Sports

.
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Desember 2025

Terimalah Dirimu, Karena Kamu Memang Tidak Akan Diterima di Lingkaran Orang Kaya

 

Jangan terlalu capek, karena kamu tidak akan pernah diterima di lingkaran Mereka. 

Jas yang kamu beli mungkin setara tiga bulan gaji. Sepatu kulit yang kamu poles setiap minggu, jam tangan yang kamu cicil bertahun-tahun, atau kopi mahal yang kamu pesan di kafe elit—semua itu kamu lakukan supaya bisa “masuk” ke lingkaran mereka, supaya terlihat setara dengan pria-pria kaya. Namun kenyataan pahit berkata: kamu tidak akan pernah diterima sebagai bagian dari mereka.  


Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis, menjelaskan konsep habitus. Habitus adalah kebiasaan, selera, dan cara hidup yang tertanam sejak kecil. Ia bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam semalam, apalagi dibeli di pusat perbelanjaan. Struktur kelas sosial jauh lebih dalam daripada sekadar merek jas atau jam tangan yang menempel di tubuhmu.  


Ingat masa kecil kita. Untuk membeli mainan, kita harus menabung recehan demi recehan, bahkan rela menahan lapar di jam istirahat sekolah. Sementara itu, anak-anak dari keluarga kaya tidak perlu menabung. Saat liburan tiba, orang tua mereka membawa mereka berwisata ke Eropa, melihat Louvre di Paris, atau menonton opera di Wina.  


Perbedaan pengalaman ini membentuk habitus yang berbeda. Bagi mereka, kemewahan dan budaya tinggi adalah hal biasa, bagian dari kehidupan sehari-hari. Bagi kita, kemewahan adalah hadiah langka yang harus diperjuangkan dengan susah payah.  


Ketika kita mengenakan jas mahal, yang terpancar adalah kesan “pura-pura”. Sebaliknya, mereka memancarkan kesan “alami” dan “mudah”. Justru usaha kita untuk terlihat elegan menjadi tanda paling jelas bahwa kita bukan bagian dari mereka.  


Menjadi elit bukan hanya soal uang. Bourdieu menegaskan bahwa kelas atas mempertahankan status melalui modal budaya: pengetahuan, selera, cara berbicara, hingga cara makan.  


Orang yang ingin terlihat kaya biasanya membeli barang dengan logo besar agar semua orang tahu harganya. Sebaliknya, orang yang lahir dari keluarga kaya (old money) justru menghindari logo. Mereka memilih quiet luxury—pakaian polos yang harganya jauh lebih mahal, namun hanya mereka dan lingkaran mereka yang tahu kualitasnya.  


Ada jurang psikologis yang sulit dijembatani. Kita mengenakan jas dengan rasa cemas: “Apakah gaji bulan depan cukup?” atau “Jangan sampai sepatu ini tergores.” Orang kaya tidak memiliki kecemasan itu. Jika rusak, mereka membeli lagi. Ketidakpedulian (nonchalance) adalah kemewahan tertinggi—dan itu tidak bisa dicicil.  


Kita minum kopi mahal supaya terlihat keren di Instagram story. Mereka minum kopi sejak kecil di rumah dengan biji pilihan yang sudah jadi tradisi keluarga. Kita sibuk belajar gaya hidup, mereka sudah lahir dengan gaya hidup itu.  


Bourdieu menyebut fenomena ini sebagai “pretensi kelas menengah”. Semakin keras kita meniru, semakin cepat mereka mengubah aturan. Begitu kita mampu bergaya dengan jas bermerek, mereka menyebutnya norak dan beralih ke merek lain yang lebih eksklusif. Kita terus berlari di treadmill yang tak berujung, kelelahan dan bangkrut, hanya untuk ditertawakan diam-diam oleh mereka.  


Menyakitkan memang, menyadari bahwa pintu menuju kelas atas tertutup rapat. Namun ada kebebasan dalam kesadaran ini. Berhentilah memuja ke atas. Validasi dari mereka hanyalah racun yang membuat kita lupa siapa diri kita sebenarnya.  


Alih-alih mencicil gaya hidup, lebih baik berinvestasi pada pengetahuan. Buku dan ilmu adalah modal yang tidak bisa dimonopoli oleh orang kaya. Jika mereka punya foto perjalanan ke Eropa, kita bisa punya perpustakaan. Karisma sejati lahir dari isi kepala, bukan dari logo di pakaian.  


Daripada bercita-cita menjadi mereka, lebih baik menuntut mereka. Jangan ingin masuk ke benteng mereka untuk ikut pesta pora. Cita-citakanlah meruntuhkan benteng itu agar sumber daya dibagi lebih adil. Gunakan pengetahuan untuk membela yang tertindas, dan jadilah ancaman bagi keserakahan mereka.  


Belajar sejarah bukan sekadar menghafal tanggal. Sejarah mengajarkan mengapa dunia ini tidak adil. Kekayaan mereka sering dibangun di atas penderitaan orang-orang seperti kita. Kesadaran kelas membuat kita paham bahwa kemiskinan bukan kegagalan pribadi, melainkan hasil dari sistem yang menguntungkan segelintir orang.  


Kawan, menjadi cerdas, sadar, dan berani adalah bentuk kemewahan sejati. Biarkan mereka sibuk dengan pesta pora dan barang mewahnya. Kita punya tugas yang lebih mulia: menciptakan dunia di mana martabat manusia tidak diukur dari jas, sepatu, atau jam tangan.  

Kawan, kita punya tugas untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan setara.  






Attensi dari...  neohistorian!  


Senin, 20 Januari 2025

Fenomena Sang Letkol Tituler Mas Dedi Corbuzer

 


Dedi Cozbuzzer adalah contoh nyata bagaimana prilaku manusia yang merasa superior terhadap manusia lainya.


Ia selalu menempatkan diri dan keluarganya seolah layak jadi contoh bagi khalayak banyak.


Saat menyerang seorang anak kecil, karena si anak kecil mengatakan / mengeluh "ayamnya kurang enak" pada saat dikasih jatah MBG.

DC mengata-ngatai anak kecil itu dengan kata-kata PeA dan bullian lainya.

Kemudian ia mencontohkan anaknya yang harus menghabiskan jatah nasi box saat syuting...


Dede CozBuzzer,

Seolah mengatakan bahwa anak kecil


tersebut, sebagai anak yang tidak tahu terimakasih, tidak mau menerima dan tidak bersyukur atas makanan yg dikasih pemerintah secara gratis.


Di sisi lain,

Dede CozBuzzer,

Dikasih hidung gratis dan berfungsi baik oleh Tuhan.

Namun ia tidak suka, tidak mau menerima pemberian gratis tersebut.

Kemudian dia permak hidung tersebut.


Dikasih mata.

Tetep diutak-atik, karena merasa kurang cantik.


Dagu direnovasi sedemikian rupa, biar tampak gagah. Dia Tidak Suka dengan dagu asal yang menurut dia jelek.

Dan menjelmalah dia seperti sekarang ini.

Setelah permak sana sini.

Karena dia Tidak Suka dengan apa yang Tuhan berikan.


Lantas sekarang, dengan jumawa merasa berhak marah kepada anak kecil karena si anak kecil bilang ayamnya "kurang enak".


Pantaskah ??


Nggak pantas sama sekali !

Karena dia lebih Tidak Menerima atas apa yg telah diberikan.

Dia merasa mukanya jelek. Makanya dipermak.



Lantas kenapa anak kecil tidak boleh bilang makanan kurang enak ??


Lucunya...

Sekarang dia yang bilang diserang buzzer.

Padahal dialah Buzzer itu sendiri.

Dia yang pertama mengintimidasi anak kecil.

Sekarang seolah yg terdzolimi??


Itulah sebenarnya gunanya banyak kaca dan cermin di tempat nge-Gym.

Biar bisa sering bercermin sebelum menghakimi orang.


Nuduh orang lain gk bersyukur dan Berterimakasih.

