
Islam Dihancurkan dari Dalam melalui Adu Domba
Sejarah umat Islam menunjukkan bahwa ancaman terbesar tidak selalu datang dari luar dengan senjata dan pasukan, melainkan dari dalam melalui strategi adu domba. Pihak luar cukup meniupkan isu, memanfaatkan perbedaan mazhab, kepentingan politik, dan kondisi ekonomi, lalu umat Islam sibuk saling menuduh. Hasilnya, persatuan hancur, sementara pihak luar tersenyum puas melihat umat yang terpecah belah.
Contoh paling jelas adalah serangan terhadap kilang minyak Arab Saudi. Begitu terjadi ledakan, tuduhan langsung diarahkan ke Iran. Media internasional ikut menggiring opini bahwa Iran adalah biang kerok. Padahal, Iran berkali-kali membantah. Analisis geopolitik bahkan menyebut kemungkinan adanya pihak ketiga yang sengaja menembakkan peluru lalu menuduh Iran, agar hubungan Iran–Arab Saudi makin panas. Ironinya, kilang minyak memang terbakar, tapi yang lebih parah terbakar adalah akal sehat: tuduhan tanpa bukti dijadikan kompas politik, dan Arab Saudi sering kali menelannya mentah-mentah.
Selain serangan fisik, isu Sunni–Syiah, Wahabi, dan aliran lain dijadikan senjata murah meriah. Perbedaan mazhab yang seharusnya bisa dikelola dengan dialog malah dipelihara jadi bahan baku konflik. Umat Islam diarahkan untuk saling menuduh berdasarkan label, padahal musuh sebenarnya adalah pihak luar yang lihai memainkan propaganda. Satirnya, umat Islam kadang lebih sibuk berdebat soal “siapa paling benar” daripada bertanya “siapa yang sedang memperalat kita.”
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Timur Tengah. Di Indonesia pun ada kelompok-kelompok Islam yang diperalat untuk memainkan isu sektarian. Perbedaan mazhab dijadikan bahan provokasi, sehingga umat Islam di dalam negeri ikut terpecah. Padahal, kalau umat Islam sibuk bertengkar soal label, yang rugi bukan hanya satu kelompok, tapi seluruh umat. Karena itu, Islam harus pintar dan kaya. Pintar dalam membaca situasi, tidak mudah terprovokasi. Kaya dalam arti luas: kaya ilmu, kaya ekonomi, kaya persatuan. Sebab kemiskinan—baik materi maupun pemikiran—sering mendekatkan pada kekufuran. Umat yang miskin mudah dipecah, mudah diadu, dan mudah digoyah. Sebaliknya, umat yang cerdas dan kaya akan lebih kuat, lebih mandiri, dan tidak mudah diperdaya.
Siapa yang untung dari perpecahan ini? Pihak luar. Dengan umat Islam sibuk berkonflik, mereka lebih mudah menguasai jalur energi dan perdagangan. Pasar minyak dunia ikut diuntungkan karena harga naik setiap kali ada ketegangan. Israel dan Barat juga diuntungkan: posisi Iran melemah, sementara Arab Saudi semakin bergantung pada mereka. Dampaknya jelas: kilang minyak rusak, ekonomi terganggu, politik terpecah, dan kepercayaan antarnegara hilang karena tuduhan tanpa bukti.
Kesimpulannya, pengeboman kilang minyak hanyalah satu contoh bagaimana dunia Islam dijadikan arena permainan geopolitik. Serangan terjadi, tuduhan diarahkan, solidaritas melemah. Ditambah isu sektarian yang terus digoreng, dunia Islam makin terpecah. Satirnya, umat Islam sering kali sibuk memperebutkan kebenaran versi masing-masing, sementara kebenaran yang lebih besar—bahwa mereka sedang diperdaya—justru diabaikan. Tantangan terbesar adalah menyadari jebakan ini, memperkuat komunikasi, dan tidak mudah percaya pada narasi yang sengaja dibuat untuk memecah belah. Baik di Timur Tengah maupun di Indonesia, umat Islam harus cerdas, bersatu, dan benar-benar kaya agar tidak mudah digoyah.
?







