Sports

.
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2026

Membongkar Fakta yang Ditutup Rapat Demi Cap "Islam itu Terrorist"

 

Katanya Islam dan Muslim jadi biang kerok kekerasan, terorisme, dan segala macam kerusuhan dunia. Tapi mari kita buka catatan hitam sejarah dan statistik: siapa sebenarnya yang mencatat rekor kelam?


Negara dengan tingkat pelacuran tertinggi

1. Thailand (Budha)  

2. Denmark (Kristen)  

3. Italia (Kekristianan)  

4. Jerman (Kristen)  

5. Prancis (Kekristianan)  

6. Norwegia (Kristen)  

7. Belgia (Kekristianan)  

8. Spanyol (Kekristianan)  

9. Inggris (Kekristianan)  

10. Finlandia (Kristen)  


Mayoritas Kristen. Jadi, siapa yang sebenarnya jadi “raja prostitusi dunia”? Fakta ini bukan gosip, tapi data yang jarang diangkat. Ironisnya, dunia diam seribu bahasa, seolah-olah pelacuran itu hanya masalah “lokal” dan bukan aib global.


Negara dengan tingkat pencurian tertinggi

1. Denmark dan Finlandia (Kristen)  

2. Zimbabwe (Kekristianan)  

3. Australia (Kekristianan)  

4. Kanada (Kekristianan)  

5. Selandia Baru (Kekristianan)  

6. India (Hinduisme)  

7. Inggris dan Wales (Kristen)  

8. AS (Kekristianan)  

9. Swedia (Kekristianan)  

10. Afrika Selatan (Kekristianan)  


Lagi-lagi dominasi Kristen. Jadi, maling kelas dunia itu siapa? Kalau pencuri kecil di kampung ditangkap, heboh. Tapi pencuri kelas negara? Sunyi. Dunia pura-pura tuli.


Negara dengan tingkat kecanduan alkohol tertinggi

1. Moldavia (Kristen)  

2. Belarus (Kristen)  

3. Lituania (Kristen)  

4. Rusia (Kristen)  

5. Republik Ceko (Kristen)  

6. Ukraina (Kristen)  

7. Andorra (Kristen)  

8. Romania (Kristen)  

9. Serbia (Kristen)  

10. Australia (Kristen)  


Semua Kristen. Jadi, siapa yang mabuk sampai rusak generasi? Alkohol jadi budaya, tapi dampaknya: keluarga hancur, generasi lumpuh, ekonomi bocor. Tapi tetap saja, Muslim yang dituding “tidak beradab”.


Negara dengan tingkat pembunuhan tertinggi

1. Honduras (Kristen)  

2. Venezuela (Kristen)  

3. Belize (Kristen)  

4. El Salvador (Kristen)  

5. Guatemala (Kristen)  

6. Afrika Selatan (Kekristianan)  

7. Santa Kitts dan Nevis (Kristen)  

8. Bahama (Kristen)  

9. Lesotho (Kristen)  

10. Jamaika (Kristen)  


Mayoritas Kristen. Jadi, siapa yang paling hobi bunuh sesama? Angka pembunuhan ini bukan sekadar statistik, tapi jeritan manusia yang hilang nyawa. Dunia bungkam, tapi kalau ada konflik kecil di negeri Muslim, langsung dicap “barbar”.


Geng paling berbahaya

1. Yakuza (Tanpa agama)  

2. Agberas (Kristen)  

3. Wah Sing (Kristen)  

4. Bos Jamaika (Kristen)  

5. Pertama (Kristen)  

6. Persaudaraan Aryan (Kristen)  


Mayoritas Kristen. Jadi, siapa yang bikin dunia penuh geng kriminal? Mereka punya jaringan, punya senjata, punya bisnis gelap. Tapi tetap saja, label “teroris” dilempar ke Muslim.


Kartel narkoba terbesar

1. Pablo Escobar - Kolombia (Kristen)  

2. Amado Carrillo - Kolombia (Kristen)  

3. Carlos Lehder Rivas (Kristen)  

4. Griselda Blanco - Kolombia (Kristen)  

5. Joaquin Guzman - Meksiko (Kristen)  

6. Rafael Caro Quintero - Meksiko (Kristen)  


Semua Kristen. Jadi, siapa yang jadi “CEO narkoba dunia”? Mereka merusak jutaan anak muda, menghancurkan bangsa, tapi dunia masih sibuk menuding Muslim.


Fakta Sejarah yang Sering Disembunyikan

- Siapa yang memulai Perang Dunia I? Bukan Muslim.  

- Siapa yang memulai Perang Dunia II? Bukan Muslim.  

- Siapa yang menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki? Bukan Muslim.  

- Siapa yang membunuh hampir 20 juta penduduk asli Australia? Bukan Muslim.  

- Siapa yang membunuh hampir 100 juta penduduk asli Amerika di Amerika Selatan? Bukan Muslim.  

- Siapa yang membunuh hampir 50 juta penduduk asli Amerika di Amerika Utara? Bukan Muslim.  

- Siapa yang menculik lebih dari 180 juta orang Afrika, 88% mati di laut? Bukan Muslim.  


Dan inilah ironi paling telanjang:  

Kalau Non-Muslim melakukan teror, pembantaian, atau kejahatan massal, dunia menyebutnya “crime”, kejahatan biasa.  

 Tapi kalau Muslim berjuang mempertahankan diri dari penindasan, langsung dicap “terrorist”.  


Label ini bukan sekadar kata, tapi senjata propaganda. Dunia digiring untuk percaya bahwa terorisme identik dengan Islam, padahal fakta sejarah dan statistik berteriak sebaliknya. Bukankah ini konspirasi yang dirancang rapi, dengan tujuan membungkam suara perlawanan?


Mari berhenti menelan propaganda mentah-mentah. Dunia damai bukan lahir dari stigma, tapi dari keberanian membongkar fakta. Mari bersatu, vokal, dan berjanji: membangun dunia dengan kerukunan, cinta, dan kasih sayang — bukan dengan label palsu dan propaganda murahan.  










Senin, 23 Februari 2026

Kursi Kehormatan berubah Menjadi Kursi Jagal,. Indonesia Terjebak Karena Salah Langkah

 

Putar ulang video itu. Perhatikan bagaimana Trump memberi arahan kepada Prabowo. Lihat mimik, ekspresi, dan gesturnya—ada rasa tidak dianggap setara, seolah duduk di kursi besar tapi tetap diperlakukan sebagai bawahan.  


Di situ, marwah Indonesia seakan runtuh. Derajat bangsa direndahkan, terlebih ketika keinginan Trump dikabulkan begitu saja. Semua permintaan Trump seolah wajib dipenuhi, seakan negara kita sudah digiring penuh ke kandang, tanpa daya menolak. Celakanya, daging impor pun masuk tanpa sertifikat halal. Ini bukan sekadar dagang, melainkan racun yang menggerogoti identitas bangsa, meracuni rakyat dengan produk non-halal, dan menampar marwah yang seharusnya dijaga.  


Inilah yang disebut terjelabak karena salah langkah. Bangsa yang tergesa-gesa mencari pengakuan bisa terjebak dalam ilusi kehormatan. Seperti pekerja yang merasa naik kelas ketika diajak makan malam oleh cukong besar. Ia mengira sudah setara, duduk sejajar dengan para konglomerat. Namun di meja itu, justru ia dipermalukan, disuruh ini-itu, sebagaimana kacung di perusahaan.  

Bangsa yang salah langkah diplomasi akan mudah terjebak dalam jebakan psikologis: bangga karena duduk di meja besar, padahal kursi itu bukan tanda kesetaraan, melainkan tanda bahwa kita adalah santapan utamanya. Kebanggaan semu seringkali lebih berbahaya daripada hinaan terang-terangan. Kursi di jamuan makan malam bisa jadi bukan kehormatan, melainkan jebakan. Sama seperti tikus yang tergoda keju di perangkap: manis di awal, maut di ujung.  


Indonesia harus belajar bahwa diplomasi bukan sekadar foto bersama atau kursi di meja besar. Diplomasi adalah menjaga marwah, memastikan setiap keputusan tidak menggadaikan identitas bangsa. Salah langkah kecil bisa berujung pada terjerumusnya harga diri nasional. Bangsa yang ingin dihormati tidak boleh tergoda oleh simbol semu. Jangan bangga hanya karena mendapat kursi di jamuan makan malam. Jangan terjebak dalam ilusi kesetaraan. Kehormatan sejati bukan datang dari undangan, melainkan dari sikap tegas menjaga marwah bangsa.  

Tinggal kita rakyat untuk hati-hati menempatkan diri. Sehari-hari kita pun telah terbelenggu oleh jeratan premanisme kapitalis. Negara kita seolah kehilangan kedaulatan, diinjak oleh kekuatan modal yang tak mengenal batas. Kedaulatan negara kita terinjak, dan mau tidak mau, kondisi ini menyerupai perangkap raja kartel narkoba di Amerika Selatan. Sekali berada dalam lingkaran kartel, berarti menggadaikan Nyawa: keluar pun sulit, ujungnya terancam mati. Bahkan jika sempat keluar tanpa izin, kita akan jadi buruan, siap dieksekusi dengan mutilasi—harga diri dikoyak, ruang hidup dipersempit, dan kedaulatan bangsa dipatahkan.  