Dianya yang jauh dari rasa terimakasih.

Lha iyalah kalau memang punya sikap menerima, bersuykur dan Berterimakasih....

Ngapain harus permak muka ???

Artinya dia tidak suka dengan apa yang Tuhan berikan....


Itulah pentingnya bukan sekedar badan yang besar, kepala yang besar, tapi otak sebesar biji Anu

Selasa, 27 September 2022

SIAPA ORANG-ORANG DI SEKELILING KITA. SEBAGAI PENENTU KESUKSESAN KITA

 

Besar, kecil, maju mundur.... tergantung lingkungan juga....Bukannya RASIS... tapi memang harus di pilih² juga tempat main, kawan dan orang² yg mesti di sekitar kita... 

Mengadopsi cerita tentang seorang bocah yang hendak membelah papan dengan kekuatan telapak kakinya! Namun mari kita alihkan perhatian sejenak dari si bocah, dan lihatlah bagaimana sang guru beladiri itu mendidik muridnya tentang kepercayaan diri....


Si bocah yang malang itu terjatuh pada tendangan pertama! Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang gurunya, seorang pendidik yang terus memberi semangat untuk bangkit kembali.....


Dalam keadaan semakin terpojok, dan gagal pada tendangan kedua dan ketiga kalinya, bocah mungil itu mulai menangis..... Alih-alih merasa iba dan menghentikan latihan, gurunya justru semakin meyakinkan bahwa ia pasti bisa....


Tak hanya guru, teman-teman di sekelilingnya juga meneriakkan namanya. Mereka semua bersorak membakar kemauan si bocah agar mencobanya sekali lagi.....


Maka dalam keadaan menangis ia melayangkan tendangan keempat dan masih tetap gagal. Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang orang-orang di sekelilingnya. ....


Mereka yang tak lelah menyemangati keberanian si bocah. Mereka yang sungguh-sungguh menginginkan agar ia mengeluarkan seluruh kemampuannya hingga batas tertinggi.....


Dalam lingkungan seperti itu, tentu si bocah mendapat energi baru untuk kembali mencoba. Ia bukan orang dewasa yang mengerti prinsip Never Give Up. Ia hanya seorang anak kecil. Keberanian itu semata-mata ia peroleh dari sekelilingnya. .....


Akhirnya tendangan kelimanya semakin kuat, dan ia mencoba lagi dengan kekuatan yang lebih tinggi pada tendangan keenam, hingga papan itupun terbelah dua.....


Si bocah berhasil... Dua keberhasilan sekaligus, membelah papan dan mengalahkan rasa tidak percaya dirinya.... Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang lingkungannya.....


Yaitu mereka yang berteriak gembira menyambut kemenangan si bocah. Yaitu mereka yang berhamburan memberi pelukan erat, seolah-olah mereka lebih bahagia melihat keberhasilan tersebut melebihi kebahagiaan si bocah.....


Kini kita harus percaya, bahwa lingkungan membentuk kita. Jika kita berada di tengah-tengah orang yang positif, hidup kita akan ikut terdorong lebih tinggi. Kelilingi diri Anda hanya dengan mereka yang bersedia mengangkat Anda tinggi-tinggi.... bukan lingkungan busuk hati yg menjatuhkan... 


Beruntungnya kalian yg dari awal sdh berada di sekeliling orang² positif yg menyemangati itu.... di banding saya yg berada di lingkungan orang² yg dalam otaknya selalu ingin menjatuhkan.. tapi untung aja kita udah dasar kuat kuat kuda²nya... meski sendirian tetap aja bisa naik tinggi meski di kroyok rame² oleh para pencundang dari segala penjuru... 😀



Buah dari Sebuah Kepercayaan

 


 "Hal Apa yang Sulit? Minjam Uang!". 

Kalau Ada Orang Ingin Meminjam Uang Padamu, 

Jawablah Seperti Ini…!

Orang yang mau meminjamimu uang, adalah pahlawanmu.

Apabila orang tersebut memberimu pinjaman tanpa syarat, maka  ia adalah pahlawan tertinggi di antara pahlawan- pahlawanmu yang lain.

Sampai saat ini, pahlawan seperti ini tidaklah banyak.

Jika  kamu sampai menemukan mereka, hargailah seumur hidupmu!

Orang yang bisa bersedia meminjamkan uang ketika kamu kesulitan, bukanlah karena ia punya banyak uang, tapi karena ia ingin menarikmu saat jatuh.

Yang dipinjamkannya kepadamu juga bukanlah uang, melainkan ketulusan, kepercayaan, dukungan dan kesempatan untuk kamu berinvestasi di masa depan.

Saya sangat berharap sobat- sobat sekalian jangan sekali- kali menginjak "kepercayaan", sekali orang lain kehilangan kepercayaan padamu, maka hidupmu pasti hancur!

Ingat, kepercayaan orang lain adalah harta seumur hidup!

Selain itu, tolong kamu catat perkataan di bawah ini:

1. Orang yang suka inisiatif mentraktir, bukanlah karena ia punya banyak uang, tapi karena ia memandang "pertemanan lebih penting" dari pada hartanya. 

2. Orang yang suka mengalah saat bekerja sama, bukanlah karena ia takut, melainkan tahu apa artinya "berbagi". 

3. Orang yang bersedia bekerja lebih keras dari orang lain, bukanlah karena ia bodoh, tapi karena mengerti apa artinya "bertanggung jawab".

4. Orang yang terlebih dulu minta maaf saat berdebat, bukanlah karena mengaku salah, melainkan tahu artinya "menghargai". 

5. Orang bersedia membantumu, bukan karena berhutang, tapi karena menganggapmu sebagai "teman".

Sudah berapa banyak orang yang tidak memperhatikan logika ini? Sudah berapa banyak orang yang menganggap pengorbanan orang lain adalah "hal yang semestinya"?

Bila orang tulus berjalan, ia akan jalan sampai ke dalam hati.

Bila orang munafik berjalan, cepat atau lambat ia akan ditendang sampai keluar dari pandangan orang lain!

Bila pertemuan di antara manusia adalah jodoh, maka hal yang diandalkan hanyalah ketulusan dan kepercayaan!

Kamu mau menjadi orang seperti apa, semuanya adalah pilihanmu dan karma mu sendiri 

Percayalah, hubungan antar manusia harus mengandalkan kepercayaan!

Terserah kamu mau pinjam uang atau tidak, yang terpenting kamu harus memberikan kepercayaan!

Salam Sukses Hebat Luar biasa..

  😇😇😇😇😇

BERUSAHA BELAJAR DARI BURUNG

 


Burung.... , dia selalu yakin kalau dia pergi pagi dan pulang pastilah perutnya kenyang. Dan memang selalu terbukti seperti itu... krn kalau burung itu tdk pulang dengan perut terisi pasti kita akan dapati banyak burung yg mati disarang nya........


Mengapa burung tidak pernah ragu akan rejeki nya?...... Karena ......


1. Burung tidak punya rekening tabungan, sehingga tidak ada yg perlu dia takuti begitu saldo tabungan itu terus turun....   

2. Burung bukanlah pegawai, sehingga tidak ada ketakutan dari nya bila bulan ini tidak dapat gaji.......

3. Burung bukanlah pengusaha, sehingga dia tidak takut omset nya mau naik atau turun......

4. Burung tidak perlu rasa gengsi, walaupun keluar rumah tidak pakai motor atau mobil cicilan tidak masalah, sehingga dia tidak takut sama yg namanya Debt Collector......

5. Burung tidak pernah memilih tempat makan, dia tdk harus makan di restoran cepat saji atau minum di cafe ternama, buat dia makan & minum itu sesuai keperluannya saja tidak mengikuti keinginan nya. Sehingga dia tidak takut bila dia tidak punya Credit Card......

6. Burung tidak perlu barang branded utk penampilannya, karena buat dia utk tampil yang paling baik adalah dengan menonjolkan potensi yg ada pada dirinya sendiri......


