Sports

.
Tampilkan postingan dengan label SOSBUD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSBUD. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Januari 2026

Aura Positif dan Negatif dalam Lingkaran Pergaulan

 

Lingkaran pergaulan adalah cermin dari siapa kita dan bagaimana kita memilih orang-orang di sekitar. Ada teman yang kehadirannya membuat hati terasa damai, menghadirkan rasa aman, dan membuat kita merasa dihargai. Mereka membawa energi yang menyejukkan, sehingga setiap percakapan terasa ringan dan setiap kebersamaan menjadi sumber kekuatan. Kehadiran mereka membuat kita percaya bahwa dunia masih penuh dengan kebaikan, karena mereka tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi juga sebagai penopang ketika kita goyah.  


Orang yang positif biasanya memiliki karakter yang tulus dan jujur. Mereka tidak mencari celah kesalahan orang lain, melainkan berusaha membangun dan menguatkan. Sikapnya konsisten, ucapannya menenangkan, dan tindakannya membuat orang lain merasa aman. Bersama mereka, kita belajar arti kebersamaan yang sehat, di mana rasa hormat dan dukungan menjadi dasar hubungan. Lingkungan seperti ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan membuat kita berkembang dengan tenang.  


Sebaliknya, orang yang negatif hadir dengan sifat tinggi hati dan penuh perhitungan. Mereka sulit menerima ada orang yang lebih dari dirinya, sering mencari celah kesalahan orang lain untuk dijadikan senjata balik, dan kadang menjebak dengan sikap yang menipu. Prinsip hidup mereka bukan membangun, melainkan menjatuhkan. Dari sikap seperti itu, konflik sering lahir, karena rasa tidak mau kalah dan keinginan menjatuhkan orang lain hanya melahirkan ketegangan. Aura jahat dari orang berkarakter buruk terasa jelas: ia membuat kita gelisah, kehilangan kepercayaan diri, bahkan merasa tidak berharga.  


Jika kamu orang baik, secara alami kamu akan menjauh dari mereka, karena hati yang jernih tidak akan betah berada di dekat energi yang merusak. Itulah sebabnya penting untuk mencari lingkungan orang baik, karena di sanalah kamu akan merasa aman, tumbuh dengan sehat, dan menemukan dukungan yang tulus. Lingkungan yang jahat hanya akan membuatmu tidak tenang, apalagi jika karakternya sering menjebak dan menjerumuskan.  


Hidup pada akhirnya adalah tentang memilih energi yang kita izinkan masuk ke dalam lingkaran kita. Pertemanan sejati bukan sekadar soal seberapa sering kita bersama, melainkan tentang bagaimana seseorang membuat kita merasa. Jika bersama mereka kita merasa aman, dihargai, dan didukung, itulah tanda energi positif yang patut dijaga. Sebaliknya, jika kehadiran seseorang justru membawa konflik batin dan sifat tinggi hati yang merusak, maka menjaga jarak adalah bentuk perlindungan diri.  


Dan satu hal yang pasti: aura negatif tidak pernah berakhir dengan baik. Ia akan selalu menyeret kita ke dalam posisi berbahaya, membuat langkah kita berat, dan menjauhkan kita dari kebahagiaan yang sejati. Kalau kamu ingin hidup bahagia, aman, dan berkualitas, menjauhlah dari orang-orang yang ber-aura negatif.  






Minggu, 11 Januari 2026

Saat Bertemu Petinggi: Kesempatan Bisa Hilang Karena Salah Etika

 

Dalam dunia kerja, banyak orang masih beranggapan bahwa jika ingin meminta bantuan, harus membawa hadiah atau mengajak makan bersama. Padahal, di era sekarang, pimpinan atau pengusaha besar justru menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan kecurigaan. Karakter seseorang diuji bukan lewat hadiah, melainkan lewat sikap profesional, persiapan, dan cara menghormati aturan main.  


Raka, seorang profesional muda (nama samaran), mendapat kesempatan bertemu seorang pengusaha nasional melalui rekomendasi seniornya. Pertemuan pertama terasa sangat hangat: ia disuguhi teh, diajak makan, bahkan diberi harapan akan proyek besar dua bulan ke depan. Raka pulang dengan penuh semangat, merasa sudah mendapat dukungan. Namun ia lupa satu hal penting: sambutan hangat bukanlah jaminan. Itu hanyalah bentuk hormat kepada senior yang memperkenalkan, bukan tanda bahwa proyek sudah pasti miliknya.  


