Sports

.
Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Agustus 2024

MENGUPAS PERNIKAHAN DI HARI TUAMU, BAGI SEORANG PRIA

 


Normalnya orang akan Menanjak Karirnya di usia antara 35 - 45 tahun. Maka bagi yang telah  berusia 40 tahun sebenarnya sudah dapat melihat masa depannya nanti seperti apa, apakah Pernikahannya akan membawa manfaat di Hari Tua?  Usia 40 tahun adalah usia pencapaian maksimal sebagian besar orang. Ada satu dua yang berhasil di usia diatas 45 tahun, tetapi sangat jarang. 


Berikut ini Kenyataan dunia para Lelaki Tua yang sudah tidak bermanfaat untuk Istri dan Anak-anaknya. 


1. Seorang Suami yang telah bekerja  keras sepanjang hidupnya dalam membesarkan anak-anaknya dan sekarang usia menginjak 62 tahun.  Lelaki ini telah mengorbankan kesenangan hidupnya,  telah terampas habis untuk membiayai hidup keluarganya, tanpa memiliki Sisa uang Satu rupiahpun di rekening Tabungannya.


2. Kondisi Lelaki berbeda dengan kondisi seorang Istri, walau sudah renta,  berusia 60 tahun sudah tidak bisa berkarir lagi, sudah tidak bisa bekerja lagi, namun untuk seorang Perempuan Dia  bisa pindah ke Rumah anak-anaknya  tinggal bersama anak-anaknya dan tetap akan mendapatkan kasih sayang dari Anak-anaknya.  Namun TIDAK bagi seorang Bapak bisa tinggal bersama anak-anaknya.  Anak-anak bisa menyayangi Ibunya, tetapi TIDAK untuk Ayahnya.  


3. Penderitaan berikutnya bagi seorang Suami yang tidak mampu, akan merasakan pedihnya dimana  Anak-anaknya tidak pernah mengunjungi, tidak pernah sekedar menjenguk,  bahkan tidak pernah meneleponnya karena kesibukannya dan dihimpit kebutuhan hidup keluarga mereka sendiri.  Kondisi ini tidak berlaku untuk mereka yang memiliki  tunjangan pensiunan atau  memilili tabungan uang yang cukup di hari tuanya.


4.  Suami  Manula yang kurang mampu kebanyakan  berjuang  hidup dengan tekanan darah tinggi, dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan usia tua.  Berapa  tahun Dia bisa bertahan hidup  sendirian dalam situasi seperti itu? 


5. Inilah kenyataan yang  PASTI akan dihadapi oleh  sebagian besar laki-laki yang kurang menyadari dan tidak mempersiapkan Hari Tuanya di masa mudanya.  Mereka sering terasa sepi dan, bahkan lebih menyedihkan dari yang banyak saya lihat dimana-mana.


6. Sebaik apapun laki-laki kepada istrinya,  tetap saja Perempuan cenderung lebih menyayangi anak-anaknya dibandingkan suaminya. Sebaliknya Anak-anak akan lebih menyayangi Ibunya dari pada Ayahnya.     Semakin tua usia suami akan ditinggalkan oleh Istrinya untuk mengikuti anak-anaknya, karena si Suami sudah tidak bermanfaat lagi. Lalu,  Manfaat apa sesungguhnya Pernikahan bagi Pria?  


Pikirkan secara serius bagaimana agar tetap bermanfaat untuk Istri dan Anak-anak dihari tuamu nanti.  Miliki Aset-aset yang berharga dan Jaga aset-asetmu agar tetap dikelilingi oleh orang-orang tersayangmu. Saya cuma ngata saja.....

Jumat, 11 November 2022

Realita dalam Kehidupan Bermasyarakat

 

 

hubungan antar manusia sungguh kompleks dan ada banyak faktor di dalamnya. jangan takut kehilangan teman yg memang tidak bisa sefrekwensi dengan kita.

Tegaslah dalam menyatakan sikap dan jangan takut ditolak, kita harus siap dengan kenyataan yang ada, agar tidak larut dalam kecewa. Realitas hidup yg mesti anda sadari yaitu :


kalau seseorang sudah memilih memandang dirimu buruk, semua yang kamu lakukan akan diintepretasikan olehnya sebagai sebuah keburukan, buat apa kamu sibuk membuang energi meyakinkan orang yg memang sudah dasarnya tidak suka pada kamu. Hapus saja dia dari catatan hidupmu. Karena di dunia ini ada banyak orang yg masih menyukaimu & menginginkan kamu berkembang.


Bila orang atau teman mu, hanya mau menerima keunggulanmu & menolak kelemahanmu, berarti dia hanya ingin bertransaksi denganmu alias hitung²an untung rugi saja, bukan orang mau berjuang bersamamu. Ataupun kalau seseorang menganggapmu bukan siapa², bahkan setelah kau coba menunjukkan keberadaanmu, berhentilah berusaha mengesankan dia. sekalipun matanya menemukanmu tapi hatinya sedang tertutup untukmu. Dan mantabnya pertahankan saja penyakit itu kalau kamu senang di gituin.


kalau seseorang meninggalkanmu karena 1 hal yang dia anggap salah, setelah puluhan (bahkan ratusan) hal benar (yang sama besarnya) yang kau lakukan untuknya, maka mungkin sejak awal dia memang tak pernah mempedulikanmu.


Kalau dari awal mereka memang sudah tidak sefrekwensi. Bagai manapun kamu tidak akan mungkin terkonek, tidak akan mungkin terhubung sinyalnya sekuat apapun upaya mu. Di paksakan juga kamu berkompromi merendahkan hati, sampai² makan hati untuk bisa terhubung dengan mereka yg tak sefrekwensi, pada akhirnya pasti akan renggang juga. Nyamankah kamu dengan sinyal yg rusak dan noise itu?


Paling celaka, kalau sejak awal seseorang terkonek denganmu cuma karena apa yang bisa dia ambil darimu & bukan karena pribadimu, hanya tunggu waktu kamu yang muak, atau dia yang melepasmu saat selesai mengambil manfaat darimu. Aduh.


Itulah realita kehidupan dari sudut pandang negatiifnya yg perlu di sadari. Dari pandangan karakter bermasyarakat yg telah di teliti secara tidak ilmiah. Hanya kata saya...


Selasa, 27 September 2022

SIAPA ORANG-ORANG DI SEKELILING KITA. SEBAGAI PENENTU KESUKSESAN KITA

 

Besar, kecil, maju mundur.... tergantung lingkungan juga....Bukannya RASIS... tapi memang harus di pilih² juga tempat main, kawan dan orang² yg mesti di sekitar kita... 

Mengadopsi cerita tentang seorang bocah yang hendak membelah papan dengan kekuatan telapak kakinya! Namun mari kita alihkan perhatian sejenak dari si bocah, dan lihatlah bagaimana sang guru beladiri itu mendidik muridnya tentang kepercayaan diri....


