Sports

.
Tampilkan postingan dengan label SOSBUD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSBUD. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Januari 2026

Aura Positif dan Negatif dalam Lingkaran Pergaulan

 

Lingkaran pergaulan adalah cermin dari siapa kita dan bagaimana kita memilih orang-orang di sekitar. Ada teman yang kehadirannya membuat hati terasa damai, menghadirkan rasa aman, dan membuat kita merasa dihargai. Mereka membawa energi yang menyejukkan, sehingga setiap percakapan terasa ringan dan setiap kebersamaan menjadi sumber kekuatan. Kehadiran mereka membuat kita percaya bahwa dunia masih penuh dengan kebaikan, karena mereka tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi juga sebagai penopang ketika kita goyah.  


Orang yang positif biasanya memiliki karakter yang tulus dan jujur. Mereka tidak mencari celah kesalahan orang lain, melainkan berusaha membangun dan menguatkan. Sikapnya konsisten, ucapannya menenangkan, dan tindakannya membuat orang lain merasa aman. Bersama mereka, kita belajar arti kebersamaan yang sehat, di mana rasa hormat dan dukungan menjadi dasar hubungan. Lingkungan seperti ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan membuat kita berkembang dengan tenang.  


Sebaliknya, orang yang negatif hadir dengan sifat tinggi hati dan penuh perhitungan. Mereka sulit menerima ada orang yang lebih dari dirinya, sering mencari celah kesalahan orang lain untuk dijadikan senjata balik, dan kadang menjebak dengan sikap yang menipu. Prinsip hidup mereka bukan membangun, melainkan menjatuhkan. Dari sikap seperti itu, konflik sering lahir, karena rasa tidak mau kalah dan keinginan menjatuhkan orang lain hanya melahirkan ketegangan. Aura jahat dari orang berkarakter buruk terasa jelas: ia membuat kita gelisah, kehilangan kepercayaan diri, bahkan merasa tidak berharga.  


Jika kamu orang baik, secara alami kamu akan menjauh dari mereka, karena hati yang jernih tidak akan betah berada di dekat energi yang merusak. Itulah sebabnya penting untuk mencari lingkungan orang baik, karena di sanalah kamu akan merasa aman, tumbuh dengan sehat, dan menemukan dukungan yang tulus. Lingkungan yang jahat hanya akan membuatmu tidak tenang, apalagi jika karakternya sering menjebak dan menjerumuskan.  


Hidup pada akhirnya adalah tentang memilih energi yang kita izinkan masuk ke dalam lingkaran kita. Pertemanan sejati bukan sekadar soal seberapa sering kita bersama, melainkan tentang bagaimana seseorang membuat kita merasa. Jika bersama mereka kita merasa aman, dihargai, dan didukung, itulah tanda energi positif yang patut dijaga. Sebaliknya, jika kehadiran seseorang justru membawa konflik batin dan sifat tinggi hati yang merusak, maka menjaga jarak adalah bentuk perlindungan diri.  


Dan satu hal yang pasti: aura negatif tidak pernah berakhir dengan baik. Ia akan selalu menyeret kita ke dalam posisi berbahaya, membuat langkah kita berat, dan menjauhkan kita dari kebahagiaan yang sejati. Kalau kamu ingin hidup bahagia, aman, dan berkualitas, menjauhlah dari orang-orang yang ber-aura negatif.  






Minggu, 11 Januari 2026

Saat Bertemu Petinggi: Kesempatan Bisa Hilang Karena Salah Etika

 

Dalam dunia kerja, banyak orang masih beranggapan bahwa jika ingin meminta bantuan, harus membawa hadiah atau mengajak makan bersama. Padahal, di era sekarang, pimpinan atau pengusaha besar justru menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan kecurigaan. Karakter seseorang diuji bukan lewat hadiah, melainkan lewat sikap profesional, persiapan, dan cara menghormati aturan main.  


Raka, seorang profesional muda (nama samaran), mendapat kesempatan bertemu seorang pengusaha nasional melalui rekomendasi seniornya. Pertemuan pertama terasa sangat hangat: ia disuguhi teh, diajak makan, bahkan diberi harapan akan proyek besar dua bulan ke depan. Raka pulang dengan penuh semangat, merasa sudah mendapat dukungan. Namun ia lupa satu hal penting: sambutan hangat bukanlah jaminan. Itu hanyalah bentuk hormat kepada senior yang memperkenalkan, bukan tanda bahwa proyek sudah pasti miliknya.  


Dua minggu kemudian, Raka kembali berkunjung. Kali ini suasana berbeda, sang pengusaha tampak dingin, sibuk, dan menjawab seperlunya. Raka mencoba menindaklanjuti dengan menelepon, menawarkan ngobrol santai di luar kantor. Ajakan itu langsung ditolak. Kesalahan terbesar Raka adalah mengundang pimpinan makan di luar. Di mata pengusaha besar, ajakan seperti itu bisa menimbulkan prasangka: apakah ada maksud tersembunyi, apakah ini gratifikasi, atau apakah ada kepentingan lain. Bukannya menambah kepercayaan, justru membuat pimpinan waspada dan menjaga jarak.  


Kisah ini memberi pelajaran penting. Hormat bukan hadiah, melainkan disiplin dan sikap profesional. Karakter matang tahu kapan harus menyesuaikan diri. Karakter sabar memahami bahwa proses butuh waktu. Karakter serius ditunjukkan lewat pengetahuan dan kesiapan, bukan obrolan kosong. Ilmu karakter menegaskan bahwa perilaku adalah cermin nilai diri. Dalam konteks bertemu pimpinan, karakter jujur menolak cara-cara yang bisa menimbulkan prasangka, karakter profesional menempatkan pembicaraan di ruang resmi, dan karakter tanggung jawab hadir dengan persiapan, bukan sekadar basa-basi.  


Kesempatan emas bisa hilang bukan karena kurang pintar, tetapi karena salah membaca etika. Sambutan hangat hanyalah modal awal. Yang menentukan adalah bagaimana karakter kita menjaga kepercayaan dengan sikap profesional. Ilmu karakter mengajarkan bahwa etika bukan sekadar aturan, melainkan refleksi dari siapa diri kita sebenarnya.  


Oleh: 

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.

Advokat/pengacara, Konsultan Hukum, Pengamat Sosial & Pendidikan Karakter


Sabtu, 03 Januari 2026

Realita : Anda Tidak Akan Didatangi Saat Hidup, Orang Akan Berdatangan Saat Anda Mati

 

Seorang manusia menderita luka di kakinya akibat diabetes. Awalnya hanya luka kecil, tetapi karena tidak dirawat, infeksi menyebar. Tubuhnya demam, lemah, dan ia mencari pertolongan serta perlindungan dari orang-orang terdekatnya.  


Namun, orang-orang justru menjauh. Mereka takut terbebani, takut ikut repot, dan menutup pintu.  


Ia pun berjalan tertatih, menangis bukan hanya karena sakit yang menggerogoti tubuhnya, tetapi karena tidak ada yang peduli—tepat ketika ia sangat membutuhkan kasih dan dukungan.  


Malam yang dingin menyambutnya. Setiap langkah pelan disertai air mata. Orang-orang melihatnya pergi, lalu berkata:  

“Biarkan saja. Lebih baik ia mati jauh dari kita.”  


---


Kabar Pertama

Waktu berlalu. Seorang tetangga datang membawa berita:  


“Saudaramu masih hidup! Ia tinggal di sebuah kamar kontrakan sempit di pinggir kota. Ia pulih, tetapi kehilangan satu kaki karena infeksi. Ia kesulitan mencari makanan dan membutuhkan bantuan kalian.”  


Semua orang terdiam. Tetapi satu demi satu mereka memberi alasan:  

- “Aku tidak bisa pergi, aku sedang bekerja.”  

- “Aku tidak bisa pergi, aku harus mencari nafkah.”  

- “Aku tidak bisa pergi, aku harus menjaga anak-anak.”  


Dan akhirnya, tak seorang pun yang datang menolong. Tetangga itu kembali ke kontrakan, tanpa membawa bantuan.  


---


Kabar Kedua

Waktu berlalu lagi. Tetangga itu kembali dengan berita menyakitkan:  


“Saudaramu sudah mati. Ia meninggal sendirian di dalam kontrakan, tanpa ada seorang pun yang mengubur atau berkabung untuknya. Ia mati dalam kelaparan, karena tidak ada makanan yang masuk ke tubuhnya.”  


---


Penyesalan

Pada saat itu, orang-orang mulai merasa sedih. Keluhan mendalam memenuhi rumah mereka.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya bekerja, berhenti.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya mencari nafkah, meninggalkan semuanya.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya merawat anak-anak, sejenak melupakan anak-anaknya.  


Timbullah rasa penyesalan di dalam hati mereka.  


Penyesalan itu lebih menyakitkan daripada luka apa pun. Mereka bertanya:  

“Kenapa kita tidak pergi lebih awal?”  


Tanpa mengukur jarak atau usaha, semua orang berbondong-bondong menuju kontrakannya itu, menangis dan mengeluh.  


