
Besarnya Peran Sahabat Berjiwa Pengkhianat, Sadisnya Pembantaian Lumumba, Tubuh yang diapus dari Sejarah
Tanggal 30 Juni 1960, Kongo seharusnya merayakan kebebasannya dari cengkeraman Belgia. Namun di podium Leopoldville, Raja Belgia Baudouin dengan seragam putihnya berpidato angkuh, memuji kolonialisme sebagai “karya jenius” leluhurnya. Kata-kata itu adalah racun yang menuntut rasa terima kasih atas puluhan tahun penderitaan. Patrice Lumumba, perdana menteri pertama Kongo, naik ke podium dengan tubuh kurus dan mata menyala. Ia mematahkan protokol, menyalakan bara perlawanan dengan pidato yang mengguncang dunia: “Kami tidak akan melupakan pembantaian, penghinaan, dan pukulan… Kami bukan lagi kera bagi kalian.” Sorak rakyat bergemuruh, tetapi bagi Barat, itu adalah gong kematian.
Di Washington dan Brussels, Lumumba segera dicap sebagai musuh yang harus dilenyapkan. CIA menyiapkan racun dalam pasta gigi, Belgia menyiapkan uang suap, dan mereka menemukan pengkhianat sempurna: Kolonel Joseph-Désiré Mobutu, sahabat Lumumba sendiri, yang menjual darah bangsanya demi dolar Barat. Katanga, provinsi kaya uranium dan tembaga, dipisahkan oleh Moise Tshombe, boneka Belgia. Lumumba meminta bantuan PBB, ditolak. Ia berpaling ke Uni Soviet, langkah yang membuat Barat murka. Eisenhower memberi perintah dingin: “Singkirkan dia".
Lumumba ditahan, lalu mencoba melarikan diri menuju Stanleyville. Namun di Sungai Sankuru ia ditangkap. Tentara memukulinya dengan popor senapan, memaksanya menelan pidatonya sendiri—penghinaan yang lebih kejam daripada peluru. Ia dilempar ke penjara Thysville, tetapi kata-katanya masih membakar hati para penjaga. Belgia panik: kata-kata Lumumba lebih berbahaya daripada senjata. Maka mereka memutuskan: ia harus dikirim ke Katanga, ke mulut serigala.
Pada 17 Januari 1961, Lumumba dan dua rekannya dipaksa naik pesawat menuju Katanga. Sepanjang penerbangan mereka dipukuli hingga wajah hancur, tak lagi dikenali sebagai manusia. Di Elisabethville, mereka dibawa ke Villa Brouwez. Para menteri Katanga bergiliran menyiksa mereka, sementara perwira Belgia berdiri dingin, menonton seperti penonton teater. Malam itu, di bawah sorot lampu mobil, regu tembak disiapkan. Maurice Mpolo dan Joseph Okito ditembak mati lebih dulu. Lumumba, setengah sadar, berjalan tertatih. Ia menatap algojonya tanpa penutup mata. Peluru menembus tubuhnya, mengakhiri hidup seorang pemimpin yang terlalu berani menantang imperium. Tubuh mereka dilempar ke lubang dangkal, seperti sampah yang harus segera ditutup tanah.
Belgia takut: “Bagaimana jika kuburannya jadi tempat suci?” Maka mereka memerintahkan penghilangan total. Gerard Soete, komisaris Belgia, datang dengan gergaji besi dan drum berisi asam sulfat. Ia memotong tubuh Lumumba, melarutkannya dalam cairan mendesis, hingga dagingnya lenyap dalam bau busuk yang menusuk. Tulang yang tersisa ditumbuk jadi debu, disebar di jalanan. Tidak ada jasad, tidak ada nisan. Hanya ketiadaan.
Namun satu bukti tetap ada. Soete menyimpan gigi emas Lumumba sebagai “suvenir,” seperti pemburu yang menyimpan kepala rusa. Selama puluhan tahun, gigi itu menjadi simbol betapa Barat memperlakukan manusia Afrika sebagai binatang buruan. Baru pada 2022, gigi emas itu dikembalikan ke Kongo. Sebuah peti kecil diarak layaknya raja yang pulang. Tetapi yang pulang hanyalah serpihan, bukan tubuh, bukan jiwa.
Lumumba mati bukan hanya oleh peluru, tetapi oleh konspirasi Barat dan pengkhianatan sahabatnya sendiri. Tubuhnya dihapus dengan asam, tetapi kata-katanya tetap hidup sebagai peringatan: penjajah tidak hanya merampas tanah, tetapi juga berusaha menghapus ingatan.