Si bocah yang malang itu terjatuh pada tendangan pertama! Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang gurunya, seorang pendidik yang terus memberi semangat untuk bangkit kembali.....


Dalam keadaan semakin terpojok, dan gagal pada tendangan kedua dan ketiga kalinya, bocah mungil itu mulai menangis..... Alih-alih merasa iba dan menghentikan latihan, gurunya justru semakin meyakinkan bahwa ia pasti bisa....


Tak hanya guru, teman-teman di sekelilingnya juga meneriakkan namanya. Mereka semua bersorak membakar kemauan si bocah agar mencobanya sekali lagi.....


Maka dalam keadaan menangis ia melayangkan tendangan keempat dan masih tetap gagal. Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang orang-orang di sekelilingnya. ....


Mereka yang tak lelah menyemangati keberanian si bocah. Mereka yang sungguh-sungguh menginginkan agar ia mengeluarkan seluruh kemampuannya hingga batas tertinggi.....


Dalam lingkungan seperti itu, tentu si bocah mendapat energi baru untuk kembali mencoba. Ia bukan orang dewasa yang mengerti prinsip Never Give Up. Ia hanya seorang anak kecil. Keberanian itu semata-mata ia peroleh dari sekelilingnya. .....


Akhirnya tendangan kelimanya semakin kuat, dan ia mencoba lagi dengan kekuatan yang lebih tinggi pada tendangan keenam, hingga papan itupun terbelah dua.....


Si bocah berhasil... Dua keberhasilan sekaligus, membelah papan dan mengalahkan rasa tidak percaya dirinya.... Tetapi ini bukan tentang dia, melainkan tentang lingkungannya.....


Yaitu mereka yang berteriak gembira menyambut kemenangan si bocah. Yaitu mereka yang berhamburan memberi pelukan erat, seolah-olah mereka lebih bahagia melihat keberhasilan tersebut melebihi kebahagiaan si bocah.....


Kini kita harus percaya, bahwa lingkungan membentuk kita. Jika kita berada di tengah-tengah orang yang positif, hidup kita akan ikut terdorong lebih tinggi. Kelilingi diri Anda hanya dengan mereka yang bersedia mengangkat Anda tinggi-tinggi.... bukan lingkungan busuk hati yg menjatuhkan... 


Beruntungnya kalian yg dari awal sdh berada di sekeliling orang² positif yg menyemangati itu.... di banding saya yg berada di lingkungan orang² yg dalam otaknya selalu ingin menjatuhkan.. tapi untung aja kita udah dasar kuat kuat kuda²nya... meski sendirian tetap aja bisa naik tinggi meski di kroyok rame² oleh para pencundang dari segala penjuru... 😀



Buah dari Sebuah Kepercayaan

 


 "Hal Apa yang Sulit? Minjam Uang!". 

Kalau Ada Orang Ingin Meminjam Uang Padamu, 

Jawablah Seperti Ini…!

Orang yang mau meminjamimu uang, adalah pahlawanmu.

Apabila orang tersebut memberimu pinjaman tanpa syarat, maka  ia adalah pahlawan tertinggi di antara pahlawan- pahlawanmu yang lain.

Sampai saat ini, pahlawan seperti ini tidaklah banyak.

Jika  kamu sampai menemukan mereka, hargailah seumur hidupmu!

Orang yang bisa bersedia meminjamkan uang ketika kamu kesulitan, bukanlah karena ia punya banyak uang, tapi karena ia ingin menarikmu saat jatuh.

Yang dipinjamkannya kepadamu juga bukanlah uang, melainkan ketulusan, kepercayaan, dukungan dan kesempatan untuk kamu berinvestasi di masa depan.

Saya sangat berharap sobat- sobat sekalian jangan sekali- kali menginjak "kepercayaan", sekali orang lain kehilangan kepercayaan padamu, maka hidupmu pasti hancur!

Ingat, kepercayaan orang lain adalah harta seumur hidup!

Selain itu, tolong kamu catat perkataan di bawah ini:

1. Orang yang suka inisiatif mentraktir, bukanlah karena ia punya banyak uang, tapi karena ia memandang "pertemanan lebih penting" dari pada hartanya. 

2. Orang yang suka mengalah saat bekerja sama, bukanlah karena ia takut, melainkan tahu apa artinya "berbagi". 

3. Orang yang bersedia bekerja lebih keras dari orang lain, bukanlah karena ia bodoh, tapi karena mengerti apa artinya "bertanggung jawab".

4. Orang yang terlebih dulu minta maaf saat berdebat, bukanlah karena mengaku salah, melainkan tahu artinya "menghargai". 

5. Orang bersedia membantumu, bukan karena berhutang, tapi karena menganggapmu sebagai "teman".

Sudah berapa banyak orang yang tidak memperhatikan logika ini? Sudah berapa banyak orang yang menganggap pengorbanan orang lain adalah "hal yang semestinya"?

Bila orang tulus berjalan, ia akan jalan sampai ke dalam hati.

Bila orang munafik berjalan, cepat atau lambat ia akan ditendang sampai keluar dari pandangan orang lain!

Bila pertemuan di antara manusia adalah jodoh, maka hal yang diandalkan hanyalah ketulusan dan kepercayaan!

Kamu mau menjadi orang seperti apa, semuanya adalah pilihanmu dan karma mu sendiri 

Percayalah, hubungan antar manusia harus mengandalkan kepercayaan!

Terserah kamu mau pinjam uang atau tidak, yang terpenting kamu harus memberikan kepercayaan!

Salam Sukses Hebat Luar biasa..

  😇😇😇😇😇

Minggu, 25 September 2022

Gambaran Mindset Masyarakat Indo Vs Swiss

 


 

JANGAN BIASAKAN BERCANDA DENGAN PERASAAN DAN HARGA DIRI ORANG LAIN

 


Dua orang mahasiswa tengah berjalan santai di taman kampus, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang dan lusuh....


Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya....


Salah satu mahasiswa yg suka jail melihat kepada temannya dan berkata

"Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya" kemudian kita bersembunyi di belakang pepohonan. Nanti ketika dia datang, kita lihat bagaimana dia kaget serta cemas karena kehilangan sepatunya..."


Temannya itu menjawab.....

"idak pantas kita menghibur diri dgn mengorbankan org miskin". Kamu kan seorang yang kaya dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya..."

"Sebaiknya cobalah kamu masukkan beberapa  lembar uang kertas ke dalam sepatunya," kemudian saksikan bagaimana respons dari tukang kebun miskin itu?".....


Dia sangat takjub dengan usulan temannya... 

Dia langsung  memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu...... Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama temannya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun itu.....


Tak berapa lama datanglah tukang kebun itu, sambil mengibas-ngibaskan kotoran debu dari pakaiannya, dia menuju ke tempat dia meninggalkan sepatunya...... 


Ketika ia memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya.....


Saat ia keluarkan, ternyata, "uang..."

Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi "uang..."

Dia memandangi "uang" itu berulang-ulang seolah ia tidak percaya dengan penglihatannya.......


