Sports

.

Kamis, 08 Januari 2026

Analisa Penempatan Gedung Koperasi Merah Pitih "Salah Posisi, Koperasi Berpotensi Mati”

 

Gedung koperasi tidak boleh ditempatkan sembarangan. Salah posisi bisa berakibat fatal: koperasi sepi pengunjung, usaha tidak berkembang, bahkan berpotensi mati. Karena itu, penempatan harus benar-benar strategis. Gedung mesti berdiri di jalur utama, dekat pusat aktivitas masyarakat seperti pasar, sekolah, atau kantor desa. Dengan begitu, arus orang yang lewat tinggi dan koperasi selalu terlihat jelas. Papan nama yang lugas dan tegas akan memperkuat identitas sebagai pusat ekonomi rakyat.


Fungsi utama gedung ini adalah mini market koperasi, tempat warga membeli sembako, produk pertanian, dan kebutuhan rumah tangga dengan harga terjangkau. Di samping itu, koperasi bisa menampung usaha pendukung seperti jasa pembayaran listrik, pulsa, BPJS, hingga simpan pinjam. Semua usaha harus relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar ikut tren. Dengan cara ini, koperasi tidak bersaing langsung dengan toko warga, melainkan melengkapi ekosistem usaha yang ada.

Orientasi keberlanjutan juga penting. Energi alternatif seperti PLTA mini atau panel surya bisa dipakai untuk operasional, sekaligus memberi citra ramah lingkungan. Hal ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga membangun kepercayaan publik bahwa koperasi berpikir jauh ke depan.


Di sinilah dana desa memainkan peran penting. Jika dana desa hanya dipotong untuk operasional rutin, manfaatnya cepat habis. Tetapi bila diarahkan untuk pengembangan koperasi, dana desa justru menjadi modal bergulir yang lebih berdaya guna. Dana desa bisa dipakai membangun gedung koperasi, memperkuat stok barang di mini market, atau mendukung usaha produktif warga melalui koperasi. Dengan begitu, dana desa tidak sekadar habis untuk belanja, melainkan tumbuh menjadi aset ekonomi yang terus berputar.


Dampak sosial-ekonomi dari penempatan yang tepat dan dukungan dana desa akan terasa nyata. Uang beredar di masyarakat, daya beli warga meningkat, dan generasi muda—Millennial serta Gen Z—dilibatkan sebagai pengelola maupun inovator usaha. Koperasi berdiri sebagai organisasi yang mandiri, dengan dukungan moral dari pihak luar, tetapi tetap otonom dalam menjalankan programnya.


Namun, risiko tetap ada. Salah posisi bisa membuat koperasi sepi. Salah jenis usaha bisa menimbulkan benturan dengan toko warga. Salah pengelolaan dana desa bisa membuat program berhenti di tengah jalan. Semua risiko ini hanya bisa diminimalkan dengan survei kebutuhan warga, dialog komunitas, serta penerapan energi alternatif.


Gedung Koperasi Merah Pitih harus ditempatkan di titik strategis, mudah diakses, dan terlihat jelas. Salah posisi berarti ancaman mati, sementara posisi tepat berarti hidup sebagai pusat ekonomi lokal. Dengan dukungan dana desa yang diarahkan ke pengembangan koperasi, potensi ekonomi desa akan lebih berkembang, berdaya guna, dan berkelanjutan.


Oleh :

Adv. Yan Salam Wahab, SHi, M.Pd


Rabu, 07 Januari 2026

Bila Ijazah Jokowi Terbukti Palsu secara Hukum, Semua Tindakan Selama Menjabat Termasuk Kebijakan dan Hutang Negara Bisa Dinyatakan Tidak Sah

 

Legalitas seorang pemimpin bukanlah hal kecil. Ia adalah fondasi yang menentukan sah atau tidaknya seluruh tindakan kenegaraan. Bila ijazah Jokowi terbukti palsu, maka persoalan ini tidak berhenti pada ranah pribadi, melainkan menjalar ke seluruh sistem politik, hukum, dan tata negara Indonesia, bahkan menyentuh hubungan internasional.  