Jadi sebenarnya perbedaan Burung dan Manusia dalam hal ini adalah berbeda masalah "KETAKUTAN" nya saja. Dimana Burung lebih banyak rasa TIDAK TAKUT nya dibandingkan Manusia yang banyak rasa TAKUT nya......

.

Pebedaan kedua adalah karena Burung menjalani hidup ini dengan REALISTIS sehingga dia tidak termakan gengsi, sedangkan kita Manusia lebih sering berkhayal dan termakan gengsi.....

.

Lalu kenapa Burung tidak banyak memiliki rasa ketakutan dibandingkan Manusia ?....

.

KARENA BURUNG PERCAYA DAN YAKIN DENGAN PENCIPTA NYA, 

Yang perlu dia lakukan hanyalah BERGERAK KELUAR DARI SARANGNYA untuk menjemput rejeki yg sudah di tetapkan oleh PENCIPTANYA........

.

Sedangkan kita manusia sulit sekali utk PERCAYA & YAKIN pada PENCIPTANYA.......

.

Minggu, 25 September 2022

JANGAN BIASAKAN BERCANDA DENGAN PERASAAN DAN HARGA DIRI ORANG LAIN

 


Dua orang mahasiswa tengah berjalan santai di taman kampus, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang dan lusuh....


Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya....


Salah satu mahasiswa yg suka jail melihat kepada temannya dan berkata

"Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya" kemudian kita bersembunyi di belakang pepohonan. Nanti ketika dia datang, kita lihat bagaimana dia kaget serta cemas karena kehilangan sepatunya..."


Temannya itu menjawab.....

"idak pantas kita menghibur diri dgn mengorbankan org miskin". Kamu kan seorang yang kaya dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya..."

"Sebaiknya cobalah kamu masukkan beberapa  lembar uang kertas ke dalam sepatunya," kemudian saksikan bagaimana respons dari tukang kebun miskin itu?".....


Dia sangat takjub dengan usulan temannya... 

Dia langsung  memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu...... Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama temannya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun itu.....


Tak berapa lama datanglah tukang kebun itu, sambil mengibas-ngibaskan kotoran debu dari pakaiannya, dia menuju ke tempat dia meninggalkan sepatunya...... 


Ketika ia memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya.....


Saat ia keluarkan, ternyata, "uang..."

Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi "uang..."

Dia memandangi "uang" itu berulang-ulang seolah ia tidak percaya dengan penglihatannya.......


Iapun memutar pandangannya ke segala penjuru namun ia tidak melihat seorang pun.....


Sambil menggenggam uang itu lalu ia berlutut sambil menengadah ke langit ia berucap.....

“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah, Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang..."

"Wahai Yang Maha Tahu, istriku sedang sakit dan anak-anakku  kelaparan, mereka belum mendapatkan makanan hari ini"....

"Engkau telah menyelamatkanku, anak-anakku dan istriku dari penderitaan...”, melalui tangan² orang yg baik.. berkahilah kami dan orang² yg baik itu"........


Dengan kepolosannya dia terus menangis terharu sambil memandangi ke langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari "Allah Yang Maha Pemurah"...


Sang mahasiswa sangat terharu atas pemandangan yang dilihatnya dari balik persembunyian itu..... Air matanya berlinang tanpa dapat ia bendung.......


Sang kawan yang bijak berkata kepada temannya......

“Bukankah sekarang kamu 'merasakan kebahagiaan yg lebih" dari pada kamu melakukan ide pertama untuk menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”.....


Dia menjawab : "Aku telah mendapatkan pelajaran yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku.""......sambil.mengusap air mata....


Sekarang aku paham makna kalimat :

“Ketika kamu memberi,"kamu akan memperoleh "kebahagiaan yg lebih banyak" dari pada ketika kamu diberi”..... kawannya berkata "Ketahuilah bahwa "bentuk pemberian itu bermacam-macam".......


1. Memaafkan kesalahan orang di saat kamu mampu melakukan balas dendam,...adalah suatu "pemberian."......


2. Mendoakan teman dan saudaramu di belakangnya (tanpa sepengetahuannya) itu adalah juga ""pemberian"....


3. Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk,_ juga suatu "pemberian."......


4. Menahan diri dari membicarakan aib sesama kita di belakangnya_ adalah "pemberian" juga.......


Ini semua adalah "pemberian"......


Saya cuma mau mengatakan...... Marilah kita saling "memberi & berbuat baik" untuk.menjadi passion kita..... niscaya "hidup kita akan menjadi lebih indah.".......

Selasa, 02 Maret 2021

Tidak ada makan siang yang gratis

 


 Sering kali kita mendengar beberapa istilah yang digunakan banyak orang untuk menyampaikan beberapa maksud/tujuan untuk kepentingan diri sendiri, tanpa diketahui orang banyak namun cukup berdaya ledak ultra massif sehingga banyak orang yang mau menuruti apa yang kita mau dengan sendirinya (sebenarnya ini merupakan cara pemaksaan paling halus yang pernah ada dikolong langit ini). 

There is no free lunch atau yang diterjemahkan secara bebas merupakan tidak ada makan siang yang gratis merupakan istilah dari dunia ekonomi yang berarti “tidak ada makan siang gratis” atau dalam bahasa Inggrisnya There no ain’t such thing as a free lunch digunakan untuk menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang cuma-cuma di dunia ini. Yang ada hanyalah subsidi silang. Awal ungkapan ini, di tahun 1872, New York Times menceritakan bahwa makan siang gratis muncul sebagai tren umum di Crescent City (New Orleans). 

Mereka memberi makan siang gratis, meskipun minumnya harus bayar. Para pemilik bar bertaruh bahwa pengunjung akan minum lebih dari satu kali. Jadi tetap saja ada seseorang yang membayar untuk sesuatu. Fakta bahwa model ini bertahan cukup lama, menunjukkan bahwa pertaruhan para pemilik bar tersebut dapat diterima secara bisnis. (wikipedia.com) Pun setelah definisi diatas banyak yang memanfaatkan istilah ini untuk kepentingan tertentu, seperti mengajaka banyak orang untuk bergabung ke Multi Level Marketing, usaha yang kebanyakan menawarkan uang berlipat lipat ganda tanpa harus bekerja. Atau dalam keadaan lebih eksplosif mengajak orang untuk bergabung kedalam sekte-sekte tertentu serta mengajak banyak orang untuk menjalankan hal negatif lainnya.

 Satu point yang harus dicatat adalah perkuat diri kalian dengan pengetahuan, bisa saja banyak disekitar kalian yang memberikan "makan siang yang tidak gratis" mungkin untuk kepentingan bisnis atau yang lebih membahayakan untuk kepentingan negatif ultra berbahaya. Hanya kalian yang dapat menyaring semua informasi yang diberikan jangan sekali kali menerima bulat-bulat apa yang orang kasih. Karena siapa tahu, itu memang benar makan siang yang tidak gratis

Selasa, 16 Februari 2021

Cara Manajemen Keuangan Anak Kost Agar Tetap Jadi Sultan....

 

Manajemen keuangan untuk anak kost bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Kamu bisa melakukan langkah sederhana dengan belajar dari pengalaman sendiri, mencontoh orang lain, mengikuti influencer, bahkan mengikuti kelas tentang keuangan.

Caraa Manajemen Keuangan Anak Kost Agar Tetap Jadi Sultan di Akhir Bulan – Sumber utama pemasukan anak kost yang belum bekerja biasanya berasal dari kiriman orang tua. Jumlah kiriman tersebut bervariasi tergantung penghasilan orang tua maupun kesepakatan dengan anak kost. Selain mengirimkan uang untuk biaya sewa kost, ada uang kuliah, uang makan, dan tentunya uang jajan.

