Dia bukan pengemis.
Dia bukan pengungsi.
Dia adalah Presiden Finlandia.
Nama Tarja Halonen mungkin tidak sering terdengar di telinga masyarakat Indonesia. Namun, perempuan ini pernah memimpin Finlandia selama dua periode, dari tahun 2000 hingga 2012. Di bawah kepemimpinannya, negara kecil di Eropa Utara itu dikenal sebagai salah satu tempat terbaik di dunia untuk pendidikan, layanan kesehatan, dan kualitas hidup.
Finlandia tumbuh, perusahaan-perusahaannya maju, sistem sosialnya semakin kuat. Tetapi Halonen tidak pernah melupakan satu hal sederhana: hidup tidak pernah benar-benar adil.
Ia sering mengingatkan bahwa perbedaan antara seorang presiden dan seorang pengungsi tidak selalu soal kemampuan atau kerja keras. Kadang, perbedaan itu hanya soal keberuntungan dan kesempatan. “Saya bisa saja menjadi pengemis atau pengungsi,” katanya suatu kali. “Kesempatanlah yang membuat saya menjadi presiden.”
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Halonen kerap menempatkan dirinya dalam kampanye yang menantang cara pandang masyarakat terhadap kemiskinan dan perpindahan. Bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk mengingatkan bahwa siapa pun bisa berada di posisi yang sulit. Tidak semua orang memulai hidup dengan peluang yang sama, dan tidak semua orang dilindungi oleh keadaan.
Halonen menolak pandangan bahwa kemiskinan selalu merupakan kesalahan individu. Baginya, kekuasaan bukan alasan untuk melupakan mereka yang lemah. Justru kekuasaan adalah tanggung jawab untuk peduli.
Warisan pemikirannya sederhana tetapi kuat: kesempatan adalah fondasi keadilan sosial. Tanpa kesempatan, bakat dan kerja keras sering kali tidak cukup. Dari kursi kepresidenan, ia mengingatkan dunia bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal membangun negara, tetapi juga soal membangun empati.
Tarja Halonen mungkin sudah tidak lagi menjabat, tetapi pesannya tetap relevan. Ia menunjukkan bahwa seorang presiden bisa sekaligus menjadi suara bagi mereka yang tak terdengar. Bahwa kekuasaan, pada akhirnya, adalah amanah untuk peduli.







Tidak ada komentar:
Write komentar