Selama perjalanan politiknya, Jokowi sering dicaci, dihina, bahkan difitnah. Semua itu ia hadapi dengan sikap sabar, seolah tidak peduli. Tetapi ketika menyangkut ijazah, sikapnya berubah total. Bukannya menunjukkan ijazah untuk membuktikan keabsahan, ia justru melaporkan pihak yang menggugat. Kontras ini menegaskan bahwa ijazah bukan sekadar dokumen, melainkan titik paling strategis yang menentukan sah atau tidaknya seluruh perjalanan politiknya.  


Dalam hukum Indonesia, pemalsuan dokumen adalah tindak pidana berat. Jika ijazah terbukti palsu, maka pencalonan Jokowi sejak awal dianggap cacat formil. Semua tindakan selama menjabat bisa diperdebatkan keabsahannya. Konsekuensinya, legitimasi jabatan yang pernah diemban bisa dinyatakan tidak sah, dan semua kebijakan yang lahir dari masa kepemimpinannya dapat digugat, mulai dari peraturan daerah, kebijakan gubernur, hingga keputusan presiden.  


Legalitas ijazah juga langsung memengaruhi tata negara. Semua kebijakan yang ditandatangani Jokowi bisa dianggap tidak sah. Hutang negara yang ditandatangani atas nama Presiden Jokowi berpotensi digugat keabsahannya di forum internasional. Dalam skenario ekstrem, utang yang ditandatangani bisa berubah status menjadi beban pribadi pejabat yang terlibat, bukan lagi beban negara. Indonesia akan menghadapi dilema besar: apakah tetap membayar utang demi menjaga reputasi, atau menolak dengan alasan cacat legalitas. Jika menolak, reputasi internasional akan hancur dan hubungan diplomatik serta ekonomi bisa terguncang. Jika tetap membayar, negara seolah mengakui kesalahan, tetapi memilih menjaga stabilitas internasional.  


Dalam hukum internasional, perjanjian negara tunduk pada prinsip pacta sunt servanda—perjanjian harus dihormati. Namun, syarat fundamentalnya adalah pejabat penandatangan harus sah secara hukum. Bila terbukti tidak sah, kreditor internasional bisa menuntut agar tanggung jawab atas utang dialihkan menjadi beban pribadi Jokowi sebagai penandatangan, bukan lagi beban negara. Dalam skenario paling keras, isu ini bisa dianggap sebagai bentuk penipuan internasional, dan membuka peluang Jokowi diseret ke Mahkamah Internasional. Meski secara praktik Mahkamah Internasional lebih sering mengadili sengketa antarnegara, bukan individu, tekanan politik dan diplomasi bisa mendorong kasus ini menjadi preseden baru: seorang mantan presiden dituntut karena dianggap menandatangani perjanjian internasional dengan legalitas palsu.  


Kepercayaan rakyat terhadap sistem demokrasi pun akan runtuh. Masyarakat bisa merasa dikhianati, polarisasi politik akan semakin tajam, dan instabilitas sosial bisa muncul. Dunia internasional pun akan menilai Indonesia gagal menjaga integritas kepemimpinan, reputasi diplomatik tercoreng, dan posisi tawar melemah.  


Legalitas bukan sekadar formalitas. Ia adalah inti dari tata negara. Bila ijazah Jokowi terbukti palsu secara hukum, konsekuensinya bukan hanya pidana pribadi, tetapi juga krisis legitimasi nasional dan masalah internasional. Semua tindakan selama menjabat—dari kebijakan lokal hingga hutang negara—bisa dinyatakan tidak sah. Dan sikap Jokowi yang sabar menghadapi cacian, tetapi justru melaporkan ketika diminta menunjukkan ijazah, menjadi bukti bahwa dokumen ini adalah titik paling sensitif dan strategis dalam perjalanan politik seorang pemimpin.  


