Sports

.
Tampilkan postingan dengan label Ekbis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekbis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Januari 2026

Fee di Depan vs Hadiah di Belakang: Analisis Perspektif Agama dan Hukum Formal (Kasus Proyek)

 


Fee di depan adalah suap. Titik. Ia haram menurut agama, ilegal menurut hukum, dan berbahaya karena sejak awal dimulai dengan unsur ketidakpercayaan. Kontraktor merasa tidak akan dipercaya jika hanya mengandalkan kualitas penawaran, sehingga memilih jalur uang. Fee di depan bukan membangun kepercayaan, melainkan membeli keputusan. Jalan yang ditempuh adalah jalan batil, dan dari jalan batil tidak mungkin lahir keberkahan.  


Hadiah di belakang berbeda. Ia bisa halal bila wajar, terbuka, dan murni sebagai ucapan terima kasih atas kepercayaan yang sudah diberikan. Hadiah yang wajar lahir dari rasa syukur, bukan dari transaksi tersembunyi. Hadiah seperti ini memperkuat hubungan, menumbuhkan rasa hormat, dan menjadi simbol penghargaan. Namun bila tidak wajar dan dimaksudkan untuk memengaruhi keputusan, maka statusnya berubah menjadi suap juga.  


Di sinilah pentingnya memahami akad. Dalam Islam, setiap transaksi bergantung pada akad, dan akad yang sah harus berlandaskan suka sama suka, bukan unsur paksaan. Jika sebuah pemberian dilakukan dengan tekanan, ancaman, atau jalur paksa, maka hukumnya lebih haram lagi. Misalnya ada oknum yang melaporkan pejabat ke ranah hukum, lalu setelah runding-runding meminta jatah. Itu haram seratus persen. Meminta melalui jalur paksa, sehingga orang terpaksa memberikannya, adalah bentuk pemerasan. Dalam agama, ini bukan lagi sekadar risywah, melainkan kezaliman. Dalam hukum formal, ini masuk kategori pemerasan dan tindak pidana korupsi.  


Perbedaan keduanya sangat tegas. Fee di depan adalah uang yang keluar karena tidak percaya pada sistem, tidak percaya pada kualitas diri, dan tidak percaya pada keadilan. Hadiah di belakang adalah tanda percaya: pekerjaan sudah selesai, kepercayaan sudah diberikan, lalu lahir rasa terima kasih. Fee di depan berarti membeli, hadiah di belakang berarti menghargai. Fee lahir dari ketidakpercayaan, hadiah lahir dari kepercayaan. Dan bila pemberian dilakukan dengan paksaan, maka itu lebih haram lagi, karena akadnya cacat sejak awal.  


Di banyak kota kita bisa melihat kontraktor yang memenangkan proyek besar, cepat kaya, tetapi cepat pula habisnya. Mengapa? Karena kekayaan itu lahir dari jalan batil. Uang yang datang dari fee di depan atau dari pemerasan tidak pernah bertahan lama. Ia mengalir deras, tetapi menghilang cepat, meninggalkan jejak kerusakan. Jalan rusak, jembatan retak, gedung bocor, dan masyarakat yang jadi korban. Kekayaan yang lahir dari suap adalah fatamorgana: tampak besar, tetapi rapuh dan cepat lenyap.  


Kesimpulannya jelas: fee di depan adalah haram titik, hadiah wajar sebagai ucapan terima kasih atas kepercayaan bisa halal, dan pemberian melalui jalur paksa adalah haram seratus persen. Fee di depan merusak sistem, hadiah wajar memperkuat hubungan, pemerasan menghancurkan keadilan. Transparansi dan kejujuran adalah kunci, bukan amplop, bukan tekanan.  


Oleh : 

Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M..Pd

Advokat/Pengacara, Konsultan Hukum, pengamat Sosial dan Pendidikan

Makna Kekayaan Menurut Bill Gates: "Putri Saya Tidak Akan Menikah dengan Orang Miskin"

 

Bill Gates pernah ditanya di sebuah konferensi, apakah ia rela putrinya menikah dengan pria miskin. Pertanyaan itu membuat orang tertawa, tapi jawaban Bill Gates justru membuat semua orang terdiam. Ia berkata, masalahnya bukan sekadar punya uang atau tidak, melainkan kemampuan untuk menciptakan nilai dan kekayaan. Kalau orang miskin menang judi, dia bukan tiba-tiba jadi orang kaya. Dia tetap orang miskin yang kebetulan punya banyak uang. Itulah sebabnya 90% orang yang menang judi atau lotre, dalam lima tahun kekayaannya sudah habis. Sebaliknya, ada pengusaha yang merintis dari nol, bahkan minus. Di mata orang lain dia mungkin miskin, tapi sebenarnya dia sedang membangun pondasi kekayaan. Orang seperti inilah yang diinginkan Bill Gates untuk menjadi menantunya, karena meski jatuh, dia bisa bangkit lagi dan mengembalikan kekayaannya dalam waktu singkat.  