Manajemen Keuangan Ala Anak kost

pixabay.com

Nasib anak kost yang berbeda-beda bukanlah penghalang untuk bisa menjadi sultan di akhir bulan. Percuma saja jika kamu diberi kiriman uang dalam jumlah besar kalau justru tidak bisa mengelolanya. Tidak jarang anak kost dari keluarga sederhana yang diberi kiriman pas-pasan justru bisa berhemat dan banyak menabung. Sebaliknya, di akhir bulan pun nasib anak kost dari orang tua kaya raya bisa sangat bertolak belakang.

Mungkin kamu pernah mendapati ada anak kost yang tetap tampil gaya dan bisa membeli barang-barang mewah meskipun sudah akhir bulan. Terkadang anak kost yang terlihat pas-pasan justru mampu makan makanan enak dan tidak hanya mi instan. Ia akan melakukan manajemen keuangan agar bisa menikmati hasil jerih payahnya pada akhir bulan di saat ada banyak anak kost kesulitan. Inilah yang seringkali disebut dengan gaya hidup ala sultan. Untuk bisa terlihat seperti itu, anak kost yang baik tidak akan rela berhutang, tetapi dengan melakukan manajemen keuangan.

Manajemen keuangan untuk anak kost bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Kamu bisa melakukan langkah sederhana dengan belajar dari pengalaman sendiri, mencontoh orang lain, mengikuti influencer, bahkan mengikuti kelas tentang keuangan. Tujuan manajemen keuangan untuk anak kost setelah mendapatkan kiriman dari orang tua tentu bukan semata karena ingin kaya raya atau mirip sultan. Tapi, anak kost sebenarnya sedang belajar mengatur keuangan dengan baik agar semua kebutuhan terpenuhi, dan pastinya masih memiliki sisa uang dalam jumlah banyak pada akhir bulan. Penasaran bagaimana cara manajemen keuangan anak kost agar bisa bergaya seperti sultan?

1.Mengalokasikan Dana untuk Membayar Kost

pixabay.com

Kebutuhan pertama yang wajib diutamakan anak kost adalah biaya sewa kost. Sudah banyak pengalaman anak kost yang tidak disukai pemilik hingga dibenci dan diusir pemiliknya karena menunggak biaya sewa. Jangan sampai kamu mengalami pengalaman yang sama. Setelah anak kost mendapatkan kiriman dari orang tua, langsung alokasikan dana tersebut dengan memberikannya pada ibu kost. Buatlah daftar rincian pembayaran sewa kost, mulai dari biaya sewa kamar, biaya listrik, biaya internet wifi, biaya air, dan biaya lainnya jika adal.

Tips ini berlaku bagi kamu yang tinggal di kost bulanan atau mingguan. Untuk penghuni kost tahunan, pembayaran kost secara tunai tidak perlu memikirkan tagihan sewa bulanan. Mintalah bukti pada pemilik kost bahwa kamu sudah melakukan pembayaran tepat waktu, sehingga tidak terjadi masalah di kemudian hari apabila pemilik kost lupa. Bebas tunggakan dari biaya sewa kamar kost akan membuatmu sedikit lega. Sebab, kamu masih memiliki sisa uang untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

2.Membayar Biaya Kuliah

pixabay.com

Jangan lupa untuk membayar biaya kuliah tepat waktu sebelum jatuh tempo. Pihak kampus akan mengumumkan besaran biaya yang perlu dikeluarkan mahasiswa jauh sebelum batas waktu pembayaran. Kamu pun bisa bersiap-siap untuk meminta kiriman orang tua. Namun, jangan berbohong atau melebih-lebihkan kebutuhan biaya kuliah demi mengincar uang sisa.

Setelah mendapatkan kiriman biaya kuliah, lakukan pembayaran di tempat yang sudah ditunjuk. Kamu pun bisa bernafas lega karena bisa tetap meneruskan studi tanpa perlu khawatir diminta cuti kuliah karena terlambat membayar. Rincian biaya kuliah di setiap kampus tidak sama. Terdapat kampus yang sudah memasukkan biaya SKS, praktikum, dan biaya PKL pada SPP. Namun, ada pula yang memisahkannya. Sebagai mahasiswa sekaligus anak kost, sangat penting untuk memastikan rincian biaya kuliah sebelum membayarnya. Untuk keperluan SPP, kamu tidak bisa berharap terlalu banyak untuk mendapatkan uang sisa, kecuali kamu berstatus sebagai penerima beasiswa.

3.Membeli Kebutuhan Pokok

pixabay.com

Prioritas ketiga yang perlu kamu utamakan setelah mendapatkan uang adalah membeli kebutuhan pokok. Sebagai anak kost yang mengalami pembengkakan biaya makan, memasak sendiri menjadi solusi. Oleh karena itu, kamu bisa mengalokasikan budget untuk membeli bahan baku makanan. Agar lebih hemat, berbelanjalah di pasar tradisional dan jangan lupa menawar harga pada penjual.

Tidak masalah jika kostmu belum dilengkapi dapur, sehingga kamu tidak bisa memasak. Kamu pun bisa mengalokasikan budget untuk membeli kebutuhan makanan dengan membuat daftarnya selama satu bulan. Jika setiap hari kamu membutuhkan uang makan 100 ribu rupiah, sesekali kamu perlu mencari tempat makan yang murah agar bisa menyisihkan uang makan. Kebutuhan pokok lainnya yang perlu diutamakan anak kost adalah pembelian minum, baik berupa botol maupun galon, serta obat-obatan darurat.

4.Nongkrong ke Tempat Murah

pixabay.com

Selama masih berstatus sebagai anak kost, sebaiknya hindari tempat-tempat nongkrong berbayar pada awal bulan. Meskipun kamu diajak teman dan merasa tidak enak untuk menolak, ingat kembali motivasimu bergaya hidup hemat demi menjadi sultan pada akhir bulan. Jika diminta untuk ikut nongkrong, kamu bisa memilih tempat makan lesehan, taman, lapangan terbuka, alun-alun, atau tempat lainnya yang tidak memerlukan biaya. Hindari cafe, mall, atau tempat yang berpotensi membuatmu mengeluarkan budget besar pada awal bulan.

5.Membeli Barang Diskon

pixabay.com

Anak kost perlu mengetahui barang apa saja yang dibutuhkannya. Ketika menemukan ada diskon pada barang tersebut, sebaiknya langsung lakukan pembelian tanpa menunda. Sebab, pada akhirnya kamu juga akan membeli barang tersebut suatu saat nanti. Contohnya ketika terdapat diskon sabun cuci, anak kost bisa langsung membelinya karena pada akhirnya anak kost juga akan memerlukannya. Uang sisa dari alokasi pembelian barang awal bisa kamu tabung dan gunakan untuk belanja pada akhir bulan. Adanya cashback dari belanja online pun dapat kamu manfaatkan. Nantinya, cashback tersebut dapat kamu gunakan untuk pembelian barang selanjutnya.

6.Membatasi Pemakaian Uang Digital dan Kartu Debit

pixabay.com

Kemudahan bertransaksi yang bisa dilakukan siapa pun dan dimana pun menggunakan sistem terintegrasi tentu sangat memudahkan aktivitas. Namun, kemudahan ini jangan sampai membuat anak kost lupa diri bahwa ia harus tetap menyisihkan uang kriiman orang tua. Agar keuangan tetap terkontrol, batasi pengisian mata uang digital. Jangan mudah terpengaruh promo atau diskon untuk barang yang tidak kamu gunakan. Jika berbelanja menggunakan kartu debit, pastikan kartu tersebut berisi uang khusus belanja dan terpisah dari tabungan lain atau dana darurat.

7.Membawa Air Minum Sendiri

pixabay.com

Sadarkah kamu bahwa pengeluaran untuk membeli minum di sebuah tempat makan biasanya lebih tinggi daripada harga makanan itu sendiri? Padahal, kamu bisa membawa minum dari kost. Tinggal beli air galon dan isi botol minum milikmu. Cara ini bisa menghemat budget pembelian minuman saat makan di luar. Namun, kamu perlu memastikan bahwa di tempat tersebut memang diizinkan untuk membawa minuman sendiri. Selain itu, ketika jalan-jalan atau olahraga pun kamu bisa lebih hemat daripada membeli minuman di sana.