Iapun memutar pandangannya ke segala penjuru namun ia tidak melihat seorang pun.....


Sambil menggenggam uang itu lalu ia berlutut sambil menengadah ke langit ia berucap.....

“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah, Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang..."

"Wahai Yang Maha Tahu, istriku sedang sakit dan anak-anakku  kelaparan, mereka belum mendapatkan makanan hari ini"....

"Engkau telah menyelamatkanku, anak-anakku dan istriku dari penderitaan...”, melalui tangan² orang yg baik.. berkahilah kami dan orang² yg baik itu"........


Dengan kepolosannya dia terus menangis terharu sambil memandangi ke langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari "Allah Yang Maha Pemurah"...


Sang mahasiswa sangat terharu atas pemandangan yang dilihatnya dari balik persembunyian itu..... Air matanya berlinang tanpa dapat ia bendung.......


Sang kawan yang bijak berkata kepada temannya......

“Bukankah sekarang kamu 'merasakan kebahagiaan yg lebih" dari pada kamu melakukan ide pertama untuk menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”.....


Dia menjawab : "Aku telah mendapatkan pelajaran yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku.""......sambil.mengusap air mata....


Sekarang aku paham makna kalimat :

“Ketika kamu memberi,"kamu akan memperoleh "kebahagiaan yg lebih banyak" dari pada ketika kamu diberi”..... kawannya berkata "Ketahuilah bahwa "bentuk pemberian itu bermacam-macam".......


1. Memaafkan kesalahan orang di saat kamu mampu melakukan balas dendam,...adalah suatu "pemberian."......


2. Mendoakan teman dan saudaramu di belakangnya (tanpa sepengetahuannya) itu adalah juga ""pemberian"....


3. Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk,_ juga suatu "pemberian."......


4. Menahan diri dari membicarakan aib sesama kita di belakangnya_ adalah "pemberian" juga.......


Ini semua adalah "pemberian"......


Saya cuma mau mengatakan...... Marilah kita saling "memberi & berbuat baik" untuk.menjadi passion kita..... niscaya "hidup kita akan menjadi lebih indah.".......

Rabu, 10 Agustus 2022

Kisah Diskriminasi Sosial "Silent Member di Grup WA Keluarga"

 


Namaku Yudi, aku seorang guru honorer di sebuah SD. Gajiku sebulan hanya satu juta lebih sedikit. Sementara istriku Intan adalah seorang ibu rumah tangga yang menyambi berjualan kue kering secara online. 

Kehidupan kami amat sederhana tapi Alhamdulillah kami bahagia, tak pernah merepotkan oranglain apalagi sampai berhutang. Kami memiliki dua orang putri 8 tahun dan 4 tahun usianya. 


Keadaanku secara materi sangat berbanding terbalik dengan kedua kakakku. Kakak pertamaku namanya mbak Dewi seorang dosen di universitas terkemuka sedangkan suaminya menjabat sebagai dekan di tempat yang sama dengannya. Kakak keduaku laki-laki namanya Mas Doni dia bekerja di sebuah perusahaan asing dengan gaji fantastis. Mungkin bisa dibilang gajiku setahun pun tak akan ada apa-apanya dengan gajinya sebulan. 


Keluarga besarku rata-rata memang berasal dari kalangan terpelajar dan berada. Almarhum ayahku merupakan sulung dari lima bersaudara. Terlebih para sepupuku, pekerjaan mereka rata-rata menghasilkan rupiah yang fantastis. Ada Dela yang menjadi seorang pialang saham. Rudi yang menjabat manager di salah satu perusahaan IT dan masih banyak lagi sepupu-sepupuku yang lain yang memiliki prestasi dalam hal status sosial dan pekerjaannya. 


Hanya ada satu orang saja sepupuku yang taraf hidupnya sama sepertiku, hidup sederhana di perumahan 6x6. Namanya mas Irwan dia bekerja sebagai penjual madu dan herbal sementara istrinya memiliki usaha catering. Dari semua sepupuku dialah yang paling dekat denganku. Sering berkunjung ke rumah sambil membawakan aneka lauk masakan istrinya. Begitupun aku terhadap keluarganya juga sangat dekat. Mungkin kedekatan kami juga dipengaruhi dengan latar belakang strata sosial yang sama, tidak ada kesenjangan yang membuat kami merasa saling tak enak hati. 


Kami semua tergabung dalam grup WhatsApp keluarga. Bani Soejarwo namanya. Nama kakekku yang merupakan seorang purnawirawan. 


Lima saudara dari ayahku hanya bersisa dua orang, yakni adiknya yang nomor tiga namanya tante Lisa dan nomor lima namanya om Agus, sementara yang lainnya tlah berpulang. 


Di grup itu aku lebih sering diam, sangat jarang posting. Paling hanya berkomentar ketika para sepupuku memposting sesuatu. Sebisamungkin aku memberikan respon positif penuh apresiasi. Aku turut bahagia dengan kebahagiaan mereka. 


Saat mereka memposting foto liburan ke luar negri aku selipkan emoticon jempol dan juga kata penuh apresiasi.


 "Wahh MasyaAllah uda sampai ke Jepang aja nih .. disana lagi musim apa? Titip salam ya untuk bunga sakura. Selamat berlibur" 


Hingga suatu ketika untuk pertamakalinya aku memposting foto putri sulungku yang sedang mengikuti lomba tahfidz. Bukan atas keinginanku melainkan putriku sendiri yang memintanya agar keluarga besar mengiringi usahanya dengan doa, tidak ada maksud lain selain itu. 


Aku beri caption di foto itu

"Oma.. Opa dan Om Tante semuanya doain Alya ya, semoga diberi kelancaran dalam mengikuti lomba" 


Selang satu jam berlalu tak ada satu pun yang merespon foto itu, padahal hampir semua anggota grup tlah melihat postinganku itu. 

Lalu beberapa menit sebelum Alya naik ke pentas mas Irwan membaca pesan itu dan mengucapkan doa untuk Alya. 


"Semoga sukses ya ponakanku yang sholihah.." 


Sesaat kemudian kakak kandungku mbak Dewi pun mengucapkan hal yang sama. Mbak Dewi memang sangat baik orangnya, meski kaya raya dan berpendidikan tinggi dialah saudaraku seorang yang tak pernah memandangku rendah.


Selang 10 menit setelah Alya turun dari podium lomba. Tiba-tiba gawaiku berbunyi. Sebuah pesan masuk di grup keluarga. Rudi menampilkan foto kedua putranya yang sedang berseluncur diatas salju tanpa caption apa-apa. 


Dan tak perlu menunggu lama, semua anggota grup riuh mereply foto itu dengan penuh pujian.


"Duhh gantengnya cucu Oma"


"Wahh hebatnya ponakanku uda bisa berseluncur" 


"Wihh keren liburan ke LN lagi"


"Hebat anak Pak Rudi" 


"Dimana nih .. perasaan kemarin masih di Jakarta"


Dan masih banyak lagi.. 