Apa yang kita saksikan adalah buah dari diplomasi yang gagal. Diplomasi yang seharusnya menjadi seni menjaga marwah bangsa justru berubah menjadi seni menggadaikan kepentingan. Skill diplomasi yang lemah membuat bangsa mudah dipermainkan, ditekan, dan akhirnya kehilangan posisi tawar. Diplomasi yang gagal bukan hanya soal perjanjian dagang atau kursi di meja besar, melainkan soal mentalitas bangsa yang rela tunduk demi pengakuan semu. Ketika diplomasi dijalankan tanpa ketegasan, hasilnya bukan kehormatan, melainkan keterjebakan. Bangsa yang lemah dalam diplomasi akan selalu menjadi objek, bukan subjek. Ia akan diperlakukan sebagai pelayan, bukan mitra. Ia akan terus terjerat dalam lingkaran kapitalisme global, seperti buruan yang tak pernah bebas dari ancaman mutilasi politik dan ekonomi. Diplomasi yang lemah pada hakikatnya adalah diplomasi yang salah menempatkan kepentingan. Apa yang seharusnya menjadi garis merah kedaulatan bangsa justru diperlakukan sebagai komoditas tawar-menawar. Apa yang seharusnya dijaga sebagai marwah justru diletakkan di bawah meja, diperlakukan sebagai barang dagangan. Meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya adalah akar dari kegagalan diplomasi. Ketika kepentingan rakyat ditempatkan di bawah kepentingan asing, ketika kedaulatan negara ditukar dengan pengakuan semu, maka diplomasi berubah menjadi alat penjeratan. Bangsa kehilangan arah, rakyat kehilangan pegangan, dan negara kehilangan martabat.  


Oleh:  

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.







?

Minggu, 25 Januari 2026

Besarnya Peran Sahabat Berjiwa Pengkhianat, Sadisnya Pembantaian Lumumba, Tubuh yang diapus dari Sejarah

 

Tanggal 30 Juni 1960, Kongo seharusnya merayakan kebebasannya dari cengkeraman Belgia. Namun di podium Leopoldville, Raja Belgia Baudouin dengan seragam putihnya berpidato angkuh, memuji kolonialisme sebagai “karya jenius” leluhurnya. Kata-kata itu adalah racun yang menuntut rasa terima kasih atas puluhan tahun penderitaan. Patrice Lumumba, perdana menteri pertama Kongo, naik ke podium dengan tubuh kurus dan mata menyala. Ia mematahkan protokol, menyalakan bara perlawanan dengan pidato yang mengguncang dunia: “Kami tidak akan melupakan pembantaian, penghinaan, dan pukulan… Kami bukan lagi kera bagi kalian.” Sorak rakyat bergemuruh, tetapi bagi Barat, itu adalah gong kematian.  

Di Washington dan Brussels, Lumumba segera dicap sebagai musuh yang harus dilenyapkan. CIA menyiapkan racun dalam pasta gigi, Belgia menyiapkan uang suap, dan mereka menemukan pengkhianat sempurna: Kolonel Joseph-Désiré Mobutu, sahabat Lumumba sendiri, yang menjual darah bangsanya demi dolar Barat. Katanga, provinsi kaya uranium dan tembaga, dipisahkan oleh Moise Tshombe, boneka Belgia. Lumumba meminta bantuan PBB, ditolak. Ia berpaling ke Uni Soviet, langkah yang membuat Barat murka. Eisenhower memberi perintah dingin: “Singkirkan dia".


Lumumba ditahan, lalu mencoba melarikan diri menuju Stanleyville. Namun di Sungai Sankuru ia ditangkap. Tentara memukulinya dengan popor senapan, memaksanya menelan pidatonya sendiri—penghinaan yang lebih kejam daripada peluru. Ia dilempar ke penjara Thysville, tetapi kata-katanya masih membakar hati para penjaga. Belgia panik: kata-kata Lumumba lebih berbahaya daripada senjata. Maka mereka memutuskan: ia harus dikirim ke Katanga, ke mulut serigala.  

Pada 17 Januari 1961, Lumumba dan dua rekannya dipaksa naik pesawat menuju Katanga. Sepanjang penerbangan mereka dipukuli hingga wajah hancur, tak lagi dikenali sebagai manusia. Di Elisabethville, mereka dibawa ke Villa Brouwez. Para menteri Katanga bergiliran menyiksa mereka, sementara perwira Belgia berdiri dingin, menonton seperti penonton teater. Malam itu, di bawah sorot lampu mobil, regu tembak disiapkan. Maurice Mpolo dan Joseph Okito ditembak mati lebih dulu. Lumumba, setengah sadar, berjalan tertatih. Ia menatap algojonya tanpa penutup mata. Peluru menembus tubuhnya, mengakhiri hidup seorang pemimpin yang terlalu berani menantang imperium. Tubuh mereka dilempar ke lubang dangkal, seperti sampah yang harus segera ditutup tanah.  


Belgia takut: “Bagaimana jika kuburannya jadi tempat suci?” Maka mereka memerintahkan penghilangan total. Gerard Soete, komisaris Belgia, datang dengan gergaji besi dan drum berisi asam sulfat. Ia memotong tubuh Lumumba, melarutkannya dalam cairan mendesis, hingga dagingnya lenyap dalam bau busuk yang menusuk. Tulang yang tersisa ditumbuk jadi debu, disebar di jalanan. Tidak ada jasad, tidak ada nisan. Hanya ketiadaan.  


Namun satu bukti tetap ada. Soete menyimpan gigi emas Lumumba sebagai “suvenir,” seperti pemburu yang menyimpan kepala rusa. Selama puluhan tahun, gigi itu menjadi simbol betapa Barat memperlakukan manusia Afrika sebagai binatang buruan. Baru pada 2022, gigi emas itu dikembalikan ke Kongo. Sebuah peti kecil diarak layaknya raja yang pulang. Tetapi yang pulang hanyalah serpihan, bukan tubuh, bukan jiwa.  


Lumumba mati bukan hanya oleh peluru, tetapi oleh konspirasi Barat dan pengkhianatan sahabatnya sendiri. Tubuhnya dihapus dengan asam, tetapi kata-katanya tetap hidup sebagai peringatan: penjajah tidak hanya merampas tanah, tetapi juga berusaha menghapus ingatan.








Jumat, 16 Januari 2026

Khadafi DizalimiI Amerika. Diituduh Diktator, Setelah Dia Tiada,, Libya Jadi Neraka Dunia

 


Dengar nama Muammar Khadafi, apa yang muncul di kepala? Pemimpin nyentrik dengan baju mirip kostum film fiksi ilmiah? Diktator haus darah? Atau justru satu-satunya orang yang punya nyali untuk bilang “TIDAK” kepada bos-bos dunia. Mari kita bedah realitanya tanpa polesan.  


Libya pernah berdiri sebagai negara paling sejahtera di Afrika. Tahun 1969, negeri kaya minyak itu hanya membuat rakyatnya gigit jari karena hasilnya lari ke kantong asing. Khadafi datang, menendang pemain lama, dan berkata lantang: “Minyak ini milik rakyat Libya, bukan milik kalian!” Ia menolak tunduk pada blok Barat maupun Timur, memilih jalannya sendiri. Hasilnya, pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan standar hidup Libya menjadi yang tertinggi di Afrika. Di bawah Khadafi, Libya punya uang, harga diri, dan stabilitas.  

Namun keberanian itu membuatnya berhadapan langsung dengan Amerika. Dosa terbesar Khadafi bukan karena ia keras terhadap oposisi, melainkan karena ia terlalu berani menyentuh “dompet” dunia. Ia merancang mata uang Afrika berbasis emas dan berencana menjual minyak tanpa bergantung pada dolar AS. Itu berarti menantang sistem keuangan global yang menjaga dominasi Washington. Begitu ia mencoba memutus ketergantungan Afrika dari Barat, target langsung dipasang di punggungnya.  


Arab Spring 2011 menjadi pintu masuk. Amerika bersama NATO datang dengan dalih melindungi warga sipil. Kedengarannya mulia, tetapi hasilnya justru tragis. Khadafi dibantai di jalanan, dan setelah ia mati, Libya bukannya menjadi surga demokrasi, melainkan neraka dunia.  

Hari ini, Libya terpecah belah. Pemerintahan ganda di timur dan barat saling berebut legitimasi, sementara milisi bersenjata menguasai jalanan. Perang saudara tak pernah selesai, ekonomi hancur, dan minyak yang dulu menopang kesejahteraan kini jadi rebutan kelompok bersenjata serta asing. Rakyat hidup dalam ketakutan, anak-anak tumbuh di kamp pengungsian, dan pasar budak modern kembali muncul di abad ke-21. Tripoli dan Benghazi bukan lagi simbol kemakmuran, melainkan wajah kehancuran.  


Khadafi memang bukan malaikat. Ia otoriter, menyingkirkan oposisi, dan narsis luar biasa. Tetapi ia adalah fondasi yang menahan Libya agar tidak runtuh. Begitu fondasi itu dihancurkan tanpa pengganti yang jelas, negara ikut ambruk. Dunia menyebutnya diktator gila karena ia menolak tunduk, padahal kenyataannya ia dizalimi karena berani melawan sistem yang dikendalikan Amerika.  