Dua minggu kemudian, Raka kembali berkunjung. Kali ini suasana berbeda, sang pengusaha tampak dingin, sibuk, dan menjawab seperlunya. Raka mencoba menindaklanjuti dengan menelepon, menawarkan ngobrol santai di luar kantor. Ajakan itu langsung ditolak. Kesalahan terbesar Raka adalah mengundang pimpinan makan di luar. Di mata pengusaha besar, ajakan seperti itu bisa menimbulkan prasangka: apakah ada maksud tersembunyi, apakah ini gratifikasi, atau apakah ada kepentingan lain. Bukannya menambah kepercayaan, justru membuat pimpinan waspada dan menjaga jarak.  


Kisah ini memberi pelajaran penting. Hormat bukan hadiah, melainkan disiplin dan sikap profesional. Karakter matang tahu kapan harus menyesuaikan diri. Karakter sabar memahami bahwa proses butuh waktu. Karakter serius ditunjukkan lewat pengetahuan dan kesiapan, bukan obrolan kosong. Ilmu karakter menegaskan bahwa perilaku adalah cermin nilai diri. Dalam konteks bertemu pimpinan, karakter jujur menolak cara-cara yang bisa menimbulkan prasangka, karakter profesional menempatkan pembicaraan di ruang resmi, dan karakter tanggung jawab hadir dengan persiapan, bukan sekadar basa-basi.  


Kesempatan emas bisa hilang bukan karena kurang pintar, tetapi karena salah membaca etika. Sambutan hangat hanyalah modal awal. Yang menentukan adalah bagaimana karakter kita menjaga kepercayaan dengan sikap profesional. Ilmu karakter mengajarkan bahwa etika bukan sekadar aturan, melainkan refleksi dari siapa diri kita sebenarnya.  


Oleh: 

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.

Advokat/pengacara, Konsultan Hukum, Pengamat Sosial & Pendidikan Karakter


Sabtu, 03 Januari 2026

Realita : Anda Tidak Akan Didatangi Saat Hidup, Orang Akan Berdatangan Saat Anda Mati

 

Seorang manusia menderita luka di kakinya akibat diabetes. Awalnya hanya luka kecil, tetapi karena tidak dirawat, infeksi menyebar. Tubuhnya demam, lemah, dan ia mencari pertolongan serta perlindungan dari orang-orang terdekatnya.  


Namun, orang-orang justru menjauh. Mereka takut terbebani, takut ikut repot, dan menutup pintu.  


Ia pun berjalan tertatih, menangis bukan hanya karena sakit yang menggerogoti tubuhnya, tetapi karena tidak ada yang peduli—tepat ketika ia sangat membutuhkan kasih dan dukungan.  


Malam yang dingin menyambutnya. Setiap langkah pelan disertai air mata. Orang-orang melihatnya pergi, lalu berkata:  

“Biarkan saja. Lebih baik ia mati jauh dari kita.”  


---


Kabar Pertama

Waktu berlalu. Seorang tetangga datang membawa berita:  


“Saudaramu masih hidup! Ia tinggal di sebuah kamar kontrakan sempit di pinggir kota. Ia pulih, tetapi kehilangan satu kaki karena infeksi. Ia kesulitan mencari makanan dan membutuhkan bantuan kalian.”  


Semua orang terdiam. Tetapi satu demi satu mereka memberi alasan:  

- “Aku tidak bisa pergi, aku sedang bekerja.”  

- “Aku tidak bisa pergi, aku harus mencari nafkah.”  

- “Aku tidak bisa pergi, aku harus menjaga anak-anak.”  


Dan akhirnya, tak seorang pun yang datang menolong. Tetangga itu kembali ke kontrakan, tanpa membawa bantuan.  


---


Kabar Kedua

Waktu berlalu lagi. Tetangga itu kembali dengan berita menyakitkan:  


“Saudaramu sudah mati. Ia meninggal sendirian di dalam kontrakan, tanpa ada seorang pun yang mengubur atau berkabung untuknya. Ia mati dalam kelaparan, karena tidak ada makanan yang masuk ke tubuhnya.”  


