Sports

.

Jumat, 09 Januari 2026

Amplop di Meja Hukum: Keadilan yang Masuk Angin

 

Kemenangan perkara yang diraih dengan amplop bukanlah kemenangan hukum, melainkan kemenangan korupsi. Kehebatan sejati dalam proses hukum seharusnya lahir dari argumentasi yang kuat, bukti yang jelas, dan prosedur yang dijalankan dengan integritas. Jika kemenangan ditentukan oleh uang, maka yang runtuh bukan hanya perkara, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap seluruh sistem hukum.  


Proses hukum berjalan dari awal penyelidikan, penyidikan, penuntutan, hingga persidangan. Di setiap tahap, peluang “masuk angin” selalu ada. Sejak awal, berkas bisa diatur, bukti bisa ditutup, saksi bisa ditekan. Di tahap berikutnya, tuntutan bisa diperdagangkan, pasal bisa dipelintir, dan dakwaan bisa dipermainkan. Puncaknya, putusan bisa dijual, bukan lagi berdasarkan fakta dan hukum, melainkan berdasarkan amplop yang berpindah tangan. Inilah rantai busuk yang membuat meja hukum berubah menjadi pasar gelap keadilan.  


Gelagat di persidangan sering kali menjadi cermin yang tak bisa disembunyikan. Proses yang sehat memberi kesempatan yang sama kepada semua pihak, pertanyaan yang seimbang kepada saksi, dan ruang yang adil bagi pembelaan maupun dakwaan. Tetapi ketika satu pihak diberi keleluasaan, sementara pihak lain ditekan, dimarahi, bahkan ditakut-takuti, maka jelas prosesnya sudah masuk angin. Ketika satu pihak dibiarkan melanggar, sementara pihak lain langsung dihentikan, maka keadilan sudah kehilangan wasitnya. Proses hukum seharusnya seperti pertandingan yang dijaga wasit: tidak ikut menggiring bola, tidak ikut mencetak gol, tidak memberi keistimewaan pada satu tim. Jika wasit ikut bermain, maka pertandingan bukan lagi adil, melainkan curang.  


Dan pada akhirnya, sehebat-hebatnya argumen hukum dimainkan, secerdas apa pun strategi disusun, semua itu tidak ada gunanya jika juri atau majelis sudah memihak. Argumen sehebat apa pun akan dipatahkan bukan oleh logika, melainkan oleh keberpihakan. Hukum yang seharusnya menjadi wasit netral berubah menjadi pemain curang.  


Maka teranglah: amplop di meja hukum bukanlah strategi, melainkan pengkhianatan. Proses hukum yang masuk angin bukan sekadar melanggar etika, tapi meruntuhkan fondasi negara hukum. Selama suap masih dianggap jalan pintas, jangan harap keadilan akan benar-benar tegak di negeri ini.  


“Sehebat apa pun argumen, jika juri sudah memihak, keadilan hanyalah ilusi.”



Oleh: 

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.  

Multi-talented legal activist, konsultan hukum, pendidik, jurnalis, dan komunikator publik kreatif.  



KUHAP Baru : Rekaman CCTV Wajib di Ruang Pemeriksaan, Demi Keadilan dan Transparansi Hukum

 

Dari Ruang Gelap ke Era Transparansi Penyidikan. CCTV Wajib, Hak Asasi Lebih Terjamin. Reformasi hukum acara pidana di Indonesia memasuki babak baru dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Salah satu ketentuan paling menonjol adalah Pasal 30 KUHAP, yang mewajibkan penggunaan kamera pengawas (CCTV) dalam setiap pemeriksaan oleh penyidik.  


Selama ini, ruang pemeriksaan sering dianggap sebagai “ruang gelap” yang rawan intimidasi. Ketika terjadi dugaan pelanggaran, bukti sulit dihadirkan. Kini, dengan adanya rekaman CCTV, ruang pemeriksaan menjadi lebih terang: setiap tindakan penyidik dapat dipantau, setiap kata dapat diuji, dan setiap proses dapat dipertanggungjawabkan.  


Wakil Menteri Hukum dan HAM, Edward Omar Sharif Hiariej, menegaskan bahwa aturan ini dirancang untuk mencegah terjadinya intimidasi maupun perlakuan tidak manusiawi.  


 “Kamera pengawas itu untuk memastikan tidak ada penyiksaan, dan tidak ada intimidasi yang dilakukan oleh penyidik terhadap baik tersangka, korban maupun saksi,” ujar Edward, dikutip dari ANTARA, Selasa (6/1/2026).  


Implikasi Pasal 30 KUHAP

- Bagi penyidik: ruang pemeriksaan wajib dilengkapi perangkat rekaman standar, dengan hasil rekaman tersimpan sebagai dokumen resmi.  

- Bagi masyarakat: hadirnya rekaman memberikan rasa aman dan kepercayaan bahwa hak-hak mereka dijaga.  

- Bagi sistem peradilan: rekaman dapat dijadikan bukti jika terjadi pelanggaran prosedur atau dugaan pelanggaran HAM.  


Pandangan Opini

Sebagai advokat, saya melihat aturan ini bukan sekadar formalitas, melainkan tonggak penting dalam perjalanan hukum acara pidana kita. Rekaman pemeriksaan adalah jaminan moral bahwa negara hadir melindungi warganya.  


Namun, agar aturan ini benar-benar efektif, ada beberapa hal yang harus dijaga:  

- Integritas rekaman: rekaman harus tersimpan aman, tidak boleh dimanipulasi atau dihapus.  

- Hak akses: pihak yang diperiksa dan kuasa hukumnya harus dapat mengakses rekaman bila diperlukan sebagai bukti.  

- Pengawasan independen: lembaga pengawas eksternal perlu memastikan implementasi aturan berjalan sesuai tujuan, bukan sekadar formalitas.  


KUHAP 2025 dengan Pasal 30-nya jelas menandai era baru penyidikan di Indonesia. Rekaman pemeriksaan bukan hanya instrumen teknis, tetapi simbol komitmen negara terhadap perlindungan hak asasi manusia dan transparansi hukum.  


Oleh:  

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd  

Advokat/Pengacara, Konsultan Hukum, Aktivis Kemasyarakatan, Pengamat Lingkungan, Sosial, Politik, Hankam, Kesra, dan Pendidikan  










Kamis, 08 Januari 2026

Hutang Konsumtif vs Hutang Produktif: Ambil Pelajaran dari ulah Pak Mul

 

Hutang bukan sekadar soal angka di buku bank. Ia bisa menjadi jalan menuju kehancuran bila dipakai untuk memuaskan gengsi, atau menjadi pintu menuju kesejahteraan bila diarahkan untuk usaha.  


Keluarga Pak Mulyono: Konsumtif hingga Merusak Moral

Pak Mulyono meminjam uang untuk merenovasi rumah dan membeli mobil baru, anaknya hura² dari hasil hutang. Awalnya ia merasa bangga, rumah tampak indah, mobil baru berkilau, dan hidup keluarga terlihat lebih mewah. Namun ketika cicilan datang, uang untuk membayar tidak ada. Hutang menumpuk, bunga berjalan, dan tekanan semakin berat.  


Dalam keputusasaan, ia mulai meminta ibuk bendahara Rumah Tangga menekan anak-anaknya agar menyetor uang. Tidak harus dengan cara bekerja keras, tetapi bisa juga dengan jalan pintas asal dapat uang. Bila perlu jual apa yang ada. Anak-anak awalnya diajarkan untuk malas hura² dengan hutang yang ada, hanya tahu menghabiskan, bahkan diarahkan mencari uang dengan cara apa saja, meski berisiko melanggar hukum. Moral keluarga rusak, nilai kerja keras hilang, dan generasi berikutnya tumbuh tanpa fondasi yang benar. Hutang konsumtif bukan hanya menghancurkan finansial, tetapi juga merusak tatanan moral.  


Pak Wowo: Produktif dan Berusaha Memperbaiki

Berbeda dengan Mulyono, Pak Wowo menggunakan hutang sebagai modal usaha warung. Ia membeli perlengkapan, stok barang, dan memperbaiki tempat usaha. Anak-anaknya diajak belajar berbisnis, menghitung keuntungan, dan memutar modal. Dari keuntungan usaha, cicilan hutang dibayar, usaha berkembang, dan keluarga memiliki sumber penghasilan baru.  


Namun, usaha Pak Wowo tidak mudah. Lingkungan yang sudah rusak akibat ulah konsumtif Pak Mulyono membuat anak-anak lain terbiasa malas, hanya ingin menghabiskan, dan tidak mau bekerja keras. Pak Wowo berjuang keras menanamkan nilai baru, tetapi selalu terbentur dengan budaya buruk yang sudah terlanjur terbentuk. Hutang produktif memang bisa memperbaiki keadaan, tetapi dampak kerusakan moral akibat hutang konsumtif membuat jalan itu penuh rintangan.  


Negeri Konoha: Cermin dari Dua Jalan

Di negeri Konoha, seorang pemimpin kurus jangkung mengambil hutang besar. Dana itu dihabiskan hanya untuk mempercantik wajah ibu kota: monumen, jalan indah, proyek pencitraan. Ketika cicilan datang, negara tidak punya cukup pemasukan. Rakyat dipaksa menanggung beban lewat pajak yang mencekik. Hutang konsumtif negara itu menjadi beban generasi, moral rakyat pun rusak karena terbiasa dipaksa menanggung kesalahan pemimpin.  


Ketika kepemimpinan berganti kepada Pak  Gemoy, arah hutang berubah. Dana pinjaman dipakai membangun koperasi rakyat. Modal bergulir, usaha kecil tumbuh, keuntungan kembali ke masyarakat. Dari hasil usaha koperasi, cicilan hutang dibayar, ekonomi rakyat bergerak, dan negara perlahan bangkit. Hutang produktif mampu mengubah beban menjadi kekuatan, meski harus berjuang melawan warisan buruk dari masa lalu.  