Libya hari ini menjadi saksi nyata: sebuah bangsa yang pernah sejahtera hancur setelah pemimpinnya dijatuhkan. Khadafi bukan sekadar diktator, ia adalah simbol perlawanan yang dibayar dengan nyawa.  



Kamis, 15 Januari 2026

Video Negara Paling Kacau dan Berbahaya "HAITI", Hancur Gara-Gara Terikat Hutang dan Korban Adu Domba

 

Dulu Haiti adalah mutiara Karibia. Negeri tropis yang subur, pelabuhan yang ramai, dan tanah yang kaya menjadikannya pusat impian semua orang. Ia berdiri gagah sebagai negara pertama di kawasan itu yang merdeka dari kolonialisme, simbol kebebasan yang menginspirasi dunia. Namun kejayaan itu perlahan memudar. Kemerdekaan yang diperoleh dengan darah justru dibalas dengan utang besar kepada Prancis, dan sejak itu Haiti berjalan dengan rantai di kaki.  


Hutang itu menjelma menjadi kelaparan, sekolah yang runtuh, rumah sakit tanpa obat, dan jalanan penuh geng bersenjata. Setiap kali Haiti mencoba bangkit, hutang kembali menekan. Setiap kali rakyat berharap, hutang kembali menutup pintu masa depan. Negeri ini terseret arus, dan akhirnya tenggelam dalam adu domba.  

Di tengah jerat hutang, tekanan asing—terutama Amerika Serikat—semakin memperparah keadaan. Intervensi politik, embargo, dan dukungan pada rezim yang lemah membuat rakyat Haiti tak pernah benar-benar berdaulat. Setiap kali Haiti mencoba berdiri sendiri, tangan asing kembali menekan, dan rakyat menjadi korban permainan geopolitik.  


Lebih parah lagi, para pemimpin Haiti sendiri justru sibuk dengan fanatisme buta, mudah terpedaya janji asing, dan tenggelam dalam jiwa korup. Mereka lebih sibuk memperebutkan kursi kekuasaan daripada menyelamatkan rakyat. Negeri yang dulu pusat impian kini berubah menjadi panggung tragedi: rakyat kelaparan, geng bersenjata menguasai ibu kota, anak-anak direkrut paksa, dan petani diusir dari ladang.  


Puncak kekacauan terjadi ketika presiden Haiti, Jovenel Moïse, dibunuh pada 7 Juli 2021 di rumah pribadinya. Peristiwa itu mengguncang dunia dan menegaskan betapa rapuhnya negara ini. Pembunuhan seorang kepala negara bukan hanya tragedi politik, tetapi juga simbol runtuhnya otoritas negara. Sejak saat itu, Haiti benar-benar kehilangan arah. Pemerintahan lumpuh, geng bersenjata mengambil alih, dan rakyat semakin terjebak dalam ketakutan.  


Kini, Port-au-Prince bukan lagi ibu kota, melainkan arena perang geng. Pemerintah hanya bayangan, hukum hanya kata-kata. Yang nyata adalah senjata, api, dan pelarian. Jenazah bergelimpangan sudah menjadi pemandangan biasa, jalanan penuh darah dan ketakutan. Lebih dari sejuta orang mengungsi, mencari aman yang tak pernah ada.  


Haiti adalah peringatan keras bagi dunia. Ia menunjukkan bahwa sebuah bangsa bisa runtuh bukan hanya karena perang besar, tetapi karena bahaya hutang yang dibiarkan menjerat terlalu lama. Hutang membuat negara kehilangan kedaulatan, membuka pintu intervensi asing, dan memberi ruang bagi pemimpin yang lemah, fanatik, dan korup untuk terus bergantung pada pinjaman. Pemimpin yang mengandalkan hutang bukanlah penyelamat, melainkan penggali lubang yang semakin dalam. Dari negeri yang dulu makmur dan menjadi pusat impian, kini Haiti berdiri sebagai simbol negara paling kacau dan berbahaya di dunia.  



Oeh : Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd


Sabtu, 10 Januari 2026

Pola Membunuh Ala Modern — Dari Senjata Misterius ke Drone Mini Berbasis Data Pribadi

 

Perang di era modern tidak lagi bergantung pada jumlah pasukan atau keberanian di medan tempur. Pola membunuh kini berubah. Teknologi dijadikan algojo, algoritma dijadikan hakim, dan data pribadi dijadikan senjata.  


Kesaksian pengawal Nicolás Maduro menjadi alarm keras. Mereka berdiri tegak, lalu tiba‑tiba tubuh diguncang oleh sesuatu yang tak terlihat. Suara keras menghantam telinga, kepala terasa meledak dari dalam, darah muncrat dari hidung, beberapa muntah darah, dan tubuh roboh tak bisa bergerak. Itu bukan peluru, bukan bom, melainkan senjata misterius yang menghantam dengan gelombang suara. Serangan itu dingin, cepat, dan presisi—membuktikan bahwa manusia bisa dilumpuhkan tanpa sempat melawan.  


Namun bagi saya, yang lebih mengerikan bukan sekadar senjata misterius itu. Masa depan perang ada pada drone mini. Drone kecil, nyaris tak terdengar, bisa dikirim langsung ke sasaran. Ia tidak menembak kerumunan, melainkan satu orang yang sudah dipilih algoritma. Dan algoritma itu bekerja dari data pribadi. Nama, alamat, lokasi GPS, kebiasaan harian—semua jejak digital yang kita tinggalkan bisa berubah menjadi peta eksekusi.  


Inilah inti kejamnya: data pribadi dijadikan senjata untuk menentukan siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati. Drone mini tidak lagi sekadar mesin terbang, ia adalah algojo modern. Ia membaca data, memilih target, lalu mengeksekusi. Privasi runtuh, manusia berubah menjadi titik koordinat. Hidup dan mati ditentukan bukan oleh hakim, bukan oleh takdir, melainkan oleh algoritma dingin.  


Amerika sudah menunjukkan contohnya. Serangan drone di Timur Tengah menewaskan target individu yang dipilih dari daftar data. Operator duduk ribuan kilometer jauhnya, menatap layar, menekan tombol, dan dalam hitungan detik sebuah rudal kecil menghantam mobil atau rumah. Tidak ada pertempuran, tidak ada perlawanan. Hanya satu orang yang dipilih untuk mati, sementara dunia di sekitarnya tetap berjalan seperti biasa.  


Kisah di Yaman menjadi contoh dramatis. Seorang pria bernama Anwar al‑Awlaki, warga negara Amerika sekaligus ulama radikal, dijadikan target. Data pribadinya dikumpulkan: lokasi, komunikasi, kebiasaan. Drone dikirim, rudal ditembakkan, dan ia tewas seketika. Tidak ada pengadilan, tidak ada proses hukum. Hidup dan mati ditentukan oleh algoritma dingin yang membaca data.  


Kisah lain datang dari Pakistan. Drone menargetkan rumah yang diyakini menjadi tempat persembunyian militan. Data lokasi GPS dan komunikasi elektronik dipakai untuk memastikan siapa yang ada di dalam. Rudal ditembakkan, rumah hancur, dan belasan orang tewas. Di antara korban, ada anak‑anak dan warga sipil yang tidak pernah tahu mengapa mereka harus mati.  


Inilah pola membunuh era modern: manusia dijadikan titik koordinat dalam daftar eksekusi. Senjata misterius bisa melumpuhkan pasukan dalam sekejap, sementara drone mini berbasis data pribadi bisa memburu individu dengan presisi. Perang bukan lagi soal keberanian di medan tempur, melainkan soal siapa yang dikejar algoritma. Hidup bisa berakhir bukan karena bom atom, tetapi karena data pribadi yang bocor.  


Pola ini dramatis, kejam, dan dingin. Ia menunjukkan wajah perang yang tidak lagi manusiawi. Teknologi menjadi algojo, data pribadi menjadi peluru, dan algoritma menjadi hakim. Dunia harus sadar: ketika privasi runtuh, hidup manusia bisa runtuh bersamanya.  


 Oleh: 

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.  


Senin, 05 Januari 2026

LSM Payung Suara Rakyat yang Diakui Dunia, Makanya Saya Gabung LSM

 


Hak berdemo adalah hak konstitusional setiap warga negara. Ribuan perangkat desa, mahasiswa, buruh, hingga tukang ojek sudah berulang kali turun ke jalan, menyuarakan aspirasi mereka. Namun, suara itu sering hilang ditelan angin. Kasus tragis seorang pengemudi ojek yang ditabrak kendaraan berat saat aksi, misalnya, lenyap begitu saja tanpa jejak. Nyawa rakyat kecil seakan tidak cukup penting untuk dicatat dalam sejarah.  


Sebaliknya, ketika seorang aktivis LSM bersuara, dunia bisa bergetar. Kasus Munir adalah bukti paling nyata. Aktivis HAM yang diracun hingga meninggal dalam perjalanan udara itu bukan hanya menjadi luka bangsa, tetapi juga catatan sejarah internasional. Hingga kini, namanya tetap disebut, kasusnya tetap dikaji, dan dunia tetap menyorotinya. Satu suara dari LSM bisa mengguncang dunia, sementara ribuan suara rakyat biasa bisa hilang begitu saja.  