---


Penyesalan

Pada saat itu, orang-orang mulai merasa sedih. Keluhan mendalam memenuhi rumah mereka.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya bekerja, berhenti.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya mencari nafkah, meninggalkan semuanya.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya merawat anak-anak, sejenak melupakan anak-anaknya.  


Timbullah rasa penyesalan di dalam hati mereka.  


Penyesalan itu lebih menyakitkan daripada luka apa pun. Mereka bertanya:  

“Kenapa kita tidak pergi lebih awal?”  


Tanpa mengukur jarak atau usaha, semua orang berbondong-bondong menuju kontrakannya itu, menangis dan mengeluh.  


Namun, semuanya sudah terlambat. Ketika sampai di kontrakan, mereka tidak lagi menemukan jasadnya. Yang tersisa hanyalah sebuah tulisan di dinding:  


“Dalam hidup, sering kali orang tidak sempat untuk sudi menyeberang jalan untuk menolongmu ketika itu engkau masih hidup,  tetapi mereka rela menyeberangi lautan untuk melihat kuburmu, setelah mendengar engkau telah mati.  

Dan sebagian besar air mata di kuburan bukan karena rasa sakit, melainkan karena penyesalan.”  


Pesan Kemanusiaan

Kisah ini adalah cermin kehidupan nyata:  

- Saat engkau hidup dan membutuhkan pertolongan, orang sering menutup mata.  

- Tetapi ketika engkau mati, orang akan berdatangan, bukan untukmu, melainkan untuk tradisi, keramaian, bahkan makan-makan (kenduri 7 hari, 2 kali 7 hari dst).  


Engkau hidup bisa saja mati karena kelaparan tidak memiliki beras, tetapi setelah kematianmu, orang justru berkumpul kenduri dengan makanan yang di hidangkan atas kematianmu.  


Penyakit memang bisa melemahkan tubuh, tetapi ketidakpedulian melemahkan hati.  Dan penyesalan, selalu datang paling akhir.  









Taktik Sosial yang Mengguncang: Saat Konflik Jadi Senjata Balik

 


Konflik sering muncul dari hal-hal kecil, tetapi cara seseorang menyikapinya bisa mengubah arah cerita. Kisah-kisah berikut menunjukkan bagaimana Pak Raja menghadapi situasi dengan taktik yang tidak biasa—tajam, mengejutkan, bahkan kejam—hingga membuat lawan goyah.


1. Mengadu Sesama Warga: Api di Perumahan Jambi

Di sebuah komplek perumahan di Jambi, suara anjing peliharaan menggonggong keras dan mengganggu ketenangan. Warga lain merasa resah, tetapi tidak ada yang berani menegur langsung. Pak Raja memilih cara berbeda: ia menempelkan sebuah kertas di lorong dengan tulisan tajam:  


"Kalau miskin jangan komplain soal anjing berisik. Kalau punya kemampuan, jual saja rumahmu dan pindah tempat lain."  


Tulisan itu seketika memicu kegaduhan. Pak Raja memotret kertas itu, lalu mengirimkannya ke grup chat warga dengan pertanyaan singkat:  


"Siapa yang menempel tulisan ini?"  


Pertanyaan itu meledakkan suasana. Grup chat mendadak heboh, penuh tuduhan dan amarah. Seolah-olah para pemilik anjinglah yang dianggap memasang tulisan itu. Mereka saling menuduh, saling membela diri, bahkan menyerang balik dengan kata-kata. Dalam hitungan menit, suasana grup berubah menjadi seperti sarang lebah yang diguncang.  


Hasilnya jelas: para pemilik anjing yang tadinya santai mulai mengendalikan hewan mereka. Pak Raja tidak perlu menegur langsung—cukup dengan satu kertas dan satu pertanyaan, ia berhasil memancing konflik internal yang membuat pihak bersalah saling menekan.


2. Mengalah untuk Menang: Sosialita yang Tersungkur

Suatu hari, Pak Raja sedang mengendarai motor di jalan kota. Tiba-tiba sebuah mobil mewah melawan arah dan menabraknya. Dari dalam mobil turun seorang ibu sosialita kota dengan kacamata hitam besar, tas mahal, dan suara penuh kesombongan. Ia memaki keras:  


"Apa sih, nggak lihat jalan? Dasar bikin repot!"  


