Seorang manusia menderita luka di kakinya akibat diabetes. Awalnya hanya luka kecil, tetapi karena tidak dirawat, infeksi menyebar. Tubuhnya demam, lemah, dan ia mencari pertolongan serta perlindungan dari orang-orang terdekatnya.
Namun, orang-orang justru menjauh. Mereka takut terbebani, takut ikut repot, dan menutup pintu.
Ia pun berjalan tertatih, menangis bukan hanya karena sakit yang menggerogoti tubuhnya, tetapi karena tidak ada yang peduli—tepat ketika ia sangat membutuhkan kasih dan dukungan.
Malam yang dingin menyambutnya. Setiap langkah pelan disertai air mata. Orang-orang melihatnya pergi, lalu berkata:
“Biarkan saja. Lebih baik ia mati jauh dari kita.”
---
Kabar Pertama
Waktu berlalu. Seorang tetangga datang membawa berita:
“Saudaramu masih hidup! Ia tinggal di sebuah kamar kontrakan sempit di pinggir kota. Ia pulih, tetapi kehilangan satu kaki karena infeksi. Ia kesulitan mencari makanan dan membutuhkan bantuan kalian.”
Semua orang terdiam. Tetapi satu demi satu mereka memberi alasan:
- “Aku tidak bisa pergi, aku sedang bekerja.”
- “Aku tidak bisa pergi, aku harus mencari nafkah.”
- “Aku tidak bisa pergi, aku harus menjaga anak-anak.”
Dan akhirnya, tak seorang pun yang datang menolong. Tetangga itu kembali ke kontrakan, tanpa membawa bantuan.
---
Kabar Kedua
Waktu berlalu lagi. Tetangga itu kembali dengan berita menyakitkan:
“Saudaramu sudah mati. Ia meninggal sendirian di dalam kontrakan, tanpa ada seorang pun yang mengubur atau berkabung untuknya. Ia mati dalam kelaparan, karena tidak ada makanan yang masuk ke tubuhnya.”
---
Penyesalan
Pada saat itu, orang-orang mulai merasa sedih. Keluhan mendalam memenuhi rumah mereka.
- Saudara dan kerabatnya yang tadinya bekerja, berhenti.
- Saudara dan kerabatnya yang tadinya mencari nafkah, meninggalkan semuanya.
- Saudara dan kerabatnya yang tadinya merawat anak-anak, sejenak melupakan anak-anaknya.
Timbullah rasa penyesalan di dalam hati mereka.
Penyesalan itu lebih menyakitkan daripada luka apa pun. Mereka bertanya:
“Kenapa kita tidak pergi lebih awal?”
Tanpa mengukur jarak atau usaha, semua orang berbondong-bondong menuju kontrakannya itu, menangis dan mengeluh.
Namun, semuanya sudah terlambat. Ketika sampai di kontrakan, mereka tidak lagi menemukan jasadnya. Yang tersisa hanyalah sebuah tulisan di dinding:
“Dalam hidup, sering kali orang tidak sempat untuk sudi menyeberang jalan untuk menolongmu ketika itu engkau masih hidup, tetapi mereka rela menyeberangi lautan untuk melihat kuburmu, setelah mendengar engkau telah mati.
Dan sebagian besar air mata di kuburan bukan karena rasa sakit, melainkan karena penyesalan.”
Pesan Kemanusiaan
Kisah ini adalah cermin kehidupan nyata:
- Saat engkau hidup dan membutuhkan pertolongan, orang sering menutup mata.
- Tetapi ketika engkau mati, orang akan berdatangan, bukan untukmu, melainkan untuk tradisi, keramaian, bahkan makan-makan (kenduri 7 hari, 2 kali 7 hari dst).
Engkau hidup bisa saja mati karena kelaparan tidak memiliki beras, tetapi setelah kematianmu, orang justru berkumpul kenduri dengan makanan yang di hidangkan atas kematianmu.
Penyakit memang bisa melemahkan tubuh, tetapi ketidakpedulian melemahkan hati. Dan penyesalan, selalu datang paling akhir.







Tidak ada komentar:
Write komentar