Semua anggota grup itu hiruk pikuk mengapresiasi, demikianpun aku tak lupa aku sematkan kata 


" Masya Allah .. barakallah jagoannya Pak Rudi"


Putriku Alya mengintip gawaiku sambil bertanya.

" Om dan tante semuanya uda doain kesuksesan untuk Alya ya Yah?" 


Aku hanya mengangguk dan tersenyum sambil buru-buru kumasukkan gawai itu ke saku. 


"Iya sayang .. Alhamdulillah semuanya mensupport Alya"


Putriku tersenyum bahagia, sementara aku berusaha menarik nafas panjang agar rongga dadaku mengembang.


Sebenarnya ini bukan kali pertama terjadi di grup itu. Kejadian serupa pun begitu sering terjadi meski bukan aku yang alami. 


Seringkali ketika mas Irwan, sepupuku yang memiliki kehidupan sederhana sepertiku memposting sesuatu di grup itu maka grup akan hening tak ada yang mengapresiasi, hanya aku seorang yang mereply tiap postingannya. Padahal mas Irwan ini tipe orang yang baik pribadinya, tutur katanya sopan dan seringkali pula mengingatkan hal-hal penuh kebaikan. 

Mungkin karena kemuliaan akhlaknya itu sekalipun dia tak pernah dianggap di grup keluarga dia tak pernah sakit hati walau acapkali dicuekin tak pernah kecewa. Tak pernah berhenti menebar salam, sapa dan manfaat. 


Lain halnya jika yang memposting adalah mereka yang 'berada' maka yang lain akan berbondong-bondong mereply dan berbalas komentar dengan begitu renyahnya.

Saat aku menyadari bahwa grup itu memang tak sehat, sebenarnya aku malas tergabung di dalamnya, sebenarnya ingin keluar dari grup tapi  aku sungkan pada mbak Dewi yang tlah membuat dan memasukkan aku kedalamnya. Mas Irwan saja yang seringkali ngga dianggap masih selalu berdamai dengan keadaan dan tak henti menebar salam serta manfaat. 


Realita itu membuatku sadar diri, aku hanya menjadi silent reader disitu. Silent reader dalam artian tidak pernah memposting apa-apa, kecuali mereply kalimat apresiasi pada mereka yang memposting aktifitasnya. Bukan bermaksud bermuka dua, aku hanya berusaha menjaga hubungan sesama anggota keluarga. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga dari ayahku dan aku memiliki kewajiban untuk terus menyambung silaturahmi bersama mereka. 


***


Pernah suatu ketika aku berkunjung ke rumah Dela sepupuku yang merupakan anak tante Lisa. 


Aku datang mengendarai motor supra bersama istriku dan kedua putriku. Kami menempuh jarak sekitar 3,5 jam perjalanan. Istriku sangat antusias dan senang sampai-sampai semalaman dia begadang membuat pai buah, nastar dan stik keju untuk buah tangan. Ini adalah kali pertama aku dan keluargaku datang berkunjung ke rumah Dela sebab sebelumnya dia tinggal di luar negri baru beberapa bulan ini dia pindah dan menetap disini. 

Rumahnya begitu besar persis istana. Disamping rumah megahnya itu berjajar 3 mobil sedan mewah. 


Sesaat setelah mengetuk pintu seorang wanita muda membukakannya. Ternyata itu pembantu Dela dan dia bertanya siapa kami ini, setelah kami jelaskan bahwa kami sepupu Dela wanita muda itu menyuruh kami menunggu di kursi teras. 


Kami menunggu cukup lama, hampir satu jam. Putri bungsuku hingga merengek tak sabar minta pulang. Aku hibur dia supaya bersabar. Dan akhirnya Dela dan tante Lisa pun keluar. Aku suruh kedua putriku mencium tangan mereka. 

Istriku menjabat tangan mereka sambil mengulurkan tas karton berisi buah tangan yang tlah dia siapkan semalaman, Dela raih tas itu kemudian meletakkannya di samping pot bunga. Tak lama setelah kami mengobrol tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah memasuki halaman rumah Dela. Sesaat kemudian Rudi sepupuku anak sulung Om Agus keluar dari dalamnya. Ia tak datang sendiri tapi ditemani istri dan kedua putranya.


Dela dan Tante Lisa menyambut mereka dengan begitu hangat. Memeluk istri Rudi dengan erat dan menciumi kedua putranya. Sejenak Rudi menghampiriku dan kujabat tangannya. Kami mengobrol sebentar sambil berdiri di teras itu. Sementara kulihat tante Lisa dan Dela telah mengajak istri Rudi dan kedua putranya masuk  ke dalam rumah. Kulirik istri dan kedua putriku masih terdiam mematung di kursi teras tanpa ada seorangpun yang mengajak mereka turut serta masuk ke dalam. 


Setelah mengobrol ringan Rudi berpamitan untuk mengambil barang bawaannya dari mobil. Nampaknya dia membawa sebuah parsel berisi coklat mahal dari New Zealand. Dela meraih parsel itu dengan sumringah 


"Duhh kok repot-repot sihh bawain oleh-oleh sebanyak ini.. aduhh ini kesukaan anakku loh... Ayo Mas Rud masuk... Ntar lagi suamiku pulang kok dia masih ada meeting" 


Aku terdiam sambil menatap wajah istriku yang nampak tertunduk penuh kesedihan. Dia berusaha menyembunyikan kekecewaannya tapi aku bisa menangkap raut kecewa itu. 


Kami menunggu di teras barangkali si tuan rumah lupa bahwa masih ada kami 'tamu yang lainnya' yang belum sempat mereka persilahkan untuk masuk. 


Selang 20 menit kemudian nyatanya mereka tak ada keluar. Kami mendengar mereka sedang asyik mengobrol dan tertawa begitu hangat di dalam. 

Akhirnya kami memutuskan untuk berpamitan, saat ada pembantu Dela lewat kami panggil dia untuk menyampaikan kepada majikannya. 


Dela pun keluar sendirian tanpa tante Lisa. Aku pamit kepadanya dan istriku menjabat tangannya. 


Aku starter motor supraku yang terlihat butut itu. Sebuah motor yang rasanya tak pantas terparkir di depan rumah mewah berpilar bak istana. 

Saat kami hendak berlalu pergi dari halaman itu, aku sempatkan melirik dari spion motorku tas karton berwarna coklat dari istriku masih tergeletak di atas lantai samping pot bunga. Sedangkan Dela telah berlalu pergi masuk ke dalam istananya. Aku menghela nafas panjang sambil beristighfar dan berharap semoga Intan istriku tidak melihatnya.


Selang beberapa kilometer dari rumah Dela. Putri bungsuku berkata


"Ayah dedek haus sekali, tadi tante yang punya rumah kok ngga kasih kita minum ya? Apa di rumahnya ngga ada air?" 


Deg.. teriris rasanya dadaku

Bahkan segelas air pun tak mereka suguhkan pada kami yang nyaris 4 jam kepanasan naik motor di perjalanan. 