Warga yang melihat mulai berbisik, sebagian tampak kesal dengan sikap angkuh itu. Namun, Pak Raja tetap tenang. Ia menunduk sedikit, lalu berkata dengan sopan:  


"Maaf Bu, saya tidak apa-apa. Silakan lanjutkan perjalanan."  


Ibu itu mendengus, lalu masuk kembali ke mobilnya. Dengan sombong ia menyalakan mesin dan pergi, meninggalkan lokasi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.  


Namun, Pak Raja tidak berhenti di situ. Ia segera memotret mobil mewah itu, lengkap dengan nomor platnya, lalu dengan cepat berfoto sambil terbaring dramatis di jalan seolah-olah ditabrak parah. Orang-orang di sekitar menjadi saksi, melihat langsung bagaimana ia tergeletak dengan wajah penuh ekspresi kesakitan.  


Kesombongan ibu sosialita itu justru memicu kemarahan warga. Mereka yang menyaksikan merasa geram melihat sikap angkuh sang pengemudi. Warga pun ikut memperkuat posisi Pak Raja dengan menjadi saksi, memastikan bahwa kejadian itu tidak bisa ditutup-tutupi.  


Tak lama kemudian, laporan resmi dibuat. Bukti foto, nomor plat, dokumentasi dramatis, serta dukungan saksi warga yang kesal menjadikan kasus itu tabrak lari dengan konsekuensi hukum berat.  


Plot twist-nya jelas: kelembutan dan kesopanan yang tampak lemah justru menjadi senjata. Sang sosialita yang merasa menang karena bisa pergi dengan sombong, akhirnya tersungkur oleh bukti, saksi, dan hukum yang menjeratnya.  


3. Membiarkan dan Membela Anak: Kebaikan yang Memancing Balasan

Suatu sore, seorang anak nakal menembak wajah Pak Raja dengan ketapel. Wajahnya bengkak, amarah hampir meledak. Warga sekitar menoleh, menunggu ia marah.  


Namun, sang ibu si anak datang dengan sikap meremehkan. Bukannya meminta maaf, ia justru berkata dengan nada membela:  


"Ah, tidak ada apa-apa. Namanya juga anak kecil, jangan diperhatikan."  


Kalimat itu seolah menutup mata atas kesalahan anaknya. Pak Raja tidak membalas dengan marah. Ia justru mengeluarkan Rp50.000 dan menyerahkannya kepada anak itu. Semua orang terdiam, bingung dengan sikapnya.  


Tapi efeknya jauh lebih tajam. Anak itu merasa mendapat “hadiah” dan semakin berani mengulang perbuatannya kepada orang lain. Sang ibu tetap membela, seolah-olah kenakalan anaknya bukan masalah. Hingga akhirnya warga lain yang menjadi korban mulai kesal. Mereka marah, menegur keras, bahkan memberi pelajaran langsung kepada keluarga si anak.  


Kebaikan yang tampak lembut justru menjadi pemicu konflik baru. Sikap ibu yang membiarkan dan membela anaknya membuat masyarakat semakin geram, hingga akhirnya keluarga itu sendiri yang ditekan dan dihukum oleh lingkungan


Ketiga kisah di atas ini bukan sekadar cerita. Itu adalah gambaran bagaimana konflik bisa diarahkan dengan tegas:  

- Menyalakan api agar pihak bersalah saling menekan.  

- Mengalah dengan licik agar kelembutan berubah jadi senjata hukum.  

- Membalik keadaan dengan kebaikan yang memancing balasan lebih keras dari masyarakat.  


Pak Raja mengajarkan bahwa Jika  masalah tidak bisa kau selesaikan sendiri. Maka Buat masalah itu jadi lebih besar, maka masyarakat atau kekuasaan yang lebih kuat terpaksa akan turun tangan untuk menyelesaikannya.  









Kamis, 01 Januari 2026

Polisi Membuka HP Warga Tanpa Surat Perintah, itu adalah Tindak Pidana Berat

 

Ada seseorang yang bertanya: “Bang, kalau ada polisi memberhentikan saya, kemudian HP saya diminta dan dicek isinya, apakah polisinya bisa dipidana? Diatur di mana?”  