Pada akhirnya, ilmu tentang manajemen keuangan tidak hanya bermanfaat ketika kamu menjadi anak kost saja. Sekalipun kamu sudah lulus kuliah, bahkan berkeluarga, jika kamu sudah terbiasa menerapkan prinsip manajemen keuangan, bukan hal mustahil untuk hidup seperti sultan di akhir bulan. Jangan lelah untuk terus belajar dan menambah ilmu tentang finansial.

Demikian informasi cara manajemen keuangan anak kost agar tetap jadi sultan di akhir bulan yang bisa kamu terapkan. Untuk mendapatkan tambahan pemasukan, carilah tempat belanja yang menawarkan cashback, diskon, atau promo lainnya. Semoga berhasil!

Selasa, 13 Desember 2016

"GIVE AND YOU WILL BE GIVEN"..DENGAN MEMBERI, MAKA KAMU AKAN DIBERI.

 
Belum lama ini Saya menyaksikan tayangan film di layar televisi, film jedar-je-dor yang Saya suka. Ceritanya mudah dicerna, apalagi untuk ukuran manusia seperti Saya, yang disodori film Matrix terus ngeloyor pergi meninggalkan Televisi (TV) setelah kira-kira empat puluh lima menit ditayangkan, gara-gara ndak mudeng sama sekali. Dengan tingkat intelektualitas kocrot itu, yaa... paling enak menyaksikan film jedar-jedor atau roman.
Meminjam istilah teman Saya, roman yang picisan. Saya terima saja karena kenyataannya Saya memang demikian meski sungguhnya teman Saya itu malah sedang menjalankan petualangan cintanya yang picisan juga.
"Yooo... bedo tho no. Sana layar lebar, sini punya kan kenyataan. Bagaimanapun picisannya, ya... bedo no. Ruwet dan membuat mumet, sampai jadi kerasa ndak picisan," katanya menjelaskan.
Saya yang mendengarnya ya... manut saja. Meminjam istilah te­man Saya yang lain. "Aaaaatur... saja."
Pengecut
Di salah satu adegan dalam film di layar televisi itu, si penjahat lari menghindari tembakan sang penegak kebenaran alias pak polisi.


"Ooo... menegakkan saja, ya? Belum tentu menjalankan toh?" celetuk teman Saya.
"Waaah..., kalau begitu, aku yo iso. Cuma menegakkan saja tho, gampang," lanjutnya. "Lha wong menegakkan yang lainnya saja Saya bisa kok," tambahnya lagi.
Saya menegurnya untuk tidak menyelak cerita Saya. "Oh..., maap, maap. Terus, terus...," balas-nya.
Kemudian Saya melanjutkan cerita itu. Si polisi gagal menembak si penjahat karena ia berlari di antara kerumunan orang banyak yang sedang berseliweran. la terlepas dari peluru yang diarahkan kepadanya karena sang pe­negak kebenaran (dan sedang menjalankan kebenaran) tak bera­ni mengambil risiko kalau-kalau pelurunya malah menghujam salah satu ma­nusia yang se­dang berseliweran itu. Jadi, si penjahat terlepas dari maut dengan menggunakan manusia berseliweran itu sebagai tameng perlindungannya.
la cerdik. Namun, ada suara di nurani Saya yang berdendang. Si penjahat memang cerdik, tetapi (seperti Yahudi saja) ia sangat egois dengan meminta perlindungan orang lain untuk menyelamatkannya. Dan, yang terutama, ia cuma berani jadi penjahat, tetapi tak berani membayar harga sebagai penjahat. la minta orang lain membayarnya (Emang Yahudi udah kikir serakah lagi).
Dan, itulah Mungkin Anda. Si penjahat cerdik sekaligus pengecut itu. Kini Saya mengerti mengapa saat Saya melihat adegan itu nurani Saya seperti disinggung. Tampaknya Saya sedang diperlihatkan bagaimana Kita hidup selama ini. Bukan hanya mencari perlin­dungan dari orang lainnya, tetapi masalah yang lebih fatal, Kita tak berani membayar harga untuk apa yang Kita perbuat. ; Kita mau menabur kejahatan, tetapi malas menuai hasilnya. "Hari gini, minta tolong orang saja ya, bo" celetuk teman Saya. Saya mengingatkan sekali lagi un­tuk tidak lagi menggunakan kata ba, bo, ba, bo.
"Take and (never) give"
Contohnya Kita memesan Rakitan Komponen Komputer di salah satu Pemilik Toko Komputer. Kita minta tolong diselesaikan dalam waktu tidak terlalu lama karena Kita membutuhkannya untuk membuat tugas yang sebenarnya bukan dadakan. Hanya saja, Kita lupa memasukkan ke dalam agenda dan pada dasarnya Kita kadang memang manusia pelupa. Sang Pemilik Toko Komputer menyelesaikan sesuai dengan jadwal yang Kita kehendaki. Masalahnya kemudian, Kita tidak membayar sa­at Rakitan Komponen Komputer pesanan itu selesai.
Dengan sejuta alasan, Kita baru membayar akhir bulan. Kita memaksa orang lain menyenangkan Kita, tetapi Kita sama sekali tak berkeinginan membayar harganya dan menyenangkan orang lain (emang Yahudi Loe..!!!).
Sama seperti penjahat dalam film itu, Kita egois. Kita tak per­nah mau melatih diri berpikir bagaimana seandainya Kita yang giliran jadi Pemilik Tokonya. Kita tak pernah bercita-cita terpikirkan pun tidak untuk punya gaya hidup memberi (give) dan menyenang­kan orang, tetapi Kita selalu memelihara gaya hidup mengambil (take). Barang Sendiri Dipeliti, punya orang dimaui “kikir dan serakah, ghitu….”.
Dan, dengan Saya sebagai Professional komputer, sang Pemilik Toko hanya berkata, "Ndak papa, Mas. Bener gak papa."
Kejadian seperti itu juga terjadi bila Kita berbisnis dengan orang lain. Terutama saat bicara soal pembayaran, Kita selalu minta keringanan. Kalau bisa, ba­yar dua kali, dua bulan, dua tahun, bahkan berutang. Namun, kalau terlambat Menjahit Baju Bola, misalnya, Kita bisa berteriak seperti orang yang membayar tepat waktu. Kita sampai lupa akan rasa malu. "Memang sana punya kemaluan?" singgung teman Saya.
Bersama teman-teman, Kita sedang mempersiapkan 'bisnis ecek-ecek. Bahkan Kitalah yang paling bermulut besar akan menjadikan bisnis ini begini dan begitu. Harus buat ini dan buat itu, harus promosi ke- sana-kemari. Tiba saatnya semua harus dilaksanakan, Kita lupa pembicaraan mulut be­sar itu berujung duit dan kerja keras. Terpaksa kemudian dibekukan sementara waktu karena Kita malas membayar harga untuk mengeluarkan dana terlalu banyak dan harus ke sana-kemari. Janji tinggal janji…..Capee dech….
"Macet, panas, terus mesti jualan pula. Malaslah yaao...," sindir teman Saya. Apa boleh buat, saya hanya mengangguk saja.
Kita mengaku sebagai umat Beragama, tetapi ma­las membayar harga de­ngan sejuta  dos and don'ts-nya yang terdapat da­lam buku suci nan tebal itu. Terus, paling gampang Kita akan katakan, Kita manusia    biasa,  penuh  dengan kelemahan. Kita memang manusia bi­asa. Biasa tak mau membayar harga dan biasa melemahkan diri, maksudnya. Itu mengapa Kita susah mengasihi musuh Kita, apalagi diperintahkan berdoa untuk mereka yang menganiaya Kita. Padahal, ajarannya demikian. Kita malas membayarnya. Terlalu mahal. Kita tak kuat kemahalan. Mau pakai kartu kredit lebih dari platinum pun tak terbayarkan.
Kita mau minta perlindungan pihak lain (baca: Sang Khalik), tetapi Kita tak pernah berkeinginan memiliki gaya hidup seperti yang diingini-Nya.
Di tengah segala kejahatan Kita, cita-cita masuk surga tak per­nah hilang. "Sana maunya masuk surga, tetapi enggak mau jadi manusia taat. Maksudnya?" tanya teman Saya.
"Maunya sesuai sama jidat lo saja, sih. Ya, tak?" lanjutnya lagi. Acara ceramah A.A.Gym biasanya adalah acara favorit Kita bahkan sampai sebelum acara favorit itu berlangsung, Kita masih bisa melakukan dosa, supaya bisa dirapel semuanya, terus jadi merasa "bersih" lagi dan terus buat dosa lagi sekeluar dari halaman rumah ibadah ka­rena sudah ada ruang kosong untuk tempat dosa.
"Flashdisssk... kali," celetuk teman Saya.