Bill Gates lalu menegaskan perbedaan yang tajam. Orang kaya bisa bekerja sampai mati demi membangun kekayaan, sementara orang miskin bisa sampai nekat melakukan kejahatan, bahkan membuat orang lain celaka, demi uang. Mental kaya fokus pada tujuan, berusaha dengan elegan, tidak perlu menjatuhkan orang lain. Mental miskin justru sibuk mengurus orang lain, mencari kesalahan, menyingkirkan pesaing, agar dirinya saja yang terlihat maju. Orang kaya percaya bahwa dengan ilmu dan kerja keras mereka bisa terbang tinggi, sedangkan orang miskin memilih jalan pintas yang berbahaya.  


Untuk memperjelas, Bill Gates memberi contoh seorang pedagang kecil di pasar. Ada pedagang yang jujur, menimbang barang dengan benar, menjaga kualitas, dan melayani pembeli dengan ramah. Awalnya ia hanya punya lapak kecil, tapi karena kejujuran dan kesabaran, pelanggannya semakin banyak. Sepuluh tahun kemudian ia punya toko besar dan karyawan. Sebaliknya, ada pedagang lain yang curang, menipu timbangan, menjual barang rusak, dan menjelekkan pedagang lain. Mungkin ia cepat dapat uang, tapi reputasinya hancur, pembeli pergi, dan akhirnya ia jatuh miskin. Kisah ini menunjukkan bahwa orang miskin yang jujur dan sabar bisa berubah menjadi orang kaya, sementara orang miskin yang ambisius tanpa arah justru terjebak dalam keputusasaan dan kejahatan.  


Bill Gates menutup jawabannya dengan tegas: ketika ia mengatakan putrinya tidak akan menikah dengan pria miskin, maksudnya bukan soal uang, melainkan soal cara berpikir. Kekayaan sejati bukan di dompet, melainkan di pikiran. Orang miskin yang mau belajar, jujur, dan bekerja keras bisa menjadi kaya. Orang kaya yang malas dan tidak mau belajar bisa jatuh miskin. Pesannya sederhana: jangan iri pada orang kaya, tirulah cara mereka belajar dan bekerja. Jangan takut miskin, karena miskin bukan takdir. Kekayaan sejati adalah kemampuan menciptakan nilai, membangun kekayaan baru, dan tetap berdiri elegan tanpa harus menjatuhkan orang lain.  







Kamis, 08 Januari 2026

Hutang Konsumtif vs Hutang Produktif: Ambil Pelajaran dari ulah Pak Mul

 

Hutang bukan sekadar soal angka di buku bank. Ia bisa menjadi jalan menuju kehancuran bila dipakai untuk memuaskan gengsi, atau menjadi pintu menuju kesejahteraan bila diarahkan untuk usaha.  


Keluarga Pak Mulyono: Konsumtif hingga Merusak Moral

Pak Mulyono meminjam uang untuk merenovasi rumah dan membeli mobil baru, anaknya hura² dari hasil hutang. Awalnya ia merasa bangga, rumah tampak indah, mobil baru berkilau, dan hidup keluarga terlihat lebih mewah. Namun ketika cicilan datang, uang untuk membayar tidak ada. Hutang menumpuk, bunga berjalan, dan tekanan semakin berat.  


Dalam keputusasaan, ia mulai meminta ibuk bendahara Rumah Tangga menekan anak-anaknya agar menyetor uang. Tidak harus dengan cara bekerja keras, tetapi bisa juga dengan jalan pintas asal dapat uang. Bila perlu jual apa yang ada. Anak-anak awalnya diajarkan untuk malas hura² dengan hutang yang ada, hanya tahu menghabiskan, bahkan diarahkan mencari uang dengan cara apa saja, meski berisiko melanggar hukum. Moral keluarga rusak, nilai kerja keras hilang, dan generasi berikutnya tumbuh tanpa fondasi yang benar. Hutang konsumtif bukan hanya menghancurkan finansial, tetapi juga merusak tatanan moral.  