YS Sang Pengamat

Senin, 05 Januari 2026

LSM Payung Suara Rakyat yang Diakui Dunia, Makanya Saya Gabung LSM

 


Hak berdemo adalah hak konstitusional setiap warga negara. Ribuan perangkat desa, mahasiswa, buruh, hingga tukang ojek sudah berulang kali turun ke jalan, menyuarakan aspirasi mereka. Namun, suara itu sering hilang ditelan angin. Kasus tragis seorang pengemudi ojek yang ditabrak kendaraan berat saat aksi, misalnya, lenyap begitu saja tanpa jejak. Nyawa rakyat kecil seakan tidak cukup penting untuk dicatat dalam sejarah.  


Sebaliknya, ketika seorang aktivis LSM bersuara, dunia bisa bergetar. Kasus Munir adalah bukti paling nyata. Aktivis HAM yang diracun hingga meninggal dalam perjalanan udara itu bukan hanya menjadi luka bangsa, tetapi juga catatan sejarah internasional. Hingga kini, namanya tetap disebut, kasusnya tetap dikaji, dan dunia tetap menyorotinya. Satu suara dari LSM bisa mengguncang dunia, sementara ribuan suara rakyat biasa bisa hilang begitu saja.  


Memang harus diakui, sebagian oknum aktivis LSM pernah dicap buruk: ada yang dianggap hanya mencari proyek, ada yang dituduh punya kepentingan tersembunyi. Namun, fakta yang tak bisa dibantah adalah suara LSM resmi tetap didengar hingga hari ini. Stempel legalitas dan legitimasi internasional membuat satu suara dari LSM bisa mengalahkan ribuan suara perangkat desa, mahasiswa, dan buruh yang berteriak di jalan. Dunia lebih percaya pada suara yang datang dari organisasi resmi, bukan sekadar massa tanpa payung hukum.  


Di sinilah pentingnya bergabung ke LSM. Hak berdemo memang bukan monopoli LSM, tetapi legitimasi mereka membuat suara lebih diperhitungkan. Rakyat berdemo sah secara hukum, namun sering dianggap tidak berkapasitas. Kalau kamu bukan LSM, suaramu tidak akan didengar dunia. Demonstrasi rakyat kecil bisa lenyap begitu saja, sementara satu suara dari LSM bisa menjadi sejarah internasional.  


Makanya saya memilih bergabung ke LSM. Bukan karena ingin sekadar berorganisasi, tetapi karena saya ingin suara saya tidak hilang. Saya ingin jeritan rakyat kecil yang sering diabaikan bisa terdengar lebih keras, lebih jelas, dan lebih berpengaruh. Dengan bergabung ke LSM, saya berada di bawah payung legitimasi internasional, terlindungi oleh jaringan advokasi, dan punya akses ke panggung global.  


Bergabung ke LSM bukan sekadar pilihan, melainkan strategi perjuangan. Dengan bergabung, suara rakyat kecil tidak lagi tercecer, melainkan terorganisir dan terlindungi. LSM memberi akses advokasi, jaringan hukum, media, dan politik. Mereka mampu menjembatani jeritan lokal dengan panggung global. Sejarah membuktikan: dunia lebih mudah mendengar suara yang datang dari LSM.  


LSM adalah payung suara rakyat. Mereka punya mandat moral untuk menjadi garda terdepan, apalagi ketika suara rakyat sering tenggelam. Demonstrasi bukan sekadar turun ke jalan, melainkan simbol keberanian menyuarakan kebenaran. Jika rakyat ingin aspirasinya tidak lenyap, maka bergabung ke LSM adalah langkah strategis. Karena dunia tidak akan mencatat semua jeritan di jalan, tetapi akan selalu menyorot suara yang datang dari LSM.  


- “Ribuan kades, mahasiswa, buruh berteriak, tapi dunia diam. Satu suara LSM resmi, dunia langsung menoleh. Makanya saya gabung LSM.”  

- “Oknum boleh dicap buruk, tapi suara LSM resmi tetap Suaranya akan didengar dunia. Maka dengan Gabung LSM, biar suara kita tak hilang.”  