Namun, semuanya sudah terlambat. Ketika sampai di kontrakan, mereka tidak lagi menemukan jasadnya. Yang tersisa hanyalah sebuah tulisan di dinding:  


“Dalam hidup, sering kali orang tidak sempat untuk sudi menyeberang jalan untuk menolongmu ketika itu engkau masih hidup,  tetapi mereka rela menyeberangi lautan untuk melihat kuburmu, setelah mendengar engkau telah mati.  

Dan sebagian besar air mata di kuburan bukan karena rasa sakit, melainkan karena penyesalan.”  


Pesan Kemanusiaan

Kisah ini adalah cermin kehidupan nyata:  

- Saat engkau hidup dan membutuhkan pertolongan, orang sering menutup mata.  

- Tetapi ketika engkau mati, orang akan berdatangan, bukan untukmu, melainkan untuk tradisi, keramaian, bahkan makan-makan (kenduri 7 hari, 2 kali 7 hari dst).  


Engkau hidup bisa saja mati karena kelaparan tidak memiliki beras, tetapi setelah kematianmu, orang justru berkumpul kenduri dengan makanan yang di hidangkan atas kematianmu.  


Penyakit memang bisa melemahkan tubuh, tetapi ketidakpedulian melemahkan hati.  Dan penyesalan, selalu datang paling akhir.  









Taktik Sosial yang Mengguncang: Saat Konflik Jadi Senjata Balik

 


Konflik sering muncul dari hal-hal kecil, tetapi cara seseorang menyikapinya bisa mengubah arah cerita. Kisah-kisah berikut menunjukkan bagaimana Pak Raja menghadapi situasi dengan taktik yang tidak biasa—tajam, mengejutkan, bahkan kejam—hingga membuat lawan goyah.


1. Mengadu Sesama Warga: Api di Perumahan Jambi

Di sebuah komplek perumahan di Jambi, suara anjing peliharaan menggonggong keras dan mengganggu ketenangan. Warga lain merasa resah, tetapi tidak ada yang berani menegur langsung. Pak Raja memilih cara berbeda: ia menempelkan sebuah kertas di lorong dengan tulisan tajam:  


"Kalau miskin jangan komplain soal anjing berisik. Kalau punya kemampuan, jual saja rumahmu dan pindah tempat lain."  


Tulisan itu seketika memicu kegaduhan. Pak Raja memotret kertas itu, lalu mengirimkannya ke grup chat warga dengan pertanyaan singkat:  


"Siapa yang menempel tulisan ini?"  


Pertanyaan itu meledakkan suasana. Grup chat mendadak heboh, penuh tuduhan dan amarah. Seolah-olah para pemilik anjinglah yang dianggap memasang tulisan itu. Mereka saling menuduh, saling membela diri, bahkan menyerang balik dengan kata-kata. Dalam hitungan menit, suasana grup berubah menjadi seperti sarang lebah yang diguncang.  


Hasilnya jelas: para pemilik anjing yang tadinya santai mulai mengendalikan hewan mereka. Pak Raja tidak perlu menegur langsung—cukup dengan satu kertas dan satu pertanyaan, ia berhasil memancing konflik internal yang membuat pihak bersalah saling menekan.


2. Mengalah untuk Menang: Sosialita yang Tersungkur

Suatu hari, Pak Raja sedang mengendarai motor di jalan kota. Tiba-tiba sebuah mobil mewah melawan arah dan menabraknya. Dari dalam mobil turun seorang ibu sosialita kota dengan kacamata hitam besar, tas mahal, dan suara penuh kesombongan. Ia memaki keras:  


"Apa sih, nggak lihat jalan? Dasar bikin repot!"  


Warga yang melihat mulai berbisik, sebagian tampak kesal dengan sikap angkuh itu. Namun, Pak Raja tetap tenang. Ia menunduk sedikit, lalu berkata dengan sopan:  


"Maaf Bu, saya tidak apa-apa. Silakan lanjutkan perjalanan."  


Ibu itu mendengus, lalu masuk kembali ke mobilnya. Dengan sombong ia menyalakan mesin dan pergi, meninggalkan lokasi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.  


Namun, Pak Raja tidak berhenti di situ. Ia segera memotret mobil mewah itu, lengkap dengan nomor platnya, lalu dengan cepat berfoto sambil terbaring dramatis di jalan seolah-olah ditabrak parah. Orang-orang di sekitar menjadi saksi, melihat langsung bagaimana ia tergeletak dengan wajah penuh ekspresi kesakitan.  


Kesombongan ibu sosialita itu justru memicu kemarahan warga. Mereka yang menyaksikan merasa geram melihat sikap angkuh sang pengemudi. Warga pun ikut memperkuat posisi Pak Raja dengan menjadi saksi, memastikan bahwa kejadian itu tidak bisa ditutup-tutupi.  


Tak lama kemudian, laporan resmi dibuat. Bukti foto, nomor plat, dokumentasi dramatis, serta dukungan saksi warga yang kesal menjadikan kasus itu tabrak lari dengan konsekuensi hukum berat.  


Plot twist-nya jelas: kelembutan dan kesopanan yang tampak lemah justru menjadi senjata. Sang sosialita yang merasa menang karena bisa pergi dengan sombong, akhirnya tersungkur oleh bukti, saksi, dan hukum yang menjeratnya.  


3. Membiarkan dan Membela Anak: Kebaikan yang Memancing Balasan

Suatu sore, seorang anak nakal menembak wajah Pak Raja dengan ketapel. Wajahnya bengkak, amarah hampir meledak. Warga sekitar menoleh, menunggu ia marah.  


Namun, sang ibu si anak datang dengan sikap meremehkan. Bukannya meminta maaf, ia justru berkata dengan nada membela:  


"Ah, tidak ada apa-apa. Namanya juga anak kecil, jangan diperhatikan."  


Kalimat itu seolah menutup mata atas kesalahan anaknya. Pak Raja tidak membalas dengan marah. Ia justru mengeluarkan Rp50.000 dan menyerahkannya kepada anak itu. Semua orang terdiam, bingung dengan sikapnya.  


Tapi efeknya jauh lebih tajam. Anak itu merasa mendapat “hadiah” dan semakin berani mengulang perbuatannya kepada orang lain. Sang ibu tetap membela, seolah-olah kenakalan anaknya bukan masalah. Hingga akhirnya warga lain yang menjadi korban mulai kesal. Mereka marah, menegur keras, bahkan memberi pelajaran langsung kepada keluarga si anak.  


Kebaikan yang tampak lembut justru menjadi pemicu konflik baru. Sikap ibu yang membiarkan dan membela anaknya membuat masyarakat semakin geram, hingga akhirnya keluarga itu sendiri yang ditekan dan dihukum oleh lingkungan


Ketiga kisah di atas ini bukan sekadar cerita. Itu adalah gambaran bagaimana konflik bisa diarahkan dengan tegas:  

- Menyalakan api agar pihak bersalah saling menekan.  

- Mengalah dengan licik agar kelembutan berubah jadi senjata hukum.  

- Membalik keadaan dengan kebaikan yang memancing balasan lebih keras dari masyarakat.  


Pak Raja mengajarkan bahwa Jika  masalah tidak bisa kau selesaikan sendiri. Maka Buat masalah itu jadi lebih besar, maka masyarakat atau kekuasaan yang lebih kuat terpaksa akan turun tangan untuk menyelesaikannya.  









Kamis, 01 Januari 2026

Polisi Membuka HP Warga Tanpa Surat Perintah, itu adalah Tindak Pidana Berat

 

Ada seseorang yang bertanya: “Bang, kalau ada polisi memberhentikan saya, kemudian HP saya diminta dan dicek isinya, apakah polisinya bisa dipidana? Diatur di mana?”  


Pertanyaan ini sangat relevan banyak sekalI contoh kasus seperti ini terjadi, karena menyangkut hak privasi warga negara dan batas kewenangan aparat penegak hukum di lapangan.  


Kewenangan Polisi di Jalan

Polisi Negara Republik Indonesia memang diberikan kewenangan untuk melakukan penggeledahan badan maupun kendaraan di jalan. Namun, kewenangan itu tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada syarat mutlak: polisi harus membawa surat perintah resmi yang menjelaskan tujuan penggeledahan.  


Kewenangan ini hanya berlaku untuk badan dan kendaraan, bukan untuk mengakses alat elektronik pribadi seperti handphone.  


Prosedur yang Sah

- Jika dalam penggeledahan badan atau kendaraan ditemukan senjata tajam, narkotika, atau barang berbahaya lainnya, warga dibawa ke kantor polisi setempat.  

- Di kantor polisi, barulah dilakukan proses penyelidikan dan penyidikan untuk menentukan status hukum warga tersebut.  

- Pada tahap penyidikan, dengan surat perintah resmi, penyidik dapat membuka isi percakapan atau data dalam alat elektronik, termasuk handphone.  