Pak Wowo: Produktif dan Berusaha Memperbaiki

Berbeda dengan Mulyono, Pak Wowo menggunakan hutang sebagai modal usaha warung. Ia membeli perlengkapan, stok barang, dan memperbaiki tempat usaha. Anak-anaknya diajak belajar berbisnis, menghitung keuntungan, dan memutar modal. Dari keuntungan usaha, cicilan hutang dibayar, usaha berkembang, dan keluarga memiliki sumber penghasilan baru.  


Namun, usaha Pak Wowo tidak mudah. Lingkungan yang sudah rusak akibat ulah konsumtif Pak Mulyono membuat anak-anak lain terbiasa malas, hanya ingin menghabiskan, dan tidak mau bekerja keras. Pak Wowo berjuang keras menanamkan nilai baru, tetapi selalu terbentur dengan budaya buruk yang sudah terlanjur terbentuk. Hutang produktif memang bisa memperbaiki keadaan, tetapi dampak kerusakan moral akibat hutang konsumtif membuat jalan itu penuh rintangan.  


Negeri Konoha: Cermin dari Dua Jalan

Di negeri Konoha, seorang pemimpin kurus jangkung mengambil hutang besar. Dana itu dihabiskan hanya untuk mempercantik wajah ibu kota: monumen, jalan indah, proyek pencitraan. Ketika cicilan datang, negara tidak punya cukup pemasukan. Rakyat dipaksa menanggung beban lewat pajak yang mencekik. Hutang konsumtif negara itu menjadi beban generasi, moral rakyat pun rusak karena terbiasa dipaksa menanggung kesalahan pemimpin.  


Ketika kepemimpinan berganti kepada Pak  Gemoy, arah hutang berubah. Dana pinjaman dipakai membangun koperasi rakyat. Modal bergulir, usaha kecil tumbuh, keuntungan kembali ke masyarakat. Dari hasil usaha koperasi, cicilan hutang dibayar, ekonomi rakyat bergerak, dan negara perlahan bangkit. Hutang produktif mampu mengubah beban menjadi kekuatan, meski harus berjuang melawan warisan buruk dari masa lalu.  


Hutang konsumtif bukan hanya menghancurkan finansial, tetapi juga merusak moral dan budaya kerja. Hutang produktif membuka peluang untuk memperbaiki keadaan, tetapi perjuangannya berat bila kerusakan sudah terlanjur terjadi. Kisah Pak Mulyono, Pak Wowo, dan negeri Konoha mengajarkan satu hal: hutang harus diarahkan dengan bijak, karena dampaknya bukan hanya pada uang, tetapi juga pada nilai hidup dan masa depan generasi.  



Analisa Penempatan Gedung Koperasi Merah Putih "Salah Posisi, Koperasi Berpotensi Mati”

 

Gedung koperasi tidak boleh ditempatkan sembarangan. Salah posisi bisa berakibat fatal: koperasi sepi pengunjung, usaha tidak berkembang, bahkan berpotensi mati. Karena itu, penempatan harus benar-benar strategis. Gedung mesti berdiri di jalur utama, dekat pusat aktivitas masyarakat seperti pasar, sekolah, atau kantor desa. Dengan begitu, arus orang yang lewat tinggi dan koperasi selalu terlihat jelas. Papan nama yang lugas dan tegas akan memperkuat identitas sebagai pusat ekonomi rakyat.


Fungsi utama gedung ini adalah mini market koperasi, tempat warga membeli sembako, produk pertanian, dan kebutuhan rumah tangga dengan harga terjangkau. Di samping itu, koperasi bisa menampung usaha pendukung seperti jasa pembayaran listrik, pulsa, BPJS, hingga simpan pinjam. Semua usaha harus relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar ikut tren. Dengan cara ini, koperasi tidak bersaing langsung dengan toko warga, melainkan melengkapi ekosistem usaha yang ada.

Orientasi keberlanjutan juga penting. Energi alternatif seperti PLTA mini atau panel surya bisa dipakai untuk operasional, sekaligus memberi citra ramah lingkungan. Hal ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga membangun kepercayaan publik bahwa koperasi berpikir jauh ke depan.


Di sinilah dana desa memainkan peran penting. Jika dana desa hanya dipotong untuk operasional rutin, manfaatnya cepat habis. Tetapi bila diarahkan untuk pengembangan koperasi, dana desa justru menjadi modal bergulir yang lebih berdaya guna. Dana desa bisa dipakai membangun gedung koperasi, memperkuat stok barang di mini market, atau mendukung usaha produktif warga melalui koperasi. Dengan begitu, dana desa tidak sekadar habis untuk belanja, melainkan tumbuh menjadi aset ekonomi yang terus berputar.