1. Saya diingatkan salah satu klien Saya, bila mau berbisnis, harus dipikir masak-masak. Maksud Kita bukan ma­sak bisa, masak susah, masak gitu sih. Maksudnya pikirkan matang-matang, terutama harga yang harus Kita bayar saat memutuskan memulai bisnis. Katanya lagi, jangan mengejar obral janji. Kalau Kita tak mampu dari awal mernbayar harganya, jangan coba-coba "berutang".
2. Nasihat kedua dia, jangan jadi pengecut. Kata dia, kalau Kita mau terjun dengan benar dalam bisnis, jangan setengah-setengah. Itu sama dengan perkawinan, katanya. Ka­lau Kita sudah memutuskan menikah, berbesar hatilah menanggung segala risikonya. Jangan susah sedikit terus mau selingkuh atau mau cerai. la malah mengingatkan janji sehidup semati dalam susah dan senang.
"Lo janjinya sama Tuhan, Iho," katanya. "Jangan cuma mau hartanya saja," lanjutnya menasihati.
Wah... memang Kita senang sekali dengan nasihatnya yang kedua ini. Pertama, sebagian dari Kita umumnya belum pernah memutuskan menikah. Terpikirkan saja tidak. Terlalu ma­las membayar harganya. Kedua, berjanji sehidup semati pun be­lum pernah juga. Yang per­nah, malah Kita hidup dan orang lain mati.
"Benar juga ya, Yung. Seekor anjing, artinya cuma sa­tu anjing. Jadi, sehidup, cu­ma satu yang hidup. Waduh... lo emang pinter banget, deh. Ngomong-ngomong, otaknya buatan mana, Mas?" celetuk teman Saya.
3. Nasihat terakhir dari klien Kita itu adalah jangan menyuruh orang lain membayai harga yang seharusnya menjadi tanggung jawab Kita.
"Itu kurang ajar namanya," katanya. Kita lalu bercerita, Kita sedang mau belanja, uang tak ada, kemudian memakai kartu kredit. Jadi, Kita mau gaya, tetapi orang lain yang disuruh bayar duluan. Akhir bulan baru Kita bayar.
"Belum tentu. Malah mungkin lo cuma bayar batas minimumnya," katanya lagi. Teman Saya dari perbankan nye-letuk, "Karena itu, kami ada untuk Anda."
4. Beberapa hari lalu Saya dinasihati Guru Akrab saya dulu waktu Sekolah, Kalau seseorang membayar harga, artinya sesuatu harus dikeluarkan, baik berupa uang ataupun tindakan Dengan membayar itu Kita akan menerima kembali apa yang sudah Kita keluarkan.
"Kalau lo berutang, misalnya, dan lo berniat mengembalikan, lo akan merasa lega. Perasaan lega itu adalah imbalan yang kembali ke lo dan orang akan memberi penilaian bahwa lo orang yang bisa dipercaya," katanya menjelaskan.
Apabila Kita tak mau membayar harga, jadi Kita menahan uang atau tindakan yang harus Kita keluarkan, maka imbalan yang baik tak akan datang kepada Kita. "Kalau lo enggak bayar utang, maka bank atau debet collector akan mengejar lo," katanya lagi.
Jadi, menurut dia, dengan satu kalimat disimpulkan demikian. “Give and you will be given” DENGAN MEMBERI, MAKA KAMU AKAN DIBERI.

Rabu, 20 Juli 2016

Buruknya Pengelolaan Dana Masyarakat oleh Birokrasi Pendidikan

 
Membaca Tulisan Bapak Moh Mahfud MD tentang “Masih Birokrasi Tong Sampah Juga” 05.11.2011, memang kami di masyarakat sungguh merasakan kebenarannya dari tulisan tersebut.

Bahkan menurut saya lebih dari itu, karena didunia pendidikan di level bawah (management sekolah) pungutan yang dilegalkan dinas ataupun melalui dalih sukarela untuk melakukan pungutan, ter utama pada sekolah negeri unggulan (Rujukan), disana penerimaannya masuk ke Rekening bank a/n pribadi pejabat sekolah atau rekening pribadi komite sekolah, atau penerimaan dana dari masyarakat tidak disetorkan ke bank tapi dipergunakan secara langsung. Hal ini jelas – jelas melanggar aturan.
Peraturan Pemerintah Nomor 48/2008 tentang pendanaan pendidikan pada pasal 52 b,c telah mewajibkan agar dukungan dana dari masyarakat tersebut disetorkan lebih dulu ke Rekening atas nama satuan pendidikan, yang berarti “Lembaga sekolah” dan bukannya a/n pribadi pejabat.
Kalo disetor kerekening pribadi dapat dikategorikan penyuapan pada pejabat publik, atau jika Komite Sekolah melakukan tindakan operasional/membuat program untuk kepentingan di sekolah negeri dengan memungut kepada masyarakat untuk biaya pendidikan walau atas nama sekolah tanpa memasukan dalam Anggaran Sekolah maka dapat dikategorikan sebagai swastanisani lembaga publik, dan hal tersebut juga dilarang. Karena Penanggung Jawab lembaga publik adalah pejabat publik. Dan komite sekolah bukanlah pejabat publik, mengingat peran komite terbatas pada aktivitas saran/advis, jembatan, control dalam bentuk pemantauan atau mengetahui (dan bukan menyetujui), member dukungan support / menyerahkan semua kegiatan pada lembaga publik, dan bukannya “menjadi tukang belanja”.

Kurangnya sosialisasi apalagi implementasi atas PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, PP 48/2008 tentang Pendanaan Pendidikan, PP 17/2010 tentang pengelolaan pendidikan dan penyelenggaraan pendidikan, dapat dilakukan secara baik, terutama mencegah adanya konflik atau penelikungan Sekolah terhadap Komite Sekolah, karena jelas sudah dilarang adanya jabatan bendahara komite. Dan guru sebagai PNS dilarang terlibat dalam organisasi ini Pasal 197 (4), dan jika terlibat maka Guru/PNS adalah melanggar Tugas Pokok dan Fungsi sebagai pejabat publik dan tersebut perlu dipertanyakan jika atasannya menyetujuinya. Perlu diingat bahwa diwaspadai jabatan bendahara dan guru sekolah selama ini banyak digunakan sebagai instrument pemungutan dana.

Tawuran pelajar, atau kekerasan lain di dunia pendidikan bisa juga diakibatkan karena management pendidikan tidak baik.
Dan peningkatan mutu pendidikan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan kemungkinan karena politik anggaran tidak lebih dekat pada fungsi tetapi lebih pada birokrasi. Dan bila diperhatikan saat ini management pendidikan lebih berkutat pada prosedur pencairan dana BOS (biaya operasional sekolah) daripada optimalisasi fungsi peningkatan kualitas dan demokratisasi pendidikan.