Akhirnya kutepikan motor bututku di sebuah minimarket. Aku belikan anak-anakku sebotol minuman dingin dan beberapa bungkus snack. 

Saat duduk di depam minimarket tiba-tiba gawaiku bergetar. 

Sebuah pesan WA dilengkapi beberapa foto tertampil di grup keluarga.


Tante Lisa menuliskan


"Ayo yang lain dimana nihh .. di rumah tante ada Rudi lagi nikmatin masakan tante, Dewi, Doni, Indah, Yona pada kemana nih?"


Yang dipanggil hanya mereka yang 'hebat' pastinya. 


Aku tutup gawaiku takut jika istriku mengetahui akan hal itu.


Semenjak saat itu aku semakin sadar diri bahwa mengakrabkan diri pada orang-orang yang salah hanya akan membuat dada terasa sesak. 

Adakalanya kita butuh jarak agar tetap bisa bernafas dengan lega. Terkadang kita tidak perlu melihat pemandangan diluar jendela sekalipun pemandangan itu begitu indah.


Aku tidak keluar dari grup WA keluarga  tapi aku nonaktifkan segala pemberitahuan darinya. Agar tak ada lagi celah dalam hatiku untuk merasakan sakit hati. Agar aku lebih menikmati hari-hariku yang indah dengan istri dan kedua putriku tanpa bayang-bayang rendah diri karena berada di tempat yang tak semestinya yakni grup WA keluarga.


Oleh : Septia DIS

Jumat, 29 Juli 2022

ARTI KEHIDUPAN

 

Aku sering berfikir… untuk apa aku hidup?








Mulai dari sebuah sekolah yang menanamkan disiplin dan kehidupan bermasyarakat.

 
Begitu banyak masa kecil yang tersita untuk belajar ….
 
 
Akhirnya mendapat gelar….


Aku  menambah antrian pencari kerja.....


Lowongan… lowongan… lowongan….
YAP!    Ini dia...


 Setelah beragam tes, masuk dalam daftar karyawan


Merintis karir dan profesionalisme




Tenggelam dalam tumpukan kerja.......



Mabuk, gila kerja, stresssss….



Tapi karirku menanjak dan aku menuai banyak UANG!



Waktu berlalu...


 
Ada target baru di sana... 


 
Sudah saatnya Bertemu belahan jiwa...

 
Tuk Arungi bahtera menuju mawaddah wa rahmah 



Peluang tuk Mendapat amanah... 

Ini dia, memperoleh impian generasi penerus yang diidamkan 
 
tiba2...???..Allaahu Akbar… kapan bisa tidur? (Jam dua belas malam niih…) 

  

Kamis, 07 Juli 2022

Alternatif Bisnis Untuk di Desa

 

 Hasil survei peluang bisnis mbak dan Om itu :

1. Di perumahan rakyat yg tipe 27-36, dan di dusun biasanya laku kalo jualan:

-air isi ulang

-warung sembako

-jualan gas

-warung nasi

-warung sayur

-bakso

2. Daerah yg deket perumahaan middle up, dan perumahan dusun yg bnyak pegawainya biasanya ada:

-minimarket

-laundry

-toko roti/kue

-penjual makanan

3. Daerah yg deket kampus atau perkantoran, biasanya ada:

-fotokopi

-rental komputer

-minimarket

-warung nasi

-toko atk/buku

-penjual makanan

4. Di dekat tempat wisata selalu ada:

-penginapan

-toko oleh²

Kalau yg lagi mikir mau usaha apa sekarang ini.. itu gambaran umumnya... jangan lagi ngikut² apapun gawe kami.... karena sudah terlalu banyak saingan.... nak ngikut juga.. cepat lah buat pengakuan yg di ikuti ini emang sudah dasarnya padek... bilang ampun suhu kayo memang padek .. silakanlah ikuti 😴😴😴

Selasa, 02 Maret 2021

Tidak ada makan siang yang gratis

 


 Sering kali kita mendengar beberapa istilah yang digunakan banyak orang untuk menyampaikan beberapa maksud/tujuan untuk kepentingan diri sendiri, tanpa diketahui orang banyak namun cukup berdaya ledak ultra massif sehingga banyak orang yang mau menuruti apa yang kita mau dengan sendirinya (sebenarnya ini merupakan cara pemaksaan paling halus yang pernah ada dikolong langit ini). 

There is no free lunch atau yang diterjemahkan secara bebas merupakan tidak ada makan siang yang gratis merupakan istilah dari dunia ekonomi yang berarti “tidak ada makan siang gratis” atau dalam bahasa Inggrisnya There no ain’t such thing as a free lunch digunakan untuk menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang cuma-cuma di dunia ini. Yang ada hanyalah subsidi silang. Awal ungkapan ini, di tahun 1872, New York Times menceritakan bahwa makan siang gratis muncul sebagai tren umum di Crescent City (New Orleans). 

Mereka memberi makan siang gratis, meskipun minumnya harus bayar. Para pemilik bar bertaruh bahwa pengunjung akan minum lebih dari satu kali. Jadi tetap saja ada seseorang yang membayar untuk sesuatu. Fakta bahwa model ini bertahan cukup lama, menunjukkan bahwa pertaruhan para pemilik bar tersebut dapat diterima secara bisnis. (wikipedia.com) Pun setelah definisi diatas banyak yang memanfaatkan istilah ini untuk kepentingan tertentu, seperti mengajaka banyak orang untuk bergabung ke Multi Level Marketing, usaha yang kebanyakan menawarkan uang berlipat lipat ganda tanpa harus bekerja. Atau dalam keadaan lebih eksplosif mengajak orang untuk bergabung kedalam sekte-sekte tertentu serta mengajak banyak orang untuk menjalankan hal negatif lainnya.

 Satu point yang harus dicatat adalah perkuat diri kalian dengan pengetahuan, bisa saja banyak disekitar kalian yang memberikan "makan siang yang tidak gratis" mungkin untuk kepentingan bisnis atau yang lebih membahayakan untuk kepentingan negatif ultra berbahaya. Hanya kalian yang dapat menyaring semua informasi yang diberikan jangan sekali kali menerima bulat-bulat apa yang orang kasih. Karena siapa tahu, itu memang benar makan siang yang tidak gratis

Kamis, 12 Januari 2017

Indonesia Tak Lagi Ramah.....

 
Tak hanya terkenal karena alamnya yang fantastis, dulu Indonesia juga dikenal oleh orang-orang luar sebagai negara yang penduduknya sangat ramah. Bahkan paling ramah di dunia. Para pelancong luar negeri selalu takjub dengan orang-orang Indonesia. Bahkan gara-gara ini mereka pun tak segan untuk menjadi bagian dari Indonesia atau mengawini orang-orang pribumi yang ramah itu.