Jika Polisi Membuka HP di Jalan Tanpa Surat Perintah

Apabila polisi di jalan tidak dilengkapi surat perintah kemudian membuka isi HP warga, maka tindakan itu adalah tindak pidana.  


Dasar hukumnya jelas:  

- Pasal 30 ayat (1) UU ITE: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer atau sistem elektronik milik orang lain.”  

- Pasal 46 ayat (1) UU ITE: Ancaman pidana berupa penjara maksimal 6 tahun dan/atau denda maksimal Rp600.000.000.  


Handphone termasuk kategori alat elektronik. Maka, polisi yang membuka HP warga tanpa surat perintah berarti melakukan akses tanpa hak dan melawan hukum.  


Pesan Tegas untuk Aparat

- Polisi tidak boleh membuka HP warga di jalan tanpa surat perintah.  

- Warga berhak menolak dan melaporkan tindakan tersebut.  

- Pimpinan kepolisian harus menertibkan anggotanya agar tidak merusak kepercayaan publik.  


Hukum harus ditegakkan secara adil. Polisi sebagai aparat penegak hukum wajib menjadi teladan, bukan pelanggar. Membuka HP warga tanpa surat perintah bukan hanya pelanggaran etika, tetapi juga tindak pidana berat dengan ancaman hukuman jelas dalam UU ITE...



Oleh : 

Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd

Advokat/Pengacara, konsultan Hukum, Aktivis Kemasyarakatan Pengamat Lingkungan, Sosial, Pendidikan dan Hukum






Minggu, 28 Desember 2025

Terimalah Dirimu, Karena Kamu Memang Tidak Akan Diterima di Lingkaran Orang Kaya

 

Jangan terlalu capek, karena kamu tidak akan pernah diterima di lingkaran Mereka. 

Jas yang kamu beli mungkin setara tiga bulan gaji. Sepatu kulit yang kamu poles setiap minggu, jam tangan yang kamu cicil bertahun-tahun, atau kopi mahal yang kamu pesan di kafe elit—semua itu kamu lakukan supaya bisa “masuk” ke lingkaran mereka, supaya terlihat setara dengan pria-pria kaya. Namun kenyataan pahit berkata: kamu tidak akan pernah diterima sebagai bagian dari mereka.  


Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis, menjelaskan konsep habitus. Habitus adalah kebiasaan, selera, dan cara hidup yang tertanam sejak kecil. Ia bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam semalam, apalagi dibeli di pusat perbelanjaan. Struktur kelas sosial jauh lebih dalam daripada sekadar merek jas atau jam tangan yang menempel di tubuhmu.  


Ingat masa kecil kita. Untuk membeli mainan, kita harus menabung recehan demi recehan, bahkan rela menahan lapar di jam istirahat sekolah. Sementara itu, anak-anak dari keluarga kaya tidak perlu menabung. Saat liburan tiba, orang tua mereka membawa mereka berwisata ke Eropa, melihat Louvre di Paris, atau menonton opera di Wina.  


Perbedaan pengalaman ini membentuk habitus yang berbeda. Bagi mereka, kemewahan dan budaya tinggi adalah hal biasa, bagian dari kehidupan sehari-hari. Bagi kita, kemewahan adalah hadiah langka yang harus diperjuangkan dengan susah payah.  


Ketika kita mengenakan jas mahal, yang terpancar adalah kesan “pura-pura”. Sebaliknya, mereka memancarkan kesan “alami” dan “mudah”. Justru usaha kita untuk terlihat elegan menjadi tanda paling jelas bahwa kita bukan bagian dari mereka.  


Menjadi elit bukan hanya soal uang. Bourdieu menegaskan bahwa kelas atas mempertahankan status melalui modal budaya: pengetahuan, selera, cara berbicara, hingga cara makan.  


Orang yang ingin terlihat kaya biasanya membeli barang dengan logo besar agar semua orang tahu harganya. Sebaliknya, orang yang lahir dari keluarga kaya (old money) justru menghindari logo. Mereka memilih quiet luxury—pakaian polos yang harganya jauh lebih mahal, namun hanya mereka dan lingkaran mereka yang tahu kualitasnya.  


Ada jurang psikologis yang sulit dijembatani. Kita mengenakan jas dengan rasa cemas: “Apakah gaji bulan depan cukup?” atau “Jangan sampai sepatu ini tergores.” Orang kaya tidak memiliki kecemasan itu. Jika rusak, mereka membeli lagi. Ketidakpedulian (nonchalance) adalah kemewahan tertinggi—dan itu tidak bisa dicicil.  


Kita minum kopi mahal supaya terlihat keren di Instagram story. Mereka minum kopi sejak kecil di rumah dengan biji pilihan yang sudah jadi tradisi keluarga. Kita sibuk belajar gaya hidup, mereka sudah lahir dengan gaya hidup itu.  


Bourdieu menyebut fenomena ini sebagai “pretensi kelas menengah”. Semakin keras kita meniru, semakin cepat mereka mengubah aturan. Begitu kita mampu bergaya dengan jas bermerek, mereka menyebutnya norak dan beralih ke merek lain yang lebih eksklusif. Kita terus berlari di treadmill yang tak berujung, kelelahan dan bangkrut, hanya untuk ditertawakan diam-diam oleh mereka.  


Menyakitkan memang, menyadari bahwa pintu menuju kelas atas tertutup rapat. Namun ada kebebasan dalam kesadaran ini. Berhentilah memuja ke atas. Validasi dari mereka hanyalah racun yang membuat kita lupa siapa diri kita sebenarnya.  


Alih-alih mencicil gaya hidup, lebih baik berinvestasi pada pengetahuan. Buku dan ilmu adalah modal yang tidak bisa dimonopoli oleh orang kaya. Jika mereka punya foto perjalanan ke Eropa, kita bisa punya perpustakaan. Karisma sejati lahir dari isi kepala, bukan dari logo di pakaian.  


Daripada bercita-cita menjadi mereka, lebih baik menuntut mereka. Jangan ingin masuk ke benteng mereka untuk ikut pesta pora. Cita-citakanlah meruntuhkan benteng itu agar sumber daya dibagi lebih adil. Gunakan pengetahuan untuk membela yang tertindas, dan jadilah ancaman bagi keserakahan mereka.  


Belajar sejarah bukan sekadar menghafal tanggal. Sejarah mengajarkan mengapa dunia ini tidak adil. Kekayaan mereka sering dibangun di atas penderitaan orang-orang seperti kita. Kesadaran kelas membuat kita paham bahwa kemiskinan bukan kegagalan pribadi, melainkan hasil dari sistem yang menguntungkan segelintir orang.  


Kawan, menjadi cerdas, sadar, dan berani adalah bentuk kemewahan sejati. Biarkan mereka sibuk dengan pesta pora dan barang mewahnya. Kita punya tugas yang lebih mulia: menciptakan dunia di mana martabat manusia tidak diukur dari jas, sepatu, atau jam tangan.  

Kawan, kita punya tugas untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan setara.  






Attensi dari...  neohistorian!  


Sabtu, 06 Desember 2025

Kaya dari Inovasi vs Kaya dari Eksploitasi. Fenomena Negara Maju vs Negara Miskin

 

Oleh: 

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.

Kaya itu tidak selalu sama. Ada negara yang kaya karena otak, ada pula yang kaya karena merusak alam. Negara maju tumbuh dari inovasi. Lihat Singapura dengan rata-rata IQ 106,6, Jepang 101,2, Korea Selatan 102,5. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 93,2, duduk di peringkat ke‑98 dari 126 negara. Kalau diibaratkan kelas sekolah, Singapura sudah sibuk presentasi dengan nilai A+, Jepang sibuk bikin robot di pojok laboratorium, Korea Selatan sibuk mengutak-atik teknologi, sementara Indonesia masih ribut soal dia belum kebagian jatah makan gratis.  


Perbedaan angka itu bukan sekadar statistik. Negara dengan kecerdasan tinggi melahirkan orang kaya dari ide dan teknologi. Bill Gates dengan Microsoft, Jack Ma dengan Alibaba, Elon Musk dengan Tesla dan SpaceX—semua lahir dari otak yang bekerja. Kekayaan mereka berakar pada inovasi, bukan pada merusak alam. Singapura yang tidak punya tambang dan hutan luas bisa jadi pusat finansial dunia karena otak warganya dipacu untuk berpikir, bukan sekadar menjual alam.  


Sebaliknya, negara miskin sering kali tumbuh dari eksploitasi. Hutan ditebang, tambang digali, sungai dikuras. Buruh diperas dengan upah murah, tanah dijual ke asing, hak rakyat dikubur. Pertumbuhan seperti ini rapuh, karena hanya bergantung pada apa yang bisa dijual hari ini. Sudan Selatan punya minyak, tapi rakyatnya tetap miskin. Di Indonesia, banyak taipan sawit dan batu bara menguasai kekayaan, sementara masyarakat kecil masih berjuang dengan penghasilan pas-pasan.  


