Oleh:
Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.
Klik PUTAR LAGU
Danau Kerinci, yang berada di wilayah barat Jambi, Kabupaten Kerinci, adalah kebanggaan masyarakat. Ia bukan hanya air yang tenang di kaki Bukit Barisan, tetapi sumber hidup bagi banyak orang. Nelayan mencari ikan di sana, petani mengandalkan airnya untuk sawah, dan masyarakat menjadikannya simbol budaya. Namun kini, permukaan air danau semakin turun. Siapa pun yang datang ke tepi danau bisa melihat langsung: perahu nelayan kandas, garis pantai bergeser, dan air yang dulu luas kini menyusut.
Air danau sesungguhnya berasal dari sungai-sungai kecil yang berhulu di kawasan hulu. Hutan di hulu bekerja seperti wadah besar: menampung air hujan, menyimpannya di tanah, lalu melepaskannya perlahan ke sungai. Sungai-sungai itu masuk ke Danau Kerinci. Tetapi ketika kemarau panjang datang, hujan berkurang, tanah kering, sungai melemah, dan danau pun kekurangan air.
Masalah semakin berat karena hutan di kawasan hulu banyak dirusak. Pohon ditebang, tanah kehilangan daya serap, air hujan tidak lagi tersimpan. Sungai yang seharusnya mengalir deras menjadi kecil, bahkan ada yang mati. Danau kehilangan sumber utama. Ironisnya, ketika musim hujan datang, keadaan juga tidak stabil. Air hujan yang deras tidak lagi tertahan oleh hutan. Tanah gundul tidak mampu menyerap, sehingga air langsung meluncur ke bawah. Sungai meluap, banjir terjadi, sawah dan rumah warga terendam. Jadi, saat kemarau danau kering, saat hujan malah banjir.
Dampaknya nyata. Nelayan kehilangan ikan, petani kehilangan air di musim kemarau, lalu kehilangan sawah di musim hujan. Masyarakat kehilangan kebanggaan terhadap danau yang dulu megah. Kadang menyedihkan melihat kondisi ini, tetapi di warung kopi sering terdengar keluhan bercampur satir: “Musim Kemarau kita sibuk angkut jerigen nunggu Mobil PDAM bawa air, musim hujan kita sibuk angkut barang ke loteng.” Lelucon pahit ini bukan untuk tertawa, melainkan cara warga menertawakan nasib yang serba sulit.
Karena itu, tanggung jawab menjaga hutan di hulu tidak bisa ditawar. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang tegas: hentikan perambahan hutan di kawasan hulu, lakukan rehabilitasi, dan siapkan sistem pengelolaan air yang berkelanjutan. Masyarakat juga harus ikut serta, tidak hanya menunggu bantuan, tetapi menjaga lingkungan sekitar dengan kesadaran bahwa alam adalah sumber hidup. Hutan di Mudik atau Hulu sana yang rusak berarti itu sebab danau yang surut, dan danau yang surut berarti hidup masyarakat akan ikut terancam.
Sebagai advokat dan pendidik, saya melihat persoalan ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal hak masyarakat. Air adalah kebutuhan dasar. Ketika danau surut, hak masyarakat atas sumber penghidupan ikut terancam. Ketika banjir datang, hak masyarakat atas tempat tinggal ikut terganggu. Menjaga hutan di hulu berarti menjaga sungai, menjaga sungai berarti menjaga danau, dan menjaga danau berarti menjaga hidup kita sendiri.
Danau Kerinci sedang memberi peringatan. Jika hutan di hulu terus dirusak dan kemarau dibiarkan tanpa solusi, maka danau ini bukan hanya akan surut, tetapi bisa menandakan akan adanya bencana besar ke depan. Jika musim hujan terus dibiarkan tanpa hutan penyangga, banjir pasti akan terus datang di musim hujan. Pilihannya jelas: kita jaga hutan bersama-sama, pemerintah dan masyarakat bergandeng tangan, atau kita siap hidup dalam lingkaran surut dan banjir yang melelahkan.




Tidak ada komentar:
Write komentar