Hutang konsumtif bukan hanya menghancurkan finansial, tetapi juga merusak moral dan budaya kerja. Hutang produktif membuka peluang untuk memperbaiki keadaan, tetapi perjuangannya berat bila kerusakan sudah terlanjur terjadi. Kisah Pak Mulyono, Pak Wowo, dan negeri Konoha mengajarkan satu hal: hutang harus diarahkan dengan bijak, karena dampaknya bukan hanya pada uang, tetapi juga pada nilai hidup dan masa depan generasi.  



Analisa Penempatan Gedung Koperasi Merah Putih "Salah Posisi, Koperasi Berpotensi Mati”

 

Gedung koperasi tidak boleh ditempatkan sembarangan. Salah posisi bisa berakibat fatal: koperasi sepi pengunjung, usaha tidak berkembang, bahkan berpotensi mati. Karena itu, penempatan harus benar-benar strategis. Gedung mesti berdiri di jalur utama, dekat pusat aktivitas masyarakat seperti pasar, sekolah, atau kantor desa. Dengan begitu, arus orang yang lewat tinggi dan koperasi selalu terlihat jelas. Papan nama yang lugas dan tegas akan memperkuat identitas sebagai pusat ekonomi rakyat.


Fungsi utama gedung ini adalah mini market koperasi, tempat warga membeli sembako, produk pertanian, dan kebutuhan rumah tangga dengan harga terjangkau. Di samping itu, koperasi bisa menampung usaha pendukung seperti jasa pembayaran listrik, pulsa, BPJS, hingga simpan pinjam. Semua usaha harus relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar ikut tren. Dengan cara ini, koperasi tidak bersaing langsung dengan toko warga, melainkan melengkapi ekosistem usaha yang ada.

Orientasi keberlanjutan juga penting. Energi alternatif seperti PLTA mini atau panel surya bisa dipakai untuk operasional, sekaligus memberi citra ramah lingkungan. Hal ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga membangun kepercayaan publik bahwa koperasi berpikir jauh ke depan.


Di sinilah dana desa memainkan peran penting. Jika dana desa hanya dipotong untuk operasional rutin, manfaatnya cepat habis. Tetapi bila diarahkan untuk pengembangan koperasi, dana desa justru menjadi modal bergulir yang lebih berdaya guna. Dana desa bisa dipakai membangun gedung koperasi, memperkuat stok barang di mini market, atau mendukung usaha produktif warga melalui koperasi. Dengan begitu, dana desa tidak sekadar habis untuk belanja, melainkan tumbuh menjadi aset ekonomi yang terus berputar.


Dampak sosial-ekonomi dari penempatan yang tepat dan dukungan dana desa akan terasa nyata. Uang beredar di masyarakat, daya beli warga meningkat, dan generasi muda—Millennial serta Gen Z—dilibatkan sebagai pengelola maupun inovator usaha. Koperasi berdiri sebagai organisasi yang mandiri, dengan dukungan moral dari pihak luar, tetapi tetap otonom dalam menjalankan programnya.


Namun, risiko tetap ada. Salah posisi bisa membuat koperasi sepi. Salah jenis usaha bisa menimbulkan benturan dengan toko warga. Salah pengelolaan dana desa bisa membuat program berhenti di tengah jalan. Semua risiko ini hanya bisa diminimalkan dengan survei kebutuhan warga, dialog komunitas, serta penerapan energi alternatif.


Gedung Koperasi Merah Putih harus ditempatkan di titik strategis, mudah diakses, dan terlihat jelas. Salah posisi berarti ancaman mati, sementara posisi tepat berarti hidup sebagai pusat ekonomi lokal. Dengan dukungan dana desa yang diarahkan ke pengembangan koperasi, potensi ekonomi desa akan lebih berkembang, berdaya guna, dan berkelanjutan.


Oleh :

Adv. Yan Salam Wahab, SHi, M.Pd


Rabu, 07 Januari 2026

Bila Ijazah Jokowi Terbukti Palsu secara Hukum, Semua Tindakan Selama Menjabat Termasuk Kebijakan dan Hutang Negara Bisa Dinyatakan Tidak Sah

 

Legalitas seorang pemimpin bukanlah hal kecil. Ia adalah fondasi yang menentukan sah atau tidaknya seluruh tindakan kenegaraan. Bila ijazah Jokowi terbukti palsu, maka persoalan ini tidak berhenti pada ranah pribadi, melainkan menjalar ke seluruh sistem politik, hukum, dan tata negara Indonesia, bahkan menyentuh hubungan internasional.  


Selama perjalanan politiknya, Jokowi sering dicaci, dihina, bahkan difitnah. Semua itu ia hadapi dengan sikap sabar, seolah tidak peduli. Tetapi ketika menyangkut ijazah, sikapnya berubah total. Bukannya menunjukkan ijazah untuk membuktikan keabsahan, ia justru melaporkan pihak yang menggugat. Kontras ini menegaskan bahwa ijazah bukan sekadar dokumen, melainkan titik paling strategis yang menentukan sah atau tidaknya seluruh perjalanan politiknya.  


Dalam hukum Indonesia, pemalsuan dokumen adalah tindak pidana berat. Jika ijazah terbukti palsu, maka pencalonan Jokowi sejak awal dianggap cacat formil. Semua tindakan selama menjabat bisa diperdebatkan keabsahannya. Konsekuensinya, legitimasi jabatan yang pernah diemban bisa dinyatakan tidak sah, dan semua kebijakan yang lahir dari masa kepemimpinannya dapat digugat, mulai dari peraturan daerah, kebijakan gubernur, hingga keputusan presiden.  


Legalitas ijazah juga langsung memengaruhi tata negara. Semua kebijakan yang ditandatangani Jokowi bisa dianggap tidak sah. Hutang negara yang ditandatangani atas nama Presiden Jokowi berpotensi digugat keabsahannya di forum internasional. Dalam skenario ekstrem, utang yang ditandatangani bisa berubah status menjadi beban pribadi pejabat yang terlibat, bukan lagi beban negara. Indonesia akan menghadapi dilema besar: apakah tetap membayar utang demi menjaga reputasi, atau menolak dengan alasan cacat legalitas. Jika menolak, reputasi internasional akan hancur dan hubungan diplomatik serta ekonomi bisa terguncang. Jika tetap membayar, negara seolah mengakui kesalahan, tetapi memilih menjaga stabilitas internasional.  


Dalam hukum internasional, perjanjian negara tunduk pada prinsip pacta sunt servanda—perjanjian harus dihormati. Namun, syarat fundamentalnya adalah pejabat penandatangan harus sah secara hukum. Bila terbukti tidak sah, kreditor internasional bisa menuntut agar tanggung jawab atas utang dialihkan menjadi beban pribadi Jokowi sebagai penandatangan, bukan lagi beban negara. Dalam skenario paling keras, isu ini bisa dianggap sebagai bentuk penipuan internasional, dan membuka peluang Jokowi diseret ke Mahkamah Internasional. Meski secara praktik Mahkamah Internasional lebih sering mengadili sengketa antarnegara, bukan individu, tekanan politik dan diplomasi bisa mendorong kasus ini menjadi preseden baru: seorang mantan presiden dituntut karena dianggap menandatangani perjanjian internasional dengan legalitas palsu.  


Kepercayaan rakyat terhadap sistem demokrasi pun akan runtuh. Masyarakat bisa merasa dikhianati, polarisasi politik akan semakin tajam, dan instabilitas sosial bisa muncul. Dunia internasional pun akan menilai Indonesia gagal menjaga integritas kepemimpinan, reputasi diplomatik tercoreng, dan posisi tawar melemah.  


Legalitas bukan sekadar formalitas. Ia adalah inti dari tata negara. Bila ijazah Jokowi terbukti palsu secara hukum, konsekuensinya bukan hanya pidana pribadi, tetapi juga krisis legitimasi nasional dan masalah internasional. Semua tindakan selama menjabat—dari kebijakan lokal hingga hutang negara—bisa dinyatakan tidak sah. Dan sikap Jokowi yang sabar menghadapi cacian, tetapi justru melaporkan ketika diminta menunjukkan ijazah, menjadi bukti bahwa dokumen ini adalah titik paling sensitif dan strategis dalam perjalanan politik seorang pemimpin.  


YS Sang Pengamat

Senin, 05 Januari 2026

LSM Payung Suara Rakyat yang Diakui Dunia, Makanya Saya Gabung LSM

 


Hak berdemo adalah hak konstitusional setiap warga negara. Ribuan perangkat desa, mahasiswa, buruh, hingga tukang ojek sudah berulang kali turun ke jalan, menyuarakan aspirasi mereka. Namun, suara itu sering hilang ditelan angin. Kasus tragis seorang pengemudi ojek yang ditabrak kendaraan berat saat aksi, misalnya, lenyap begitu saja tanpa jejak. Nyawa rakyat kecil seakan tidak cukup penting untuk dicatat dalam sejarah.  


Sebaliknya, ketika seorang aktivis LSM bersuara, dunia bisa bergetar. Kasus Munir adalah bukti paling nyata. Aktivis HAM yang diracun hingga meninggal dalam perjalanan udara itu bukan hanya menjadi luka bangsa, tetapi juga catatan sejarah internasional. Hingga kini, namanya tetap disebut, kasusnya tetap dikaji, dan dunia tetap menyorotinya. Satu suara dari LSM bisa mengguncang dunia, sementara ribuan suara rakyat biasa bisa hilang begitu saja.  


Memang harus diakui, sebagian oknum aktivis LSM pernah dicap buruk: ada yang dianggap hanya mencari proyek, ada yang dituduh punya kepentingan tersembunyi. Namun, fakta yang tak bisa dibantah adalah suara LSM resmi tetap didengar hingga hari ini. Stempel legalitas dan legitimasi internasional membuat satu suara dari LSM bisa mengalahkan ribuan suara perangkat desa, mahasiswa, dan buruh yang berteriak di jalan. Dunia lebih percaya pada suara yang datang dari organisasi resmi, bukan sekadar massa tanpa payung hukum.  


