyat. Mereka tidak pernah kenyang. Pajak yang mencekik, pungli yang merajalela, harga kebutuhan pokok yang terus melambung—semua adalah cara drakula menghisap darah rakyat.
Rakyat digigit janji manis, lalu digigit lagi oleh kenyataan pahit. Di warung kopi, orang-orang masih bisa bercanda, “Kalau harga naik lagi, kita makan janji saja.” Lucu, tapi getir. Candaan itu lahir dari perut yang kosong, dari kantong yang bolong, dari harapan yang sudah lama digigit habis. Inilah komedi tragis Republik Drakula: tertawa sambil menahan lapar, bercanda sambil menahan sakit.
Di republik ini, korban tidak pernah benar-benar jadi korban. Yang digigit tidak mati, melainkan berubah jadi drakula baru. Bawahan yang ditekan akan menekan orang lain. Yang dipalak akan memalak lagi. Yang ditelan akan menelan lagi. Lingkaran setan ini terus berputar, menciptakan negeri saling gigit tanpa ujung.
Ada drakula birokrasi yang bersembunyi di balik meja dan stempel, menghisap lewat pungutan liar. Ada drakula politik yang berkeliling dengan janji palsu dan amplop, menghisap lewat suara rakyat yang dibeli murah. Ada drakula ekonomi yang bersemayam di pasar, menghisap lewat harga yang tak terkendali. Semua sibuk menggigit, semua sibuk menghisap, semua sibuk bertahan dengan cara menindas.
Kadang adegan ini terasa seperti sandiwara murahan. Pejabat tertawa di kursi empuk, rakyat antre sembako dengan wajah muram. Birokrat sibuk memalak di balik meja, sementara rakyat sibuk mencari cara untuk bertahan hidup. Tragis, tapi juga ironis. Negeri ini berjalan bukan dengan logika keadilan, melainkan dengan logika taring.
Republik Drakula adalah gambaran tentang lingkaran setan kekuasaan. Ketika taring menggantikan hukum, ketika gigitan menggantikan keadilan, maka korban selalu melahirkan pelaku baru. Pertanyaannya: sampai kapan kita biarkan republik ini terus hidup dari darah rakyat? Apakah kita akan tetap jadi mangsa, atau mulai mematahkan siklus drakula yang tak pernah kenyang?
Penulis: Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.




Tidak ada komentar:
Write komentar