Memang harus diakui, sebagian oknum aktivis LSM pernah dicap buruk: ada yang dianggap hanya mencari proyek, ada yang dituduh punya kepentingan tersembunyi. Namun, fakta yang tak bisa dibantah adalah suara LSM resmi tetap didengar hingga hari ini. Stempel legalitas dan legitimasi internasional membuat satu suara dari LSM bisa mengalahkan ribuan suara perangkat desa, mahasiswa, dan buruh yang berteriak di jalan. Dunia lebih percaya pada suara yang datang dari organisasi resmi, bukan sekadar massa tanpa payung hukum.  


Di sinilah pentingnya bergabung ke LSM. Hak berdemo memang bukan monopoli LSM, tetapi legitimasi mereka membuat suara lebih diperhitungkan. Rakyat berdemo sah secara hukum, namun sering dianggap tidak berkapasitas. Kalau kamu bukan LSM, suaramu tidak akan didengar dunia. Demonstrasi rakyat kecil bisa lenyap begitu saja, sementara satu suara dari LSM bisa menjadi sejarah internasional.  


Makanya saya memilih bergabung ke LSM. Bukan karena ingin sekadar berorganisasi, tetapi karena saya ingin suara saya tidak hilang. Saya ingin jeritan rakyat kecil yang sering diabaikan bisa terdengar lebih keras, lebih jelas, dan lebih berpengaruh. Dengan bergabung ke LSM, saya berada di bawah payung legitimasi internasional, terlindungi oleh jaringan advokasi, dan punya akses ke panggung global.  


Bergabung ke LSM bukan sekadar pilihan, melainkan strategi perjuangan. Dengan bergabung, suara rakyat kecil tidak lagi tercecer, melainkan terorganisir dan terlindungi. LSM memberi akses advokasi, jaringan hukum, media, dan politik. Mereka mampu menjembatani jeritan lokal dengan panggung global. Sejarah membuktikan: dunia lebih mudah mendengar suara yang datang dari LSM.  


LSM adalah payung suara rakyat. Mereka punya mandat moral untuk menjadi garda terdepan, apalagi ketika suara rakyat sering tenggelam. Demonstrasi bukan sekadar turun ke jalan, melainkan simbol keberanian menyuarakan kebenaran. Jika rakyat ingin aspirasinya tidak lenyap, maka bergabung ke LSM adalah langkah strategis. Karena dunia tidak akan mencatat semua jeritan di jalan, tetapi akan selalu menyorot suara yang datang dari LSM.  


- “Ribuan kades, mahasiswa, buruh berteriak, tapi dunia diam. Satu suara LSM resmi, dunia langsung menoleh. Makanya saya gabung LSM.”  

- “Oknum boleh dicap buruk, tapi suara LSM resmi tetap Suaranya akan didengar dunia. Maka dengan Gabung LSM, biar suara kita tak hilang.”  





Senin, 01 Desember 2025

Jenjang Menjadi Advokat di Indonesia: Dari Sarjana Hingga Gelar Adv. Sebagai APH

 

Oleh: 

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.

Profesi advokat adalah profesi hukum yang memiliki kedudukan penting dalam sistem peradilan Indonesia. Advokat berperan sebagai penegak hukum yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab menegakkan keadilan berdasarkan hukum. Untuk sampai pada tahap resmi menyandang gelar Adv., seseorang harus melalui jenjang panjang dan terstruktur sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat.


1. Latar Pendidikan Tinggi Hukum

Tahap pertama adalah pendidikan tinggi hukum.  

- Pasal 2 ayat (1) UU Advokat: yang dapat diangkat sebagai advokat adalah sarjana berlatar belakang pendidikan tinggi hukum.  

- Penjelasan Pasal 2: mencakup Sarjana Hukum, Sarjana Syariah, Sarjana Kepolisian, dan program lain yang kurikulumnya memuat mata kuliah hukum.  

Dengan demikian, jalur advokat terbuka bagi lulusan hukum maupun syariah, termasuk saya sebagai Sarjana Hukum Islam (S.HI.).

2. Mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA)

- Wajib diikuti oleh calon advokat.  

- PKPA adalah pendidikan profesi yang.biasanya di Laksanakan oleh Fakultas Hukum di Perguruan Tinggi Ilmu Hukum bekerja sama dengan Organisasi Advokat.

- PKPA  adalah penyetaraan Ilmu dengan mempelajari semua cabang hukum: pidana, perdata, tata negara, administrasi negara, bisnis, internasional, hingga hukum syariah.  

- PKPA juga menekankan hukum acara, etika profesi, dan teknik beracara.  

- Tujuannya: agar calon advokat siap menangani segala jenis perkara hukum, tanpa dibatasi latar belakang cabang hukum yang dipelajari di bangku kuliah.  

- Sertifikat PKPA menjadi syarat mutlak untuk mengikuti Ujian Profesi Advokat (UPA).  


3. Ujian Profesi Advokat (UPA)

- Pasal 3 ayat (2): setelah PKPA, calon advokat wajib lulus ujian profesi.  

- Ujian ini menguji kemampuan hukum acara, materi hukum, dan etika profesi.  

- Hanya mereka yang lulus UPA yang dapat melanjutkan ke tahap magang.  

4. Magang di Kantor Hukum

- Pasal 3 ayat (3): calon advokat sebelum di sumpah di angkat menjadi Advokat, wajib magang sekurang-kurangnya 2 tahun di kantor advokat.  Kecuali memiliki persyaratan tertentu yang berkaitan dengan hukum. 

- Magang adalah tahap paling panjang dan krusial. Selama dua tahun, calon advokat belajar praktik langsung: menyusun berkas perkara, menghadiri persidangan, dan menangani klien di bawah supervisi advokat senior.  

- Tahap ini membentuk keterampilan praktis sekaligus integritas.  


5. Syarat Umur

- Pasal 3 ayat (4): calon advokat harus berusia sekurang-kurangnya 25 tahun pada saat pengangkatan.  

- Syarat umur ini menegaskan bahwa profesi advokat menuntut kedewasaan, bukan hanya kecakapan akademis.  


6. Pengangkatan dan Sumpah Advokat

- Pasal 2 ayat (2): pengangkatan dilakukan oleh organisasi advokat.  

- Pasal 4 ayat (1): sebelum menjalankan profesi, advokat wajib bersumpah di Pengadilan Tinggi sesuai domisili.  

- Setelah sumpah, advokat resmi berhak berpraktik di seluruh wilayah Indonesia dan menyandang gelar Adv.  

7. Hak Beracara di Semua Pengadilan

- Pasal 5 UU Advokat: “Advokat berhak memberikan jasa hukum di seluruh wilayah Republik Indonesia untuk semua perkara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”  

- Artinya, setelah menyandang gelar Adv., seorang advokat berhak beracara dan membela klien di:  

  - Pengadilan Negeri (perkara pidana dan perdata umum)  

  - Pengadilan Agama (perkara perkawinan, waris, dan sengketa syariah)  

  - Pengadilan Tata Usaha Negara (sengketa administrasi pemerintahan)  

  - Pengadilan Militer (perkara yang melibatkan anggota TNI)  

Hak ini berlaku nasional, tidak terbatas pada domisili atau cabang hukum tertentu.  


8. Imunitas Advokat

- Pasal 16 UU Advokat: “Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik untuk kepentingan pembelaan klien di sidang pengadilan.”  

- Imunitas ini adalah perlindungan luar biasa yang diberikan negara kepada advokat.  

- Maknanya:  

  - Advokat bebas menyampaikan argumentasi hukum, fakta, dan pembelaan tanpa takut dikriminalisasi.  

  - Selama dilakukan dengan itikad baik, advokat tidak bisa digugat atau dipidana atas pernyataan maupun sikapnya di persidangan.  

  - Imunitas ini menjamin advokat dapat menjalankan peran sebagai “penyeimbang” dalam sistem peradilan.  

9. Advokat sebagai Aparat Penegak Hukum yang Setara

- Pasal 5 ayat (1) UU Advokat menegaskan: “Advokat adalah penegak hukum yang bebas dan mandiri yang dijamin oleh hukum dan peraturan perundang-undangan.”  

- Kedudukan advokat setara dengan hakim, jaksa, dan polisi dalam sistem peradilan.  

- Kesetaraan ini penting agar advokat dapat menjalankan fungsi kontrol, menjaga keseimbangan, dan memastikan hak-hak warga negara terlindungi di hadapan hukum.  


Penutup

Jenjang menjadi advokat adalah proses panjang: pendidikan tinggi hukum → PKPA → UPA → magang 2 tahun → usia minimal 25 tahun → pengangkatan → sumpah → gelar Adv..  


Setelah resmi menyandang gelar Adv., seorang advokat memiliki hak penuh untuk beracara di semua pengadilan di Indonesia, memperoleh imunitas luar biasa, dan diakui sebagai aparat penegak hukum yang setara dengan hakim, jaksa, dan polisi. Inilah keistimewaan profesi advokat: bebas, mandiri, dilindungi undang-undang, dan berperan menjaga keadilan.  