Di sinilah pentingnya bergabung ke LSM. Hak berdemo memang bukan monopoli LSM, tetapi legitimasi mereka membuat suara lebih diperhitungkan. Rakyat berdemo sah secara hukum, namun sering dianggap tidak berkapasitas. Kalau kamu bukan LSM, suaramu tidak akan didengar dunia. Demonstrasi rakyat kecil bisa lenyap begitu saja, sementara satu suara dari LSM bisa menjadi sejarah internasional.  


Makanya saya memilih bergabung ke LSM. Bukan karena ingin sekadar berorganisasi, tetapi karena saya ingin suara saya tidak hilang. Saya ingin jeritan rakyat kecil yang sering diabaikan bisa terdengar lebih keras, lebih jelas, dan lebih berpengaruh. Dengan bergabung ke LSM, saya berada di bawah payung legitimasi internasional, terlindungi oleh jaringan advokasi, dan punya akses ke panggung global.  


Bergabung ke LSM bukan sekadar pilihan, melainkan strategi perjuangan. Dengan bergabung, suara rakyat kecil tidak lagi tercecer, melainkan terorganisir dan terlindungi. LSM memberi akses advokasi, jaringan hukum, media, dan politik. Mereka mampu menjembatani jeritan lokal dengan panggung global. Sejarah membuktikan: dunia lebih mudah mendengar suara yang datang dari LSM.  


LSM adalah payung suara rakyat. Mereka punya mandat moral untuk menjadi garda terdepan, apalagi ketika suara rakyat sering tenggelam. Demonstrasi bukan sekadar turun ke jalan, melainkan simbol keberanian menyuarakan kebenaran. Jika rakyat ingin aspirasinya tidak lenyap, maka bergabung ke LSM adalah langkah strategis. Karena dunia tidak akan mencatat semua jeritan di jalan, tetapi akan selalu menyorot suara yang datang dari LSM.  


- “Ribuan kades, mahasiswa, buruh berteriak, tapi dunia diam. Satu suara LSM resmi, dunia langsung menoleh. Makanya saya gabung LSM.”  

- “Oknum boleh dicap buruk, tapi suara LSM resmi tetap Suaranya akan didengar dunia. Maka dengan Gabung LSM, biar suara kita tak hilang.”  





Minggu, 04 Januari 2026

Menang dengan Strategi Kejam: Jurus Pamungkas Saat Terpaksa

 

Dalam hidup, kadang kita bertemu aturan yang tidak adil, orang yang meremehkan, atau penjual yang menipu. Kalau hanya marah, hasilnya sering tidak ada. Tapi kalau kita berpikir dingin, kita bisa menang dengan cara yang lebih elegan.  


Salah satu jurus paling halus adalah menjatuhkan dengan pujian. Kita seolah memuji, tapi sebenarnya membuat lawan terjebak oleh standar yang mereka banggakan sendiri. Saat mereka gagal, mereka jatuh oleh citra mereka sendiri.  


Cerita 1: Restoran Mahal – Orang Sederhana yang Membalik Keadaan


Suatu sore, Pak Raja masuk ke restoran mahal bersama temannya. Penampilannya sangat sederhana: baju kusam, sandal jepit. Orang-orang melihatnya seperti orang miskin yang salah tempat.  


Pelayan mendekat dengan nada meremehkan:  

“Di sini minimal belanja Rp2.000.000. Kalau tidak sanggup, Lebih baik makan di tempat lain saja.”  


Semua tamu menoleh, ada yang tersenyum sinis.  


Tapi Pak Raja tetap tenang. Ia keluarkan uang Rp5.000.000, lalu berkata datar:  

“Saya pesan sesuai nilai ini. Semua harus sempurna, selesai paling lama 20 menit.”  


Pesanannya rumit: puluhan rendang, ayam gulai, dendeng balado, sayur nangka, dan 60 gelas es teh dengan variasi berbeda. Semua harus keluar serentak dalam 20 Menit. 


Lalu Pak Raja menambahkan pujian yang menusuk:  

“Restoran ini katanya terkenal rapi dan cepat. Saya yakin semua porsi akan presisi, keluar bersamaan, dan tetap panas—itu kebanggaan dan Semboyan Restoran ini, kan?”  


Pelayan pucat, manajer panik, pemilik restoran datang dengan wajah memerah malu. Aturan “minimal order” langsung dihapus.

Pak Raja duduk tenang, menikmati rendang dengan elegan. Ia menutup dengan kalimat dingin:
“Kalau tak mampu melayani, jangan buka restoran.”


Akhirnya Restoran itu gagal memenuhi permintaan Pak Raja itu. Standar yang mereka banggakan justru menjatuhkan mereka di hadapan Pengunjung lainnya.  


Cerita 2: Rekaman Rahasia –di WA Grup Pebisnis


Malam itu, Pak Raja duduk di kafe, menikmati kopi. Dari ruang sebelah, terdengar suara sekelompok pebisnis. Awalnya obrolan biasa, lalu berubah jadi ejekan. Nama Pak Raja disebut berulang kali, disertai tawa meremehkan.  


Tanpa mereka sadari, suara itu jelas terdengar sampai ke tempat duduk Pak Raja. Ia menyalakan ponselnya, merekam percakapan itu.  


Beberapa jam kemudian, rekaman itu muncul di grup WhatsApp mereka. Cara Pak Raja mengirimnya membuat semua orang bingung. Ia menulis:  

“Ada yang kirim rekaman ini ke saya. Lucu sekali, grup yang kelihatan kompak ternyata ada pengkhianatnya. Dengarkan, suara siapa ya?”  


Sekejap, grup kacau. Ada yang keluar, ada yang panik, ada yang saling tuduh. Mereka merasa ada teman sendiri yang membocorkan rahasia.  


Lalu Pak Raja menambahkan pujian yang menusuk:  

“Grup ini luar biasa kompak, sampai ada yang rela mengirimkan rekaman ini ke saya demi menjaga integritas.”  


Akhirnya Kekompakan Grup yang selama ini dibanggakan dan dipuji justru berubah jadi Grup yang sudah saling curiga. Grup itu hancur karena mereka sendiri jadi tidak percaya satu sama lain.  


Cerita 3: Serangan Reputasi – Pada Toko Online tidak Amanah


Suatu pagi, Pak Raja menerima paket berisi 4 powerbank dari toko online. Iklan menjanjikan kapasitas 20.000 mAh, tapi setelah diuji, ternyata hanya 12.000 mAh.  


Penjual berkilah:  

“Kapasitas bisa berkurang saat perjalanan. Yang lain juga dapat seperti itu”  


Pak Raja kecewa tapi tidak marah. Ia lalu membeli 8 powerbank asli dari merek terpercaya dari tempat lain, menata di meja, memotret, lalu menulis komentar di halaman toko Online yang mengecewakan tadi :  

“Powerbanknya luar biasa, kapasitas lebih dari 20.000 mAh. Beli 4 gratis 4. Mantap sekali tokonya!”  


Komentar itu memicu badai di Rating. Pembeli lain berbondong-bondong menuntut hal yang sama. Mereka menulis dengan nada kecewa dan marah:  

- “Saya beli 2, kenapa tidak dapat bonus?!”  

- “Kapasitasnya jauh di bawah iklan, ini penipuan!”  

- “Refund sekarang, atau kami viralkan toko ini!”  


Akibat komentar Pak Raja yang memanas-manasi pembeli lain. Halaman toko penuh komentar keras. Grup pembeli terbentuk, bahkan ada yang menghubungi lembaga perlindungan konsumen.  


Lalu Pak Raja menambahkan Komentar pujian yang menusuk:  

“Tokonya responsif dan promosinya berani—20.000 mAh dan bonus melimpah. Jarang ada yang seberani ini, pasti siap membuktikan sampai detail.”  


Hasil Pujian di komentar itu memaksa toko memenuhi janji di mata publik. Ketika gagal, pembeli ramai-ramai menuntut. Reputasi toko hancur, rating jatuh, dan akhirnya toko itu ditutup.  


Kesimpulannya, Pak Raja yang selalu tampil sederhana, sering diremehkan. Tapi ia punya jurus pamungkas: strategi kejam yang dingin, penuh perhitungan, dan paling elegan.  


Yang paling halus adalah menjatuhkan dengan pujian.  

Pujian membuat lawan terjebak oleh standar mereka sendiri. Saat gagal, mereka jatuh bukan karena dimaki, tapi karena citra yang mereka banggakan runtuh di depan semua orang.  








Sabtu, 03 Januari 2026

Rahasia yang Tidak Pernah Terbongkar: Cara Menjadi Kaya Mendapatkan 100 Juta per Bulan Tanpa Kerja

 

Di balik cerita-cerita sukses yang beredar, selalu ada satu kisah yang membuat orang penasaran. Sebuah kisah tentang seseorang yang mampu meraih penghasilan seratus juta per bulan, tanpa terlihat bekerja seperti orang kebanyakan.  


Langkah-langkahnya terdengar sederhana, tapi selalu disampaikan dengan cara yang mengambang.  

- Ada yang bilang dimulai dari memanfaatkan peluang.  

- Ada yang menyebut tentang mengatur strategi.  

- Ada pula yang menekankan pentingnya menjaga konsistensi.  

Semua terdengar logis, tapi tidak pernah benar-benar jelas.  


Setiap kali orang bertanya lebih jauh, jawabannya selalu samar. Seolah-olah ada pintu yang hampir terbuka, tapi kembali tertutup rapat. Cerita itu terus bergulir, membuat banyak orang percaya bahwa ada “program pemerintah” yang sedang berjalan, yang bisa membawa siapa saja ke angka fantastis itu.  


Namun, semakin dikejar, semakin kabur jejaknya. Tidak ada yang bisa memastikan langkah konkret apa yang harus diambil. Yang ada hanyalah potongan-potongan abstrak, gambaran besar yang membuat orang semakin penasaran.  


