Katanya Islam dan Muslim jadi biang kerok kekerasan, terorisme, dan segala macam kerusuhan dunia. Tapi mari kita buka catatan hitam sejarah dan statistik: siapa sebenarnya yang mencatat rekor kelam?
Negara dengan tingkat pelacuran tertinggi
1. Thailand (Budha)
2. Denmark (Kristen)
3. Italia (Kekristianan)
4. Jerman (Kristen)
5. Prancis (Kekristianan)
6. Norwegia (Kristen)
7. Belgia (Kekristianan)
8. Spanyol (Kekristianan)
9. Inggris (Kekristianan)
10. Finlandia (Kristen)
Mayoritas Kristen. Jadi, siapa yang sebenarnya jadi “raja prostitusi dunia”? Fakta ini bukan gosip, tapi data yang jarang diangkat. Ironisnya, dunia diam seribu bahasa, seolah-olah pelacuran itu hanya masalah “lokal” dan bukan aib global.
Negara dengan tingkat pencurian tertinggi
1. Denmark dan Finlandia (Kristen)
2. Zimbabwe (Kekristianan)
3. Australia (Kekristianan)
4. Kanada (Kekristianan)
5. Selandia Baru (Kekristianan)
6. India (Hinduisme)
7. Inggris dan Wales (Kristen)
8. AS (Kekristianan)
9. Swedia (Kekristianan)
10. Afrika Selatan (Kekristianan)
Lagi-lagi dominasi Kristen. Jadi, maling kelas dunia itu siapa? Kalau pencuri kecil di kampung ditangkap, heboh. Tapi pencuri kelas negara? Sunyi. Dunia pura-pura tuli.
Negara dengan tingkat kecanduan alkohol tertinggi
1. Moldavia (Kristen)
2. Belarus (Kristen)
3. Lituania (Kristen)
4. Rusia (Kristen)
5. Republik Ceko (Kristen)
6. Ukraina (Kristen)
7. Andorra (Kristen)
8. Romania (Kristen)
9. Serbia (Kristen)
10. Australia (Kristen)
Semua Kristen. Jadi, siapa yang mabuk sampai rusak generasi? Alkohol jadi budaya, tapi dampaknya: keluarga hancur, generasi lumpuh, ekonomi bocor. Tapi tetap saja, Muslim yang dituding “tidak beradab”.
Negara dengan tingkat pembunuhan tertinggi
1. Honduras (Kristen)
2. Venezuela (Kristen)
3. Belize (Kristen)
4. El Salvador (Kristen)
5. Guatemala (Kristen)
6. Afrika Selatan (Kekristianan)
7. Santa Kitts dan Nevis (Kristen)
8. Bahama (Kristen)
9. Lesotho (Kristen)
10. Jamaika (Kristen)
Mayoritas Kristen. Jadi, siapa yang paling hobi bunuh sesama? Angka pembunuhan ini bukan sekadar statistik, tapi jeritan manusia yang hilang nyawa. Dunia bungkam, tapi kalau ada konflik kecil di negeri Muslim, langsung dicap “barbar”.
Geng paling berbahaya
1. Yakuza (Tanpa agama)
2. Agberas (Kristen)
3. Wah Sing (Kristen)
4. Bos Jamaika (Kristen)
5. Pertama (Kristen)
6. Persaudaraan Aryan (Kristen)
Mayoritas Kristen. Jadi, siapa yang bikin dunia penuh geng kriminal? Mereka punya jaringan, punya senjata, punya bisnis gelap. Tapi tetap saja, label “teroris” dilempar ke Muslim.
Kartel narkoba terbesar
1. Pablo Escobar - Kolombia (Kristen)
2. Amado Carrillo - Kolombia (Kristen)
3. Carlos Lehder Rivas (Kristen)
4. Griselda Blanco - Kolombia (Kristen)
5. Joaquin Guzman - Meksiko (Kristen)
6. Rafael Caro Quintero - Meksiko (Kristen)
Semua Kristen. Jadi, siapa yang jadi “CEO narkoba dunia”? Mereka merusak jutaan anak muda, menghancurkan bangsa, tapi dunia masih sibuk menuding Muslim.
Fakta Sejarah yang Sering Disembunyikan
- Siapa yang memulai Perang Dunia I? Bukan Muslim.
- Siapa yang memulai Perang Dunia II? Bukan Muslim.
- Siapa yang menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki? Bukan Muslim.
- Siapa yang membunuh hampir 20 juta penduduk asli Australia? Bukan Muslim.
- Siapa yang membunuh hampir 100 juta penduduk asli Amerika di Amerika Selatan? Bukan Muslim.
- Siapa yang membunuh hampir 50 juta penduduk asli Amerika di Amerika Utara? Bukan Muslim.
- Siapa yang menculik lebih dari 180 juta orang Afrika, 88% mati di laut? Bukan Muslim.
Dan inilah ironi paling telanjang:
Kalau Non-Muslim melakukan teror, pembantaian, atau kejahatan massal, dunia menyebutnya “crime”, kejahatan biasa.
Tapi kalau Muslim berjuang mempertahankan diri dari penindasan, langsung dicap “terrorist”.
Label ini bukan sekadar kata, tapi senjata propaganda. Dunia digiring untuk percaya bahwa terorisme identik dengan Islam, padahal fakta sejarah dan statistik berteriak sebaliknya. Bukankah ini konspirasi yang dirancang rapi, dengan tujuan membungkam suara perlawanan?
Mari berhenti menelan propaganda mentah-mentah. Dunia damai bukan lahir dari stigma, tapi dari keberanian membongkar fakta. Mari bersatu, vokal, dan berjanji: membangun dunia dengan kerukunan, cinta, dan kasih sayang — bukan dengan label palsu dan propaganda murahan.




Tidak ada komentar:
Write komentar