Selasa, 07 Oktober 2025

Ketika Dunia Menolak Menyerah: Aksi Heroik di Jembatan London

 

London — Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, sebuah momen sunyi nyaris berubah menjadi tragedi. Seorang pria berdiri di tepi jembatan, kalah dalam pertempuran batin yang tak terlihat oleh siapa pun. Ia siap untuk melepaskan segalanya. Namun, dunia menolak membiarkannya pergi.


Tanpa aba-aba, sekelompok pejalan kaki bergegas maju. Mereka tak mengenal pria itu. Tak tahu namanya. Tapi mereka tahu satu hal: hidupnya tak boleh berakhir di sini. Mereka meraih lengannya, kemejanya, apa pun yang bisa mereka pegang. Selama hampir satu jam, mereka mencengkeramnya erat, berbicara lembut, menawarkan harapan, menolak membiarkan kegelapan menang.


Lihatlah tangan-tangan itu—bergetar, berkeringat, namun tak pernah melepaskan. Kekuatan bukan dari otot, tapi dari cinta yang tak bersyarat. Kepedulian yang lahir bukan dari hubungan darah, melainkan dari nurani yang masih hidup. Orang-orang asing, terikat bukan oleh persahabatan, melainkan oleh rasa kemanusiaan yang sama, berdiri di antara hidup dan mati, menjadi benteng terakhir dari harapan yang nyaris padam.


Pada akhirnya, bantuan profesional tiba. Ia ditarik kembali ke tempat aman—karena ketika ia sangat membutuhkannya, dunia hadir dengan tangan terbuka. Dunia yang mungkin tak pernah ia percayai, kini memeluknya tanpa syarat.


Inilah wajah kemanusiaan. Beginilah rupa harapan.  

Penghargaan setinggi-tingginya untuk Veraxa, yang merekam bukan hanya kejadian, tapi denyut nadi kemanusiaan itu sendiri.



Minggu, 25 September 2022

Gambaran Mindset Masyarakat Indo Vs Swiss

 


 

Rabu, 06 Juli 2022

Usaha Tidak Akan Bertahan Lama Tanpa Inovasi

 

 Sebuah bisnis tidak akan bertaha lama bila tidak ada inovasi baru. Contohnya sekarang harga barang di online saja udah hancur. 

Semua orang bisa import dan jualan banting harga. Mau bikin branding butuh waktu 1 - 3 tahun supaya barangnya laris manis. Amunisi or modal nya kuat gak ? 🤣🤣 

Biaya iklan juga semakin mahal.. dan ujungnya nett profit makin tergerus. 

Nanti... solusinya adalah.. BALIK LAGI KE OFFLINE kok. 

Orang belanja di online akan sampai di titik jenuh.. kebanyakan pedagang ngandalin segala cara buat :

1. Teken harga ke pabrik buat harga murah.. kualitas ga penting.. ujungnya custumer di korbankan. 

2. Semua orang bisa import bahkan produksi barang.. ujung" nya.. siapa yang bs jual ke custumer langsung.

3. Satu high income skill aja gak akan cukup kedepannya, Thailand baru" ini kebanjiran orang asing yang apply menjadi warga negara.. hayooo lo... kompetisi sama orang china daratan & india 😅😅. Sorry bukan mau SARA. 

4. INFORMASI semakin luas dan pemain gede udah turun langsung ke custumer, baik itu produk maupun jasa akan selalu di banding" kan untuk menekan harga jual. 

Contohnya.. 

Ada barang yang di negara asal... modalnya 480 ribu, dan di market place indonesia harga jualnya 500 rb. Sadis banget kan.. untung cuma 20 rb. 

Ongkos import nya gimana ?  Biaya karyawan dll gimana? 

Yaaaa.. pada akhirnya.. siapa yang bisa lebih dulu mendapatkan informasi mengenai barang baru akan merasa di atas angin. 

Gak perlu sombong deh... sekarang bisa dominasi market.. dan merasa udah pinter.. hehe. Roda itu berputar bro... elo gak akan selalu selamanya di atas. 

Gaya dagang orang glodok efektif cuma 1 - 3 putaran doank kok.. selebihnya.. mesti cari lagi winning produk . 

Contoh : 

Import pena yang lagi hits.. 1 container - margin bersih 40 % - barang sold out dalam 2 - 4 minggu. 

Import pena kedua .. 1 container lagi.. margin bersih 40% - barang sold out dalam 1 - 2 bulan. 

Waktu mau masuk container ketiga.. sudah ada pemain gede lain yang berani jual dengan margin 10-20%. Akhirnya apa ? Sakit hati... terpaksa jual modal buat matiin bisnis tetangga. 

Dalam hati berkata.. lumayan.. masih untung 80% dari 2 container awal. 

Kenyataannya.. LUMANYUN 😜😜.. 

Kenyataan di lapangan profit 80% ini.. ketika bayar operational, sewa dll hanya cukup 6 - 12 bulan. Hutang belum terbayarkan mandek, karena harganya udah hancur di pasaran. 

Akhirnya.. cari winning produk lagi.. teken harga ke pabrik lagi.. dan terjadi berulang ulang.. tanpa tahu sampai kapan 😅😅. 

Belajar bersyukur.. bukan dari kata" yang keluar dari mulut tetapi dari diri yang paling dalam.

Makanya sekarang gua sudah gak mau pusing lagi.. kalo emang bukan rezeki.. ya sudah.. cari lagi. 

Karena saya orang indonesia... akan selalu ngomong.. untung saja.. koneksi pabrik saya banyak.. punya skill ini dan itu.. jadinya gak pusing untuk urusan cari sesuap nasi buat di makan. 🤝🤝

Orang yang beneran PUNYA SKILL.. kalo mendadak kehilangan pekerjaan, banyak orang yang mau partner sama dia.

Sumber: Ricky Sen

Koko ceplas ceplos ... bukan cocot maupun motivator. cops fi kit dari pengusahahahhha


Selasa, 13 Desember 2016

"GIVE AND YOU WILL BE GIVEN"..DENGAN MEMBERI, MAKA KAMU AKAN DIBERI.

 
Belum lama ini Saya menyaksikan tayangan film di layar televisi, film jedar-je-dor yang Saya suka. Ceritanya mudah dicerna, apalagi untuk ukuran manusia seperti Saya, yang disodori film Matrix terus ngeloyor pergi meninggalkan Televisi (TV) setelah kira-kira empat puluh lima menit ditayangkan, gara-gara ndak mudeng sama sekali. Dengan tingkat intelektualitas kocrot itu, yaa... paling enak menyaksikan film jedar-jedor atau roman.
Meminjam istilah teman Saya, roman yang picisan. Saya terima saja karena kenyataannya Saya memang demikian meski sungguhnya teman Saya itu malah sedang menjalankan petualangan cintanya yang picisan juga.
"Yooo... bedo tho no. Sana layar lebar, sini punya kan kenyataan. Bagaimanapun picisannya, ya... bedo no. Ruwet dan membuat mumet, sampai jadi kerasa ndak picisan," katanya menjelaskan.
Saya yang mendengarnya ya... manut saja. Meminjam istilah te­man Saya yang lain. "Aaaaatur... saja."
Pengecut
Di salah satu adegan dalam film di layar televisi itu, si penjahat lari menghindari tembakan sang penegak kebenaran alias pak polisi.