Ironinya, semakin banyak sumber daya alam, semakin besar pula peluang negara itu miskin. Itulah yang disebut kutukan sumber daya. Sebaliknya, negara yang mengandalkan otak justru melahirkan masa depan. Human capital lebih berharga daripada natural capital. Otak lebih berharga daripada tambang.  


Dan di sini hukum ikut bermain. Di negara maju, hukum ditegakkan dengan konsisten: hak cipta dilindungi, usaha dijamin, regulasi mendukung inovasi. Itulah sebabnya Bill Gates, Jack Ma, dan Elon Musk bisa tumbuh besar. Di negara miskin, hukum sering jadi alat kekuasaan: izin tambang merusak lingkungan, buruh diperas, tanah rakyat berpindah tangan karena mafia hukum lebih kuat daripada suara masyarakat.  


Kaya dari otak adalah investasi jangka panjang, melahirkan masa depan. Kaya dari eksploitasi adalah utang yang diwariskan ke generasi berikutnya, melahirkan kehancuran. Dan selama hukum hanya jadi alat kekuasaan, bangsa dengan kecerdasan rendah akan terus menjual masa depannya sendiri—sambil tertawa pada hiburan murahan yang mereka buat sendiri.  








Kamis, 16 Oktober 2025

Kisah Sebuah Penjara di Jambi, 𝗜𝗻𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗠𝗶𝗿𝗮𝗰𝗹𝗲 𝗶𝗻 𝗖𝗲𝗹𝗹 𝗡𝗼. 𝟳 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗲𝘀𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗵𝗻𝘆a

 

Di film Miracle in Cell No. 7 asal Korea, kita menangis melihat seorang ayah yang difitnah dan dipenjara.  

Tapi ia tetap mencintai putrinya dengan polos, tulus, dan tanpa batas.  

Ia tak berdaya di hadapan hukum, namun kasihnya meluluhkan tembok penjara, menjadikan sel dingin itu rumah penuh cinta.


Kita semua menangis waktu menontonnya.  

Tapi kini, kisah itu bukan lagi adegan.  

Ia hidup.  

Bukan di layar bioskop, tapi di sebuah sel kecil di Mapolsek Sekernan, Kabupaten Muarojambi, Jambi.

Seorang ayah berinisial AF, tahanan titipan dari Polda Jambi, terbaring di lantai sel.  

Tubuhnya letih. Wajahnya tirus.  

Sudah dua bulan ia tak dikunjungi keluarganya.  

Tak ada suara anak. Tak ada pelukan.  

Hanya dingin, sepi, dan waktu yang berjalan pelan.


Lalu malam itu datang.  

Di bawah temaram lampu kantor polisi, langkah kecil mendekat.  

Dua anak dan seorang istri, datang dari Bajubang, Batanghari.  

Menempuh dua jam perjalanan.  

Membawa rindu yang nyaris pecah.


Mereka tak membawa makanan mewah.  

Tak membawa barang berharga.  

Hanya pelukan yang tertunda dan doa yang tak pernah putus.  

Doa agar kepala keluarga mereka masih kuat bertahan.


Namun jeruji besi tetaplah jeruji.  

Ia memisahkan tangan. Memisahkan pipi. Memisahkan hati.  

Sampai akhirnya, seorang polisi bernama Bripka M. Handoko berkata pelan,


> “Buka saja pintunya. Biar anak itu bisa memeluk ayahnya...”


Tak banyak bicara. Tak banyak aturan.  

Hanya manusia yang melihat manusia lain sedang patah, sedang rindu, sedang ingin utuh walau sebentar.


Pintu sel benar-benar dibuka.  

Anak kecil itu berlari.  

Memeluk ayahnya.  

Tanpa ragu. Tanpa takut.  

Tangis pecah.  

Lantai menjadi saksi bagaimana cinta menembus baja, hukum, dan prosedur.


Mereka tidur berpelukan.  

Ayah di dalam sel. Anak di luar.  

Namun malam itu, hati mereka berada di tempat yang sama.


Tak ada kamera. Tak ada sutradara.  

Tapi adegan itu lebih nyata dari film mana pun.  

Lebih jujur dari berita mana pun.  

Lebih dalam dari kata-kata mana pun.


Di pojok ruangan, Bripka Handoko berdiri diam.  

Ia tahu, malam itu bukan sekadar kunjungan.  

Itu adalah bentuk paling murni dari kemanusiaan.  

Sebuah keajaiban kecil yang tak masuk headline, tapi mengguncang hati mereka yang masih percaya bahwa cinta bisa tumbuh bahkan di tempat yang gelap.


Dan ini bukan pertama kalinya.  

Sejak 2023, Handoko dikenal sebagai polisi berhati lembut.  

Ia pernah membuka pintu sel agar seorang anak perempuan bisa memeluk ayahnya.  

Ia percaya, keadilan tak harus dingin.  

Bahwa di balik seragam, manusia tetap punya hati.


Barangkali, di dunia yang makin keras, kita butuh lebih banyak Handoko.  

Yang tahu bahwa hukum tanpa kasih hanyalah dingin tanpa arah.


Karena Miracle in Cell No. 7 bukan hanya cerita dari Korea.  

Ia adalah kisah universal tentang cinta yang tak bisa dipenjara,  

tentang rindu yang tak bisa diborgol,  

tentang hati yang tak mengenal jeruji.


Dan kini, Miracle itu hidup di Jambi.  

Dalam pelukan seorang anak kecil yang akhirnya bisa berkata,


> “Ayah… aku kangen…”


Lalu dunia seketika menjadi lebih lembut.  

Karena untuk sesaat, penjara berubah jadi rumah.










Kamis, 31 Juli 2025

Terlalu Bercahaya di Tempat yang Gelap? Siap-Siap Dianggap Lampu Rusak

 

Jadi gini... Kamu masuk kerja, niatnya baik.  

Datang pagi, senyum ramah, kerja bener.  

Kadang bantuin orang, kadang kasih ide.  

Pokoknya kamu tuh... kayak matahari pagi. Cerah, hangat, penuh harapan.

Tapi...  

Lama-lama kamu merasa aneh.  

Kok temen-temen mulai jaga jarak?  

Kok atasan mulai ngasih tugas ngga masuk akal kayak “tolong hitung jumlah pasir di pantai”?

Ternyata...  

Kamu dianggap terlalu bersinar.  

Dan di tempat itu, bersinar = bahaya.


Di Dunia Gelap, Cahaya Itu Gangguan


Di kantor (atau kampus, atau organisasi), kadang ada budaya gelap:

- Gelap karena semua asal kerja, asal absen, asal nggak ribut.

- Gelap karena yang penting “bapak senang”, meski rakyat bingung.

- Gelap karena inovasi dianggap dosa, dan ide baru harus disensor dulu sama senior.


Nah, kamu datang bawa terang.  

Bawa semangat.  

Bawa kejujuran.  

Bawa Excel yang isinya bukan cuma “template lama”.


Eh, malah disuruh redup.  

Karena terangmu bikin silau.  

Dan silau bikin orang nggak bisa tidur siang di jam kerja.


Yang Aktif Dianggap Aneh.vPadahal kamu cuma pengen kerja bener.  

Tapi di tempat gelap, kerja bener itu kayak nyalain senter di bioskop—langsung disuruh keluar.

 Jadi Gimana?

Kalau kamu bersinar dan malah dimusuhi,  

jangan buru-buru nyalahin diri sendiri.  

Mungkin kamu bukan lampu rusak.  

Mungkin kamu cuma nyasar ke gudang yang emang nggak pernah nyalain lampu.

Tetap nyala.  

Karena di luar sana, banyak tempat yang butuh terangmu.  

Dan kalau nggak ada yang butuh? Ya udah, bikin tempat sendiri. Minimal warung kopi yang jujur ngasih harga.










Selasa, 22 Juli 2025

Gajah dan Anak Ayam: Pelajaran Karakter dan Empati dari Makhluk Raksasa yang Lembut

 


Di balik tubuhnya yang besar dan kekuatan fisiknya yang luar biasa, gajah menyimpan sifat yang tak terduga: kelembutan dan empati yang mendalam. Salah satu kisah yang paling menyentuh datang dari dunia penerbangan hewan internasional.


Ketika seekor gajah harus diangkut dengan pesawat dari India ke Amerika Serikat, kandangnya tidak dibiarkan kosong. Sebaliknya, ia dipenuhi dengan anak ayam mungil. Tujuannya bukan untuk hiburan atau eksperimen, melainkan untuk menjaga ketenangan sang gajah.


Meski memiliki tubuh raksasa, gajah dikenal sangat takut menyakiti makhluk lain. Kehadiran anak-anak ayam membuatnya tetap diam dan berhati-hati selama penerbangan, agar tidak melukai mereka. Ini bukan hanya strategi teknis untuk menjaga keseimbangan pesawat, tetapi juga bukti nyata dari sifat sosial dan emosional gajah yang luar biasa.