Dan akhirnya, ketika semua orang berharap menemukan kunci terakhir, jawaban yang muncul hanyalah satu:  


Namanya saja rahasia, mana mungkin dibongkar. 🤭








Realita : Anda Tidak Akan Didatangi Saat Hidup, Orang Akan Berdatangan Saat Anda Mati

 

Seorang manusia menderita luka di kakinya akibat diabetes. Awalnya hanya luka kecil, tetapi karena tidak dirawat, infeksi menyebar. Tubuhnya demam, lemah, dan ia mencari pertolongan serta perlindungan dari orang-orang terdekatnya.  


Namun, orang-orang justru menjauh. Mereka takut terbebani, takut ikut repot, dan menutup pintu.  


Ia pun berjalan tertatih, menangis bukan hanya karena sakit yang menggerogoti tubuhnya, tetapi karena tidak ada yang peduli—tepat ketika ia sangat membutuhkan kasih dan dukungan.  


Malam yang dingin menyambutnya. Setiap langkah pelan disertai air mata. Orang-orang melihatnya pergi, lalu berkata:  

“Biarkan saja. Lebih baik ia mati jauh dari kita.”  


---


Kabar Pertama

Waktu berlalu. Seorang tetangga datang membawa berita:  


“Saudaramu masih hidup! Ia tinggal di sebuah kamar kontrakan sempit di pinggir kota. Ia pulih, tetapi kehilangan satu kaki karena infeksi. Ia kesulitan mencari makanan dan membutuhkan bantuan kalian.”  


Semua orang terdiam. Tetapi satu demi satu mereka memberi alasan:  

- “Aku tidak bisa pergi, aku sedang bekerja.”  

- “Aku tidak bisa pergi, aku harus mencari nafkah.”  

- “Aku tidak bisa pergi, aku harus menjaga anak-anak.”  


Dan akhirnya, tak seorang pun yang datang menolong. Tetangga itu kembali ke kontrakan, tanpa membawa bantuan.  


---


Kabar Kedua

Waktu berlalu lagi. Tetangga itu kembali dengan berita menyakitkan:  


“Saudaramu sudah mati. Ia meninggal sendirian di dalam kontrakan, tanpa ada seorang pun yang mengubur atau berkabung untuknya. Ia mati dalam kelaparan, karena tidak ada makanan yang masuk ke tubuhnya.”  


---


Penyesalan

Pada saat itu, orang-orang mulai merasa sedih. Keluhan mendalam memenuhi rumah mereka.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya bekerja, berhenti.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya mencari nafkah, meninggalkan semuanya.  

- Saudara dan kerabatnya yang tadinya merawat anak-anak, sejenak melupakan anak-anaknya.  


Timbullah rasa penyesalan di dalam hati mereka.  


Penyesalan itu lebih menyakitkan daripada luka apa pun. Mereka bertanya:  

“Kenapa kita tidak pergi lebih awal?”  


Tanpa mengukur jarak atau usaha, semua orang berbondong-bondong menuju kontrakannya itu, menangis dan mengeluh.  


Namun, semuanya sudah terlambat. Ketika sampai di kontrakan, mereka tidak lagi menemukan jasadnya. Yang tersisa hanyalah sebuah tulisan di dinding:  


“Dalam hidup, sering kali orang tidak sempat untuk sudi menyeberang jalan untuk menolongmu ketika itu engkau masih hidup,  tetapi mereka rela menyeberangi lautan untuk melihat kuburmu, setelah mendengar engkau telah mati.  

Dan sebagian besar air mata di kuburan bukan karena rasa sakit, melainkan karena penyesalan.”  


Pesan Kemanusiaan

Kisah ini adalah cermin kehidupan nyata:  

- Saat engkau hidup dan membutuhkan pertolongan, orang sering menutup mata.  

- Tetapi ketika engkau mati, orang akan berdatangan, bukan untukmu, melainkan untuk tradisi, keramaian, bahkan makan-makan (kenduri 7 hari, 2 kali 7 hari dst).  


Engkau hidup bisa saja mati karena kelaparan tidak memiliki beras, tetapi setelah kematianmu, orang justru berkumpul kenduri dengan makanan yang di hidangkan atas kematianmu.  


Penyakit memang bisa melemahkan tubuh, tetapi ketidakpedulian melemahkan hati.  Dan penyesalan, selalu datang paling akhir.  









Taktik Sosial yang Mengguncang: Saat Konflik Jadi Senjata Balik

 


Konflik sering muncul dari hal-hal kecil, tetapi cara seseorang menyikapinya bisa mengubah arah cerita. Kisah-kisah berikut menunjukkan bagaimana Pak Raja menghadapi situasi dengan taktik yang tidak biasa—tajam, mengejutkan, bahkan kejam—hingga membuat lawan goyah.


1. Mengadu Sesama Warga: Api di Perumahan Jambi

Di sebuah komplek perumahan di Jambi, suara anjing peliharaan menggonggong keras dan mengganggu ketenangan. Warga lain merasa resah, tetapi tidak ada yang berani menegur langsung. Pak Raja memilih cara berbeda: ia menempelkan sebuah kertas di lorong dengan tulisan tajam:  


"Kalau miskin jangan komplain soal anjing berisik. Kalau punya kemampuan, jual saja rumahmu dan pindah tempat lain."  


Tulisan itu seketika memicu kegaduhan. Pak Raja memotret kertas itu, lalu mengirimkannya ke grup chat warga dengan pertanyaan singkat:  


"Siapa yang menempel tulisan ini?"  


Pertanyaan itu meledakkan suasana. Grup chat mendadak heboh, penuh tuduhan dan amarah. Seolah-olah para pemilik anjinglah yang dianggap memasang tulisan itu. Mereka saling menuduh, saling membela diri, bahkan menyerang balik dengan kata-kata. Dalam hitungan menit, suasana grup berubah menjadi seperti sarang lebah yang diguncang.  


Hasilnya jelas: para pemilik anjing yang tadinya santai mulai mengendalikan hewan mereka. Pak Raja tidak perlu menegur langsung—cukup dengan satu kertas dan satu pertanyaan, ia berhasil memancing konflik internal yang membuat pihak bersalah saling menekan.


2. Mengalah untuk Menang: Sosialita yang Tersungkur

Suatu hari, Pak Raja sedang mengendarai motor di jalan kota. Tiba-tiba sebuah mobil mewah melawan arah dan menabraknya. Dari dalam mobil turun seorang ibu sosialita kota dengan kacamata hitam besar, tas mahal, dan suara penuh kesombongan. Ia memaki keras:  


"Apa sih, nggak lihat jalan? Dasar bikin repot!"  


Warga yang melihat mulai berbisik, sebagian tampak kesal dengan sikap angkuh itu. Namun, Pak Raja tetap tenang. Ia menunduk sedikit, lalu berkata dengan sopan:  


"Maaf Bu, saya tidak apa-apa. Silakan lanjutkan perjalanan."  


Ibu itu mendengus, lalu masuk kembali ke mobilnya. Dengan sombong ia menyalakan mesin dan pergi, meninggalkan lokasi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.  


Namun, Pak Raja tidak berhenti di situ. Ia segera memotret mobil mewah itu, lengkap dengan nomor platnya, lalu dengan cepat berfoto sambil terbaring dramatis di jalan seolah-olah ditabrak parah. Orang-orang di sekitar menjadi saksi, melihat langsung bagaimana ia tergeletak dengan wajah penuh ekspresi kesakitan.  


Kesombongan ibu sosialita itu justru memicu kemarahan warga. Mereka yang menyaksikan merasa geram melihat sikap angkuh sang pengemudi. Warga pun ikut memperkuat posisi Pak Raja dengan menjadi saksi, memastikan bahwa kejadian itu tidak bisa ditutup-tutupi.  


Tak lama kemudian, laporan resmi dibuat. Bukti foto, nomor plat, dokumentasi dramatis, serta dukungan saksi warga yang kesal menjadikan kasus itu tabrak lari dengan konsekuensi hukum berat.  


Plot twist-nya jelas: kelembutan dan kesopanan yang tampak lemah justru menjadi senjata. Sang sosialita yang merasa menang karena bisa pergi dengan sombong, akhirnya tersungkur oleh bukti, saksi, dan hukum yang menjeratnya.  


3. Membiarkan dan Membela Anak: Kebaikan yang Memancing Balasan

Suatu sore, seorang anak nakal menembak wajah Pak Raja dengan ketapel. Wajahnya bengkak, amarah hampir meledak. Warga sekitar menoleh, menunggu ia marah.  


Namun, sang ibu si anak datang dengan sikap meremehkan. Bukannya meminta maaf, ia justru berkata dengan nada membela:  


"Ah, tidak ada apa-apa. Namanya juga anak kecil, jangan diperhatikan."  


Kalimat itu seolah menutup mata atas kesalahan anaknya. Pak Raja tidak membalas dengan marah. Ia justru mengeluarkan Rp50.000 dan menyerahkannya kepada anak itu. Semua orang terdiam, bingung dengan sikapnya.  


Tapi efeknya jauh lebih tajam. Anak itu merasa mendapat “hadiah” dan semakin berani mengulang perbuatannya kepada orang lain. Sang ibu tetap membela, seolah-olah kenakalan anaknya bukan masalah. Hingga akhirnya warga lain yang menjadi korban mulai kesal. Mereka marah, menegur keras, bahkan memberi pelajaran langsung kepada keluarga si anak.  


Kebaikan yang tampak lembut justru menjadi pemicu konflik baru. Sikap ibu yang membiarkan dan membela anaknya membuat masyarakat semakin geram, hingga akhirnya keluarga itu sendiri yang ditekan dan dihukum oleh lingkungan


Ketiga kisah di atas ini bukan sekadar cerita. Itu adalah gambaran bagaimana konflik bisa diarahkan dengan tegas:  

- Menyalakan api agar pihak bersalah saling menekan.  

- Mengalah dengan licik agar kelembutan berubah jadi senjata hukum.  