Minggu, 04 Januari 2026

Menang dengan Strategi Kejam: Jurus Pamungkas Saat Terpaksa

 

Dalam hidup, kadang kita bertemu aturan yang tidak adil, orang yang meremehkan, atau penjual yang menipu. Kalau hanya marah, hasilnya sering tidak ada. Tapi kalau kita berpikir dingin, kita bisa menang dengan cara yang lebih elegan.  


Salah satu jurus paling halus adalah menjatuhkan dengan pujian. Kita seolah memuji, tapi sebenarnya membuat lawan terjebak oleh standar yang mereka banggakan sendiri. Saat mereka gagal, mereka jatuh oleh citra mereka sendiri.  


Cerita 1: Restoran Mahal – Orang Sederhana yang Membalik Keadaan


Suatu sore, Pak Raja masuk ke restoran mahal bersama temannya. Penampilannya sangat sederhana: baju kusam, sandal jepit. Orang-orang melihatnya seperti orang miskin yang salah tempat.  


Pelayan mendekat dengan nada meremehkan:  

“Di sini minimal belanja Rp2.000.000. Kalau tidak sanggup, Lebih baik makan di tempat lain saja.”  


Semua tamu menoleh, ada yang tersenyum sinis.  


Tapi Pak Raja tetap tenang. Ia keluarkan uang Rp5.000.000, lalu berkata datar:  

“Saya pesan sesuai nilai ini. Semua harus sempurna, selesai paling lama 20 menit.”  


Pesanannya rumit: puluhan rendang, ayam gulai, dendeng balado, sayur nangka, dan 60 gelas es teh dengan variasi berbeda. Semua harus keluar serentak dalam 20 Menit. 


Lalu Pak Raja menambahkan pujian yang menusuk:  

“Restoran ini katanya terkenal rapi dan cepat. Saya yakin semua porsi akan presisi, keluar bersamaan, dan tetap panas—itu kebanggaan dan Semboyan Restoran ini, kan?”  


Pelayan pucat, manajer panik, pemilik restoran datang dengan wajah memerah malu. Aturan “minimal order” langsung dihapus.

Pak Raja duduk tenang, menikmati rendang dengan elegan. Ia menutup dengan kalimat dingin:
“Kalau tak mampu melayani, jangan buka restoran.”


Akhirnya Restoran itu gagal memenuhi permintaan Pak Raja itu. Standar yang mereka banggakan justru menjatuhkan mereka di hadapan Pengunjung lainnya.  


Cerita 2: Rekaman Rahasia –di WA Grup Pebisnis


Malam itu, Pak Raja duduk di kafe, menikmati kopi. Dari ruang sebelah, terdengar suara sekelompok pebisnis. Awalnya obrolan biasa, lalu berubah jadi ejekan. Nama Pak Raja disebut berulang kali, disertai tawa meremehkan.  


Tanpa mereka sadari, suara itu jelas terdengar sampai ke tempat duduk Pak Raja. Ia menyalakan ponselnya, merekam percakapan itu.  


Beberapa jam kemudian, rekaman itu muncul di grup WhatsApp mereka. Cara Pak Raja mengirimnya membuat semua orang bingung. Ia menulis:  

“Ada yang kirim rekaman ini ke saya. Lucu sekali, grup yang kelihatan kompak ternyata ada pengkhianatnya. Dengarkan, suara siapa ya?”  


Sekejap, grup kacau. Ada yang keluar, ada yang panik, ada yang saling tuduh. Mereka merasa ada teman sendiri yang membocorkan rahasia.  


Lalu Pak Raja menambahkan pujian yang menusuk:  

“Grup ini luar biasa kompak, sampai ada yang rela mengirimkan rekaman ini ke saya demi menjaga integritas.”  


Akhirnya Kekompakan Grup yang selama ini dibanggakan dan dipuji justru berubah jadi Grup yang sudah saling curiga. Grup itu hancur karena mereka sendiri jadi tidak percaya satu sama lain.  