Dibalik Belalai: Otak yang Peka dan Sosial


Penelitian ilmiah mengungkap bahwa gajah memiliki sel spindel—jenis neuron langka yang juga ditemukan pada manusia dan beberapa primata besar. Sel ini berperan dalam kesadaran diri, empati, dan interaksi sosial. Artinya, gajah bukan hanya cerdas, tetapi juga memiliki kemampuan untuk merasakan dan memahami emosi makhluk lain.


Gajah hidup dalam kelompok sosial yang erat, dipimpin oleh individu yang lebih tua dan bijak. Mereka saling menjaga, saling menghibur saat berduka, dan bahkan menunjukkan ritual saat kehilangan anggota kawanan.


Pelajaran Sosial dari Gajah


Salah satu perilaku paling mengharukan adalah saat gajah merasa ajalnya mendekat. Ia memilih menjauh dari kawanan dan pergi ke tempat terpencil untuk mati sendirian. Tujuannya? Agar yang muda tidak menyaksikan kematiannya dan tidak terbebani oleh kesedihan.


Tindakan ini mencerminkan tiga nilai sosial yang sangat penting:


- Belas kasih  

- Rasa tanggung jawab terhadap sesama  

- Martabat dalam menghadapi akhir kehidupan


Nilai-nilai ini semakin langka di tengah masyarakat modern yang sering kali terjebak dalam kompetisi, ego, dan individualisme.


Refleksi untuk Kita Semua


Di tengah berbagai tantangan sosial—dari konflik, polarisasi, hingga krisis empati—kisah gajah dan anak ayam ini mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada dominasi, melainkan pada kemampuan untuk peduli.


Gajah mengajarkan bahwa menjadi besar bukan soal ukuran tubuh, tetapi soal kelapangan hati.


---


Editor’s Note:  

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang hewan. Ia adalah cermin bagi manusia: apakah kita masih mampu bersikap lembut, peduli, dan bermartabat di tengah dunia yang semakin keras?


Kamis, 05 Juni 2025

Berjuang untuk Diri Sendiri: Kisah di Tengah Hujan

 

Hujan turun deras saat mobil itu mogok di tengah jalan. Lampu kota yang remang-remang memantulkan genangan air di aspal, sementara pemilik mobil duduk di dalam, berharap seseorang akan datang dan membantunya.  


Ia melihat beberapa orang lewat, tetapi tidak ada satu pun yang berhenti. Ia mengetuk-ngetuk stir, merasa putus asa. "Mengapa tidak ada yang mau membantu?" pikirnya.  


Beberapa menit berlalu, hujan semakin deras. Akhirnya, dengan penuh keberanian, ia membuka pintu mobil, keluar ke tengah hujan, dan mulai mendorong kendaraannya sendiri. Bajunya basah kuyup, sepatu penuh lumpur, tetapi ia tetap berusaha.  


Tiba-tiba, dari kejauhan, seorang pria melihat perjuangannya. Tanpa diminta, pria itu berlari mendekat dan ikut mendorong. Tak lama, beberapa orang lain juga ikut membantu. Dalam sekejap, mobil yang tadi terjebak mulai bergerak perlahan.  


Kisah ini bukan hanya tentang mobil yang mogok, tetapi tentang keberanian untuk berjuang bagi diri sendiri. Jika kita hanya menunggu bantuan tanpa berusaha, orang lain pun enggan turun tangan membantu. Namun, ketika kita menunjukkan tekad, tanpa perlu meminta, dunia akan memberi respon.  


Dalam hidup, Jika ingin perubahan, mulai dari diri sendiri—baru orang lain akan datang membantu.  




Kamis, 15 Agustus 2024

MENGUPAS PERNIKAHAN DI HARI TUAMU, BAGI SEORANG PRIA

 


Normalnya orang akan Menanjak Karirnya di usia antara 35 - 45 tahun. Maka bagi yang telah  berusia 40 tahun sebenarnya sudah dapat melihat masa depannya nanti seperti apa, apakah Pernikahannya akan membawa manfaat di Hari Tua?  Usia 40 tahun adalah usia pencapaian maksimal sebagian besar orang. Ada satu dua yang berhasil di usia diatas 45 tahun, tetapi sangat jarang. 


Berikut ini Kenyataan dunia para Lelaki Tua yang sudah tidak bermanfaat untuk Istri dan Anak-anaknya. 


1. Seorang Suami yang telah bekerja  keras sepanjang hidupnya dalam membesarkan anak-anaknya dan sekarang usia menginjak 62 tahun.  Lelaki ini telah mengorbankan kesenangan hidupnya,  telah terampas habis untuk membiayai hidup keluarganya, tanpa memiliki Sisa uang Satu rupiahpun di rekening Tabungannya.


2. Kondisi Lelaki berbeda dengan kondisi seorang Istri, walau sudah renta,  berusia 60 tahun sudah tidak bisa berkarir lagi, sudah tidak bisa bekerja lagi, namun untuk seorang Perempuan Dia  bisa pindah ke Rumah anak-anaknya  tinggal bersama anak-anaknya dan tetap akan mendapatkan kasih sayang dari Anak-anaknya.  Namun TIDAK bagi seorang Bapak bisa tinggal bersama anak-anaknya.  Anak-anak bisa menyayangi Ibunya, tetapi TIDAK untuk Ayahnya.  


3. Penderitaan berikutnya bagi seorang Suami yang tidak mampu, akan merasakan pedihnya dimana  Anak-anaknya tidak pernah mengunjungi, tidak pernah sekedar menjenguk,  bahkan tidak pernah meneleponnya karena kesibukannya dan dihimpit kebutuhan hidup keluarga mereka sendiri.  Kondisi ini tidak berlaku untuk mereka yang memiliki  tunjangan pensiunan atau  memilili tabungan uang yang cukup di hari tuanya.


4.  Suami  Manula yang kurang mampu kebanyakan  berjuang  hidup dengan tekanan darah tinggi, dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan usia tua.  Berapa  tahun Dia bisa bertahan hidup  sendirian dalam situasi seperti itu? 


5. Inilah kenyataan yang  PASTI akan dihadapi oleh  sebagian besar laki-laki yang kurang menyadari dan tidak mempersiapkan Hari Tuanya di masa mudanya.  Mereka sering terasa sepi dan, bahkan lebih menyedihkan dari yang banyak saya lihat dimana-mana.


6. Sebaik apapun laki-laki kepada istrinya,  tetap saja Perempuan cenderung lebih menyayangi anak-anaknya dibandingkan suaminya. Sebaliknya Anak-anak akan lebih menyayangi Ibunya dari pada Ayahnya.     Semakin tua usia suami akan ditinggalkan oleh Istrinya untuk mengikuti anak-anaknya, karena si Suami sudah tidak bermanfaat lagi. Lalu,  Manfaat apa sesungguhnya Pernikahan bagi Pria?  


Pikirkan secara serius bagaimana agar tetap bermanfaat untuk Istri dan Anak-anak dihari tuamu nanti.  Miliki Aset-aset yang berharga dan Jaga aset-asetmu agar tetap dikelilingi oleh orang-orang tersayangmu. Saya cuma ngata saja.....

Rabu, 29 November 2023

OPINI : PERTAMBANGAN BATU BARA MINUS KONTRIBUSI BANYAK MERUSAK LINGKUNGAN MENGANCAM KESEHATAN WARGA

 
Secara umum kegiatan usaha pertambangan batu bara dilakukan tidak secara ramah lingkungan bahkan diindikasi banyak merusak lingkungan. Buktinya, apabila terjadi curah  hujan cukup tinggi maka berisiko selain banjir juga tanah longsor serta lahan  perkebunan yang tertimbun lumpur limbah galian tambang, belum.lagi jalur distribusinya menyebabkan kemacetan. dan hanya menyengsarakan rakyat,

Efek dari kegiatan yang tidak ramah lingkungan itu telah menyisakan llubang tambang di kawasan pertambangan yang belum ditutup (reklamasi). Bahkan beberapa diantaranya bisa di indikasikan akan menjadi lubang maut yang  bisa saja menelan korban jiwa masyarakat sekitar kawasan pertambangan sebab tenggelam di kubangan air itu. Jadi saya beranggapan selama ini pertambangan batu bara hanya membawa masalah bagi masyarakat dan lingkungan,.

Menambang batu bara bisa berguna untuk kemajuan ekonomi suatu negara, namun proses ini juga punya dampak buruk untuk kesehatan dan lingkungan.

Pada dasarnya industri pertambangan menghasilkan metal dan metaloid dalam konsentrasi tinggi yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Selain itu, penggunaan metode tradisional penambangan secara terus menerus sanggup meningkatkan emisi produk beracun dan produk tidak ramah lingkungan lainnya.

Conserve Energy Future menjelaskan bahwa studi menunjukkan pertambangan adalah salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia dalam hal risiko cedera, kematian, serta efek kesehatan jangka panjang yang terkait dengannya.

Efek jangka panjang pertambangan batubara yakni gangguan pernapasan pneumokoniosis, asbestosis, dan silikosis.

