Kasus yang menimpa Pak Guru Agus adalah potret nyata bagaimana korban bisa disudutkan oleh arus opini yang menyesatkan. Seorang guru yang sejatinya ingin menegakkan disiplin dan membentuk akhlak murid justru diposisikan sebagai pihak bersalah. Kata-kata motivasi sederhana yang ia ucapkan, “Kalau tak mampu, jangan banyak gaya,” seharusnya dipahami sebagai nasihat agar murid belajar rendah hati. Namun, kalimat itu dipelintir menjadi hinaan, seolah menyebut miskin, dan framing ini dengan cepat mengubah pesan moral menjadi stigma sosial.
Ketika situasi memanas dan banyak siswa berusaha mengeroyoknya, Pak Agus spontan memegang arit, alat kebersihan sekolah, untuk menakuti agar keadaan terkendali. Tindakan defensif ini justru diframing sebagai ancaman dengan celurit, seakan ia berniat melukai. Padahal jelas, niatnya bukan menyerang, melainkan melindungi diri. Lebih ironis lagi, ketika Pak Agus diteriaki kata-kata kasar oleh siswa, fakta ini ditutupi dengan istilah lain, seolah pelecehan verbal itu tidak pernah terjadi.
Di balik semua itu, kita harus melihat siapa sebenarnya Pak Agus. Ia adalah guru yang ingin muridnya berakhlak, beradab, dan taat kepada orang tua. Namun, dalam pusaran opini, banyak pihak justru membenarkan perilaku salah siswa. Pertanyaannya, apakah kita rela dunia pendidikan kehilangan arah hanya karena framing yang menyesatkan? Apakah kita akan terus membiarkan guru menjadi korban narasi yang diputarbalikkan?
Kasus ini adalah gambaran bagaimana narasi bisa membalikkan fakta, bagaimana korban bisa disudutkan, dan bagaimana nilai pendidikan terkikis oleh pembelaan buta terhadap perilaku salah. Dunia pendidikan harus kembali pada esensinya: membentuk akhlak, adab, dan karakter. Jika tidak, guru akan terus menjadi korban framing, sementara generasi muda kehilangan arah.
Oleh:
Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.
Advokat, Pengacara Konsultan Hukum, Pengamat Sosial Pendidikan dan Ilmu Karakter



Tidak ada komentar:
Write komentar