- Membalik keadaan dengan kebaikan yang memancing balasan lebih keras dari masyarakat.  


Pak Raja mengajarkan bahwa Jika  masalah tidak bisa kau selesaikan sendiri. Maka Buat masalah itu jadi lebih besar, maka masyarakat atau kekuasaan yang lebih kuat terpaksa akan turun tangan untuk menyelesaikannya.  









Jumat, 02 Januari 2026

Bahaya Pinjol: Gagal Bayar, Hidup Bisa Berantakan

 

Pinjol itu manis di awal. Butuh uang cepat, tinggal klik, langsung cair. Tapi di balik manisnya, ada racun yang bisa bikin hidup berantakan. Mantan debt collector pernah cerita di podcast, bagaimana orang yang gagal bayar jadi benar-benar “telanjang” di hadapan pinjol.  


Begitu kita setuju syarat aplikasi, IMEI handphone, nomor telepon, dan email otomatis tercatat. Ada alat canggih bernama cyber tool yang bisa membuka isi ponsel: galeri, riwayat panggilan, bahkan lokasi. Sekali gagal bayar, foto pribadi bisa dijadikan senjata. Mereka bisa kirim ke teman, keluarga, atau siapa saja. Ancaman bukan lagi sekadar tagihan, tapi tekanan psikologis yang bikin hidup kacau.  


Padahal jelas, Undang-Undang ITE Pasal 30 melarang akses dokumen elektronik tanpa izin. Ancaman pidananya enam tahun penjara. Artinya, praktik membuka isi ponsel peminjam itu melanggar hukum. Tapi kenyataannya, banyak korban memilih diam karena takut dan malu.  


Intinya sederhana: kalau mau pinjam, pastikan sanggup bayar. Jangan tergoda klik instan tanpa hitung risiko. Kalau terpaksa, pilih jalur resmi yang diawasi OJK. Jangan sembarangan kasih izin aplikasi. Dan kalau ada ancaman, laporkan. Jangan biarkan privasi kita jadi alat mainan.  


Pinjol bukan sekadar soal bunga. Ia bisa merampas martabat. Jangan biarkan satu klik sembrono mengendalikan hidup kita.  


Oleh : 

Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd

Advokat/Pengacara, konsultan Hukum, Aktivis Kemasyarakatan Pengamat Lingkungan, Sosial, Pendidikan dan Hukum








Sanksi Pidana 6 tahun bagi yang Merekam dan Penyebaran Percakapan Pribadi

 

KUHP baru yang resmi berlaku pada 2 Desember 2025 membawa perubahan besar dalam penegakan hukum pidana di Indonesia. Salah satu pasal yang menjadi sorotan adalah mengenai penyadapan dan perekaman komunikasi pribadi. Regulasi ini menegaskan bahwa siapa pun yang merekam percakapan orang lain tanpa izin, lalu mendistribusikannya kepada pihak ketiga, dapat dijerat pidana berat.  


Bayangkan kasus di kantor: seorang karyawan merekam pembicaraan rekan kerjanya secara diam-diam, lalu menyerahkan rekaman itu kepada atasan. Rekan tersebut akhirnya dipecat. Dalam KUHP baru, tindakan seperti ini tidak hanya dianggap pelanggaran etika, tetapi juga tindak pidana penyadapan. Pelaku bisa dikenai ancaman penjara hingga 6 tahun dan denda yang menghancurkan finansial.  Hal itu diatur dalam Pasal 433, 434 dan 435. Pasal-pasal ini menegaskan bahwa pelaku dapat dijerat pidana dengan ancaman penjara hingga 6 tahun dan denda besar, sehingga tindakan tersebut dikategorikan sebagai kejahatan serius terhadap privasi.  

KUHP baru menekankan bahwa privasi adalah benteng terakhir martabat manusia. Penyadapan, perekaman, dan penyebaran percakapan pribadi dipandang sebagai serangan langsung terhadap hak asasi. Bahasa hukum yang digunakan pun keras: pelaku dianggap melakukan kejahatan serius yang merusak kepercayaan sosial. Tidak ada lagi ruang abu-abu—rekaman tanpa izin adalah pelanggaran, titik.  


Dampaknya menakutkan: korban bisa kehilangan pekerjaan, reputasi, bahkan masa depan. Pelaku bukan hanya menghadapi jeratan hukum, tetapi juga stigma sosial sebagai pengkhianat privasi. KUHP baru ingin menciptakan efek jera yang nyata, agar masyarakat berhenti menganggap remeh tindakan merekam atau menyebarkan percakapan pribadi.  


Kesimpulan tegas: Dalam KUHP baru, merekam dan mendistribusikan percakapan pribadi tanpa izin adalah bom waktu hukum. Pelaku harus siap menghadapi penjara 6 tahun, denda miliaran, dan stigma sosial yang melekat seumur hidup. Privasi bukan bahan gosip, melainkan hak yang dilindungi negara dengan ancaman pidana yang menakutkan.  



Oleh : 

Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd

Advokat/Pengacara, konsultan Hukum, Aktivis Kemasyarakatan Pengamat Lingkungan, Sosial, Pendidikan dan Hukum








Kamis, 01 Januari 2026

Polisi Membuka HP Warga Tanpa Surat Perintah, itu adalah Tindak Pidana Berat

 

Ada seseorang yang bertanya: “Bang, kalau ada polisi memberhentikan saya, kemudian HP saya diminta dan dicek isinya, apakah polisinya bisa dipidana? Diatur di mana?”  


Pertanyaan ini sangat relevan banyak sekalI contoh kasus seperti ini terjadi, karena menyangkut hak privasi warga negara dan batas kewenangan aparat penegak hukum di lapangan.  


Kewenangan Polisi di Jalan

Polisi Negara Republik Indonesia memang diberikan kewenangan untuk melakukan penggeledahan badan maupun kendaraan di jalan. Namun, kewenangan itu tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada syarat mutlak: polisi harus membawa surat perintah resmi yang menjelaskan tujuan penggeledahan.  


Kewenangan ini hanya berlaku untuk badan dan kendaraan, bukan untuk mengakses alat elektronik pribadi seperti handphone.  


Prosedur yang Sah

- Jika dalam penggeledahan badan atau kendaraan ditemukan senjata tajam, narkotika, atau barang berbahaya lainnya, warga dibawa ke kantor polisi setempat.  

- Di kantor polisi, barulah dilakukan proses penyelidikan dan penyidikan untuk menentukan status hukum warga tersebut.  

- Pada tahap penyidikan, dengan surat perintah resmi, penyidik dapat membuka isi percakapan atau data dalam alat elektronik, termasuk handphone.  


Jika Polisi Membuka HP di Jalan Tanpa Surat Perintah

Apabila polisi di jalan tidak dilengkapi surat perintah kemudian membuka isi HP warga, maka tindakan itu adalah tindak pidana.  


Dasar hukumnya jelas:  

- Pasal 30 ayat (1) UU ITE: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer atau sistem elektronik milik orang lain.”  

- Pasal 46 ayat (1) UU ITE: Ancaman pidana berupa penjara maksimal 6 tahun dan/atau denda maksimal Rp600.000.000.  


Handphone termasuk kategori alat elektronik. Maka, polisi yang membuka HP warga tanpa surat perintah berarti melakukan akses tanpa hak dan melawan hukum.  


Pesan Tegas untuk Aparat

- Polisi tidak boleh membuka HP warga di jalan tanpa surat perintah.  

- Warga berhak menolak dan melaporkan tindakan tersebut.  

- Pimpinan kepolisian harus menertibkan anggotanya agar tidak merusak kepercayaan publik.  


Hukum harus ditegakkan secara adil. Polisi sebagai aparat penegak hukum wajib menjadi teladan, bukan pelanggar. Membuka HP warga tanpa surat perintah bukan hanya pelanggaran etika, tetapi juga tindak pidana berat dengan ancaman hukuman jelas dalam UU ITE...



Oleh : 

Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd

Advokat/Pengacara, konsultan Hukum, Aktivis Kemasyarakatan Pengamat Lingkungan, Sosial, Pendidikan dan Hukum






Hidup Tak Akan Berharga Bila Lemah Kau Baru Akan Dihargai Saat Memiliki Kekuatan

 

Ada kenyataan pahit yang jarang diajarkan di sekolah atau konten motivasi. Orang miskin sering memberi yang terbaik kepada orang lain—tenaga, waktu, bahkan sesuatu yang masih sangat mereka butuhkan—namun ironisnya pengorbanan itu jarang dihargai. Sebaliknya, orang kaya memberi barang yang sudah tidak disukai, bahkan barang bekas, namun anehnya justru dianggap bernilai dan dihormati.  


Inilah realita hidup yang sering diabaikan: dunia menilai bukan dari ketulusan, melainkan dari posisi dan kekuatan. Lemah diremehkan, kuat dihormati. Itulah hukum sosial yang tidak tertulis, tetapi nyata dirasakan dalam kehidupan sehari‑hari.  


Dulu kita percaya semakin banyak teman hidup akan semakin mudah. Faktanya tidak demikian. Teman baru justru datang ketika hidupmu sudah mapan. Saat hidup belum stabil, meminjam satu juta rupiah terasa seperti mengemis harga diri. Tetapi ketika kamu sudah kuat, meminjam satu miliar pun cukup dengan sekali bicara, dan semua pintu terbuka dengan mudah.  


Teman sejati tidak perlu dicari. Mereka akan datang sendiri ketika kamu sudah berdiri tegak. Maka jangan sibuk mengeluh mengapa teman tidak setia. Tanyakan pada dirimu: seberapa kuat power‑mu hari ini? Jika belum cukup, berjuanglah dalam diam. Bangun dirimu tanpa banyak bicara, karena kekuatanlah yang akan menarik orang untuk menghormatimu.  


Hidup tak akan berharga bila lemah, kau baru akan dihargai saat memiliki kekuatan. Dan pada akhirnya, orang akan datang sendiri ketika kamu sudah berdiri tegak. Dunia menghormatimu bukan karena kata‑kata, melainkan karena kekuatan yang kamu miliki.  








