Perang di era modern tidak lagi bergantung pada jumlah pasukan atau keberanian di medan tempur. Pola membunuh kini berubah. Teknologi dijadikan algojo, algoritma dijadikan hakim, dan data pribadi dijadikan senjata.
Kesaksian pengawal Nicolás Maduro menjadi alarm keras. Mereka berdiri tegak, lalu tiba‑tiba tubuh diguncang oleh sesuatu yang tak terlihat. Suara keras menghantam telinga, kepala terasa meledak dari dalam, darah muncrat dari hidung, beberapa muntah darah, dan tubuh roboh tak bisa bergerak. Itu bukan peluru, bukan bom, melainkan senjata misterius yang menghantam dengan gelombang suara. Serangan itu dingin, cepat, dan presisi—membuktikan bahwa manusia bisa dilumpuhkan tanpa sempat melawan.
Namun bagi saya, yang lebih mengerikan bukan sekadar senjata misterius itu. Masa depan perang ada pada drone mini. Drone kecil, nyaris tak terdengar, bisa dikirim langsung ke sasaran. Ia tidak menembak kerumunan, melainkan satu orang yang sudah dipilih algoritma. Dan algoritma itu bekerja dari data pribadi. Nama, alamat, lokasi GPS, kebiasaan harian—semua jejak digital yang kita tinggalkan bisa berubah menjadi peta eksekusi.
Inilah inti kejamnya: data pribadi dijadikan senjata untuk menentukan siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati. Drone mini tidak lagi sekadar mesin terbang, ia adalah algojo modern. Ia membaca data, memilih target, lalu mengeksekusi. Privasi runtuh, manusia berubah menjadi titik koordinat. Hidup dan mati ditentukan bukan oleh hakim, bukan oleh takdir, melainkan oleh algoritma dingin.
Amerika sudah menunjukkan contohnya. Serangan drone di Timur Tengah menewaskan target individu yang dipilih dari daftar data. Operator duduk ribuan kilometer jauhnya, menatap layar, menekan tombol, dan dalam hitungan detik sebuah rudal kecil menghantam mobil atau rumah. Tidak ada pertempuran, tidak ada perlawanan. Hanya satu orang yang dipilih untuk mati, sementara dunia di sekitarnya tetap berjalan seperti biasa.
Kisah di Yaman menjadi contoh dramatis. Seorang pria bernama Anwar al‑Awlaki, warga negara Amerika sekaligus ulama radikal, dijadikan target. Data pribadinya dikumpulkan: lokasi, komunikasi, kebiasaan. Drone dikirim, rudal ditembakkan, dan ia tewas seketika. Tidak ada pengadilan, tidak ada proses hukum. Hidup dan mati ditentukan oleh algoritma dingin yang membaca data.
Kisah lain datang dari Pakistan. Drone menargetkan rumah yang diyakini menjadi tempat persembunyian militan. Data lokasi GPS dan komunikasi elektronik dipakai untuk memastikan siapa yang ada di dalam. Rudal ditembakkan, rumah hancur, dan belasan orang tewas. Di antara korban, ada anak‑anak dan warga sipil yang tidak pernah tahu mengapa mereka harus mati.
Inilah pola membunuh era modern: manusia dijadikan titik koordinat dalam daftar eksekusi. Senjata misterius bisa melumpuhkan pasukan dalam sekejap, sementara drone mini berbasis data pribadi bisa memburu individu dengan presisi. Perang bukan lagi soal keberanian di medan tempur, melainkan soal siapa yang dikejar algoritma. Hidup bisa berakhir bukan karena bom atom, tetapi karena data pribadi yang bocor.
Pola ini dramatis, kejam, dan dingin. Ia menunjukkan wajah perang yang tidak lagi manusiawi. Teknologi menjadi algojo, data pribadi menjadi peluru, dan algoritma menjadi hakim. Dunia harus sadar: ketika privasi runtuh, hidup manusia bisa runtuh bersamanya.
Oleh:
Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.






Tidak ada komentar:
Write komentar