Risiko kesehatan itu berdasarkan jenis kegiatan pertambangan yaitu penambangan dalam dan terbuka. Tambang batu bara menghasilkan banyak debu yang jika terhirup dapat menyebabkan flek hitam di paru-paru para pekerja atau orang lain yang tinggal di wilayah sekitar.

pertambangan juga menghasilkan mineral halus pada debu yang bisa terhirup dan menumpuk di paru-paru sehingga jadi penyebab pneumokoniosis.

Ketika penambang menghirup kuarsa atau kristal silika dalam jumlah berlebihan, kemungkinan besar akan menderita penyakit tidak dapat disembuhkan yang disebut silikosis.

Dalam artikel The Harvard College Global Health Review (HCGHR), Dr. Michael Hendryx, peneliti dari West Virginia University, mengatakan, pekerja dan masyarakat yang berada dekat pertambangan batu bara terganggu risiko kematian lebih tinggi akibat penyakit jantung, pernapasan, dan ginjal kronis.


Oleh : Yan Salam Wahab

Pengamat Lingkungan, Aktivis Sosial


Selasa, 27 September 2022

SIAPA ORANG-ORANG DI SEKELILING KITA. SEBAGAI PENENTU KESUKSESAN KITA

 

Besar, kecil, maju mundur.... tergantung lingkungan juga....Bukannya RASIS... tapi memang harus di pilih² juga tempat main, kawan dan orang² yg mesti di sekitar kita... 

Mengadopsi cerita tentang seorang bocah yang hendak membelah papan dengan kekuatan telapak kakinya! Namun mari kita alihkan perhatian sejenak dari si bocah, dan lihatlah bagaimana sang guru beladiri itu mendidik muridnya tentang kepercayaan diri....


Si bocah yang malang itu terjatuh pada tendangan pertama! Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang gurunya, seorang pendidik yang terus memberi semangat untuk bangkit kembali.....


Dalam keadaan semakin terpojok, dan gagal pada tendangan kedua dan ketiga kalinya, bocah mungil itu mulai menangis..... Alih-alih merasa iba dan menghentikan latihan, gurunya justru semakin meyakinkan bahwa ia pasti bisa....


Tak hanya guru, teman-teman di sekelilingnya juga meneriakkan namanya. Mereka semua bersorak membakar kemauan si bocah agar mencobanya sekali lagi.....


Maka dalam keadaan menangis ia melayangkan tendangan keempat dan masih tetap gagal. Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang orang-orang di sekelilingnya. ....


Mereka yang tak lelah menyemangati keberanian si bocah. Mereka yang sungguh-sungguh menginginkan agar ia mengeluarkan seluruh kemampuannya hingga batas tertinggi.....


Dalam lingkungan seperti itu, tentu si bocah mendapat energi baru untuk kembali mencoba. Ia bukan orang dewasa yang mengerti prinsip Never Give Up. Ia hanya seorang anak kecil. Keberanian itu semata-mata ia peroleh dari sekelilingnya. .....


Akhirnya tendangan kelimanya semakin kuat, dan ia mencoba lagi dengan kekuatan yang lebih tinggi pada tendangan keenam, hingga papan itupun terbelah dua.....


Si bocah berhasil... Dua keberhasilan sekaligus, membelah papan dan mengalahkan rasa tidak percaya dirinya.... Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang lingkungannya.....


Yaitu mereka yang berteriak gembira menyambut kemenangan si bocah. Yaitu mereka yang berhamburan memberi pelukan erat, seolah-olah mereka lebih bahagia melihat keberhasilan tersebut melebihi kebahagiaan si bocah.....


Kini kita harus percaya, bahwa lingkungan membentuk kita. Jika kita berada di tengah-tengah orang yang positif, hidup kita akan ikut terdorong lebih tinggi. Kelilingi diri Anda hanya dengan mereka yang bersedia mengangkat Anda tinggi-tinggi.... bukan lingkungan busuk hati yg menjatuhkan... 


Beruntungnya kalian yg dari awal sdh berada di sekeliling orang² positif yg menyemangati itu.... di banding saya yg berada di lingkungan orang² yg dalam otaknya selalu ingin menjatuhkan.. tapi untung aja kita udah dasar kuat kuat kuda²nya... meski sendirian tetap aja bisa naik tinggi meski di kroyok rame² oleh para pencundang dari segala penjuru... 😀



Buah dari Sebuah Kepercayaan

 


 "Hal Apa yang Sulit? Minjam Uang!". 

Kalau Ada Orang Ingin Meminjam Uang Padamu, 

Jawablah Seperti Ini…!

Orang yang mau meminjamimu uang, adalah pahlawanmu.

Apabila orang tersebut memberimu pinjaman tanpa syarat, maka  ia adalah pahlawan tertinggi di antara pahlawan- pahlawanmu yang lain.

Sampai saat ini, pahlawan seperti ini tidaklah banyak.

Jika  kamu sampai menemukan mereka, hargailah seumur hidupmu!

Orang yang bisa bersedia meminjamkan uang ketika kamu kesulitan, bukanlah karena ia punya banyak uang, tapi karena ia ingin menarikmu saat jatuh.

Yang dipinjamkannya kepadamu juga bukanlah uang, melainkan ketulusan, kepercayaan, dukungan dan kesempatan untuk kamu berinvestasi di masa depan.

Saya sangat berharap sobat- sobat sekalian jangan sekali- kali menginjak "kepercayaan", sekali orang lain kehilangan kepercayaan padamu, maka hidupmu pasti hancur!

Ingat, kepercayaan orang lain adalah harta seumur hidup!

Selain itu, tolong kamu catat perkataan di bawah ini:

1. Orang yang suka inisiatif mentraktir, bukanlah karena ia punya banyak uang, tapi karena ia memandang "pertemanan lebih penting" dari pada hartanya. 

2. Orang yang suka mengalah saat bekerja sama, bukanlah karena ia takut, melainkan tahu apa artinya "berbagi". 

3. Orang yang bersedia bekerja lebih keras dari orang lain, bukanlah karena ia bodoh, tapi karena mengerti apa artinya "bertanggung jawab".

4. Orang yang terlebih dulu minta maaf saat berdebat, bukanlah karena mengaku salah, melainkan tahu artinya "menghargai". 

5. Orang bersedia membantumu, bukan karena berhutang, tapi karena menganggapmu sebagai "teman".

Sudah berapa banyak orang yang tidak memperhatikan logika ini? Sudah berapa banyak orang yang menganggap pengorbanan orang lain adalah "hal yang semestinya"?

Bila orang tulus berjalan, ia akan jalan sampai ke dalam hati.

Bila orang munafik berjalan, cepat atau lambat ia akan ditendang sampai keluar dari pandangan orang lain!

Bila pertemuan di antara manusia adalah jodoh, maka hal yang diandalkan hanyalah ketulusan dan kepercayaan!

Kamu mau menjadi orang seperti apa, semuanya adalah pilihanmu dan karma mu sendiri 

Percayalah, hubungan antar manusia harus mengandalkan kepercayaan!

Terserah kamu mau pinjam uang atau tidak, yang terpenting kamu harus memberikan kepercayaan!

Salam Sukses Hebat Luar biasa..

  😇😇😇😇😇

Minggu, 25 September 2022

Gambaran Mindset Masyarakat Indo Vs Swiss

 


 

JANGAN BIASAKAN BERCANDA DENGAN PERASAAN DAN HARGA DIRI ORANG LAIN

 


Dua orang mahasiswa tengah berjalan santai di taman kampus, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang dan lusuh....


Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya....


Salah satu mahasiswa yg suka jail melihat kepada temannya dan berkata

"Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya" kemudian kita bersembunyi di belakang pepohonan. Nanti ketika dia datang, kita lihat bagaimana dia kaget serta cemas karena kehilangan sepatunya..."


Temannya itu menjawab.....

"idak pantas kita menghibur diri dgn mengorbankan org miskin". Kamu kan seorang yang kaya dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya..."

"Sebaiknya cobalah kamu masukkan beberapa  lembar uang kertas ke dalam sepatunya," kemudian saksikan bagaimana respons dari tukang kebun miskin itu?".....


Dia sangat takjub dengan usulan temannya... 

Dia langsung  memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu...... Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama temannya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun itu.....


Tak berapa lama datanglah tukang kebun itu, sambil mengibas-ngibaskan kotoran debu dari pakaiannya, dia menuju ke tempat dia meninggalkan sepatunya...... 


Ketika ia memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya.....


Saat ia keluarkan, ternyata, "uang..."

Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi "uang..."

Dia memandangi "uang" itu berulang-ulang seolah ia tidak percaya dengan penglihatannya.......


Iapun memutar pandangannya ke segala penjuru namun ia tidak melihat seorang pun.....


Sambil menggenggam uang itu lalu ia berlutut sambil menengadah ke langit ia berucap.....

“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah, Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang..."

"Wahai Yang Maha Tahu, istriku sedang sakit dan anak-anakku  kelaparan, mereka belum mendapatkan makanan hari ini"....

"Engkau telah menyelamatkanku, anak-anakku dan istriku dari penderitaan...”, melalui tangan² orang yg baik.. berkahilah kami dan orang² yg baik itu"........


