Dulu Haiti adalah mutiara Karibia. Negeri tropis yang subur, pelabuhan yang ramai, dan tanah yang kaya menjadikannya pusat impian semua orang. Ia berdiri gagah sebagai negara pertama di kawasan itu yang merdeka dari kolonialisme, simbol kebebasan yang menginspirasi dunia. Namun kejayaan itu perlahan memudar. Kemerdekaan yang diperoleh dengan darah justru dibalas dengan utang besar kepada Prancis, dan sejak itu Haiti berjalan dengan rantai di kaki.
Hutang itu menjelma menjadi kelaparan, sekolah yang runtuh, rumah sakit tanpa obat, dan jalanan penuh geng bersenjata. Setiap kali Haiti mencoba bangkit, hutang kembali menekan. Setiap kali rakyat berharap, hutang kembali menutup pintu masa depan. Negeri ini terseret arus, dan akhirnya tenggelam dalam adu domba.
Di tengah jerat hutang, tekanan asing—terutama Amerika Serikat—semakin memperparah keadaan. Intervensi politik, embargo, dan dukungan pada rezim yang lemah membuat rakyat Haiti tak pernah benar-benar berdaulat. Setiap kali Haiti mencoba berdiri sendiri, tangan asing kembali menekan, dan rakyat menjadi korban permainan geopolitik.
Lebih parah lagi, para pemimpin Haiti sendiri justru sibuk dengan fanatisme buta, mudah terpedaya janji asing, dan tenggelam dalam jiwa korup. Mereka lebih sibuk memperebutkan kursi kekuasaan daripada menyelamatkan rakyat. Negeri yang dulu pusat impian kini berubah menjadi panggung tragedi: rakyat kelaparan, geng bersenjata menguasai ibu kota, anak-anak direkrut paksa, dan petani diusir dari ladang.
Puncak kekacauan terjadi ketika presiden Haiti, Jovenel Moïse, dibunuh pada 7 Juli 2021 di rumah pribadinya. Peristiwa itu mengguncang dunia dan menegaskan betapa rapuhnya negara ini. Pembunuhan seorang kepala negara bukan hanya tragedi politik, tetapi juga simbol runtuhnya otoritas negara. Sejak saat itu, Haiti benar-benar kehilangan arah. Pemerintahan lumpuh, geng bersenjata mengambil alih, dan rakyat semakin terjebak dalam ketakutan.
Kini, Port-au-Prince bukan lagi ibu kota, melainkan arena perang geng. Pemerintah hanya bayangan, hukum hanya kata-kata. Yang nyata adalah senjata, api, dan pelarian. Jenazah bergelimpangan sudah menjadi pemandangan biasa, jalanan penuh darah dan ketakutan. Lebih dari sejuta orang mengungsi, mencari aman yang tak pernah ada.
Haiti adalah peringatan keras bagi dunia. Ia menunjukkan bahwa sebuah bangsa bisa runtuh bukan hanya karena perang besar, tetapi karena bahaya hutang yang dibiarkan menjerat terlalu lama. Hutang membuat negara kehilangan kedaulatan, membuka pintu intervensi asing, dan memberi ruang bagi pemimpin yang lemah, fanatik, dan korup untuk terus bergantung pada pinjaman. Pemimpin yang mengandalkan hutang bukanlah penyelamat, melainkan penggali lubang yang semakin dalam. Dari negeri yang dulu makmur dan menjadi pusat impian, kini Haiti berdiri sebagai simbol negara paling kacau dan berbahaya di dunia.
Oeh : Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd







Tidak ada komentar:
Write komentar