Dampak sosial-ekonomi dari penempatan yang tepat dan dukungan dana desa akan terasa nyata. Uang beredar di masyarakat, daya beli warga meningkat, dan generasi muda—Millennial serta Gen Z—dilibatkan sebagai pengelola maupun inovator usaha. Koperasi berdiri sebagai organisasi yang mandiri, dengan dukungan moral dari pihak luar, tetapi tetap otonom dalam menjalankan programnya.


Namun, risiko tetap ada. Salah posisi bisa membuat koperasi sepi. Salah jenis usaha bisa menimbulkan benturan dengan toko warga. Salah pengelolaan dana desa bisa membuat program berhenti di tengah jalan. Semua risiko ini hanya bisa diminimalkan dengan survei kebutuhan warga, dialog komunitas, serta penerapan energi alternatif.


Gedung Koperasi Merah Putih harus ditempatkan di titik strategis, mudah diakses, dan terlihat jelas. Salah posisi berarti ancaman mati, sementara posisi tepat berarti hidup sebagai pusat ekonomi lokal. Dengan dukungan dana desa yang diarahkan ke pengembangan koperasi, potensi ekonomi desa akan lebih berkembang, berdaya guna, dan berkelanjutan.


Oleh :

Adv. Yan Salam Wahab, SHi, M.Pd


Minggu, 04 Januari 2026

Menang dengan Strategi Kejam: Jurus Pamungkas Saat Terpaksa

 

Dalam hidup, kadang kita bertemu aturan yang tidak adil, orang yang meremehkan, atau penjual yang menipu. Kalau hanya marah, hasilnya sering tidak ada. Tapi kalau kita berpikir dingin, kita bisa menang dengan cara yang lebih elegan.  


Salah satu jurus paling halus adalah menjatuhkan dengan pujian. Kita seolah memuji, tapi sebenarnya membuat lawan terjebak oleh standar yang mereka banggakan sendiri. Saat mereka gagal, mereka jatuh oleh citra mereka sendiri.  


Cerita 1: Restoran Mahal – Orang Sederhana yang Membalik Keadaan


Suatu sore, Pak Raja masuk ke restoran mahal bersama temannya. Penampilannya sangat sederhana: baju kusam, sandal jepit. Orang-orang melihatnya seperti orang miskin yang salah tempat.  


Pelayan mendekat dengan nada meremehkan:  

“Di sini minimal belanja Rp2.000.000. Kalau tidak sanggup, Lebih baik makan di tempat lain saja.”  


Semua tamu menoleh, ada yang tersenyum sinis.  


Tapi Pak Raja tetap tenang. Ia keluarkan uang Rp5.000.000, lalu berkata datar:  

“Saya pesan sesuai nilai ini. Semua harus sempurna, selesai paling lama 20 menit.”  


Pesanannya rumit: puluhan rendang, ayam gulai, dendeng balado, sayur nangka, dan 60 gelas es teh dengan variasi berbeda. Semua harus keluar serentak dalam 20 Menit. 


Lalu Pak Raja menambahkan pujian yang menusuk:  

“Restoran ini katanya terkenal rapi dan cepat. Saya yakin semua porsi akan presisi, keluar bersamaan, dan tetap panas—itu kebanggaan dan Semboyan Restoran ini, kan?”  


Pelayan pucat, manajer panik, pemilik restoran datang dengan wajah memerah malu. Aturan “minimal order” langsung dihapus.

Pak Raja duduk tenang, menikmati rendang dengan elegan. Ia menutup dengan kalimat dingin:
“Kalau tak mampu melayani, jangan buka restoran.”


Akhirnya Restoran itu gagal memenuhi permintaan Pak Raja itu. Standar yang mereka banggakan justru menjatuhkan mereka di hadapan Pengunjung lainnya.  


Cerita 2: Rekaman Rahasia –di WA Grup Pebisnis


Malam itu, Pak Raja duduk di kafe, menikmati kopi. Dari ruang sebelah, terdengar suara sekelompok pebisnis. Awalnya obrolan biasa, lalu berubah jadi ejekan. Nama Pak Raja disebut berulang kali, disertai tawa meremehkan.  


Tanpa mereka sadari, suara itu jelas terdengar sampai ke tempat duduk Pak Raja. Ia menyalakan ponselnya, merekam percakapan itu.  


Beberapa jam kemudian, rekaman itu muncul di grup WhatsApp mereka. Cara Pak Raja mengirimnya membuat semua orang bingung. Ia menulis:  

“Ada yang kirim rekaman ini ke saya. Lucu sekali, grup yang kelihatan kompak ternyata ada pengkhianatnya. Dengarkan, suara siapa ya?”  