Kesan orang Indonesia sangat positif dulu, namun seiring dengan berjalannya waktu, lama-kelamaan kesan ramah di Indonesia semakin samar. Ya, tak perlu bule untuk menilai lagi orang Indonesia, karena kita sendiri bisa merasakan ketidakramahan itu. Maka dengan berat hati, predikat negara paling ramah di dunia, mungkin harus dilepas. Malu kita ngaku ramah, tapi kenyataannya sama sekali tidak demikian.
Ada berbagai macam fenomena yang jadi bukti jika Indonesia yang sekarang tak pantas digelari negerinya orang ramah. Berikut ulasannya.

1. Negeri Tempatnya Orang Emosi

Setuju tidak kalau Indonesia yang sekarang dijuluki seperti itu? Sepertinya, mau tak mau, terima tidak terima, Indonesia memanglah negara penuh orang emosi. Sekarang coba buktikan, ketika berpapasan dengan seseorang di jalan lalu tatap matanya tanpa ekspresi. Dijamin lima menit kemudian kamu sudah berjibaku dengannya. Beginilah potret orang Indonesia sekarang.





Indonesia negerinya orang emosi, mitos atau fakta? [Image Source]
Indonesia negerinya orang emosi, mitos atau fakta? [Image Source]
Di jalan raya, fenomena ini juga sering terjadi. Gara-gara hanya tidak lekas jalan pas lampu hijau, sumpah serapah sampai deretan nama hewan dikeluarkan. Orang-orang Indonesia makin gampang terpancing emosinya dengan hanya karena hal-hal yang sangat kecil dan remeh. Kalau dulu sih, semua orang masih begitu menghargai satu sama lain, sehingga emosi hanya akan terjadi ketika memang ada hal yang tidak benar dan sifatnya prinsip.

2. Orang Indonesia Egois dan Individualistis

Egois, benar, orang Indonesia memang sangat egois. Kebanyakan orang sekarang ini hanya suka mementingkan dirinya sendiri. Salah satu contoh sederhananya adalah ketika di jalan raya yang macet. Orang-orang kebiasaannya pasti main serobot sana sini agar bisa segera lewat, meskipun dengan cara itu akan merugikan orang lain.





Semuanya hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan hak orang lain [Image Source]
Semuanya hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan hak orang lain [Image Source]
Selain Egois, orang Indonesia sangat individualistis. Di zaman sekarang, sangat langka kita melihat orang yang tidak saling mengenal membantu satu sama lain. Semuanya individualistis, pokoknya tidak mengganggu hak orang lain ya sudah bukan urusan saya, begitu yang selalu dikatakan kebanyakan orang saat ini. Semua orang sudah jarang lagi peduli, apalagi masing-masing menggenggam smartphone yang seperti jadi penyumbat telinga dan penutup mata.

3. Apa-Apa Selalu Diukur Duit

Cari yang haram susah, apalagi yang halal, kalau punya kesempatan dapetin duit kenapa tidak? Mungkin ungkapan seperti ini seringkali kita dengar. Dan memang inilah sifat orang Indonesia sekarang ini, apa-apa mesti duit yang jadi parameternya.





Semua orang jadi matre dan tak ikhlas saat memberikan bantuan. Wani piro, baru iklhas [Image Source]
Semua orang jadi matre dan tak ikhlas saat memberikan bantuan. Wani piro, baru iklhas [Image Source]
Membantu seseorang harus pakai imbalan, meminta tolong harus ada pelicin dulu, dan sebagainya. Orang-orang dulu dikagumi karena sifat mereka yang tak matre karena telah memberi bantuan. Orang-orang kota sekarang pinjam WC saja minta ongkos pakai.

4. Orang Baik yang Ikhlas Sudah Langka

Mungkin hanya dalam sinetron atau FTV kita bisa menemukan orang baik yang ikhlas. Bantu dorong mobil tanpa minta upah, bantu membetulkan mesin mobil tanpa upah dan sebagainya. Kenyataannya, hampir tidak ada lagi orang yang seperti itu. sudah tidak ada orang-orang baik yang rela menyusahkan dirinya demi orang lain.





Tidak peduli dengan orang lain, adalah sifat orang Indonesia sekarang [Image Source]
Tidak peduli dengan orang lain, adalah sifat orang Indonesia sekarang [Image Source]
Bahkan ibaratnya kalau ada yang seperti ini, mereka akan jadi tontonan karena jarang terjadi. Entah kenapa masyarakat sekarang seolah tabu saat melakukan kebaikan tanpa pamrih. Bahkan ketika tahu ada duri di jalan, orang-orang sekarang hanya akan melewatinya saja tanpa pernah merasa ini adalah sesuatu yang mungkin bisa membahayakan orang lain.

5. Keberadaan Orang Tersenyum di Jalan Sudah Punah

Dulu, bule kepincut dengan penduduk Indonesia gara-gara suka sekali senyum. Berpapasan di jalan senyum, tak sengaja bersenggolan senyum, meskipun tidak saling kenal. Kini, menyebar senyum sama artinya menyebar haters. Ketika seseorang mencoba tersenyum ketika berpapasan dengan orang yang tak dikenalnya, respon paling mungkin didapatkannya adalah muka datar, bahkan mungkin menunjukkan mimik muka yang aneh dan merasa terancam.





Masih nampak kah kebiasaan ini? Sayangnya tidak? [Image Source]
Masih nampak kah kebiasaan ini? Sayangnya tidak? [Image Source]
Kita sekarang sudah tak peduli hal kecil yang sebenarnya bisa membuat kenyamanan hidup itu. Daripada senyum, kita lebih memilih sibuk dengan gadget dan merasa seolah tak butuh untuk berinteraksi dengan banyak orang secara langsung. Jika dengan saudara senegara saja begitu, apalagi dengan orang asing. Kita bahkan takkan peduli ketika mereka berciuman di jalan.

Inilah fakta dari orang Indonesia sekarang. Sudah jauh dari nilai-nilai yang diajarkan orang tua dulu. Lama-lama, negara kita ini tak ubahnya seperti negara-negara di luar sana. Yang sangat egois, individualis dan sebagainya. Mungkin kah Indonesia akan jadi negara yang ramah seperti dulu? Bisa, andai saja kita mau. Namun, mindset yang terbentuk sudah seperti ini sekarang, tinggal tunggu waktu saja sampai Indonesia sama seperti negara-negara ketus lainnya.I



Dari Bombastis

Jumat, 16 Desember 2016

SUARA NURANI : Kisah Seorang Nenek Mencuri Singkong Karena Kelaparan, Dan Hakim Menangis Saat Menjatuhkan Vonis

 
Kisah Nyata - Diruang sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya kelaparan ...

Namun manajer PT X** ( Y ** grup ) tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh bagi warga lainnya.

Hakim Marzuki menghela nafas., dia memutus diluar tuntutan jaksa PU, 'maafkan saya', katanya sambil memandang nenek itu,.

Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. saya mendenda anda 1jt rupiah dan jika anda tidak mampu membayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU'.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, sementara hakim Marzuki mencopot topi , membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang sejumlah 1jt rupiah ke dalam topi tersebut dan berkata kepada hadirin...

"Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir diruang sidang ini sebesar 50rb rupiah, sebab menetap dikota ini, yang membiarkan seseorg kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya....

" Sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa ." Sampai palu diketuk dan hakim Marzuki meninggaikan ruang sidang, nenek itupun pergi dengan mengantongi uang 3,5jt rupiah...

Termasuk uang 50rb yg dibayarkan oleh manajer PT X *** yang tersipu malu karena telah menuntutnya.

Sungguh sayang kisahnya luput dari pers.

Kisah ini sungguh menarik sekiranya ada teman yang bisa mendapatkan dokumentasi kisah ini bisa di share di media untuk jadi contoh kepada aparat penegak hukum lain agar bekerja menggunakan hati nurani dan mencontoh hakim Marzuki yang berhati mulia...........

Jumat, 09 Desember 2016

Masa lalu....Kerja sama dengan TNI dalam Usaha Merintis Pembuatan Jalan Baru

 

Selasa, 16 Juli 2013

KETUKAN NURANI : Pemulung dengan Gerobak Mayat Anaknya

 

Kisah Nyata - Kali ini tidak ada misteri. Meski sudah banyak diposting di blog lain, tapi sepenggal kisah pemulung berikut cukup layak menjadi bacaan dan sarana instropeksi diri. Mereka butuh uluran tangan untuk ikut sejahtera seperti kebanyakan orang, bukan suguhan kata2 bijak dari Maestro manapun!. Selamat membaca.

Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke Kantor Polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan.

Tapi dikantor Polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit Muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diotopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang Muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi.

"Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke Puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke Puskesmas, meski biaya hanya Rp.4000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp.10.000,- per hari". Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal dikolong perlintasan rel KA(Kereta Api) di Cikini itu.

Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 tahun), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07:00WIB.

Khaerunisa meninggal di depan sang ayah dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, disela sela kardus yang bau.Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya.

Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp.6000,- tak cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus membawa ambulan.

Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Muriski berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di Kampung Pemulung di Kramat, Bogor.

Ia berharap disana bisa mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.Pukul 10:00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.

Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. kepala mayat anak yang tercinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik.

Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 tahun, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya.

Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor, spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor Polisi Tebet.

Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulan hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.

Tapi dia hanya bisa tersandar ditembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku.

Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meinggal masih terus bermain sesekali memegang tubuh adiknya.

Pukul 16:00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulan, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski.

Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasanuntuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama.

Sumber : Gibran Alghifari Rumi

Melihat Gaya Hidup Kita : "GIVE AND YOU WILL BE GIVEN"..DENGAN MEMBERI, MAKA KAMU AKAN DIBERI.

 
Belum lama ini Saya menyaksikan tayangan film di layar televisi, film jedar-je-dor yang Saya suka. Ceritanya mudah dicerna, apalagi untuk ukuran manusia seperti Saya, yang disodori film Matrix terus ngeloyor pergi meninggalkan Televisi (TV) setelah kira-kira empat puluh lima menit ditayangkan, gara-gara ndak mudeng sama sekali. Dengan tingkat intelektualitas kocrot itu, yaa... paling enak menyaksikan film jedar-jedor atau roman.
Meminjam istilah teman Saya, roman yang picisan. Saya terima saja karena kenyataannya Saya memang demikian meski sungguhnya teman Saya itu malah sedang menjalankan petualangan cintanya yang picisan juga.
"Yooo... bedo tho no. Sana layar lebar, sini punya kan kenyataan. Bagaimanapun picisannya, ya... bedo no. Ruwet dan membuat mumet, sampai jadi kerasa ndak picisan," katanya menjelaskan.
Saya yang mendengarnya ya... manut saja. Meminjam istilah te­man Saya yang lain. "Aaaaatur... saja."
Pengecut
Di salah satu adegan dalam film di layar televisi itu, si penjahat lari menghindari tembakan sang penegak kebenaran alias pak polisi.
"Ooo... menegakkan saja, ya? Belum tentu menjalankan toh?" celetuk teman Saya.
"Waaah..., kalau begitu, aku yo iso. Cuma menegakkan saja tho, gampang," lanjutnya. "Lha wong menegakkan yang lainnya saja Saya bisa kok," tambahnya lagi.
Saya menegurnya untuk tidak menyelak cerita Saya. "Oh..., maap, maap. Terus, terus...," balas-nya.
Kemudian Saya melanjutkan cerita itu. Si polisi gagal menembak si penjahat karena ia berlari di antara kerumunan orang banyak yang sedang berseliweran. la terlepas dari peluru yang diarahkan kepadanya karena sang pe­negak kebenaran (dan sedang menjalankan kebenaran) tak bera­ni mengambil risiko kalau-kalau pelurunya malah menghujam salah satu ma­nusia yang se­dang berseliweran itu. Jadi, si penjahat terlepas dari maut dengan menggunakan manusia berseliweran itu sebagai tameng perlindungannya.
la cerdik. Namun, ada suara di nurani Saya yang berdendang. Si penjahat memang cerdik, tetapi (seperti Yahudi saja) ia sangat egois dengan meminta perlindungan orang lain untuk menyelamatkannya. Dan, yang terutama, ia cuma berani jadi penjahat, tetapi tak berani membayar harga sebagai penjahat. la minta orang lain membayarnya (Emang Yahudi udah kikir serakah lagi).
Dan, itulah Mungkin Anda. Si penjahat cerdik sekaligus pengecut itu. Kini Saya mengerti mengapa saat Saya melihat adegan itu nurani Saya seperti disinggung. Tampaknya Saya sedang diperlihatkan bagaimana Kita hidup selama ini. Bukan hanya mencari perlin­dungan dari orang lainnya, tetapi masalah yang lebih fatal, Kita tak berani membayar harga untuk apa yang Kita perbuat. ; Kita mau menabur kejahatan, tetapi malas menuai hasilnya. "Hari gini, minta tolong orang saja ya, bo" celetuk teman Saya. Saya mengingatkan sekali lagi un­tuk tidak lagi menggunakan kata ba, bo, ba, bo.
"Take and (never) give"
Contohnya Kita memesan Rakitan Komponen Komputer di salah satu Pemilik Toko Komputer. Kita minta tolong diselesaikan dalam waktu tidak terlalu lama karena Kita membutuhkannya untuk membuat tugas yang sebenarnya bukan dadakan. Hanya saja, Kita lupa memasukkan ke dalam agenda dan pada dasarnya Kita kadang memang manusia pelupa. Sang Pemilik Toko Komputer menyelesaikan sesuai dengan jadwal yang Kita kehendaki. Masalahnya kemudian, Kita tidak membayar sa­at Rakitan Komponen Komputer pesanan itu selesai.
Dengan sejuta alasan, Kita baru membayar akhir bulan. Kita memaksa orang lain menyenangkan Kita, tetapi Kita sama sekali tak berkeinginan membayar harganya dan menyenangkan orang lain (emang Yahudi Loe..!!!).
Sama seperti penjahat dalam film itu, Kita egois. Kita tak per­nah mau melatih diri berpikir bagaimana seandainya Kita yang giliran jadi Pemilik Tokonya. Kita tak pernah bercita-cita terpikirkan pun tidak untuk punya gaya hidup memberi (give) dan menyenang­kan orang, tetapi Kita selalu memelihara gaya hidup mengambil (take). Barang Sendiri Dipeliti, punya orang dimaui “kikir dan serakah, ghitu….”.
Dan, dengan Saya sebagai Professional komputer, sang Pemilik Toko hanya berkata, "Ndak papa, Mas. Bener gak papa."
Kejadian seperti itu juga terjadi bila Kita berbisnis dengan orang lain. Terutama saat bicara soal pembayaran, Kita selalu minta keringanan. Kalau bisa, ba­yar dua kali, dua bulan, dua tahun, bahkan berutang. Namun, kalau terlambat Menjahit Baju Bola, misalnya, Kita bisa berteriak seperti orang yang membayar tepat waktu. Kita sampai lupa akan rasa malu. "Memang sana punya kemaluan?" singgung teman Saya.
Bersama teman-teman, Kita sedang mempersiapkan 'bisnis ecek-ecek. Bahkan Kitalah yang paling bermulut besar akan menjadikan bisnis ini begini dan begitu. Harus buat ini dan buat itu, harus promosi ke- sana-kemari. Tiba saatnya semua harus dilaksanakan, Kita lupa pembicaraan mulut be­sar itu berujung duit dan kerja keras. Terpaksa kemudian dibekukan sementara waktu karena Kita malas membayar harga untuk mengeluarkan dana terlalu banyak dan harus ke sana-kemari. Janji tinggal janji…..Capee dech….
"Macet, panas, terus mesti jualan pula. Malaslah yaao...," sindir teman Saya. Apa boleh buat, saya hanya mengangguk saja.
Kita mengaku sebagai umat Beragama, tetapi ma­las membayar harga de­ngan sejuta  dos and don'ts-nya yang terdapat da­lam buku suci nan tebal itu. Terus, paling gampang Kita akan katakan, Kita manusia    biasa,  penuh  dengan kelemahan. Kita memang manusia bi­asa. Biasa tak mau membayar harga dan biasa melemahkan diri, maksudnya. Itu mengapa Kita susah mengasihi musuh Kita, apalagi diperintahkan berdoa untuk mereka yang menganiaya Kita. Padahal, ajarannya demikian. Kita malas membayarnya. Terlalu mahal. Kita tak kuat kemahalan. Mau pakai kartu kredit lebih dari platinum pun tak terbayarkan.
Kita mau minta perlindungan pihak lain (baca: Sang Khalik), tetapi Kita tak pernah berkeinginan memiliki gaya hidup seperti yang diingini-Nya.
Di tengah segala kejahatan Kita, cita-cita masuk surga tak per­nah hilang. "Sana maunya masuk surga, tetapi enggak mau jadi manusia taat. Maksudnya?" tanya teman Saya.
"Maunya sesuai sama jidat lo saja, sih. Ya, tak?" lanjutnya lagi. Acara ceramah A.A.Gym biasanya adalah acara favorit Kita bahkan sampai sebelum acara favorit itu berlangsung, Kita masih bisa melakukan dosa, supaya bisa dirapel semuanya, terus jadi merasa "bersih" lagi dan terus buat dosa lagi sekeluar dari halaman rumah ibadah ka­rena sudah ada ruang kosong untuk tempat dosa.
"Flashdisssk... kali," celetuk teman Saya.