Cerita 3: Serangan Reputasi – Pada Toko Online tidak Amanah


Suatu pagi, Pak Raja menerima paket berisi 4 powerbank dari toko online. Iklan menjanjikan kapasitas 20.000 mAh, tapi setelah diuji, ternyata hanya 12.000 mAh.  


Penjual berkilah:  

“Kapasitas bisa berkurang saat perjalanan. Yang lain juga dapat seperti itu”  


Pak Raja kecewa tapi tidak marah. Ia lalu membeli 8 powerbank asli dari merek terpercaya dari tempat lain, menata di meja, memotret, lalu menulis komentar di halaman toko Online yang mengecewakan tadi :  

“Powerbanknya luar biasa, kapasitas lebih dari 20.000 mAh. Beli 4 gratis 4. Mantap sekali tokonya!”  


Komentar itu memicu badai di Rating. Pembeli lain berbondong-bondong menuntut hal yang sama. Mereka menulis dengan nada kecewa dan marah:  

- “Saya beli 2, kenapa tidak dapat bonus?!”  

- “Kapasitasnya jauh di bawah iklan, ini penipuan!”  

- “Refund sekarang, atau kami viralkan toko ini!”  


Akibat komentar Pak Raja yang memanas-manasi pembeli lain. Halaman toko penuh komentar keras. Grup pembeli terbentuk, bahkan ada yang menghubungi lembaga perlindungan konsumen.  


Lalu Pak Raja menambahkan Komentar pujian yang menusuk:  

“Tokonya responsif dan promosinya berani—20.000 mAh dan bonus melimpah. Jarang ada yang seberani ini, pasti siap membuktikan sampai detail.”  


Hasil Pujian di komentar itu memaksa toko memenuhi janji di mata publik. Ketika gagal, pembeli ramai-ramai menuntut. Reputasi toko hancur, rating jatuh, dan akhirnya toko itu ditutup.  


Kesimpulannya, Pak Raja yang selalu tampil sederhana, sering diremehkan. Tapi ia punya jurus pamungkas: strategi kejam yang dingin, penuh perhitungan, dan paling elegan.  


Yang paling halus adalah menjatuhkan dengan pujian.  

Pujian membuat lawan terjebak oleh standar mereka sendiri. Saat gagal, mereka jatuh bukan karena dimaki, tapi karena citra yang mereka banggakan runtuh di depan semua orang.  








Sabtu, 03 Januari 2026

Rahasia yang Tidak Pernah Terbongkar: Cara Menjadi Kaya Mendapatkan 100 Juta per Bulan Tanpa Kerja

 

Di balik cerita-cerita sukses yang beredar, selalu ada satu kisah yang membuat orang penasaran. Sebuah kisah tentang seseorang yang mampu meraih penghasilan seratus juta per bulan, tanpa terlihat bekerja seperti orang kebanyakan.  


Langkah-langkahnya terdengar sederhana, tapi selalu disampaikan dengan cara yang mengambang.  

- Ada yang bilang dimulai dari memanfaatkan peluang.  

- Ada yang menyebut tentang mengatur strategi.  

- Ada pula yang menekankan pentingnya menjaga konsistensi.  

Semua terdengar logis, tapi tidak pernah benar-benar jelas.  


Setiap kali orang bertanya lebih jauh, jawabannya selalu samar. Seolah-olah ada pintu yang hampir terbuka, tapi kembali tertutup rapat. Cerita itu terus bergulir, membuat banyak orang percaya bahwa ada “program pemerintah” yang sedang berjalan, yang bisa membawa siapa saja ke angka fantastis itu.  


Namun, semakin dikejar, semakin kabur jejaknya. Tidak ada yang bisa memastikan langkah konkret apa yang harus diambil. Yang ada hanyalah potongan-potongan abstrak, gambaran besar yang membuat orang semakin penasaran.  


Dan akhirnya, ketika semua orang berharap menemukan kunci terakhir, jawaban yang muncul hanyalah satu:  


Namanya saja rahasia, mana mungkin dibongkar. 🤭








Realita : Anda Tidak Akan Didatangi Saat Hidup, Orang Akan Berdatangan Saat Anda Mati

 

Seorang manusia menderita luka di kakinya akibat diabetes. Awalnya hanya luka kecil, tetapi karena tidak dirawat, infeksi menyebar. Tubuhnya demam, lemah, dan ia mencari pertolongan serta perlindungan dari orang-orang terdekatnya.  


Namun, orang-orang justru menjauh. Mereka takut terbebani, takut ikut repot, dan menutup pintu.  


Ia pun berjalan tertatih, menangis bukan hanya karena sakit yang menggerogoti tubuhnya, tetapi karena tidak ada yang peduli—tepat ketika ia sangat membutuhkan kasih dan dukungan.  


Malam yang dingin menyambutnya. Setiap langkah pelan disertai air mata. Orang-orang melihatnya pergi, lalu berkata:  

“Biarkan saja. Lebih baik ia mati jauh dari kita.”  


---


Kabar Pertama

Waktu berlalu. Seorang tetangga datang membawa berita:  


“Saudaramu masih hidup! Ia tinggal di sebuah kamar kontrakan sempit di pinggir kota. Ia pulih, tetapi kehilangan satu kaki karena infeksi. Ia kesulitan mencari makanan dan membutuhkan bantuan kalian.”  


Semua orang terdiam. Tetapi satu demi satu mereka memberi alasan:  

- “Aku tidak bisa pergi, aku sedang bekerja.”  

- “Aku tidak bisa pergi, aku harus mencari nafkah.”  

- “Aku tidak bisa pergi, aku harus menjaga anak-anak.”  


Dan akhirnya, tak seorang pun yang datang menolong. Tetangga itu kembali ke kontrakan, tanpa membawa bantuan.  


---


Kabar Kedua

Waktu berlalu lagi. Tetangga itu kembali dengan berita menyakitkan:  


“Saudaramu sudah mati. Ia meninggal sendirian di dalam kontrakan, tanpa ada seorang pun yang mengubur atau berkabung untuknya. Ia mati dalam kelaparan, karena tidak ada makanan yang masuk ke tubuhnya.”  


---


Penyesalan

Pada saat itu, orang-orang mulai merasa sedih. Keluhan mendalam memenuhi rumah mereka.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya bekerja, berhenti.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya mencari nafkah, meninggalkan semuanya.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya merawat anak-anak, sejenak melupakan anak-anaknya.  


Timbullah rasa penyesalan di dalam hati mereka.  


Penyesalan itu lebih menyakitkan daripada luka apa pun. Mereka bertanya:  

“Kenapa kita tidak pergi lebih awal?”  


Tanpa mengukur jarak atau usaha, semua orang berbondong-bondong menuju kontrakannya itu, menangis dan mengeluh.  


Namun, semuanya sudah terlambat. Ketika sampai di kontrakan, mereka tidak lagi menemukan jasadnya. Yang tersisa hanyalah sebuah tulisan di dinding:  


“Dalam hidup, sering kali orang tidak sempat untuk sudi menyeberang jalan untuk menolongmu ketika itu engkau masih hidup,  tetapi mereka rela menyeberangi lautan untuk melihat kuburmu, setelah mendengar engkau telah mati.  

Dan sebagian besar air mata di kuburan bukan karena rasa sakit, melainkan karena penyesalan.”  


Pesan Kemanusiaan

Kisah ini adalah cermin kehidupan nyata:  

- Saat engkau hidup dan membutuhkan pertolongan, orang sering menutup mata.  

- Tetapi ketika engkau mati, orang akan berdatangan, bukan untukmu, melainkan untuk tradisi, keramaian, bahkan makan-makan (kenduri 7 hari, 2 kali 7 hari dst).  


Engkau hidup bisa saja mati karena kelaparan tidak memiliki beras, tetapi setelah kematianmu, orang justru berkumpul kenduri dengan makanan yang di hidangkan atas kematianmu.  


Penyakit memang bisa melemahkan tubuh, tetapi ketidakpedulian melemahkan hati.  Dan penyesalan, selalu datang paling akhir.