Rabu, 31 Desember 2025

Detik-Detik Berlaku KUHP dan KUHAP Baru. Advokat, Transparansi, dan Pasal-Pasal Krusial yang Menentukan Arah Keadilan

 

Tepat 2 Januari 2026, Indonesia resmi memasuki babak baru hukum pidana. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) mulai berlaku serentak, menggantikan aturan kolonial Belanda yang telah berusia lebih dari seabad. Pemerintah menyebutnya sebagai tonggak reformasi hukum, namun kalangan advokat, akademisi, dan masyarakat sipil menilai ada pasal-pasal krusial yang justru bisa menjadi ancaman bagi keadilan.  


Pasal-Pasal Krusial KUHP

KUHP baru membawa sejumlah ketentuan yang menuai sorotan publik.  

- Penghinaan Presiden dan Wakil Presiden: Pasal ini dihidupkan kembali sebagai delik aduan. Kritiknya, bisa digunakan untuk membungkam oposisi dan membatasi kebebasan berpendapat.  

- Pasal Kumpul Kebo: Hidup bersama tanpa ikatan pernikahan diatur sebagai delik aduan. Meski hanya berlaku jika ada pengaduan, pasal ini dianggap mencampuri ranah privat warga.  

- Delik Pers dan Kebebasan Ekspresi: Ketentuan mengenai berita bohong atau meresahkan publik berpotensi mengekang kebebasan pers.  

- Delik Adat: KUHP mengakui hukum adat sebagai sumber hukum pidana sepanjang sesuai prinsip HAM. Langkah ini dipandang progresif, tetapi rawan multitafsir dan diskriminasi.  


Pasal-Pasal Krusial KUHAP

KUHAP baru juga membawa perubahan besar dalam prosedur pidana.  

- Dominasi Polri sebagai Penyidik Utama: Polri ditetapkan sebagai koordinator PPNS. Kekhawatiran muncul karena kewenangan yang terlalu besar bisa menimbulkan monopoli penyidikan.  

- Hak Tersangka atas Bantuan Hukum: KUHAP menegaskan tersangka berhak didampingi advokat sejak awal pemeriksaan. Advokat menjadi benteng terakhir melawan potensi pelanggaran HAM.  

- Digitalisasi Proses Hukum: Penyidikan dan persidangan diarahkan ke sistem elektronik. Transparansi dijanjikan, tetapi tanpa pengawasan independen bisa berubah menjadi alat kontrol yang lebih ketat.  

- Peraturan Turunan: Pemerintah menyiapkan tiga PP untuk KUHP dan tiga PP untuk KUHAP. Tanpa aturan pelaksana, norma baru berisiko menimbulkan kekosongan hukum.  


Advokat di Persimpangan

Advokat kini memegang peran vital. Mereka bukan sekadar pendamping tersangka, melainkan benteng terakhir hak asasi manusia. “Tanpa advokat, tersangka hanyalah angka dalam berkas perkara,” ujar seorang praktisi hukum. Kehadiran advokat di ruang penyidikan menjadi penyeimbang dominasi aparat, sekaligus penghubung antara tersangka dan keluarga.  


Transparansi atau Ilusi?

Digitalisasi proses hukum disebut sebagai terobosan. Namun, transparansi yang dijanjikan bisa berubah menjadi ilusi jika akses publik dibatasi atau manipulasi data terjadi. Dokumentasi elektronik seharusnya memperkuat akuntabilitas, tetapi tanpa pengawasan independen, sistem digital justru bisa memperkuat kontrol aparat.  


Ancaman Ketidakadilan

Meski disebut sebagai reformasi, KUHP dan KUHAP baru menyimpan potensi ancaman serius:  

- Kriminalisasi ekspresi melalui pasal penghinaan presiden dan pasal pers.  

- Monopoli kekuasaan penyidikan oleh Polri.  

- Multitafsir delik adat yang bisa menimbulkan diskriminasi.  

- Minim sosialisasi membuat masyarakat rentan terjerat aturan yang tidak mereka pahami.  


Reformasi hukum pidana ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mengakhiri warisan kolonial. Di sisi lain, pasal-pasal krusial bisa menjadi alat represi baru jika tidak diawasi. Sejarah akan mencatat apakah 2 Januari 2026 menjadi hari lahir keadilan, atau justru awal dari ketidakadilan yang dilegalkan.  


Oleh : 

Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd

Advokat/Pengacara, konsultan Hukum, Aktivis Kemasyarakatan Pengamat Lingkungan, Sosial, Pendidikan dan Hukum

Senin, 29 Desember 2025

Bila Penegakan Hukum Tak Profesional, Kepercayaan Rakyat Runtuh: Janji Keadilan Jadi Janji Gombal

 

Saya menegaskan bahwa fokus utama saya adalah penegakan hukum yang profesional. Jika hal ini tidak diperbaiki, masyarakat akan terus melakukan protes. Sebaliknya, bila penegakan hukum dijalankan secara profesional, masyarakat akan patuh, tidak bertanya-tanya, dan tidak merasa diperlakukan secara aneh atau tidak masuk akal.  


Ironisnya, hukum yang seharusnya menjadi pelindung kadang tampil seperti badut sirkus: serius di panggung, tapi di balik layar penuh kelucuan yang menyedihkan.  


Contoh Ketidakprofesionalan itu, yakni :


-Polisi Menggerebek  Perjudian: 

Orang yang bermain judi digerebek, tetapi motor yang diparkir di luar ikut dibawa ke kantor polisi. Apa hubungannya motor dengan perjudian? Barang bukti perjudian seharusnya kartu remi atau uang, bukan kendaraan. Lebih parah lagi, ketika pemilik ingin mengambil motor, diminta membayar. Hukum jadi seperti tukang parkir Liar: “Kalau mau ambil, bayar dulu.”  


- Aksi Oknum Polisi di Kasus Narkoba: 

Rumah digerebek, ditemukan narkoba. Namun mobil yang berada di luar juga ikut disita. Padahal mobil bukan barang bukti narkoba. Praktik seperti ini merusak kepercayaan publik. Hukum tampak seperti tukang kebun yang asal mencabut tanaman: bunga ikut dicabut bersama rumput liar.  


- Perilaku Oknum Jaksa: 

Barang bukti yang seharusnya dikembalikan setelah perkara selesai justru ditahan, bahkan ada yang diminta bayaran untuk dikembalikan. Ini bentuk penyalahgunaan kewenangan. Seolah-olah jaksa berubah jadi pedagang pasar: “Mau barang bukti balik? Ada harganya, bos!”  


- Adanya Perubahan pasal: 

Polisi menetapkan pasal tertentu, tetapi jaksa mengubah seenaknya. Jika pasal tidak tepat, seharusnya orang tersebut dilepaskan, bukan dipaksakan naik ke pengadilan. Hukum jadi seperti permainan ular tangga: naik turun sesuai mood, bukan aturan.  


- Putusan Hakim: 

Ada putusan yang menyatakan barang bukti disita untuk negara, padahal jelas ada pemilik sah. Hukum mengatur bahwa barang bukti harus dikembalikan setelah perkara selesai, bukan dirampas. Hakim kadang tampak seperti pesulap: “Abrakadabra, barang bukti hilang jadi milik negara.”  


Dampak Ketidakprofesionalan ini membuat persidangan hanya menjadi formalitas belaka. Masyarakat melihat hukum tidak dijalankan dengan benar, sehingga wajar bila muncul protes dan ketidakpercayaan.  


Hukum yang seharusnya menegakkan keadilan malah jadi drama tragedi komedi: penonton tertawa getir, lalu pulang dengan rasa marah.  


Saran untuk Pemerintah


Saya menyampaikan saran kepada Pemangku.Kebijakan.Baik Presiden, DPR, dll


Perbaiki penegakan hukum agar benar-benar profesional.  


- Polisi harus fokus pada barang bukti yang relevan.  

- Jaksa tidak boleh mengarang pasal atau menahan barang bukti seenaknya.  

- Hakim harus teliti dan mengembalikan barang bukti sesuai aturan hukum.  


Jika penegakan hukum dijalankan dengan profesional, masyarakat akan percaya, patuh, dan tidak lagi merasa diperlakukan secara tidak adil.  


Karena hukum bukan panggung sandiwara, melainkan janji serius kepada rakyat. Bila janji itu terus dipermainkan, jangan salahkan bila rakyat akhirnya berkata: “Hukum kita bukan lagi pedang keadilan, tapi pedang mainan yang tumpul—tajam ke bawah, tumpul ke atas.”  


Oleh : 

Adv. Yan Salam Wahab, SHI, M.Pd

Advokat/Pengacara, konsultan Hukum, Aktivis Kemasyarakatan Pengamat Lingkungan, Sosial, Pendidikan dan Hukum

Minggu, 28 Desember 2025

Terimalah Dirimu, Karena Kamu Memang Tidak Akan Diterima di Lingkaran Orang Kaya

 

Jangan terlalu capek, karena kamu tidak akan pernah diterima di lingkaran Mereka. 

Jas yang kamu beli mungkin setara tiga bulan gaji. Sepatu kulit yang kamu poles setiap minggu, jam tangan yang kamu cicil bertahun-tahun, atau kopi mahal yang kamu pesan di kafe elit—semua itu kamu lakukan supaya bisa “masuk” ke lingkaran mereka, supaya terlihat setara dengan pria-pria kaya. Namun kenyataan pahit berkata: kamu tidak akan pernah diterima sebagai bagian dari mereka.  


Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis, menjelaskan konsep habitus. Habitus adalah kebiasaan, selera, dan cara hidup yang tertanam sejak kecil. Ia bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam semalam, apalagi dibeli di pusat perbelanjaan. Struktur kelas sosial jauh lebih dalam daripada sekadar merek jas atau jam tangan yang menempel di tubuhmu.  


Ingat masa kecil kita. Untuk membeli mainan, kita harus menabung recehan demi recehan, bahkan rela menahan lapar di jam istirahat sekolah. Sementara itu, anak-anak dari keluarga kaya tidak perlu menabung. Saat liburan tiba, orang tua mereka membawa mereka berwisata ke Eropa, melihat Louvre di Paris, atau menonton opera di Wina.  


Perbedaan pengalaman ini membentuk habitus yang berbeda. Bagi mereka, kemewahan dan budaya tinggi adalah hal biasa, bagian dari kehidupan sehari-hari. Bagi kita, kemewahan adalah hadiah langka yang harus diperjuangkan dengan susah payah.  


Ketika kita mengenakan jas mahal, yang terpancar adalah kesan “pura-pura”. Sebaliknya, mereka memancarkan kesan “alami” dan “mudah”. Justru usaha kita untuk terlihat elegan menjadi tanda paling jelas bahwa kita bukan bagian dari mereka.  


Menjadi elit bukan hanya soal uang. Bourdieu menegaskan bahwa kelas atas mempertahankan status melalui modal budaya: pengetahuan, selera, cara berbicara, hingga cara makan.  


Orang yang ingin terlihat kaya biasanya membeli barang dengan logo besar agar semua orang tahu harganya. Sebaliknya, orang yang lahir dari keluarga kaya (old money) justru menghindari logo. Mereka memilih quiet luxury—pakaian polos yang harganya jauh lebih mahal, namun hanya mereka dan lingkaran mereka yang tahu kualitasnya.  


Ada jurang psikologis yang sulit dijembatani. Kita mengenakan jas dengan rasa cemas: “Apakah gaji bulan depan cukup?” atau “Jangan sampai sepatu ini tergores.” Orang kaya tidak memiliki kecemasan itu. Jika rusak, mereka membeli lagi. Ketidakpedulian (nonchalance) adalah kemewahan tertinggi—dan itu tidak bisa dicicil.  


Kita minum kopi mahal supaya terlihat keren di Instagram story. Mereka minum kopi sejak kecil di rumah dengan biji pilihan yang sudah jadi tradisi keluarga. Kita sibuk belajar gaya hidup, mereka sudah lahir dengan gaya hidup itu.  


Bourdieu menyebut fenomena ini sebagai “pretensi kelas menengah”. Semakin keras kita meniru, semakin cepat mereka mengubah aturan. Begitu kita mampu bergaya dengan jas bermerek, mereka menyebutnya norak dan beralih ke merek lain yang lebih eksklusif. Kita terus berlari di treadmill yang tak berujung, kelelahan dan bangkrut, hanya untuk ditertawakan diam-diam oleh mereka.  


Menyakitkan memang, menyadari bahwa pintu menuju kelas atas tertutup rapat. Namun ada kebebasan dalam kesadaran ini. Berhentilah memuja ke atas. Validasi dari mereka hanyalah racun yang membuat kita lupa siapa diri kita sebenarnya.  


Alih-alih mencicil gaya hidup, lebih baik berinvestasi pada pengetahuan. Buku dan ilmu adalah modal yang tidak bisa dimonopoli oleh orang kaya. Jika mereka punya foto perjalanan ke Eropa, kita bisa punya perpustakaan. Karisma sejati lahir dari isi kepala, bukan dari logo di pakaian.  


Daripada bercita-cita menjadi mereka, lebih baik menuntut mereka. Jangan ingin masuk ke benteng mereka untuk ikut pesta pora. Cita-citakanlah meruntuhkan benteng itu agar sumber daya dibagi lebih adil. Gunakan pengetahuan untuk membela yang tertindas, dan jadilah ancaman bagi keserakahan mereka.  


Belajar sejarah bukan sekadar menghafal tanggal. Sejarah mengajarkan mengapa dunia ini tidak adil. Kekayaan mereka sering dibangun di atas penderitaan orang-orang seperti kita. Kesadaran kelas membuat kita paham bahwa kemiskinan bukan kegagalan pribadi, melainkan hasil dari sistem yang menguntungkan segelintir orang.  


Kawan, menjadi cerdas, sadar, dan berani adalah bentuk kemewahan sejati. Biarkan mereka sibuk dengan pesta pora dan barang mewahnya. Kita punya tugas yang lebih mulia: menciptakan dunia di mana martabat manusia tidak diukur dari jas, sepatu, atau jam tangan.  

Kawan, kita punya tugas untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan setara.  






Attensi dari...  neohistorian!  


Sabtu, 06 Desember 2025

Kaya dari Inovasi vs Kaya dari Eksploitasi. Fenomena Negara Maju vs Negara Miskin

 

Oleh: 

Adv. Yan Salam Wahab, S.HI., M.Pd.

Kaya itu tidak selalu sama. Ada negara yang kaya karena otak, ada pula yang kaya karena merusak alam. Negara maju tumbuh dari inovasi. Lihat Singapura dengan rata-rata IQ 106,6, Jepang 101,2, Korea Selatan 102,5. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 93,2, duduk di peringkat ke‑98 dari 126 negara. Kalau diibaratkan kelas sekolah, Singapura sudah sibuk presentasi dengan nilai A+, Jepang sibuk bikin robot di pojok laboratorium, Korea Selatan sibuk mengutak-atik teknologi, sementara Indonesia masih ribut soal dia belum kebagian jatah makan gratis.  


Perbedaan angka itu bukan sekadar statistik. Negara dengan kecerdasan tinggi melahirkan orang kaya dari ide dan teknologi. Bill Gates dengan Microsoft, Jack Ma dengan Alibaba, Elon Musk dengan Tesla dan SpaceX—semua lahir dari otak yang bekerja. Kekayaan mereka berakar pada inovasi, bukan pada merusak alam. Singapura yang tidak punya tambang dan hutan luas bisa jadi pusat finansial dunia karena otak warganya dipacu untuk berpikir, bukan sekadar menjual alam.  


Sebaliknya, negara miskin sering kali tumbuh dari eksploitasi. Hutan ditebang, tambang digali, sungai dikuras. Buruh diperas dengan upah murah, tanah dijual ke asing, hak rakyat dikubur. Pertumbuhan seperti ini rapuh, karena hanya bergantung pada apa yang bisa dijual hari ini. Sudan Selatan punya minyak, tapi rakyatnya tetap miskin. Di Indonesia, banyak taipan sawit dan batu bara menguasai kekayaan, sementara masyarakat kecil masih berjuang dengan penghasilan pas-pasan.  


Ironinya, semakin banyak sumber daya alam, semakin besar pula peluang negara itu miskin. Itulah yang disebut kutukan sumber daya. Sebaliknya, negara yang mengandalkan otak justru melahirkan masa depan. Human capital lebih berharga daripada natural capital. Otak lebih berharga daripada tambang.  


Dan di sini hukum ikut bermain. Di negara maju, hukum ditegakkan dengan konsisten: hak cipta dilindungi, usaha dijamin, regulasi mendukung inovasi. Itulah sebabnya Bill Gates, Jack Ma, dan Elon Musk bisa tumbuh besar. Di negara miskin, hukum sering jadi alat kekuasaan: izin tambang merusak lingkungan, buruh diperas, tanah rakyat berpindah tangan karena mafia hukum lebih kuat daripada suara masyarakat.  


Kaya dari otak adalah investasi jangka panjang, melahirkan masa depan. Kaya dari eksploitasi adalah utang yang diwariskan ke generasi berikutnya, melahirkan kehancuran. Dan selama hukum hanya jadi alat kekuasaan, bangsa dengan kecerdasan rendah akan terus menjual masa depannya sendiri—sambil tertawa pada hiburan murahan yang mereka buat sendiri.  








Rabu, 03 Desember 2025

Epik Kosmik Dua Belas Zodiak: Simbol, Ciri, Kelebihan & Kelemahan

 


 Zodiak bukan sekadar ramalan, melainkan hasil penelitian para ahli masa lalu—dari tradisi Bangsa Mesir, Yahudi, Romawi.hingga Yunani—yang berusaha menghubungkan langit dengan psikologi serta karakter manusia. Penggalian terhadap zodiak bahkan menjadi salah satu kekuatan bangsa Mesir, Yahudi, Romawi, dan Yunani dalam berperang serta menyusun strategi mengalahkan lawan yang tertera  pada Piramida, kuil-kuil.dan peninggalan era kuno. 

Dengan mengetahui zodiaknya, mereka membaca kelemahan dan kekuatan musuh, lalu menggunakannya sebagai senjata diplomasi dan lobi. Pada masa kekaisaran, khusus bangsa Yahudi dikenal memanfaatkan pengetahuan zodiak dalam lobi ekonomi dan perdagangan, sehingga mampu menguasai jalur-jalur penting dunia. Secara ilmiah, zodiak dipandang sebagai sistem simbolik yang menghubungkan pergerakan benda langit dengan pola psikologi manusia, menjadi dasar awal bagi kajian karakter, strategi sosial, dan bahkan ilmu politik kuno. Inilah gambaran ringkas dari masing-masing Zodiak,


♒ Aquarius (20 Jan – 18 Feb)

Air mengalir dari hulu ke hilir, tak pernah berbalik arah.  

Apa yang pertama kali dikatakan dan direncanakan, itulah yang akan dilakukannya.  

Meski tampak tidak konsisten, justru inilah zodiak paling konsisten di balik layar.  

Aquarius adalah pemberi dan pengendali air, unsur yang menjadi kebutuhan semua makhluk hidup dan semua zodiak.  

Tidak ada lawan bagi Aquarius dalam membentuk wadah, ikatan, organisasi, bahkan negara.  

Ia mampu melebur semua dalam satu wadah—ide, orang, bahkan bangsa.  


- Kelebihan: inovatif, visioner, organisator ulung, humanis.  

- Kelemahan: keras kepala, dingin, sulit ditebak.  

✨ Sifat nyata: suka kebebasan, berpikir jauh ke depan, peduli isu sosial, konsisten dalam prinsip.  