Pertanyaan ini sangat relevan banyak sekalI contoh kasus seperti ini terjadi, karena menyangkut hak privasi warga negara dan batas kewenangan aparat penegak hukum di lapangan.  


Kewenangan Polisi di Jalan

Polisi Negara Republik Indonesia memang diberikan kewenangan untuk melakukan penggeledahan badan maupun kendaraan di jalan. Namun, kewenangan itu tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada syarat mutlak: polisi harus membawa surat perintah resmi yang menjelaskan tujuan penggeledahan.  


Kewenangan ini hanya berlaku untuk badan dan kendaraan, bukan untuk mengakses alat elektronik pribadi seperti handphone.  


Prosedur yang Sah

- Jika dalam penggeledahan badan atau kendaraan ditemukan senjata tajam, narkotika, atau barang berbahaya lainnya, warga dibawa ke kantor polisi setempat.  

- Di kantor polisi, barulah dilakukan proses penyelidikan dan penyidikan untuk menentukan status hukum warga tersebut.  

- Pada tahap penyidikan, dengan surat perintah resmi, penyidik dapat membuka isi percakapan atau data dalam alat elektronik, termasuk handphone.  


Jika Polisi Membuka HP di Jalan Tanpa Surat Perintah

Apabila polisi di jalan tidak dilengkapi surat perintah kemudian membuka isi HP warga, maka tindakan itu adalah tindak pidana.  


Dasar hukumnya jelas:  

- Pasal 30 ayat (1) UU ITE: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer atau sistem elektronik milik orang lain.”  

- Pasal 46 ayat (1) UU ITE: Ancaman pidana berupa penjara maksimal 6 tahun dan/atau denda maksimal Rp600.000.000.  


Handphone termasuk kategori alat elektronik. Maka, polisi yang membuka HP warga tanpa surat perintah berarti melakukan akses tanpa hak dan melawan hukum.  


Pesan Tegas untuk Aparat

- Polisi tidak boleh membuka HP warga di jalan tanpa surat perintah.  

- Warga berhak menolak dan melaporkan tindakan tersebut.  

- Pimpinan kepolisian harus menertibkan anggotanya agar tidak merusak kepercayaan publik.  


Hukum harus ditegakkan secara adil. Polisi sebagai aparat penegak hukum wajib menjadi teladan, bukan pelanggar. Membuka HP warga tanpa surat perintah bukan hanya pelanggaran etika, tetapi juga tindak pidana berat dengan ancaman hukuman jelas dalam UU ITE...



Oleh : 

Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd

Advokat/Pengacara, konsultan Hukum, Aktivis Kemasyarakatan Pengamat Lingkungan, Sosial, Pendidikan dan Hukum






Minggu, 28 Desember 2025

Terimalah Dirimu, Karena Kamu Memang Tidak Akan Diterima di Lingkaran Orang Kaya

 

Jangan terlalu capek, karena kamu tidak akan pernah diterima di lingkaran Mereka. 

Jas yang kamu beli mungkin setara tiga bulan gaji. Sepatu kulit yang kamu poles setiap minggu, jam tangan yang kamu cicil bertahun-tahun, atau kopi mahal yang kamu pesan di kafe elit—semua itu kamu lakukan supaya bisa “masuk” ke lingkaran mereka, supaya terlihat setara dengan pria-pria kaya. Namun kenyataan pahit berkata: kamu tidak akan pernah diterima sebagai bagian dari mereka.  


Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis, menjelaskan konsep habitus. Habitus adalah kebiasaan, selera, dan cara hidup yang tertanam sejak kecil. Ia bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam semalam, apalagi dibeli di pusat perbelanjaan. Struktur kelas sosial jauh lebih dalam daripada sekadar merek jas atau jam tangan yang menempel di tubuhmu.  


Ingat masa kecil kita. Untuk membeli mainan, kita harus menabung recehan demi recehan, bahkan rela menahan lapar di jam istirahat sekolah. Sementara itu, anak-anak dari keluarga kaya tidak perlu menabung. Saat liburan tiba, orang tua mereka membawa mereka berwisata ke Eropa, melihat Louvre di Paris, atau menonton opera di Wina.  