Sekejap, grup kacau. Ada yang keluar, ada yang panik, ada yang saling tuduh. Mereka merasa ada teman sendiri yang membocorkan rahasia.  


Lalu Pak Raja menambahkan pujian yang menusuk:  

“Grup ini luar biasa kompak, sampai ada yang rela mengirimkan rekaman ini ke saya demi menjaga integritas.”  


Akhirnya Kekompakan Grup yang selama ini dibanggakan dan dipuji justru berubah jadi Grup yang sudah saling curiga. Grup itu hancur karena mereka sendiri jadi tidak percaya satu sama lain.  


Cerita 3: Serangan Reputasi – Pada Toko Online tidak Amanah


Suatu pagi, Pak Raja menerima paket berisi 4 powerbank dari toko online. Iklan menjanjikan kapasitas 20.000 mAh, tapi setelah diuji, ternyata hanya 12.000 mAh.  


Penjual berkilah:  

“Kapasitas bisa berkurang saat perjalanan. Yang lain juga dapat seperti itu”  


Pak Raja kecewa tapi tidak marah. Ia lalu membeli 8 powerbank asli dari merek terpercaya dari tempat lain, menata di meja, memotret, lalu menulis komentar di halaman toko Online yang mengecewakan tadi :  

“Powerbanknya luar biasa, kapasitas lebih dari 20.000 mAh. Beli 4 gratis 4. Mantap sekali tokonya!”  


Komentar itu memicu badai di Rating. Pembeli lain berbondong-bondong menuntut hal yang sama. Mereka menulis dengan nada kecewa dan marah:  

- “Saya beli 2, kenapa tidak dapat bonus?!”  

- “Kapasitasnya jauh di bawah iklan, ini penipuan!”  

- “Refund sekarang, atau kami viralkan toko ini!”  


Akibat komentar Pak Raja yang memanas-manasi pembeli lain. Halaman toko penuh komentar keras. Grup pembeli terbentuk, bahkan ada yang menghubungi lembaga perlindungan konsumen.  


Lalu Pak Raja menambahkan Komentar pujian yang menusuk:  

“Tokonya responsif dan promosinya berani—20.000 mAh dan bonus melimpah. Jarang ada yang seberani ini, pasti siap membuktikan sampai detail.”  


Hasil Pujian di komentar itu memaksa toko memenuhi janji di mata publik. Ketika gagal, pembeli ramai-ramai menuntut. Reputasi toko hancur, rating jatuh, dan akhirnya toko itu ditutup.  


Kesimpulannya, Pak Raja yang selalu tampil sederhana, sering diremehkan. Tapi ia punya jurus pamungkas: strategi kejam yang dingin, penuh perhitungan, dan paling elegan.  


Yang paling halus adalah menjatuhkan dengan pujian.  

Pujian membuat lawan terjebak oleh standar mereka sendiri. Saat gagal, mereka jatuh bukan karena dimaki, tapi karena citra yang mereka banggakan runtuh di depan semua orang.  








Sabtu, 03 Januari 2026

Rahasia yang Tidak Pernah Terbongkar: Cara Menjadi Kaya Mendapatkan 100 Juta per Bulan Tanpa Kerja

 

Di balik cerita-cerita sukses yang beredar, selalu ada satu kisah yang membuat orang penasaran. Sebuah kisah tentang seseorang yang mampu meraih penghasilan seratus juta per bulan, tanpa terlihat bekerja seperti orang kebanyakan.  


Langkah-langkahnya terdengar sederhana, tapi selalu disampaikan dengan cara yang mengambang.  

- Ada yang bilang dimulai dari memanfaatkan peluang.  

- Ada yang menyebut tentang mengatur strategi.  

- Ada pula yang menekankan pentingnya menjaga konsistensi.  

Semua terdengar logis, tapi tidak pernah benar-benar jelas.  


Setiap kali orang bertanya lebih jauh, jawabannya selalu samar. Seolah-olah ada pintu yang hampir terbuka, tapi kembali tertutup rapat. Cerita itu terus bergulir, membuat banyak orang percaya bahwa ada “program pemerintah” yang sedang berjalan, yang bisa membawa siapa saja ke angka fantastis itu.  


Namun, semakin dikejar, semakin kabur jejaknya. Tidak ada yang bisa memastikan langkah konkret apa yang harus diambil. Yang ada hanyalah potongan-potongan abstrak, gambaran besar yang membuat orang semakin penasaran.  


Dan akhirnya, ketika semua orang berharap menemukan kunci terakhir, jawaban yang muncul hanyalah satu:  


Namanya saja rahasia, mana mungkin dibongkar. 🤭