---


♓ Pisces (19 Feb – 20 Mar)

Ikan berenang berlawanan arah, seolah tak pernah sepakat.  

Air adalah rumahnya, dan ia tak bisa hidup tanpa Aquarius.  

Pisces hidup di dalam air, tapi sering lupa bahwa ia hidup di dalam air—seolah air tak ada baginya, tanpa menyadari bahwa bila ia lepas dari air, ia akan mati.  


- Kelebihan: penuh kasih, imajinatif, spiritual, empati tinggi.  

- Kelemahan: mudah hanyut, melarikan diri dari kenyataan, kurang praktis.  

✨ Sifat nyata: romantis, penuh intuisi, suka seni, kadang terlalu melankolis.  


---


♈ Aries (21 Mar – 19 Apr)

Sedikit cuek, tapi bila ditantang, ia domba pemarah yang bisa menyeruduk.  

Api pertama yang menyala, berani membuka jalan bagi zodiak lain.  

Tanpa air, api Aries membakar dirinya sendiri.  

Aries adalah domba ambisius, bahkan ia sangat serius bila menginginkan sesuatu. Ia suka tantangan sebagaimana Taurus, dan tidak pernah mundur bila ada rintangan di depannya. Energinya meluap, tanduknya siap menyeruduk siapa saja yang menghalangi jalannya.  


- Kelebihan: berani, penuh energi, pemimpin alami, kompetitif, ambisius.  

- Kelemahan: impulsif, mudah marah, egois, keras kepala.  

✨ Sifat nyata: penuh semangat, suka tantangan, cepat bertindak.  


---


♉ Taurus (20 Apr – 20 Mei)

Banteng kokoh di padang hijau, tak tergoyahkan.  

Taurus adalah pengendali tanah, pijakan bagi Capricorn dan Virgo.  

Tanahnya hanya subur bila disiram air.  

Ia adalah benteng yang kuat, sekali-sekali bisa marah tanpa banyak pikir. Rumput yang diinjak akan hancur, dan dengan kekuatan apapun ia berani melawan serta menyeruduk dengan tanduknya yang tajam.  


- Kelebihan: sabar, setia, stabil, pekerja keras, cinta kenyamanan.  

- Kelemahan: keras kepala, posesif, enggan berubah, materialistis.  

✨ Sifat nyata: praktis, suka keindahan, cinta keamanan.  


---


♊ Gemini (21 Mei – 20 Jun)

Gemini tidak bisa berdiri pada satu kaki—selalu ada dua atau lebih.  

Gemini bisa beruntung selama ia mampu menyembunyikan rahasia posisinya.  

Ia suka melihat air karena hanya di permukaan air ia bisa bercermin dan melihat kedua wajahnya sekaligus.  

Gemini tidak bisa jauh lepas dari air, karena kebutuhan berkaca pada airlah ia bisa selamat. Dari pantulan air itulah ia tetap waspada dan mampu menyembunyikan rahasia. Hanya cermin air yang bisa memperlihatkan kedua sisi wajahnya langsung.  


- Kelebihan: komunikatif, cerdas, fleksibel, penuh ide, hoki.  

- Kelemahan: mudah gelisah, tidak konsisten, manipulatif.  

✨ Sifat nyata: ramah, cepat belajar, suka variasi.  


---


♋ Cancer (21 Jun – 22 Jul)

Kepiting seolah ingin membenci air, tapi ia sama sekali tidak bisa hidup jauh darinya.  

Berjalan menyamping, keras di luar, lembut di dalam.  

Sekali menjepit, bisa meninggalkan bekas lama.  


- Kelebihan: intuitif, penuh kasih, setia.  

- Kelemahan: sensitif berlebihan, mood swing, bergantung.  

✨ Sifat nyata: penuh perasaan, suka melindungi.  


---


♌ Leo (23 Jul – 22 Agu)

Singa bangsa kucing bukan hanya gelisah pada air, tapi memang kucing dapat ditakuti dengan air bahkan takut padanya.  

Leo ingin menjadi raja, tapi terlalu bergantung pada yang lain dan hanya ia sendiri yang mau tampil.  

Leo selalu ingin berada di atas bak raja, tidak suka posisinya rendah. Keinginan untuk terus meninggi itulah yang menjadi celah kelemahannya, yang bisa dimanfaatkan orang lain bila tidak disadari.  


- Kelebihan: percaya diri, kreatif, karismatik, pemimpin alami.  

- Kelemahan: ego besar, haus perhatian, ambisi berlebihan.  

✨ Sifat nyata: penuh pesona, suka sorotan, kadang terlalu dramatis.  


---


♍ Virgo (23 Agu – 22 Sep)

Sang perawan teliti, merajut detail demi kesempurnaan, namun kadang kasar dalam kritiknya.  

Virgo adalah pengendali detail, memberi struktur pada Taurus dan menyeimbangkan Gemini.  

Tanah yang ia rawat hanya hidup bila disiram air.  

Si perawan ini bisa sangat egois dan kasar, namun tetap konsisten dan loyal pada yang disukainya, selama sesuai dengan seleranya.  


- Kelebihan: analitis, perfeksionis, praktis, loyal.  

- Kelemahan: terlalu kritis, cemas, sulit puas, egois.  

✨ Sifat nyata: suka keteraturan, sering menjadi “penyembuh” sosial.  


---


♎ Libra (23 Sep – 22 Okt)

Timbangan mencari keseimbangan, menimbang cinta dan logika.  

Libra adalah pengendali harmoni, menenangkan panas Aries dan racun Scorpio.  

Timbangan akan pas bila diisi dengan air, maka timbangan tidak bisa tanpa air. Jangan heran, unsur timbangan memang ada air sebagai penetapan.  


- Kelebihan: diplomatis, adil, ramah, hoki.  

- Kelemahan: mudah ragu, plin‑plan. Mudah terpengaruh pada yang lebih berat 

✨ Sifat nyata: cinta damai, suka keindahan.  


---


♏ Scorpio (23 Okt – 21 Nov)

Scorpio adalah pengendali racun, intens dan penuh misteri.  

Namun bila tidak hati‑hati, ia bisa menusuk dari belakang secara diam‑diam.  

Sekali merasa dikhianati, sengatannya bisa mematikan.  

Scorpio menyimpan kekuatan tersembunyi yang bisa menjadi pelindung sekaligus ancaman. Ia mampu mengendalikan racun, tapi juga bisa menggunakannya untuk melukai bila tidak terkendali.  


- Kelebihan: intens, penuh tekad, loyal.  

- Kelemahan: cemburu, manipulatif, pendendam.  

✨ Sifat nyata: penuh gairah, misterius, kadang ekstrem.  


---


♐ Sagittarius (22 Nov – 21 Des)

Pemanah berbadan kuda, zodiak berenergi yang terbuka.  

Setiap tembakannya langsung mengena.  

Namun ia tidak bisa menghadapi orang yang tidak transparan dan tidak terbuka—kejujuran adalah panahnya.  

Panah Sagittarius terlalu terbuka, kadang kebablasan bila tidak diingatkan. Ia menembak lurus, tapi sering melupakan batasan sehingga bisa melukai tanpa sengaja.  


- Kelebihan: optimis, jujur, petualang.  

- Kelemahan: tidak sabar, sulit berkomitmen, blak-blakan.  

✨ Sifat nyata: suka berpetualang, terbuka, kadang terlalu jujur berlebihan


Sumber : Horoskop







Selasa, 02 Desember 2025

Tambang dan Hutan: Jurus Sunyi Merobohkan Ormas

 

Dulu ormas besar berdiri gagah di mimbar. Suara mereka lantang, bicara soal umat, soal keadilan, soal moral. Mereka jadi benteng rakyat, jadi kekuatan yang ditakuti penguasa. Tapi itu dulu.  


Sekarang pemerintah tidak perlu lagi ribut soal radikalisme, tidak perlu represi, tidak perlu dana hibah. Semua cara lama itu kasar dan mudah terbaca. Jurus baru lebih halus, lebih modern, lebih kapitalis. Caranya sederhana: “Ini, ambil tambang dan hutan saja.”  


Dan seketika mimbar berubah jadi konsesi. Yang dulu bicara surga, kini bicara lahan. Yang dulu bicara doa, kini bicara izin usaha. Yang dulu bicara umat, kini sibuk rapat bisnis.  


Tambang dan pembalakan hutan bukan hanya mengalihkan perhatian. Mereka merobohkan ormas dari dalam. Yang dulu jadi benteng moral, kini sibuk hitung keuntungan. Yang dulu menegur penguasa, kini menunggu tanda tangan izin. Yang dulu menggerakkan rakyat, kini sibuk memoles citra perusahaan.  


Akibatnya jelas: suara moral hilang, wibawa runtuh, dan rakyat kehilangan pelindung. Tambang dan pembalakan hutan merenggut nyawa. Hutan digunduli, sungai tercemar, desa tenggelam, banjir bandang dan longsor jadi langganan. Ribuan orang kehilangan tanah, kehilangan rumah, kehilangan keluarga. Nyawa melayang bukan karena perang, tapi karena kerakusan.  


Rakyat hanya bisa nyengir pahit melihat ironi. Ormas yang dulu lantang kini jadi humas perusahaan. Yang dulu menegur penguasa kini menunggu izin konsesi. Yang dulu benteng publik kini jadi bagian permainan sumber daya.  


Negara tidak perlu perang frontal. Cukup berikan godaan. Dan lawan pun sibuk menghancurkan diri sendiri, sementara rakyat ikut terkubur di bawah reruntuhan hutan dan tambang.  


Dulu ormas menakutkan karena moralitas.  

Hari ini mereka tidak menakutkan karena konsesi.  

Dulu kekuatan ada pada umat.  

Hari ini tergadai pada izin usaha.  


Tambang dan pembalakan hutan adalah jurus sunyi paling mematikan: merobohkan ormas tanpa suara, membuat mereka runtuh bukan karena ditindas, melainkan karena digoda.