Perbedaan pengalaman ini membentuk habitus yang berbeda. Bagi mereka, kemewahan dan budaya tinggi adalah hal biasa, bagian dari kehidupan sehari-hari. Bagi kita, kemewahan adalah hadiah langka yang harus diperjuangkan dengan susah payah.  


Ketika kita mengenakan jas mahal, yang terpancar adalah kesan “pura-pura”. Sebaliknya, mereka memancarkan kesan “alami” dan “mudah”. Justru usaha kita untuk terlihat elegan menjadi tanda paling jelas bahwa kita bukan bagian dari mereka.  


Menjadi elit bukan hanya soal uang. Bourdieu menegaskan bahwa kelas atas mempertahankan status melalui modal budaya: pengetahuan, selera, cara berbicara, hingga cara makan.  


Orang yang ingin terlihat kaya biasanya membeli barang dengan logo besar agar semua orang tahu harganya. Sebaliknya, orang yang lahir dari keluarga kaya (old money) justru menghindari logo. Mereka memilih quiet luxury—pakaian polos yang harganya jauh lebih mahal, namun hanya mereka dan lingkaran mereka yang tahu kualitasnya.  


Ada jurang psikologis yang sulit dijembatani. Kita mengenakan jas dengan rasa cemas: “Apakah gaji bulan depan cukup?” atau “Jangan sampai sepatu ini tergores.” Orang kaya tidak memiliki kecemasan itu. Jika rusak, mereka membeli lagi. Ketidakpedulian (nonchalance) adalah kemewahan tertinggi—dan itu tidak bisa dicicil.  


Kita minum kopi mahal supaya terlihat keren di Instagram story. Mereka minum kopi sejak kecil di rumah dengan biji pilihan yang sudah jadi tradisi keluarga. Kita sibuk belajar gaya hidup, mereka sudah lahir dengan gaya hidup itu.  


Bourdieu menyebut fenomena ini sebagai “pretensi kelas menengah”. Semakin keras kita meniru, semakin cepat mereka mengubah aturan. Begitu kita mampu bergaya dengan jas bermerek, mereka menyebutnya norak dan beralih ke merek lain yang lebih eksklusif. Kita terus berlari di treadmill yang tak berujung, kelelahan dan bangkrut, hanya untuk ditertawakan diam-diam oleh mereka.  


Menyakitkan memang, menyadari bahwa pintu menuju kelas atas tertutup rapat. Namun ada kebebasan dalam kesadaran ini. Berhentilah memuja ke atas. Validasi dari mereka hanyalah racun yang membuat kita lupa siapa diri kita sebenarnya.  


Alih-alih mencicil gaya hidup, lebih baik berinvestasi pada pengetahuan. Buku dan ilmu adalah modal yang tidak bisa dimonopoli oleh orang kaya. Jika mereka punya foto perjalanan ke Eropa, kita bisa punya perpustakaan. Karisma sejati lahir dari isi kepala, bukan dari logo di pakaian.  


Daripada bercita-cita menjadi mereka, lebih baik menuntut mereka. Jangan ingin masuk ke benteng mereka untuk ikut pesta pora. Cita-citakanlah meruntuhkan benteng itu agar sumber daya dibagi lebih adil. Gunakan pengetahuan untuk membela yang tertindas, dan jadilah ancaman bagi keserakahan mereka.  


Belajar sejarah bukan sekadar menghafal tanggal. Sejarah mengajarkan mengapa dunia ini tidak adil. Kekayaan mereka sering dibangun di atas penderitaan orang-orang seperti kita. Kesadaran kelas membuat kita paham bahwa kemiskinan bukan kegagalan pribadi, melainkan hasil dari sistem yang menguntungkan segelintir orang.  


Kawan, menjadi cerdas, sadar, dan berani adalah bentuk kemewahan sejati. Biarkan mereka sibuk dengan pesta pora dan barang mewahnya. Kita punya tugas yang lebih mulia: menciptakan dunia di mana martabat manusia tidak diukur dari jas, sepatu, atau jam tangan.  

Kawan, kita punya tugas untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan setara.  






Attensi dari...  neohistorian!