1. Saya diingatkan salah satu klien Saya, bila mau berbisnis, harus dipikir masak-masak. Maksud Kita bukan ma­sak bisa, masak susah, masak gitu sih. Maksudnya pikirkan matang-matang, terutama harga yang harus Kita bayar saat memutuskan memulai bisnis. Katanya lagi, jangan mengejar obral janji. Kalau Kita tak mampu dari awal mernbayar harganya, jangan coba-coba "berutang".
2. Nasihat kedua dia, jangan jadi pengecut. Kata dia, kalau Kita mau terjun dengan benar dalam bisnis, jangan setengah-setengah. Itu sama dengan perkawinan, katanya. Ka­lau Kita sudah memutuskan menikah, berbesar hatilah menanggung segala risikonya. Jangan susah sedikit terus mau selingkuh atau mau cerai. la malah mengingatkan janji sehidup semati dalam susah dan senang.
"Lo janjinya sama Tuhan, Iho," katanya. "Jangan cuma mau hartanya saja," lanjutnya menasihati.
Wah... memang Kita senang sekali dengan nasihatnya yang kedua ini. Pertama, sebagian dari Kita umumnya belum pernah memutuskan menikah. Terpikirkan saja tidak. Terlalu ma­las membayar harganya. Kedua, berjanji sehidup semati pun be­lum pernah juga. Yang per­nah, malah Kita hidup dan orang lain mati.
"Benar juga ya, Yung. Seekor anjing, artinya cuma sa­tu anjing. Jadi, sehidup, cu­ma satu yang hidup. Waduh... lo emang pinter banget, deh. Ngomong-ngomong, otaknya buatan mana, Mas?" celetuk teman Saya.
3. Nasihat terakhir dari klien Kita itu adalah jangan menyuruh orang lain membayai harga yang seharusnya menjadi tanggung jawab Kita.
"Itu kurang ajar namanya," katanya. Kita lalu bercerita, Kita sedang mau belanja, uang tak ada, kemudian memakai kartu kredit. Jadi, Kita mau gaya, tetapi orang lain yang disuruh bayar duluan. Akhir bulan baru Kita bayar.
"Belum tentu. Malah mungkin lo cuma bayar batas minimumnya," katanya lagi. Teman Saya dari perbankan nye-letuk, "Karena itu, kami ada untuk Anda."
4. Beberapa hari lalu Saya dinasihati Guru Akrab saya dulu waktu Sekolah, Kalau seseorang membayar harga, artinya sesuatu harus dikeluarkan, baik berupa uang ataupun tindakan Dengan membayar itu Kita akan menerima kembali apa yang sudah Kita keluarkan.
"Kalau lo berutang, misalnya, dan lo berniat mengembalikan, lo akan merasa lega. Perasaan lega itu adalah imbalan yang kembali ke lo dan orang akan memberi penilaian bahwa lo orang yang bisa dipercaya," katanya menjelaskan.
Apabila Kita tak mau membayar harga, jadi Kita menahan uang atau tindakan yang harus Kita keluarkan, maka imbalan yang baik tak akan datang kepada Kita. "Kalau lo enggak bayar utang, maka bank atau debet collector akan mengejar lo," katanya lagi.
Jadi, menurut dia, dengan satu kalimat disimpulkan demikian. “Give and you will be given” DENGAN MEMBERI, MAKA KAMU AKAN DIBERI.