Dengan kepolosannya dia terus menangis terharu sambil memandangi ke langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari "Allah Yang Maha Pemurah"...


Sang mahasiswa sangat terharu atas pemandangan yang dilihatnya dari balik persembunyian itu..... Air matanya berlinang tanpa dapat ia bendung.......


Sang kawan yang bijak berkata kepada temannya......

“Bukankah sekarang kamu 'merasakan kebahagiaan yg lebih" dari pada kamu melakukan ide pertama untuk menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”.....


Dia menjawab : "Aku telah mendapatkan pelajaran yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku.""......sambil.mengusap air mata....


Sekarang aku paham makna kalimat :

“Ketika kamu memberi,"kamu akan memperoleh "kebahagiaan yg lebih banyak" dari pada ketika kamu diberi”..... kawannya berkata "Ketahuilah bahwa "bentuk pemberian itu bermacam-macam".......


1. Memaafkan kesalahan orang di saat kamu mampu melakukan balas dendam,...adalah suatu "pemberian."......


2. Mendoakan teman dan saudaramu di belakangnya (tanpa sepengetahuannya) itu adalah juga ""pemberian"....


3. Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk,_ juga suatu "pemberian."......


4. Menahan diri dari membicarakan aib sesama kita di belakangnya_ adalah "pemberian" juga.......


Ini semua adalah "pemberian"......


Saya cuma mau mengatakan...... Marilah kita saling "memberi & berbuat baik" untuk.menjadi passion kita..... niscaya "hidup kita akan menjadi lebih indah.".......

Rabu, 10 Agustus 2022

Kisah Diskriminasi Sosial "Silent Member di Grup WA Keluarga"

 


Namaku Yudi, aku seorang guru honorer di sebuah SD. Gajiku sebulan hanya satu juta lebih sedikit. Sementara istriku Intan adalah seorang ibu rumah tangga yang menyambi berjualan kue kering secara online. 

Kehidupan kami amat sederhana tapi Alhamdulillah kami bahagia, tak pernah merepotkan oranglain apalagi sampai berhutang. Kami memiliki dua orang putri 8 tahun dan 4 tahun usianya. 


Keadaanku secara materi sangat berbanding terbalik dengan kedua kakakku. Kakak pertamaku namanya mbak Dewi seorang dosen di universitas terkemuka sedangkan suaminya menjabat sebagai dekan di tempat yang sama dengannya. Kakak keduaku laki-laki namanya Mas Doni dia bekerja di sebuah perusahaan asing dengan gaji fantastis. Mungkin bisa dibilang gajiku setahun pun tak akan ada apa-apanya dengan gajinya sebulan. 


Keluarga besarku rata-rata memang berasal dari kalangan terpelajar dan berada. Almarhum ayahku merupakan sulung dari lima bersaudara. Terlebih para sepupuku, pekerjaan mereka rata-rata menghasilkan rupiah yang fantastis. Ada Dela yang menjadi seorang pialang saham. Rudi yang menjabat manager di salah satu perusahaan IT dan masih banyak lagi sepupu-sepupuku yang lain yang memiliki prestasi dalam hal status sosial dan pekerjaannya. 


Hanya ada satu orang saja sepupuku yang taraf hidupnya sama sepertiku, hidup sederhana di perumahan 6x6. Namanya mas Irwan dia bekerja sebagai penjual madu dan herbal sementara istrinya memiliki usaha catering. Dari semua sepupuku dialah yang paling dekat denganku. Sering berkunjung ke rumah sambil membawakan aneka lauk masakan istrinya. Begitupun aku terhadap keluarganya juga sangat dekat. Mungkin kedekatan kami juga dipengaruhi dengan latar belakang strata sosial yang sama, tidak ada kesenjangan yang membuat kami merasa saling tak enak hati. 


Kami semua tergabung dalam grup WhatsApp keluarga. Bani Soejarwo namanya. Nama kakekku yang merupakan seorang purnawirawan. 


Lima saudara dari ayahku hanya bersisa dua orang, yakni adiknya yang nomor tiga namanya tante Lisa dan nomor lima namanya om Agus, sementara yang lainnya tlah berpulang. 


Di grup itu aku lebih sering diam, sangat jarang posting. Paling hanya berkomentar ketika para sepupuku memposting sesuatu. Sebisamungkin aku memberikan respon positif penuh apresiasi. Aku turut bahagia dengan kebahagiaan mereka. 


Saat mereka memposting foto liburan ke luar negri aku selipkan emoticon jempol dan juga kata penuh apresiasi.


 "Wahh MasyaAllah uda sampai ke Jepang aja nih .. disana lagi musim apa? Titip salam ya untuk bunga sakura. Selamat berlibur" 


Hingga suatu ketika untuk pertamakalinya aku memposting foto putri sulungku yang sedang mengikuti lomba tahfidz. Bukan atas keinginanku melainkan putriku sendiri yang memintanya agar keluarga besar mengiringi usahanya dengan doa, tidak ada maksud lain selain itu. 


Aku beri caption di foto itu

"Oma.. Opa dan Om Tante semuanya doain Alya ya, semoga diberi kelancaran dalam mengikuti lomba" 


Selang satu jam berlalu tak ada satu pun yang merespon foto itu, padahal hampir semua anggota grup tlah melihat postinganku itu. 

Lalu beberapa menit sebelum Alya naik ke pentas mas Irwan membaca pesan itu dan mengucapkan doa untuk Alya. 


"Semoga sukses ya ponakanku yang sholihah.." 


Sesaat kemudian kakak kandungku mbak Dewi pun mengucapkan hal yang sama. Mbak Dewi memang sangat baik orangnya, meski kaya raya dan berpendidikan tinggi dialah saudaraku seorang yang tak pernah memandangku rendah.


Selang 10 menit setelah Alya turun dari podium lomba. Tiba-tiba gawaiku berbunyi. Sebuah pesan masuk di grup keluarga. Rudi menampilkan foto kedua putranya yang sedang berseluncur diatas salju tanpa caption apa-apa. 


Dan tak perlu menunggu lama, semua anggota grup riuh mereply foto itu dengan penuh pujian.


"Duhh gantengnya cucu Oma"


"Wahh hebatnya ponakanku uda bisa berseluncur" 


"Wihh keren liburan ke LN lagi"


"Hebat anak Pak Rudi" 


"Dimana nih .. perasaan kemarin masih di Jakarta"


Dan masih banyak lagi.. 

Semua anggota grup itu hiruk pikuk mengapresiasi, demikianpun aku tak lupa aku sematkan kata 


" Masya Allah .. barakallah jagoannya Pak Rudi"


Putriku Alya mengintip gawaiku sambil bertanya.

" Om dan tante semuanya uda doain kesuksesan untuk Alya ya Yah?" 


Aku hanya mengangguk dan tersenyum sambil buru-buru kumasukkan gawai itu ke saku. 


"Iya sayang .. Alhamdulillah semuanya mensupport Alya"


Putriku tersenyum bahagia, sementara aku berusaha menarik nafas panjang agar rongga dadaku mengembang.


Sebenarnya ini bukan kali pertama terjadi di grup itu. Kejadian serupa pun begitu sering terjadi meski bukan aku yang alami. 


Seringkali ketika mas Irwan, sepupuku yang memiliki kehidupan sederhana sepertiku memposting sesuatu di grup itu maka grup akan hening tak ada yang mengapresiasi, hanya aku seorang yang mereply tiap postingannya. Padahal mas Irwan ini tipe orang yang baik pribadinya, tutur katanya sopan dan seringkali pula mengingatkan hal-hal penuh kebaikan. 

Mungkin karena kemuliaan akhlaknya itu sekalipun dia tak pernah dianggap di grup keluarga dia tak pernah sakit hati walau acapkali dicuekin tak pernah kecewa. Tak pernah berhenti menebar salam, sapa dan manfaat. 


Lain halnya jika yang memposting adalah mereka yang 'berada' maka yang lain akan berbondong-bondong mereply dan berbalas komentar dengan begitu renyahnya.

Saat aku menyadari bahwa grup itu memang tak sehat, sebenarnya aku malas tergabung di dalamnya, sebenarnya ingin keluar dari grup tapi  aku sungkan pada mbak Dewi yang tlah membuat dan memasukkan aku kedalamnya. Mas Irwan saja yang seringkali ngga dianggap masih selalu berdamai dengan keadaan dan tak henti menebar salam serta manfaat. 


Realita itu membuatku sadar diri, aku hanya menjadi silent reader disitu. Silent reader dalam artian tidak pernah memposting apa-apa, kecuali mereply kalimat apresiasi pada mereka yang memposting aktifitasnya. Bukan bermaksud bermuka dua, aku hanya berusaha menjaga hubungan sesama anggota keluarga. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga dari ayahku dan aku memiliki kewajiban untuk terus menyambung silaturahmi bersama mereka. 


***


Pernah suatu ketika aku berkunjung ke rumah Dela sepupuku yang merupakan anak tante Lisa. 


