Bayangkan Anda mengajak berbisnis seorang preman yang jauh lebih kuat dari Anda. Tanpa perlu berbisnis pun, ia sudah bisa memalak Anda dengan otot dan pengaruh yang dimilikinya. Begitulah posisi kita di hadapan Amerika Serikat. Kita kira dengan menuruti semua kemauan Trump, tarif akan dihapus. Nyatanya? Produk kita tetap kena 19 persen, sementara barang-barang mereka masuk gratis.
Uang pada dasarnya hanyalah kertas yang diberi angka. Bedanya, bangsa penguasa bisa meyakinkan dunia bahwa kertas mereka lebih berharga daripada kertas kita. Kertas mereka bisa berlaku di mana saja, sementara kertas kita dianggap mainan anak-anak. Inilah bentuk kekuasaan yang paling telanjang: bukan karena mereka lebih pintar, tapi karena mereka lebih kuat memposisikan diri agar aman, sementara kita rela menandatangani kontrak penyanderaan secara sukarela.
Amerika tidak menghasilkan apa-apa selain kemampuan menekan dan merampok dari pihak lain. Mereka hidup dari mengatur aturan main seenaknya, memanfaatkan kelemahan mitra dagang, dan menjadikan negara lain sebagai ladang keuntungan. Indonesia pun kena getahnya. Dan bodohnya, kita justru merasa sudah “menang” padahal jelas-jelas dirugikan. Kita membuka pintu selebar-lebarnya, mereka bebas masuk tanpa bayar, sementara kita masuk ke negara mereka harus bayar mahal. Itu adalah murni kena palak.
Lebih ironis lagi, sikap kita terhadap Palestina. Di panggung internasional, kita berteriak lantang membela Palestina, bahkan siap kirim pasukan. Tapi di balik layar, arah kebijakan mulai goyah: ada wacana pengakuan Israel dengan syarat tertentu. Artinya, kita bukan hanya terlihat bodoh di hadapan Amerika, tapi juga mengkhianati komitmen moral yang selama ini kita banggakan.
Bangsa yang kuat tidak akan tunduk pada yang lemah. Mereka tahu cara memposisikan diri agar aman. Maka, kalau kita benar-benar ingin disebut kuat, jangan hanya berani di kata-kata. Jangan sampai harga diri bangsa ditukar dengan kertas berangka yang semu, akses pasar palsu, atau kompromi politik yang melemahkan solidaritas kita.
Tarif 19 persen, uang yang hanya kertas berangka, sikap bodoh di hadapan Amerika, dan pengkhianatan terhadap Palestina sama-sama ujian diplomasi. Pertanyaannya sederhana: mau terus jadi korban dipalak murni, terlihat bodoh, sekaligus mengkhianati komitmen moral, atau berdiri tegak sebagai bangsa berdaulat? Jawabannya ada pada keberanian kita sendiri. Yang kuat tidak akan mungkin tunduk pada aturan pihak yang lemah.




Tidak ada komentar:
Write komentar