"Ooo... menegakkan saja, ya? Belum tentu menjalankan toh?" celetuk teman Saya.
"Waaah..., kalau begitu, aku yo iso. Cuma menegakkan saja tho, gampang," lanjutnya. "Lha wong menegakkan yang lainnya saja Saya bisa kok," tambahnya lagi.
Saya menegurnya untuk tidak menyelak cerita Saya. "Oh..., maap, maap. Terus, terus...," balas-nya.
Kemudian Saya melanjutkan cerita itu. Si polisi gagal menembak si penjahat karena ia berlari di antara kerumunan orang banyak yang sedang berseliweran. la terlepas dari peluru yang diarahkan kepadanya karena sang pe­negak kebenaran (dan sedang menjalankan kebenaran) tak bera­ni mengambil risiko kalau-kalau pelurunya malah menghujam salah satu ma­nusia yang se­dang berseliweran itu. Jadi, si penjahat terlepas dari maut dengan menggunakan manusia berseliweran itu sebagai tameng perlindungannya.
la cerdik. Namun, ada suara di nurani Saya yang berdendang. Si penjahat memang cerdik, tetapi (seperti Yahudi saja) ia sangat egois dengan meminta perlindungan orang lain untuk menyelamatkannya. Dan, yang terutama, ia cuma berani jadi penjahat, tetapi tak berani membayar harga sebagai penjahat. la minta orang lain membayarnya (Emang Yahudi udah kikir serakah lagi).
Dan, itulah Mungkin Anda. Si penjahat cerdik sekaligus pengecut itu. Kini Saya mengerti mengapa saat Saya melihat adegan itu nurani Saya seperti disinggung. Tampaknya Saya sedang diperlihatkan bagaimana Kita hidup selama ini. Bukan hanya mencari perlin­dungan dari orang lainnya, tetapi masalah yang lebih fatal, Kita tak berani membayar harga untuk apa yang Kita perbuat. ; Kita mau menabur kejahatan, tetapi malas menuai hasilnya. "Hari gini, minta tolong orang saja ya, bo" celetuk teman Saya. Saya mengingatkan sekali lagi un­tuk tidak lagi menggunakan kata ba, bo, ba, bo.
"Take and (never) give"
Contohnya Kita memesan Rakitan Komponen Komputer di salah satu Pemilik Toko Komputer. Kita minta tolong diselesaikan dalam waktu tidak terlalu lama karena Kita membutuhkannya untuk membuat tugas yang sebenarnya bukan dadakan. Hanya saja, Kita lupa memasukkan ke dalam agenda dan pada dasarnya Kita kadang memang manusia pelupa. Sang Pemilik Toko Komputer menyelesaikan sesuai dengan jadwal yang Kita kehendaki. Masalahnya kemudian, Kita tidak membayar sa­at Rakitan Komponen Komputer pesanan itu selesai.
Dengan sejuta alasan, Kita baru membayar akhir bulan. Kita memaksa orang lain menyenangkan Kita, tetapi Kita sama sekali tak berkeinginan membayar harganya dan menyenangkan orang lain (emang Yahudi Loe..!!!).
Sama seperti penjahat dalam film itu, Kita egois. Kita tak per­nah mau melatih diri berpikir bagaimana seandainya Kita yang giliran jadi Pemilik Tokonya. Kita tak pernah bercita-cita terpikirkan pun tidak untuk punya gaya hidup memberi (give) dan menyenang­kan orang, tetapi Kita selalu memelihara gaya hidup mengambil (take). Barang Sendiri Dipeliti, punya orang dimaui “kikir dan serakah, ghitu….”.
Dan, dengan Saya sebagai Professional komputer, sang Pemilik Toko hanya berkata, "Ndak papa, Mas. Bener gak papa."
Kejadian seperti itu juga terjadi bila Kita berbisnis dengan orang lain. Terutama saat bicara soal pembayaran, Kita selalu minta keringanan. Kalau bisa, ba­yar dua kali, dua bulan, dua tahun, bahkan berutang. Namun, kalau terlambat Menjahit Baju Bola, misalnya, Kita bisa berteriak seperti orang yang membayar tepat waktu. Kita sampai lupa akan rasa malu. "Memang sana punya kemaluan?" singgung teman Saya.
Bersama teman-teman, Kita sedang mempersiapkan 'bisnis ecek-ecek. Bahkan Kitalah yang paling bermulut besar akan menjadikan bisnis ini begini dan begitu. Harus buat ini dan buat itu, harus promosi ke- sana-kemari. Tiba saatnya semua harus dilaksanakan, Kita lupa pembicaraan mulut be­sar itu berujung duit dan kerja keras. Terpaksa kemudian dibekukan sementara waktu karena Kita malas membayar harga untuk mengeluarkan dana terlalu banyak dan harus ke sana-kemari. Janji tinggal janji…..Capee dech….
"Macet, panas, terus mesti jualan pula. Malaslah yaao...," sindir teman Saya. Apa boleh buat, saya hanya mengangguk saja.
Kita mengaku sebagai umat Beragama, tetapi ma­las membayar harga de­ngan sejuta  dos and don'ts-nya yang terdapat da­lam buku suci nan tebal itu. Terus, paling gampang Kita akan katakan, Kita manusia    biasa,  penuh  dengan kelemahan. Kita memang manusia bi­asa. Biasa tak mau membayar harga dan biasa melemahkan diri, maksudnya. Itu mengapa Kita susah mengasihi musuh Kita, apalagi diperintahkan berdoa untuk mereka yang menganiaya Kita. Padahal, ajarannya demikian. Kita malas membayarnya. Terlalu mahal. Kita tak kuat kemahalan. Mau pakai kartu kredit lebih dari platinum pun tak terbayarkan.
Kita mau minta perlindungan pihak lain (baca: Sang Khalik), tetapi Kita tak pernah berkeinginan memiliki gaya hidup seperti yang diingini-Nya.
Di tengah segala kejahatan Kita, cita-cita masuk surga tak per­nah hilang. "Sana maunya masuk surga, tetapi enggak mau jadi manusia taat. Maksudnya?" tanya teman Saya.
"Maunya sesuai sama jidat lo saja, sih. Ya, tak?" lanjutnya lagi. Acara ceramah A.A.Gym biasanya adalah acara favorit Kita bahkan sampai sebelum acara favorit itu berlangsung, Kita masih bisa melakukan dosa, supaya bisa dirapel semuanya, terus jadi merasa "bersih" lagi dan terus buat dosa lagi sekeluar dari halaman rumah ibadah ka­rena sudah ada ruang kosong untuk tempat dosa.
"Flashdisssk... kali," celetuk teman Saya.

1. Saya diingatkan salah satu klien Saya, bila mau berbisnis, harus dipikir masak-masak. Maksud Kita bukan ma­sak bisa, masak susah, masak gitu sih. Maksudnya pikirkan matang-matang, terutama harga yang harus Kita bayar saat memutuskan memulai bisnis. Katanya lagi, jangan mengejar obral janji. Kalau Kita tak mampu dari awal mernbayar harganya, jangan coba-coba "berutang".
2. Nasihat kedua dia, jangan jadi pengecut. Kata dia, kalau Kita mau terjun dengan benar dalam bisnis, jangan setengah-setengah. Itu sama dengan perkawinan, katanya. Ka­lau Kita sudah memutuskan menikah, berbesar hatilah menanggung segala risikonya. Jangan susah sedikit terus mau selingkuh atau mau cerai. la malah mengingatkan janji sehidup semati dalam susah dan senang.
"Lo janjinya sama Tuhan, Iho," katanya. "Jangan cuma mau hartanya saja," lanjutnya menasihati.
Wah... memang Kita senang sekali dengan nasihatnya yang kedua ini. Pertama, sebagian dari Kita umumnya belum pernah memutuskan menikah. Terpikirkan saja tidak. Terlalu ma­las membayar harganya. Kedua, berjanji sehidup semati pun be­lum pernah juga. Yang per­nah, malah Kita hidup dan orang lain mati.
"Benar juga ya, Yung. Seekor anjing, artinya cuma sa­tu anjing. Jadi, sehidup, cu­ma satu yang hidup. Waduh... lo emang pinter banget, deh. Ngomong-ngomong, otaknya buatan mana, Mas?" celetuk teman Saya.
3. Nasihat terakhir dari klien Kita itu adalah jangan menyuruh orang lain membayai harga yang seharusnya menjadi tanggung jawab Kita.
"Itu kurang ajar namanya," katanya. Kita lalu bercerita, Kita sedang mau belanja, uang tak ada, kemudian memakai kartu kredit. Jadi, Kita mau gaya, tetapi orang lain yang disuruh bayar duluan. Akhir bulan baru Kita bayar.
"Belum tentu. Malah mungkin lo cuma bayar batas minimumnya," katanya lagi. Teman Saya dari perbankan nye-letuk, "Karena itu, kami ada untuk Anda."
4. Beberapa hari lalu Saya dinasihati Guru Akrab saya dulu waktu Sekolah, Kalau seseorang membayar harga, artinya sesuatu harus dikeluarkan, baik berupa uang ataupun tindakan Dengan membayar itu Kita akan menerima kembali apa yang sudah Kita keluarkan.
"Kalau lo berutang, misalnya, dan lo berniat mengembalikan, lo akan merasa lega. Perasaan lega itu adalah imbalan yang kembali ke lo dan orang akan memberi penilaian bahwa lo orang yang bisa dipercaya," katanya menjelaskan.
Apabila Kita tak mau membayar harga, jadi Kita menahan uang atau tindakan yang harus Kita keluarkan, maka imbalan yang baik tak akan datang kepada Kita. "Kalau lo enggak bayar utang, maka bank atau debet collector akan mengejar lo," katanya lagi.
Jadi, menurut dia, dengan satu kalimat disimpulkan demikian. “Give and you will be given” DENGAN MEMBERI, MAKA KAMU AKAN DIBERI.

