Dengar nama Muammar Khadafi, apa yang muncul di kepala? Pemimpin nyentrik dengan baju mirip kostum film fiksi ilmiah? Diktator haus darah? Atau justru satu-satunya orang yang punya nyali untuk bilang “TIDAK” kepada bos-bos dunia. Mari kita bedah realitanya tanpa polesan.
Libya pernah berdiri sebagai negara paling sejahtera di Afrika. Tahun 1969, negeri kaya minyak itu hanya membuat rakyatnya gigit jari karena hasilnya lari ke kantong asing. Khadafi datang, menendang pemain lama, dan berkata lantang: “Minyak ini milik rakyat Libya, bukan milik kalian!” Ia menolak tunduk pada blok Barat maupun Timur, memilih jalannya sendiri. Hasilnya, pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan standar hidup Libya menjadi yang tertinggi di Afrika. Di bawah Khadafi, Libya punya uang, harga diri, dan stabilitas.
Namun keberanian itu membuatnya berhadapan langsung dengan Amerika. Dosa terbesar Khadafi bukan karena ia keras terhadap oposisi, melainkan karena ia terlalu berani menyentuh “dompet” dunia. Ia merancang mata uang Afrika berbasis emas dan berencana menjual minyak tanpa bergantung pada dolar AS. Itu berarti menantang sistem keuangan global yang menjaga dominasi Washington. Begitu ia mencoba memutus ketergantungan Afrika dari Barat, target langsung dipasang di punggungnya.
Arab Spring 2011 menjadi pintu masuk. Amerika bersama NATO datang dengan dalih melindungi warga sipil. Kedengarannya mulia, tetapi hasilnya justru tragis. Khadafi dibantai di jalanan, dan setelah ia mati, Libya bukannya menjadi surga demokrasi, melainkan neraka dunia.
Hari ini, Libya terpecah belah. Pemerintahan ganda di timur dan barat saling berebut legitimasi, sementara milisi bersenjata menguasai jalanan. Perang saudara tak pernah selesai, ekonomi hancur, dan minyak yang dulu menopang kesejahteraan kini jadi rebutan kelompok bersenjata serta asing. Rakyat hidup dalam ketakutan, anak-anak tumbuh di kamp pengungsian, dan pasar budak modern kembali muncul di abad ke-21. Tripoli dan Benghazi bukan lagi simbol kemakmuran, melainkan wajah kehancuran.
Khadafi memang bukan malaikat. Ia otoriter, menyingkirkan oposisi, dan narsis luar biasa. Tetapi ia adalah fondasi yang menahan Libya agar tidak runtuh. Begitu fondasi itu dihancurkan tanpa pengganti yang jelas, negara ikut ambruk. Dunia menyebutnya diktator gila karena ia menolak tunduk, padahal kenyataannya ia dizalimi karena berani melawan sistem yang dikendalikan Amerika.
Libya hari ini menjadi saksi nyata: sebuah bangsa yang pernah sejahtera hancur setelah pemimpinnya dijatuhkan. Khadafi bukan sekadar diktator, ia adalah simbol perlawanan yang dibayar dengan nyawa.







Tidak ada komentar:
Write komentar