Jika Sekolah SMPN dan SMAN yang berstatus Rujukan/Model pada penerimaan tiap sekolah awal tahun sebanyak 200 – 300 siswa dimana terdapat dana sumbangan yang biasanya disebut SAB (sumbangan awal siswa baru) berkisar Rp. 2.500.000,- sampai Rp. 10.000.000,--- dan dukungan rutin bulanan yang diperhitungkan kepada seluruh kelas berkisar Rp. 150,000, - s/d 750.000,-- maka sudah berapa banyak dukungan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap pendidikan berstatus negeri, dan hal ini tidak pernah dihitung dan dilaporkan oleh Depdiknas kepada publik, dan pengawas fungsional hanya membatasi pada sumber dana rutin dari pemerintah. Dan sebab lain adalah uang dari masyarakat tidak masuk lebih dulu dalam rekening lembaga atau tidak masuk dalam Anggaran Sekolah.
PARA PEJABAT YANG MENGELOLA PENDIDIKAN TOLONG TUNJUKKAN ADAKAH PRESTASI DAN EFISIENSI DALAM PENGELOLAAN PENDI[/SIZE]DIKAN DITEMPAT ANDA ????
DANA PENDIDIKAN MELIMPAH TIDAK DIHARAPKAN MENJADI INTRUMENT P-PENGEMBALIAN PENGEMBALIAN DANA POLITIK ATAUPUN KEPENTINGAN PEMILU.
Melihat kondisi tersebut maka birokrasi tong sampah tidak hanya menampung kickback, tetapi masyarakat sudah seperti kuda sado dengan kusirnya birokrasi yang gemar menghardik dimana anak anak di umpan untuk eksploitasi.
“SIAPA MAU MEMBANTAH ATAU MEMBENARKAN DENGAN CONTOH KONGKRIT”

Demikian sebagai renungan bersama.


MASYARAKAT PEDULI PENDIDIKAN

Sabtu, 21 Juli 2012

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!

 
Oleh :
Yudhistira ANM Massardi

Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai—katakanlah hingga dua dekade ke depan—yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur.

Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun. Dalam ”kalimat lain”, ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya.
Jadi, untuk apa sebenarnya generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi? Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang.



Jika sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu untuk apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?
Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa sekarang ini sudah terjadi inflasi gelar akademis sehingga ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia kerja semakin merosot. Lebih dari itu, ia menilai sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih mengutamakan pembangunan kreativitas.
Paul Krugman, kolumnis The New York Times yang disegani, dalam tulisannya pada 6 Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi golongan kerah putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai para sarjana dan bergaji tinggi—kini digantikan peranti lunak komputer. Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran dan kebersihan, terus tumbuh.
Kreativitas dan imajinasi | Fakta lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan sosial yang mengangankan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!
Namun, jika orientasi masyarakat tetap untuk ”jadi pegawai”, yang harus difasilitasi adalah sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan singkat. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual seperti pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi, pertanian, ataupun yang berbasis komputer di perkantoran. Untuk itu, tak perlu embel-embel (sekolah) ”bertaraf internasional” yang menggelikan itu karena komputer sudah dibuat dengan standar internasional.
Akan tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya ditopang oleh para operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para kreator yang kaya imajinasi. Oleh karena itu, seluruh potensi kecerdasan anak bangsa harus dibangun secara lebih serius yang hanya bisa dicapai jika rangsangannya diberikan sejak usia dini. Maka, diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan visual-auditori-kinestetik, juga kreativitas dan kemandirian.
Kata kuncinya adalah ”kreativitas” dan ”imajinasi”; dua hal yang belum akan tergantikan oleh komputer secerdas apa pun! Zaman terus berubah. Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti dengan yang baru. Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita sudah memasuki era digital.
Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun berubah. Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi, dan banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat ”cinta belajar” pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan mentalitas ”cinta belajar”, apa pun yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya.
Membangun semangat ”cinta belajar” tak perlu harus ke perguruan tinggi. Kini seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses melalui komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam.
Jadi, cukup berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan. Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja (mulai dari pendidikan anak usia dini, PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada.

Yudhistira ANM Massardi. Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi

| Diulik dari tulisan "Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!" Kompas, 8 April 2011

Rabu, 16 Mei 2012

PANDANGAN PADA MASALAH PENDIDIKAN

 


Oleh :
Yan Salam Wahab

Pendidikan adalah mencakup segala usaha perbuatan dari generasi tua untuk  mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya serta  keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkan melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya” 
Dari  pengertian ini,   maka dapatlah dipahami bahwa pendidikan itu adalah suatu aktifitas dan usaha dari orang dewasa, dengan jalan membimbing dan membina si anak baik jasmani maupun rohani, menuju terbentuknya kepribadian yang utama. 
Pendidikan itu sangat penting sekali bagi kehidupan manusia yang berakal dalam mempertahankan dan mengembangkan minat dan bakatnya dalam kehidupan sehingga menjadi manusia yang bermanfaat untuk dirinya dan lingkungan sekitarnya, pendidikan juga menentukan kualitas seseorang sehingga terbentuknya suatu kepribadian yang tinggi kemudian kepribadiannya akan terlihat dalam tingkah laku dan perbuatan sehari-hari.
Dan pendidikan tersebut dalam GBHN bertujuan untuk meningkatkan kwalitas manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekert luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, disiplin, beretos kerja profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. 
Pokok pemikiran untuk meningkaikan taraf hi­dup masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan adalah melalui pendi­dikan, karena adanya anggapan bahwa melalui pendidikan bagi individu yang berasal dari masyarakat miskin membuka kesempatan baru untuk menemukan suatu lapangan pekerjaan baru yang memberi penghasilan yang lebih tinggi. Hal ini akan terjadi, apabila melalui pen­didikan, individu berkenalan dengan teknologi baru yang memungkinkan pelaksanaan suatu tugas secara lebih cepat dan lebih mudah. 
Namun, persoalannya kemudian, kenyataan menunjukkan kesem­patan pendidikan bagi masyarakat miskin masih tetap belum sepenuhnya terjangkau. Masih banyak di berbagai pelosok desa-desa di Kabupaten Kerinci belum mempunyai wahana pendidikan formal. Belum lagi biaya pendidikan yang cukup tinggi bagi mereka, menjadi kendala lain untuk mengenyam pen­didikan. 
Begitu pula kurangnya daya dukung pendidikan seperti perpustakaan dan transportasi menjadi halangan baru terhadap usaha meningkatkan kecerdasan bangsa secara merata. 
Indonesia yang dibentuk oleh pola masyarakat agraris, menghadapi persoalan-persoalan dalam menyongsong modernsasi, khususnya industrialisasi. Ikatan keluarga dalam masyarakat agraris adalah atas dasar faktor kasih sayang dan faktor ekonomis dalam arti keluarga tersebut merupakan suatu unit yang memproduksi sendiri kebutuhan-kebutuhan primernya. Dengan dimulainya industrialisasi pada suatu ma­syarakat agraris, peranan keluarga berubah. Biasanya ayahlah yang wajib mencari penghasilan. Seorang ibu, apabila penghasilan ayah tidak mencukupi, turut pula mencari penghasilan tambahan. Yang jelas, bahwa pola pendidikan anak-anak mengalami perubahan. Sebagian dari pendidikan anak-anak, benar-benar diserahkan kepada lembaga-lembaga pendidikan diluar rumah seperti di sekolah dan malah juga pengasuh. dengan demikian, pada hakekatnya, dalam organisasi keluarga pada ma­syarakat yang sedang transisi menuju masyarakat yang modern dan kompleks, disebabkan keterlambatan untuk menyesuaikan diri dengan situasi sosial ekonomis baru. Sementara, kondisi sosial-ekonomis In­donesia yang selalu berlangsung kalau tidak segera dilakukan gerak antisipasi bisa semakin tidak terkendali. 
Dalam masalah pendidikan ini, penulis tidak akan mengangkat secara mendetil permasalahan pendidikan di Kerinci. Dalam buku ini penuli akan mengangkat masalah pendidikan secara global, yang merupakan permasalahan yang paling penting. Permasalahan itu adalah mengkhususkan kepada guru, sebab gurulah tonggak dari keberhasilan pendidikan. 
Jika terdengar dunia pendidikan kita masih sarat dengan masalah,itu karena percepatan pembangunan pendidikan kita belum mampu mengejar ketetinggalan dari negara lain. Sehingga, saat ini, kita masih mendapatkan sederet masalah yang melilit dunia pendidikan kita, mulai dari kualitas guru yang rendah, penyebarannya yang belum merata, jumlahnya dalam bidang studi tertentu yang tidak memadai, hasil pendidikan yang ternyata tidak mampu berfikir sistematis dan kurang disiplin, tidak mampu memenuhi kualifikasi dunia kerja, hingga ke masalah minimnya buku yang diperlukan demi kelancaran proses belajarmengajar.Jikadiperhatikan secara seksama, masalah-masalah tersebut pada dasarnya menyangkut empat pilar pokok pendidikan; guru, kurikulum, metodologi danbuku. 
Memasuki era Modernisasi, di mana peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu titik berat pembangunan, pembenahan empat persoalan pendidikan tersebut wajar ditempatkan sebagai agenda utama. Diharapkan dengan pemberdayaan fungsi-fungsi pendidikan antara lain sebagai alat mencerdaskan kehidupan bangsa, penjaga persatuan dan kesatuan dan ‘kiat' untuk meraih kemajuan juga dapat mencapai kehidupan yang lebih. 
Di antara empat persoalan di atas, persoalan guru telah memenuhi persyaratan menjadi prisoalan krusial mendesak. Krusial mendesakdalam pengertian harus segera diatasi karena temyata telah menjadi sumber dari sekian persoalan lain. Sehingga bila ia dapat dipecahkan, sekian persoalan lain akan turut terselesaikan. Secara sederhana persoalan guru dapat diatasi dengan 'menembak' tiga sasaran masalah; kesejahteraan, motivasi profesi dan profesionalisme
1. Kesejahteraan Guru
Rendahnyakesejahteraan guru merupakan salah satu penyebab timbulnya beberapa persoalan pendidikan kita saat ini. Kita sering mendengar bagaimana seorang guru dengan terpaksa bekerja paruh waktu di tempat lain sekadar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bisa dibayangkan betapa sulitnya menjalankan profesi guru yang sebenaraya menuntut intensitas tinggi dengan kondisi demikian. Tanpa mengabaikan faktor lain, peningkatan taraf kesejahteraan guru memang harus dijadikan 'sasaran tembak' pertama upaya pember dayaan guru.
Rendahnya kesejahteraan guru disebabkan selama ini kalender gaji guru tidak genap 30 hari dalam satu bulan, tetapi, rata-rata, hanya tujuh hari. Secara langsung kita bisa m-mastikan pantas seorang guru harus berfikir keras untuk menutupi 23 hari lain; mungkin dengan mengajar lagi di tempat lain atau bahkan beralih profesi sementara. Tidak bisa diharapkan adanya kualitas dari pola penjalanan tugas guru yang sedemikian.
Untuk mengatasi hal tersebut periu upaya langsung pemerintah untuk menggenapkan kalender gaji guru menjadi penuh setiap bulan. Kita memaklumi ini adalah langkah yang cukup berat mengingat keterbatasan kas negara. Tapi karena secara nyata persoalan ini cukup krusial dan mendesak, maka langkah ini telah menjadi suatu keharusan.
Langkah lain yang cukup strategis untuk dilakukan sehubungan dengan peningkatan kesejahteraan guru adalah penyesuaian sistem administrasi. Selama ini guru diperlakukan dalam sitem administrasi yang sama dengan pegawai lain. Sehingga kenaikan karier guru didasarkan atas masa kerja dan ketaatannya sebagai pegawai negeri, bukan pada reputasi akademik dan kreativitas atau inovasinya. Padahal dari posisi, missi dan visi, guru sebenarnya membutuhkan sistem administrasi tersendiri yang lebih bisa menempatkan guru sebagai orang yang dinilai berdasarkan kualitas keguruan.
Bila hal ini berlanjut, kita tidak dapat berharap adanya karier guir uyang lebih kompetitif,tetap itetap dalam istilah ; 'bodoh atau pintar, malas atau rajin, sama saja'. Seiring dengan langkah di atas, pembenahan sistem administrasi akademik ini kita harapkan dapat selesai dalam waktu yang akan datang. Sehingga mutu guru terus meningkat sesuai dengan kemajuan pembangunan nasional.
2. Motivasi Profesi
Masalah kedua di seputar guru yang juga krusial dan mendesak untuk diatasi adalah motivasi profesi seorang guru. Saat ini banyak orang yang menjadi guru hanya karena 'dari pada tidak bekerja'. Padahal dengan motivasi yang lemah seperti ini tidak bisa diharapkan adanya tanggungjawab terhadap kualitas pendidikan.
Untuk itu perlu upaya-upaya yang dapat meluruskan motivasi masyarakat untuk memilih profesi guru atau tidak sama sekali. Seorang guru tidak dapat menjalankan tugas dengan balk jika dari awal morivasinya hanya karena 'daripada tidak bekerja'. Guru sebagai profesi bukan saja menuntut penguasaan keterampilan keguruan, tetapi juga menuntut tanggung jawab moral yang tinggi. Seorang guru akan menghasilkan keluaran pendidikan yang baik hanya apabila dalam waktu bersamaan ia bisa mengajar dan juga mendidik sekaligus. Dan semua itu dilakukan dengan penuh dedikasi, kecintaan, tanggung jawabdan seni. Untuk kepentingan pembangunan secara menyeluruh, seseorang tidak perlu menjadi guru bila bukan karena panggilan hati nurani.
Dalam hal ini, “pendidikan itu menyangkut hati nurani sebab manusia tidak bisa atau tidak mungkin dapat dididik dengan pengajaran melainkan harus disertai contoh perbuatan dengan demikian dapat kita nyatakan bahwa pendidikan lebih tnetnfokuskan pada pengembangan keperibadian sedangkan pengajaran lebih memfokuskan pada pengembangan Intelektualitas”.
Dengan mengatasi persoalan yang cukup mendasar ini, kita berharap semua gurudi masa-masa mendatang telah menjadikan profesinya sebagai pilihan utama yang menyatu dalam pandangan hidupnya, Dan dalam kondisi seperti inilah kita bisa menatap dunia pendidikan kita yang lebih cerah dihari esok.
3. Profesionalisme
Permasalahan keriga yang sama krusial dan mendesak untuk diatasi adalah mutu profesionalisme, Untuk menjadi seorang guru yang mampu menjalankan tugas dengan baik, di samping dibutuhkan 'ketenangan' karena kesejahteraan yang memadai, motivasi profesi yang mantap, juga dibutuhkan keahlian khusus.
Sementara ini, profesi guru belum dipahami sebagaimanaprofesi lain, seperti dokter atau insinyur. Profesi guru cenderung dipahami sebagai pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian tersendiri dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Dalam kenyataannya, untuk berdiri sebagai seorang guru yang baik, seseorang harus menguasai bukan saja materi yang akan diajarkan, tetapi juga metodologi, ilmu jiwa, ilmu komunikasi, dan sederet persoalan lain yang tidak kurang kompleksnya dengan yang dibutuhkan seseorang untuk profesional menjadi seorang dokter.
Melihat tiga persoalan krusial mendesak tersebut, pada dasarnya merupakan upaya pemberdayaan guru sehingga mampu kembali kepada kedudukan, martabat dan harkat yang sebenamya. Dalam kapasitas seperti itulah guru bisa menjalankan tanggung jawabnya sebagai prakusi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan dengan pemberdayaan guru, sebenamya, kita telah berhasil menyelesaikan sekian banyakpersoalan yang melingkupi dunia pendidikan kita. Keberhasilan tersebut turut menentukan keberhasilan Kabupaten Kerinci dan Bangsa Indonesia dalam era Modernisasi untuk men jadi bangsa yang maju dan mandiri