Senin, 05 Desember 2011

Pembangunan Tergantung Sumber Daya Manusia

 
Oleh :
Yan Salam Wahab

Politisi Senior Era akhir Orde Baru
Sumber Daya Manusia Hal yang sangat Utama

depan bakekatnya adalah harapan. Suatu harapan bukan mustahil untuk diwujudkan, Visi Pemerintah mencoba, merumuskan gambaran masyarakat bangsa yang dibarapkan untuk sebuah daerah modern. Bagaimana cita-cita Pemerintah dan Rakyat  itu dapat diwujudkan?. Sangat tergantung pada SDM.
Bagaimana masa depan yang dicita-citakan pemerintah menurut Visi ke depan?. Visi pada hakikatnya merupakan cita-cita untuk mencapai kehidupan masyarakat yang maju, mandiri, sejhtera dan berkeadilan. Konsepsi visi itu untuk mempermudah masyarakat mengerti dan mengingatnya, juga merupakan penggambaran secara lebih kongkret dari masyarakat masa depan yang sedang kita tuju.
Selain itu Visi pemerintah ke depan memungkinkan kita untuk membuat ukuran-ukuran keberhasilan Visi itu memiliki landasan yang kuat, yang telah memuat kaidah-kaidah dasar. Misalnya kaidah dari rakyat untuk rakyat yang sekarang dikenal dengan people centre development.
Dalam bidang ekonomi kita juga telah memiliki panduan demokrasi ekonomi yang mendasarkan pada kemitraan antara yang kuat dengan yang lemah. Prinsip ini merngarah pada terciptanya keadilan ekonomi dan pemerataan.
Yang harus dilakukan pemerintah agar visi ideal itu diterima berbagai kalangan, sosialisasi visi ini akan sangat menentukan. Karena sebagai pusat kekuasaan, Pemerintah dituntut dapat merealisasikan visi ini dengan baik. Segenap jajarannya harus mampu tampil dengan bahasa yang jelas dan sama dalam memasyarakatkan. Hal ini akan mendorong partisipasi masyarakat secara luas.
Visi ideal itu dapat diwujudkan untuk mencapai cita-cita seperti terkandung dalam Visi Pembangunan Daerah diperlukan sumber daya manusia yang memadai. Masalah SDM ini, secara normatif telah memiliki dasar yang kuat. Ini, misalnya, tampak dalam skala prioritas pembangunan dalam ke depan yakni bidang ekonomi seiring dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Ini berarti dari segi komitmen politik sudah sangat kuat Hanya saja memang masih perlu terus ditingkatkan pelaksanaannya.
Sesungguhnya kunci dari upaya pencapaian visi Kabupaten Kerinci adalah ada pada kualitas sumber daya manusianya. Sebab yang ingin kita raih adalah masyarakat madani yang maju, mandiri, sejahtera dan berkeadilan. Semua hasil pembangunan sarana dan prasarana fisik pada hakekatnya adalah untuk manusia. Dan Kabupaten Kerinci dalam bidang pembangunan sumber daya manusia mempunyai peluang yang sangat besar dengan potensi Rakyat-Nya. Tinggal mengelola secara terarah dan benar sehingga muncul Masyarakat yang handal dan profesional.
Untuk memeningkatkan kualtias SDM mengakibatkan tantangan ke depan semakin berat. Globalisasi di bidang budaya sangat sulit diantisipasi. Apalagi kemampuan masyarakat kita baik dari segi tingkat pendidikan maupun ekonomi masih beragam. Sebagian ada yang sudah sangat maju dan sebagian lain masih tertinggal. Kondisi ini tentunya memerlukan penanganan bidang pendidikan yang sesuai.
Penulis melihat perlunya desentralisasi di bidang pendidikan agar kemampaun lembaga pendidikan lebih merata dan sesuai dengan kepentingan daerah. Hanya saja desentralisasi pendidikan itu tetap memberikan porsi pada kurikulum nasional yang bermuatan persatuan dan kesatuan. Disamping itu sudah saatnya untuk memperbanyak pendidikan kejuruan yang berorientasi pada kebutuhan pasar kerja. Dari segi anggaran memang perlu ada komitmen berupa pemberian porsi yang lebih memadai bagi bidang pendidikan.
Selain itu, perlu dibuat pembagian tugas antara pihak pemerintah dengan swasta dalam mengelola pendidikan. Misalnya pemerintah lebih berkonsentrasi pada pendidikan dasar hingga menengah, sedangkan pihak swasta pada pendidikan menengah keatas. Pembagian konsentrasi akan dapat saling menunjang satu dengan lainnya.

Sabtu, 03 Desember 2011

Pandangan pihak Akademisi sebagai Salah Satu Solusi Untuk Kerinci.....

 
Oleh :
Prof. Dr. H. Anas Yasin, M.A 
(Tokoh Masyarakat Kerinci Sumbar, Guru Besar di UNP Alumni USA)
 
Tulisan ini ditujukan untuk anggota kelompok facebookers "Melihat Sebuah Diskriminasi Prov.Jambi kpd Kerinci & Kota S.Penuh" dan siapa saja yang ingin mengembangkan daerah Kerinci.dengan halaman..... http://www.facebook.com/groups/233213243359024
I.         Pendahuluan.
Saya selalu mengikuti komentar-komentar di dalam group ini yang berisi keluhan. Setelah mengikuti dan membaca secara teliti saya menyimpulkan bahwa yang dikeluhkan pada umumnya adalah keluhan tentang (1) diskriminasi Prov. Jambi terhadap Kab. Kerinci dan Kodya Sungaipenuh, sesuai dengan nama kelompoknya, (2) Kinerja Pemerintah Kabupaten Kerinci dan Kodya Sungaipenuh yang di dalamnya terkandung pernik-pernik ketidak adilan, korupsi, dsb, dsb ... . Dari apa yang dapat saya pahami, semua komentar berbentuk "pernyataan hipotetis" yang berdasarkan pada asumsi dengan menggunakan logika hubungan: "Jika begini ..., maka begini ...", baik asumsi negatif maupun positif.
Saya berada di luar Kerinci, tepatnya di Universitas Negeri Padang. Saya tidak memperkenalkan diri terlalu banyak, baik di face book maupun di media internet lainnya, karena kadang-kadang akan diinterpretasikan lain oleh "banyak orang". Sebagai putra Kerinci, saya merasa tergugah juga dengan adanya forum di FB ini namun tentunya saya tidak secara gegabah memberikan pendapat tanpa nalar yang kuat. Saya sampai bertanya kepada diri saya yang sudah cukup lanjut usia: "Apa yang dapat saya sumbangkan kepada Kerinci, seagai orang yang banyak sedikitnya bergerak di bidang keilmuan". Saya sudah ikut membina daerah orang lain melalui sumbang saran di perguruan tinggi di mana saya mengajar; sudah pula ikut dalam memberikan saran-saran dalam dunia pendidikan (sesuai dengan bidang saya) secara nasional dan internasional. Namun entah kenapa saya merasa "rikuh" dan "ragu-ragu" melakukan ini untuk Kerinci karena (katanya) sukar sekali memberikan pendapat atau mewujudkan pendapat untuk Kerinci.
Dari komentar dan pendapat yang saya baca di FB, saya merasa ingin ikut menyumbangkan pikiran saya dalam mengembangkan daerah kita. Saya ingin melihat seberapa banyak pemerintah sudah berbuat sesuai rencana dan seberapa banyak yang belum terwujud. Yang saya punya HANYA teori tentang keilmuan, namun saya tidak punya keahlian dalam mewujudkan pembangunan tersebut. Namun bukankan apa yang ingin kita bangun seharusnya punya teori yang benar (dalam bentuk perencanaan secara umum, misalnya).
Dengan keterbatasan saya, saya "tidak berani" berbicara banyak di dalam face book yang sudah tercipta ini. Orang berkata: "Banyak putra Kerinci yang berada di luar daerah yang mungkin mempunyai konsep atau ide tentang bagaimana mengembangkan daerah Kerinci. Namun setelah menelusuri kemungkinan melalui pemuda dan pemuka masyarakat Kerinci, saya selalu terbentur pada masalah yang sudah berakumulasi di Kerinci sendiri sehingga (katanya) tak satupun ide atau pikiran yang dapat dijalankan untuk mengembangkan daerah Kerinci.
Ada prinsip komunikasi yang sebaiknya kita pedomani agar komunikasi kita efektif dan direspon secara positif oleh penanggap yang "concern" dengan tanggung-jawab mereka terkait dengan komentar yang kita berikan. Prinsip tersebut barangkali erat hubungannya dengan apa yang disebut "ARGUMEN". Apabila kita menyatakan sesuatu tanpa menghadirkan argumen yang jelas, pernyataan tersebut tidak mempunyai kekuatan di kalangan pembacanya sehingga komentar yang kita berikan kurang ditanggapi oleh orang yang merasa bertanggung-jawab terhadap isi komentar kita. Jika asumsi yang demikian kita munculkan di dapan umum, maka ada kemungkinan pernyataan kita akan "dihadang" oleh pembalas yang tidak suka dengan asumsi kita itu.
Namun hal yang positif yang perlu saya hargai di dalam diskusi melalui FB ini adalah anggotanya sudah memperlihatkan niat baik untuk membangun daerah kita. Anggotanya sudah mengeluarkan pendapat baik pendapat yang hanya sekedar menanggapi secara singkat, maupun menanggapi dengan serius. Jadi wadah yang seperti ini perlu kita dukung dan isilah dengan informasi-informasi tentang hal-hal yang positif dan yang negatif tentang apa yang telah dilakukan di daerah kita. Hendaknya jangan terlihat ada dua kubu yang sedang berdebat di media ini.
II.      Pemecahan Masalah
Ada satu teknis yang yang harus dimunculkan dalam bentuk pertanyaan "bersistem", yaitu meningkatkan "pernyataan-pernyataan" hipotetis ke "pertanyaaan" yang bersifat fenomenal. Dalam memberikan komentar, para "facebookers" sudah memulai dengan kalimat-kalimat pernyataan, baik yang positif maupun yang negatif. Sekarang kita tingkatkan PERTANYAAN menjadi PERTANYAAN dengan langkah:
1.      Pertanyaan kita mulai dengan pertanyaan "APA" masalahnya, kemudian
2.      BAGAIMANA terjadinya masalah tersebut,
3.      KENAPA masalah tersebut bisa terjadi, dan
4.      BAGAIMANA masalah tersebut bisa dipecahkan dengan cara yang lebih baik daripada yang sudah ada (dilakukan dengan membandingkan antara apa yang sudah dilakukan (pemerintah) dengan usulan yang kita miliki).
Saya berikan dua contoh nyata:
1.      "Apa" yang dilakukan pemerintah Kerinci (di manapun dia memerintah di wilayah Kerinci, apapun jabatannya)? Apakah yang mereka lakukan tersebut (positif atau negatif) sesuai dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkan, undang-undang yang berlaku. dsb. Pertanyaan ini selalu terkait dengan PROGRAM PEMBANGUNAN yang telah mereka laksanakan sesuai rencana.
2.      "Bagaimana" pemerintah melakukan PROGRAM tersebut. Pertanyaan ini bersifat evaluatif: Sudah sesuaikah apa yang dilakukan dengan perencanaan dan aturan yang berlaku? Tentu saja "evaluatornya" membutuhkan pengetahuan yang cukup untuk mengevaluasi (terkait dengan sistem evaluasinya dan produk yang dievaluasi) agar evaluatornya jangan salah nilai dalam melakukan evaluasi.
Catatan penting: (Perlu diingatkan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut melibatkan begitu banyak sektor pembangunan daerah yang patut diberikan "pernyataan" dan dan patut "dipertanyakan" (positif atau negatif). Anda sebagai orang yang bertanya harus mempersiapkan segala pengetahuan Anda sehingga apa yang Anda NYATAKAN dan TANYAKAN betul-betul akurat untuk tidak dinilai sebagai pernyataan yang lemah.)
3.      Kita perlu tahu penyebab masalah dengan harapan kita dapat menemukan solusi alam memecahkan masalah. Dalam mencari penyebab masalah tersebut, kita menggunakan pertanyaan: "Kenapa" masalah tersebut bisa terjadi? Jawaban yang kita harapkan adalah pernik-pernik yang akan menyita waktu kita para pemberi argumen untuk mencari fakta pendukung agar kita bisa berlanjut ke pertanyaan terakhir berikut ini:
4.      BAGAIMANA masalah tersebut bisa dipecahkan dengan cara yang lebih baik daripada yang sudah ada (dilakukan dengan membandingkan antara apa yang sudah dilakukan (pemerintah) dengan usulan yang kita miliki). Dengan demikian MASYARAKAT dapat melihat dengan nyata langkah-langkah yang kita lakukan dan tentu masyarakat mengharapkan hasil dari OMONGAN kita di FB ini.
Untuk point yang kedua: "Deskriminasi Prov. Jambi terhadap Kab. Kerinci dan Kodya Sungaipenuh, kita juga membuat langkah yang sama (Langkah 1 s/d 4).
1.      "Apa" yang telah dilakukan Prov. Jambi (baik yang positif maupun yang negatif) terhadap Kabupaten Kerinci sebagai bagian dari Prov, Jambi? Seperti di atas, apakah yang mereka lakukan tersebut (positif atau negatif) sesuai dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkan, undang-undang yang berlaku. dsb. Pertanyaan ini juga selalu terkait dengan PROGRAM PEMBANGUNAN yang telah mereka laksanakan sesuai rencana.
2.      (dan seterusnya)
Jawaban dari pertanyaan tersebut akan menghasilkan jawaban positif dan negatif. Jawaban tersebut harus dicari melalui penyelidikan dan penyidikan yang sempurna sehingga kita betul-betul dapat melihat bukti yang berbentuk fakta (sekali lagi, baik fakta positif maun negatif) baik alam bentuk angka maupun yang non-angka. Dengan fakta tersebut, kita tahu secara pasti berapa banyak pemerintah Kerinci telah berbuat hal-hal yang positif dan berapa banyak hal-hal negatif; apakah yang mereka lakukan sudah sesuai dengan PROGRAM yang disetujui oleh Wakil Rakyat dan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam mencari data, fakta dalam bentuk angka dan non-angka, besar kemungkinan kita akan mengahadapi kesulitan:
1)      Biaya
2)      pengetahuan
3)      teknik berkomunikasi
4 ) kesediaan pemberi informasi untuk memberikan informasi yang akurat.
Semua yang saya sampaikan di atas bisa dianggap pembaca sebagai teori belaka dan mendapatkan tanggapan yang "counter-productive", namun apa usaha masyarakat Kerinci dalam menembus "status quo" tersebut, sehingga segala sesuatu dapat berlangsung dengan DAMAI.
III.   Penutup
Langkah-langkah pertanyaan dan pemaparan pendapat seperti ini seharusnya kita buka pada forum ilmiah dan forum pembangunan baik secara regional maupun nasional yang melibatkan pakar-pakar dan orang-orang terkait yang ada di daerah maupun di luar daerah. Semoga tulisan ini tidak menjadi "tatapan mata" di facebook saja. Kita harapkan teman-teman dan kaum muda yang berbicara masalah pembanguna Kerinci memahami yang saya maksudkan di dalam tulisan singkat ini.
Padang, 4 Desember 2011
Hormat Penulis,
ttd.
Prof. Dr. H. Anas Yasin, M.A.