Aku datang mengendarai motor supra bersama istriku dan kedua putriku. Kami menempuh jarak sekitar 3,5 jam perjalanan. Istriku sangat antusias dan senang sampai-sampai semalaman dia begadang membuat pai buah, nastar dan stik keju untuk buah tangan. Ini adalah kali pertama aku dan keluargaku datang berkunjung ke rumah Dela sebab sebelumnya dia tinggal di luar negri baru beberapa bulan ini dia pindah dan menetap disini. 

Rumahnya begitu besar persis istana. Disamping rumah megahnya itu berjajar 3 mobil sedan mewah. 


Sesaat setelah mengetuk pintu seorang wanita muda membukakannya. Ternyata itu pembantu Dela dan dia bertanya siapa kami ini, setelah kami jelaskan bahwa kami sepupu Dela wanita muda itu menyuruh kami menunggu di kursi teras. 


Kami menunggu cukup lama, hampir satu jam. Putri bungsuku hingga merengek tak sabar minta pulang. Aku hibur dia supaya bersabar. Dan akhirnya Dela dan tante Lisa pun keluar. Aku suruh kedua putriku mencium tangan mereka. 

Istriku menjabat tangan mereka sambil mengulurkan tas karton berisi buah tangan yang tlah dia siapkan semalaman, Dela raih tas itu kemudian meletakkannya di samping pot bunga. Tak lama setelah kami mengobrol tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah memasuki halaman rumah Dela. Sesaat kemudian Rudi sepupuku anak sulung Om Agus keluar dari dalamnya. Ia tak datang sendiri tapi ditemani istri dan kedua putranya.


Dela dan Tante Lisa menyambut mereka dengan begitu hangat. Memeluk istri Rudi dengan erat dan menciumi kedua putranya. Sejenak Rudi menghampiriku dan kujabat tangannya. Kami mengobrol sebentar sambil berdiri di teras itu. Sementara kulihat tante Lisa dan Dela telah mengajak istri Rudi dan kedua putranya masuk  ke dalam rumah. Kulirik istri dan kedua putriku masih terdiam mematung di kursi teras tanpa ada seorangpun yang mengajak mereka turut serta masuk ke dalam. 


Setelah mengobrol ringan Rudi berpamitan untuk mengambil barang bawaannya dari mobil. Nampaknya dia membawa sebuah parsel berisi coklat mahal dari New Zealand. Dela meraih parsel itu dengan sumringah 


"Duhh kok repot-repot sihh bawain oleh-oleh sebanyak ini.. aduhh ini kesukaan anakku loh... Ayo Mas Rud masuk... Ntar lagi suamiku pulang kok dia masih ada meeting" 


Aku terdiam sambil menatap wajah istriku yang nampak tertunduk penuh kesedihan. Dia berusaha menyembunyikan kekecewaannya tapi aku bisa menangkap raut kecewa itu. 


Kami menunggu di teras barangkali si tuan rumah lupa bahwa masih ada kami 'tamu yang lainnya' yang belum sempat mereka persilahkan untuk masuk. 


Selang 20 menit kemudian nyatanya mereka tak ada keluar. Kami mendengar mereka sedang asyik mengobrol dan tertawa begitu hangat di dalam. 

Akhirnya kami memutuskan untuk berpamitan, saat ada pembantu Dela lewat kami panggil dia untuk menyampaikan kepada majikannya. 


Dela pun keluar sendirian tanpa tante Lisa. Aku pamit kepadanya dan istriku menjabat tangannya. 


Aku starter motor supraku yang terlihat butut itu. Sebuah motor yang rasanya tak pantas terparkir di depan rumah mewah berpilar bak istana. 

Saat kami hendak berlalu pergi dari halaman itu, aku sempatkan melirik dari spion motorku tas karton berwarna coklat dari istriku masih tergeletak di atas lantai samping pot bunga. Sedangkan Dela telah berlalu pergi masuk ke dalam istananya. Aku menghela nafas panjang sambil beristighfar dan berharap semoga Intan istriku tidak melihatnya.


Selang beberapa kilometer dari rumah Dela. Putri bungsuku berkata


"Ayah dedek haus sekali, tadi tante yang punya rumah kok ngga kasih kita minum ya? Apa di rumahnya ngga ada air?" 


Deg.. teriris rasanya dadaku

Bahkan segelas air pun tak mereka suguhkan pada kami yang nyaris 4 jam kepanasan naik motor di perjalanan. 


Akhirnya kutepikan motor bututku di sebuah minimarket. Aku belikan anak-anakku sebotol minuman dingin dan beberapa bungkus snack. 

Saat duduk di depam minimarket tiba-tiba gawaiku bergetar. 

Sebuah pesan WA dilengkapi beberapa foto tertampil di grup keluarga.


Tante Lisa menuliskan


"Ayo yang lain dimana nihh .. di rumah tante ada Rudi lagi nikmatin masakan tante, Dewi, Doni, Indah, Yona pada kemana nih?"


Yang dipanggil hanya mereka yang 'hebat' pastinya. 


Aku tutup gawaiku takut jika istriku mengetahui akan hal itu.


Semenjak saat itu aku semakin sadar diri bahwa mengakrabkan diri pada orang-orang yang salah hanya akan membuat dada terasa sesak. 

Adakalanya kita butuh jarak agar tetap bisa bernafas dengan lega. Terkadang kita tidak perlu melihat pemandangan diluar jendela sekalipun pemandangan itu begitu indah.


Aku tidak keluar dari grup WA keluarga  tapi aku nonaktifkan segala pemberitahuan darinya. Agar tak ada lagi celah dalam hatiku untuk merasakan sakit hati. Agar aku lebih menikmati hari-hariku yang indah dengan istri dan kedua putriku tanpa bayang-bayang rendah diri karena berada di tempat yang tak semestinya yakni grup WA keluarga.


Oleh : Septia DIS

Jumat, 29 Juli 2022

Sebab kenapa Negara berkembang seperti Indonesia tidak maju-maju

 

Oleh :
Yan Salam Wahab

Ingat..!!!...Perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada umur negara itu
 Contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap Belum di kategorikan Negara maju.
Di sisi lain –Singapura, Kanada, Australia & New Zealand– negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini mereka adalah bagian dari negara maju di dunia, dan penduduknya tidak lagi miskin
 Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin
Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya, 80% berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian & peternakan.
Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia.
Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya
 Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia.
Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami.
Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia).
Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas, dan ketertiban – tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.
Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan
 Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting.
Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa
 Lalu……. apa  perbedaannya?
 Perbedaannya adalah pada sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan.
 Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut.
Ø Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
Ø Kejujuran dan integritas
Ø Bertanggung jawab
Ø Hormat pada aturan & hukum masyarakat
Ø Hormat pada hak orang/warga lain
Ø Cinta pada pekerjaan
Ø Berusaha keras untuk menabung & investasi
Ø Mau bekerja keras
Ø Tepat waktu
 Di negara terbelakang/miskin/ berkembang, hanya sebagian kecil masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut
 Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita.
 Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik.
Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi, dan negara.
Jika Anda tidak Mempedulikan Tulisan saya ini, tidak akan terjadi apa-apa pada diri Anda!!!
Hewan peliharaan Anda tidak akan mati, Anda tidak akan kehilangan pekerjaan, Anda tidak akan mendapat kesialan dalam 7 tahun, juga Anda tidak akan sakit.
TETAPI….. jika Anda tidak meneruskan Tulisan ini, tidak akan terjadi perubahan apa-apa dalam negara kita. Negara kita akan tetap berlanjut dalam kemiskinan…... dan akan menjadi lebih miskin lagi.
 Jika Anda mencintai negara kita, teruskan dan sampaikan Tulisan di Blog ini kepada teman-teman Anda. Biarlah mereka merefleksikan hal ini.
Kita harus mulai dari mana saja. Jika Kita ingin BERUBAH dan BERTINDAK!
dan ……. PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI
 
 
x

ARTI KEHIDUPAN

 

Aku sering berfikir… untuk apa aku hidup?








Mulai dari sebuah sekolah yang menanamkan disiplin dan kehidupan bermasyarakat.

 
Begitu banyak masa kecil yang tersita untuk belajar ….
 
 
Akhirnya mendapat gelar….


Aku  menambah antrian pencari kerja.....


Lowongan… lowongan… lowongan….
YAP!    Ini dia...


 Setelah beragam tes, masuk dalam daftar karyawan


Merintis karir dan profesionalisme




Tenggelam dalam tumpukan kerja.......



Mabuk, gila kerja, stresssss….



Tapi karirku menanjak dan aku menuai banyak UANG!



Waktu berlalu...


 
Ada target baru di sana... 


 
Sudah saatnya Bertemu belahan jiwa...

 
Tuk Arungi bahtera menuju mawaddah wa rahmah 



Peluang tuk Mendapat amanah... 

Ini dia, memperoleh impian generasi penerus yang diidamkan 
 
tiba2...???..Allaahu Akbar… kapan bisa tidur? (Jam dua belas malam niih…)