Jumat, 02 Desember 2011

Meningkatkan Masyarakat Sadar Hukum

 

Oleh :
YAN SALAM WAHAB
Negara kita adalah Negara berdasar atas hukum, tidak berdasar atas kekuasaan. Demikianlah penegasan didalam Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini berarti bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara Hukum. Negara Hukum menghendaki agar hukum ditegakkan, artinya hukum harus dihormati dan ditaati oleh siapa pun juga tanpa kecuali, baik oleh Warga Masyarakat maupun oleh Penguasa Negara, segala perbuatannya harus didasarkan kepada hukum. Sebagai Negara Hukum bertujuan menciptakan adanya ketertiban dan keamanan, keadilan dan kesejahteraan di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Di dalam Negara Hukum perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dijamin, dengan diiringi juga kewajiban asasinya. Setiap Warganegara mempunyai kedudukan yang sama dan wajib menjunjung tinggi hukum. Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak-pihak lain di luar kekuasaan Kehakiman dilarang, dalam arti bahwa Hakim dalam memeriksa dan mengadili perkara tidak boleh dipengaruhi oleh siapa pun juga.
Dalam membentuk masyarakat hukum "Pembinaan bidang hukum harus mampu mengarahkan dan menampungkebutuhan-kebutuhan hukum sesuai dengan kesadaran hukum  rakyat yang berkembang kearah  modernisasi  menurut  tingkat kemajuan pembangunan di segala bidang, sehingga tercapai ketertiban dan kepastian hukum ......dan Seterusnya". Pada umumnya orang berpendapat, bahwa kesadaran hukum yang tinggi mengakibatkan para warga masyarakat mematuhi ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Sebaliknya, apabila kesadaran hukum sangat rendah, maka derajat kepatuhan terhadap hukum juga tidak tinggi.
Dengan demikian, pendapat tersebut di atas berkaitan dengan berfungsinya hukum dalam masyarakat atau efektivitas dari ketentuan-ketentuan hukurn di dalam pelaksanaannya. Dengan lain perkataan, kesadaran hukum menyangkut masalah, apakah ketentuan hukum tertentu benar-benar berfungsi atau tidak dalam masyarakat. Misalnya, apabila di desa-desa di Kerinci dimana dilaksanakannya penyuluhan hukum pesertanya sangat minim, maka dapatlah dikatakan, bahwa kesadaran hukum dari warga desa-desa tersebut di bidang-bidang tertentu adalah rendah. Atau ketentuan hukum yang mewajibkan adanya masyarakat memahami hukum, tidak begitu berfungsi.
Masalahnya sekarang adalah, apakah soal kesadaran hukum adalah sesederhana sebagaimana dikemukakan di atas? Kiranya tidaklah demikian, oleh karena efektivitas atau berfungsinya hukum sangat tergantung pada efektivitas menanamkan hukum tadi, reaksi masyarakat dan jangka waktu menanamkan ketentuan hukum tadi. Misalnya, apa bila ada peraturan baru atau hukum-hukum yang yang sangat perlu di tekankan pada masyarakat, maka pertama-tama yang perlu adalah, umpamanya, pengumumannya melalui macam-macam alat mass-media. Kemudian, perlu diambil jangka waktu tertentu dimana ditelaah reaksi masyarakat. Apabila jangka waktu tersebut telah lampau, maka barulah diambil tindakan yang tegas terhadap para pelanggarnya. Apabila cara tersebut yang ditempuh, maka warga masyarakat akan lebih menaruh respek terhadap hukum (termasuk penegak dan pelaksana-nya).
Dengan demikian, maka masalah kesadaran hukum rakyat banyak, sebenarnya menyangkut faktor-faktor apakah suatu ketentuan hukum tertentu diketahui, diakui, dihargai dan ditaati. Apabila para warga masyarakat, hanya mengetahui adanya suatu ketentuan hukum, maka taraf kesadaran hukumnya lebih rendah daripada apabila mereka mengakuinya, dan seterusnya.
Seringkali terjadi suatu golongan tertentu di dalam masyarakat tidak mengetahui atau kurang mengetahui tentang ketentuan-ketentuan hukum yang khusus berlaku bagi mereka. Pengakuan masyarakat terhadap ketentuan-ketentuan hukum tertentu berarti bahwa mereka mengetahui isi dan kegunaan dari norma-norma hukum tertentu. Artinya, adanya suatu derajat pemahaman yang tertentu terhadap ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku.